Ijma’ Seputar Zakat

October 12th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Zakat

1. Para ulama sepakat akan wajibnya zakat (hewan) pada onta, sapi, dan kambing.

2. Mereka sepakat akan tidak adanya zakat pada onta yang jumlahnya kurang dari 5 ekor.

3. Mereka sepakat bahwa pada 5 ekor onta, dikeluarkan zakatnya berupa 1 ekor kambing.

4. Mereka sepakat bahwa tidak ada zakat pada kambing yang jumlahnya kurang dari 40 ekor.

5. Mereka sepakat bahwa kambing yang berjumlah 40 – 120 ekor, zakatnya adalah 1 ekor kambing. Jika jumlahnya 121-200 ekor, maka zakatnya adalah 2 ekor kambing.

6. Mereka sepakat bahwa kerbau sama hukumnya dengan sapi.

7. Mereka sepakat bahwa domba dan kambing digabung perhitungan nishabnya dalam zakat.

8. Para ulama sepakat bahwa zakat tanaman wajib pada: Gandum halus, gandum kasar, korma, dan kismis (anggur kering).

9. Mereka sepakat bahwa onta tidak digabungkan dengan kambing atau sapi dalam penghitungan nishab. Demikian halnya sapi tidak digabungkan dengan onta atau sapi. Dan bahwa zakat gugur dari ketiga jenis hewan ternak ini sampai setiap dari jenis ini mencapai nishabnya masing-masing.

10. Mereka sepakat bahwa korma tidak digabungkan dengan kismis dalam penghitungan nishab.

11. Mereka sepakat bahwa jika seorang penaksir telah menaksir jumlah buah (yang masih di pohon, penj.), lalu semuanya terserang wabah sehingga semua buahnya rusak, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya, jika rusaknya sebelum panen.

12. Mereka sepakat mengamalkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

ليس فيما دون خمس أواق صدقة

“Tidak ada zakat pada perak yang kurang dari 5 uqiah.”
(1 uqiah : 40 dirham, penj.)

13. Mereka sepakat bahwa pada 200 dirham, dikeluarkan zakat sebanyak 5 dirham.

14. Mereka sepakat bahwa emas sebanyak 20 dinar dan setara dengan nilai 200 dirham, maka wajib dikeluarkan zakatnya.
Al Hasan al Bashri bersendirian dengan berpendapat: Tidak ada zakat pada emas yang kurang dr 40 dinar.
(1 dinar: 4.25 gram emas, penj.)

15. Mereka sepakat bahwa emas yang kurang dari 20 dinar dan nilainya kurang dari 200 dirham, maka tidak ada kewajiban zakat padanya.

16. Mereka sepakat bahwa wajib mengeluarkan zakat sebanyak 1/5 bagian dari barang tambang emas dan perak jika mencapai jumlah yang saya sebutkan di atas.

17. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang menemukan barang tambang (seperti keterangan di atas, penj.), maka dia wajib mengeluarkan zakat 1/5 darinya.

18. Para ulama sepakat bahwa jika harta (minimal sejumlah nishab, pen.) sudah dimiliki selama setahun, maka zakat (mal) wajib atasnya.

19. Mereka sepakat bahwa zakat mal wajib dikeluarkan jika hartanya sudah dimiliki genap setahun. Namun siapa saja yang mengeluarkan zakatnya setelah lewat waktu wajibnya, maka zakatnya syah.

20. Mereka sepakat akan tidak adanya zakat pada harta mukatib (budak yang sedang dalam proses memerdekakan dirinya, penj.) sampai dia merdeka.
Abu Tsaur bersendirian dengan mengatakan: Tetap wajib zakat.

21. Para ulama sepakat bahwa zakat fitrah adalah kewajiban.

22. Mereka sepakat bahwa zakat fitrah wajib atas seseorang, jika dia mampu menunaikannya untuk dirinya sendiri, dan juga untuk anak-anaknya yang tidak mempunyai harta.

23. Mereka sepakat bahwa seseorang wajib menunaikan zakat fitrah untuk budaknya yang ada di sisinya.

24. Mereka sepakat bahwa tuan yang kafir dzimmi tidak perlu membayarkan zakat fitrah untuk budaknya yang muslim.

25. Mereka sepakat bahwa wanita mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri sebelum dia menikah.

26. Mereka sepakat akan tidak wajibnya zakat (fitrah) bagi janin yang msh berada dalam perut ibunya.
Ibnu Hanbal bersendirian dalam hal ini, dimana beliau tidak menganjurkan dan tidak pula mewajibkannya.

27. Mereka sepakat bahwa zakat (fitrah) pada gandum kasar dan korma, tidak syah jika yang dikeluarkan kurang dari 1 sha’.
[1 sha’: Kurang lebih 2,3 – 3 kg menurut ucapan-ucapan para ulama, penj.]

28. Mereka sepakat bahwa zakat (fitrah) pada gandum halus syah jika yang dikeluarkan hanya 1 sha’.

29. Para ulama sepakat bahwa zakat mal tidak boleh disalurkan kepada kafir dzimmi.

30. Mereka sepakat bahwa barang dagangan yang sudah dimiliki setahun, wajib dikeluarkan zakatnya.

31. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang menyerahkan zakatnya secara merata kepada semua mustahiq yang Allah sebutkan dalam surah Taubah, “Zakat itu hanya diserahkan kepada orang-orang fakir, miskin, amilnya, …,” sampai akhir ayat, maka dia telah menunaikan zakatnya sesuai dengan yang diperintahkan.

32. Mereka sepakat bahwa dahulu, zakat diserahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para utusan beliau, amil-amil yang beliau tunjuk, atau kepada siapa saja yang beliau perintahkan zakat diserahkan kepadanya.

33. Mereka sepakat bahwa kafir dzimmi tidak boleh diberi zakat mal sama sekali.

34. Para ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diserahkan kepada orang tua dan anak, dalam kondisi dimana dia wajib menafkahi mereka.

35. Mereka sepakat bahwa suami tidak boleh menyerahkan zakat kepada istrinya, karena nafkah istri adalah kewajibannya. Dan seorang istri dihukumi kaya jika suaminya adalah orang yang kaya.

36. Mereka sepakat bahwa kaum muslimin tidak wajib mengeluarkan 1/10 dari harta mereka, kecuali pada zakat tanaman.

37. Mereka sepakat bahwa kafir dzimmi tidak mengeluarkan zakat dari harta mereka, selama mereka masih mukim. (Jika mereka keluar daerah untuk berdagang, maka ditarik 1/10 dari mereka, penj.)

Incoming search terms:

  • apa buku ijma zakat
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, October 12th, 2014 at 1:14 pm and is filed under al Ijma', Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.