Ijma’ Seputar Shalat

September 21st 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Shalat

1. Para ulama sepakat bahwa awal waktu zuhur adalah tergelincirnya matahari (ke arah barat, penj.)

2. Mereka sepakat bahwa shalat magrib wajib dikerjakan (baca: masuk waktunya) jika matahari telah terbenam.

3. Mereka sepakat bahwa awal waktu subuh adalah terbitnya fajar (kedua, penj.)

4. Mereka sepakat bahwa siapa yang shalat subuh antara terbitnya fajar sampai sebelum terbitnya matahari, maka dia telah shalat subuh pada waktunya.

5. Mereka sepakat akan disyariatkannya menjamak shalat zuhur dan ashar di Arafah, dan menjamak antara magrib dan isya di malam an Nahr (10 Dzulhijjah, penj.).

6. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Menghadap kiblat ketika mengumandangkan azan.

7. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Muazzin mengumandangkan azan dalam keadaan berdiri.
Abu Tsaur bersendirian dengan mengatakan: Boleh azan sambil duduk walaupun tidak dalam keadaan sakit.

8. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Azan dikumandangkan untuk shalat setelah masuk waktunya, kecuali shalat subuh (karena adanya azan pertama sebelum terbitnya fajar kedua, penj.).

9. Mereka sepakat bahwa shalat tidak syah kecuali dengan niat.

10. Mereka sepakat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam senantiasa mengangkat kedua tangan beliau ketika memulai shalat (saat takbiratul ihram, penj.)

11. Mereka sepakat bahwa siapa yang telah takbiratul ihram di awal shalat, maka dia telah memulai shalatnya dan telah masuk dalam ibadah shalat.

12. Mereka sepakat bahwa orang yang mengucapkan salam (di akhir shalat) hanya satu kali (hanya ke arah kanan saja, penj.), maka shalatnya sudah dinyatakan syah.

13. Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang berbicara dengan sengaja di dalam shalatnya, namun bukan bertujuan untuk memperbaiki pelaksanaan shalat, maka shalatnya batal.

14. Mereka sepakat bahwa orang yang shalat dilarang makan dan minum.

15. Mereka sepakat bahwa siapa yang makan dan minum dengan sengaja dalam shalat wajibnya, maka dia wajib mengulangi shalatnya.

16. Mereka sepakat bahwa tertawa itu membatalkan shalat.

17. Mereka sepakat bahwa makmum yang lupa dalam shalatnya, tidak wajib sujud sahwi (jika imam tidak sujud sahwi, penj.).
Mak-hul bersendirian dengan mengatakan: Dia tetap wajib sujud sahwi.

18. Mereka sepakat bahwa jika imam sujud sahwi, maka makmum ikut sujud bersamanya (walaupun makmum tidak lupa, penj.)

19. Mereka sepakat bahwa anak kecil (yang belum balig, penj.) tidak wajib melaksanakan shalat jumat.

20. Mereka sepakat bahwa shalat jumat tidak diwajibkan bagi kaum wanita.

21. Mereka sepakat bahwa jika para wanita hadir pada shalat jumat lalu mereka ikut shalat jumat bersama imam, maka shalat jumat itu syah bagi mereka.

22. Mereka sepakat bahwa shalat jumat wajib bagi setiap lelaki merdeka yang balig, mukim (bukan musafir, penj.), dan tidak mempunyai uzur.

23. Mereka sepakat bahwa shalat jumat itu 2 rakaat.

24. Mereka sepakat bahwa orang mukim yang tidak shalat jumat, maka dia menggantinya dengan mengerjakan shalat (zuhur) 4 rakaat.

25. Para ulama sepakat bahwa orang yang buta boleh menjadi imam shalat, sebagaimana layaknya orang yang sehat.
Malik bin Anas melarang hal itu. Demikian halnya Ibnu Abbas dalam riwayat yang kedua darinya.

26. Mereka sepakat bahwa siapa yang safar dengan jarak dimana qashar sudah diperbolehkan -seperti haji atau jihad atau umrah-, maka dia boleh mengqashar shalat zuhur, ashar, dan isya, dimana setiap dari ketiga shalat ini dia kerjakan 2 rakaat 2 rakaat.

27. Mereka sepakat bahwa tidak ada qashar pada shalat magrib dan tidak juga pada shalat subuh.

28. Mereka sepakat bahwa jika seseorang safar dari Madinah -misalnya- menuju Makkah, maka dia boleh mengqashar shalat jika kondisi safarnya seperti yang sudah kami sebutkan sebelumnya.

29. Mereka sepakat bahwa orang yang ingin safar, boleh mengqashar shalatnya jika dia sudah meninggalkan semua rumah dari daerah yang dia tinggali.

30. Mereka sepakat bahwa siapa yang safar setelah matahari tergelincir, maka dia boleh mengqashar shalatnya.

31. Mereka sepakat bahwa jika orang yang mukim bermakmum kepada musafir, lalu imam sudah salam dua kali (di akhir shalat, penj.), maka dia wajib untuk menyempurnakan shalatnya (tetap 4 rakaat, penj.)

32. Mereka sepakat bahwa kewajiban orang tidak sanggup berdiri adalah shalat sambil duduk.

33. Mereka sepakat bahwa orang yang mampu, tidak syah shalatnya kecuali dengan adanya ruku’ dan sujud.

34. Mereka sepakat bahwa wanita yang haid tidak boleh shalat di masa haidnya, dan dia tidak wajib untuk mengqadha’nya.

35. Mereka sepakat bahwa wanita yang haid wajib mengqadha’ puasa yang dia tinggalkan pada masa haidnya dalam bulan Ramadhan.

36. Mereka sepakat bahwa kapan seorang wanita sudah haid (baca: balig), maka semua kewajiban agama telah wajib atasnya.

37. Mereka sepakat bahwa siapa yang lupa suatu shalat dalam keadaan mukim lalu dia mengingatnya ketika safar, maka yang wajib dia
lakukan adalah mengqadha’nya sesuai dengan shalat ketika mukim.
Kecuali penyelisihan al Hasan al Bashri dalam masalah ini.

38. Mereka sepakat bahwa orang yang mabuk wajib mengqadha’ shalat (yang dia tinggalkan saat mabuk, penj.)

39. Mereka sepakat bahwa orang yang sedang dikejar musuh, boleh shalat di atas tunggangannya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, September 21st, 2014 at 1:12 pm and is filed under al Ijma', Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.