Ijma’ Dalam Thaharah

September 3rd 2014 by Abu Muawiah |

Bab: Mendahulukan Sebagian Anggota Wudhu, Mengusap, dan Mencuci Dalam Wudhu.

 

1. Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang mencuci anggota wudhu yang kiri lebih dahulu sebelum yang kanan, maka dia tidak perlu mengulangi wudhu.

2. Mereka sepakat bahwa setiap orang yang sudah menyempurnakan thaharah kemudian mengