Ijma’ Seputar Haji

October 24th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Haji

1. Para ulama sepakat bahwa seorang suami berhak untuk melarang istrinya menunaikan haji yang hukumnya sunnah.

2. Mereka sepakat bahwa seseorang hanya diwajibkan haji satu kali untuk seumur hidupnya, yaitu haji (yang menjadi rukun) Islam. Kecuali jika seseorang bernazar untuk haji, maka dia wajib memenuhinya.

3. Mereka sepakat menerima tempat-tempat miqat yang tersebut dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

4. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang memulai ihram sebelum memasuki miqat, maka dia telah dinyatakan muhrim (syah ihramnya, penj.).

5. Mereka sepakat bahwa ihram syah walaupun tidak mandi sebelumnya.

6. Mereka sepakat bahwa mandi sebelum ihram bukanlah kewajiban.
Al Hasan al Bashri dan Atha’, keduanya berpendapat sebaliknya.

7. Para ulama sepakat bahwa jika seseorang ingin melakukan haji namun dia melakukan talbiah umrah, atau dia ingin melakukan umrah namun dia melakukan talbiah haji, maka yang harus dia jalankan adalah apa yang dia niatkan secara pasti di dalam hatinya, bukan apa yang dia ucapkan dengan lisannya.

8. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang melakukan talbiah untuk haji di bulan-bulan haji dan dia meniatkan itu sebagai haji Islam, maka hajinya syah dan sudah menggugurkan kewajiban haji Islam darinya.

9. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim (sudah ihram) dilarang untuk: Jimak, membunuh hewan buruan, memakai wewangian, mengenakan beberapa jenis pakaian tertentu, memotong rambut/bulu, dan memotong kuku.

10. Mereka sepakat bahwa orang muhrim dilarang melakukan semua itu dalam keadaan dia ihram, kecuali berbekam.

11. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang melakukan jimak dengan sengaja dalam ibadah hajinya sebelum dia wuquf di Arafah, maka dia wajib mengulang hajinya tahun depan dan menyembelih al hadyu (sembelihan haji).
Athà’ memiliki pendapat yg berbeda, demikian halnya Qatàdah.

12. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim dilarang untuk membotak kepalanya, mencukur rambutnya, mencabutnya, atau semacamnya.

13. Mereka sepakat bahwa dia boleh membotak kepalanya jika ada penyakit.

14. Mereka sepakat akan wajibnya fidyah bagi muhrim yang mencukur rambutnya bukan karena adanya penyakit.

15. Para ulama sepakat bahwa orang yang muhrim dilarang untuk memotong kukunya.

16. Mereka sepakat akan bolehnya mencabut kuku yang patah darinya (karena tidak sengaja, penj.)

17. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim dilarang untuk mengenakan kemeja, imamah, celana panjang, khuf (sepatu), dan burnus (pakaian panjang bertudung).

18. Mereka sepakat bahwa wanita yang muhrim boleh mengenakan kemeja, mantel, celana panjang, jilbab, dan khuf.

19. Mereka sepakat bahwa lelaki yang muhrim tidak boleh menutup kepalanya.

20. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim tidak boleh mengenakan pakaian yang terkena za’faran atau wars (sejenis wewangian, penj.).

21. Mereka sepakat bahwa wanita yang muhrim juga dilarang melakukan apa saja yang dilarang kepada lelaki yang muhrim, kecuali beberapa jenis pakaian tertentu.

22. Para ulama sepakat bahwa jika orang yang muhrim membunuh hewan buruan dengan sengaja dan dia ingat kalau dirinya sedang ihram, maka dia wajib menggantinya.
Mujahid bersendirian dengan mengatakan: Jika dia membunuhnya dengan sengaja namun lupa kalau dia sedang ihram, maka kesalahannya dimaafkan. Dan jika dia membunuhnya dalam keadaan sadar kalau dirinya sedang ihram, dan dia sengaja membunuhnya, maka dia tidak dihukumi.
Abu Bakr (Ibnu al Mundzir, penj.) berkata: Pendapatnya ini menyelisihi ayat (95 dr surah al Maidah, penj.)

23. Mereka sepakat bahwa orang muhrim yang membunuh hewan buruan, maka dia wajib menggantinya dengan 1 ekor kambing.

24. Mereka sepakat bahwa membunuh merpati di daerah al Haram, harus diganti dengan 1 ekor kambing.
an Nu’man bersendirian dengan mengatakan: Diganti dengan sejumlah uang yang sama dengan harga merpati.

25. Mereka sepakat bahwa hewan laut bagi orang yang muhrim adalah mubah untuk diburu. Boleh dia makan dan boleh dia perjualbelikan.

26. Mereka sepakat untuk menerima kandungan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menyebutkan 5 jenis hewan yang boleh dibunuh oleh orang yang muhrim.
(Yaitu: Gagak, rajawali, tikus, kalajengking, dan anjing gila, penj.)
an Nakhai bersendirian, dimana beliau melarang membunuh tikus.

27. Mereka sepakat bahwa jika ada hewan buas yang mengganggu orang yang ihram lalu orang itu membunuhnya, maka tidak ada kewajiban apa-apa atasnya.

28. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim boleh membunuh srigala.

29. Para ulama sepakat bahwa orang yang muhrim boleh mandi junub.
Malik bersendirian dengan mengatakan: Orang yang muhrim makruh merendam kepalanya di dalam air.

30. Mereka sepakat kalau orang yang muhrim boleh bersiwak.

31. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim boleh memakan minyak, mentega, dan lemak.

32. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim boleh melumuri tubuhnya dengan minyak, kecuali kepalanya.

33. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim boleh masuk ke dalam wc.
Malik bersendirian dengan mengatakan: Jika dia menggosok daki maka dia harus membayar fidyah.

34. Para ulama sepakat bahwa sujud di hijir (Ismail) adalah boleh.
Malik bersendirian dengan mengatakan: Bid’ah.

35. Mereka sepakat bahwa tidak dianjurkan berlari-lari kecil bagi kaum wanita ketika tawaf di Ka’bah dan tidak juga ketika sai antara Shafa dan Marwah.

36. Mereka sepakat akan bolehnya minum air di saat tawaf.

37. Mereka sepakat bahwa siapa yang ragu-ragu dalam jumlah hitungan tawafnya, maka dia pilih yang meyakinkan baginya (yaitu angka terkecil, penj.).

38. Mereka sepakat bahwa siapa yang sudah memasuki putaran ke-7 dari tawafnya, namun terputus karena adanya pelaksanaan shalat wajib, maka dia bisa melanjutkan tawafnya mulai dari tempat putusnya tadi jika dia sudah selesai shalat.
al Hasan al Bashri bersendirian dengan mengatakan: Dia mengulangi tawafnya dari awal.

39. Mereka sepakat bahwa siapa yang sudah tawaf 7 kali putaran lalu shalat 2 rakaat, maka dia telah mengamalkan yang benar.

40. Para ulama sepakat bahwa orang yang sakit boleh ditandu untuk melakukan tawaf dan itu sudah syah baginya.
Athà’ bersendirian dengan mengatakan: Hendaknya dia menyewa orang yang bisa melakukan tawaf untuknya.

41. Mereka sepakat bahwa anak bayi ditawafkan (dengan digendong, penj.)

42. Mereka sepakat bahwa tawaf tidak syah jika dilakukan dari luar masjid al haram.

43. Mereka sepakat bahwa tawaf syah dilakukan dari belakang siqayah (tempat minum air zam-zam di musim-musim haji, penj.).

44. Mereka sepakat bahwa orang yang tawaf, syah mengerjakan shalat (sunnah setelah tawaf) 2 rakaat dimanapun yang dia inginkan.
Malik bersendirian dengan mengatakan: Tidak syah mengerjakan shalat itu di Hijir (Ismail).

45. Mereka sepakat mengamalkan hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau menyentuh rukun (yamani) setelah tawaf dan setelah shalat di belakang maqam (Ibrahim).

46. Para ulama sepakat bahwa siapa yang memulai sai dari Shafa dan mengakhiri sai 7 kalinya di Marwah, maka amalannya telah sesuai sunnah.

47. Mereka sepakat bahwa orang yang sai antara Shafa dan Marwah tanpa bersuci, maka sainya sudah dinyatakan syah.
al Hasan bersendirian dengan mengatakan: Jika dia ingat belum bersuci sebelum menggundul rambutnya, maka dia wajib mengulang tawafnya.

48. Mereka sepakat bahwa orang yang berihram untuk umrah di bulan-bulan haji (di miqat), lalu dia mendatangi Makkah dan menyelesaikan umrahnya. Kemudian dia tetap tinggal di Makkah dan berhaji pada tahun itu juga maka dia adalah orang yang sedang melakukan haji tamattu’. Dia wajib menyembelih al had-yu jika dia mampu, dan jika tidak maka dia wajib berpuasa.

49. Mereka sepakat bahwa siapa yang memasuki Makkah untuk menunaikan umrah di bulan-bulan haji, maka dia bisa menambahkan haji ke dalam umrahnya selama dia belum tawaf di Ka’bah.

50. Para ulama sepakat bahwa tidak ada kewajiban apa-apa atas orang yang pada malam hari Arafah masih berada di Mina, selama dia tiba di Arafah pada waktu diwajibkannya (wukuf).

51. Mereka sepakat bahwa jamaah haji boleh meninggalkan Mina dari arah manapun yang mereka inginkan.

52. Mereka sepakat bahwa imam dan yang shalat sendirian, disyariatkan menjamak antara shalat zuhur dengan ashar di Arafah pada hari Arafah.

53. Mereka sepakat bahwa wukuf di Arafah adalah fardu. Tidak syah haji orang tidak wukuf padanya.

54. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang wukuf di Arafah baik pada malam hari maupun siang hari setelah tergelincirnya matahari pada hari Arafah, maka hajinya syah.
Malik bersendirian dengan mengatakan: Dia wajib mengulangi hajinya tahun depan.

55. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang wukuf di Arafah tanpa bersuci, maka hajinya syah dan tidak ada kewajiban apa-apa atasnya.

56. Para ulama sepakat bahwa termasuk tuntunan Nabi, orang yang haji menjamak shalat magrib dengan isya.

57. Mereka sepakat bahwa orang yang menjamak 2 shalat, dia tidak mengerjakan shalat sunnah di antara kedua shalat itu.

58. Mereka sepakat bahwa dimana saja seseorang mengambil jumrah (batu-batu kecil untuk melontar, penj.) maka itu sudah syah baginya.

59. Mereka sepakat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melontar jumrah Aqabah pada hari an nahr setelah terbitnya matahari.

60. Mereka sepakat bahwa tidak ada jumrah yang dilontar pada hari an nahr kecuali jumrah Aqabah.

61. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang melontar jumrah Aqabah pd hari an nahr, antara terbitnya fajar hingga sebelum terbitnya matahari, maka itu syah baginya.

62. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang melontar -bagaimana pun keadaannya dia melontar- dan lontarannya mengenai tempat melontar, maka itu sudah syah.

63. Mereka sepakat bahwa siapa yang melontar jumrah pada hari-hari tasyrik setelah tergelincirnya matahari, maka itu sudah syah baginya.

64. Para ulama sepakat bahwa orang yang botak, cukup menggesekkan pisau cukur ke kepalanya ketika mencukur.

65. Mereka sepakat bahwa kaum wanita tidak perlu menggundul rambutnya.

66. Mereka sepakat bahwa tawaf yang wajib adalah tawaf ifadhah.

67. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang mengundurkan pelaksanaan tawaf dari hari an nahr, dan dia baru melaksanakan tawaf pada hari-hari tasyrik, maka dia telah menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan atasnya, dan tidak mengapa baginya karena telah mengundurkannya.

68. Mereka sepakat bahwa anak kecil yang belum sanggup melontar jumrah, maka orang lain boleh melontarkan untuknya.

69. Mereka sepakat bahwa memendekkan rambut sebagai ganti dari menggundulnya adalah syah.
al Hasan al Bashri bersendirian dengan mengatakan: Tidak syah pada haji yang wajib kecuali menggundul.

70. Para ulama sepakat bahwa siapa yang keluar menuju Mina bukan pada hari-hari haji, maka dia tidak boleh mengqashar shalat.

71. Mereka sepakat bahwa siapa saja jamaah haji yang mau keluar dari Mina untuk pulang ke negerinya dan keluar dari daerah al haram, dan dia tidak mukim di Makkah pada nafar pertama (12 dzulhijjah), maka hendaknya dia pergi setelah tergelincirnya matahari di hari kedua tasyrik, jika dia melontar pada hari setelah hari an nafar sebelum dia berjalan.
al Hasan dan an Nakhai bersendirian dalam permasalahan ini.

72. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang jimak sebelum tawaf dan sai, maka itu merusak hajinya.

73. Mereka sepakat bahwa siapa yang ihram untuk umrah dari luar daerah al haram, maka aturan-aturan ihram berlaku baginya.

74. Mereka sepakat bahwa siapa yang putus asa untuk sampai ke Ka’bah, dan dia bisa bertahallul tapi dia tidak melakukannya hingga perjalanannya kembali lancar, maka dia bisa melanjutkan perjalanannya ke Ka’bah dan menyempurnakan manasik hajinya.

75. Mereka sepakat bahwa siapa yang wajib berhaji sementara dia mampu, maka tidak syah baginya kecuali dia sendiri yang menunaikan haji, dan tidak syah jika dia dihajikan oleh orang lain.

76. Para ulama sepakat bahwa lelaki menghajikan wanita dan wanita menghajikan lelaki adalah syah.
al Hasan bersendirian dengan menyatakan makruhnya.

77. Mereka sepakat akan belum adanya kewajiban haji pada anak kecil.

78. Mereka sepakat bahwa jika orang gila dihajikan kemudian dia sembuh, atau anak kecil dihajikan kemudian dia balig, maka haji itu belum menggugurkan kewajiban haji Islamnya.

79. Mereka sepakat bahwa kerusakan harta yang dilakukan oleh anak kecil tetap wajib mereka ganti dari harta mereka.

80. Mereka sepakat bahwa hewan buruan di tanah al Haram adalah haram bagi yang tidak haji maupun yang berhaji.

81. Mereka juga sepakat akan haramnya memotong tumbuhan (liar) yang tumbuh di daerah al Haram.

82. Mereka sepakat akan bolehnya memanfaatkan semua tanaman yang ditanam oleh pemiliknya di tanah al Haram, semisal sayur mayur, tanam-tanaman, bunga-bunga yang harum, dan selainnya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, October 24th, 2014 at 1:15 pm and is filed under al Ijma', Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.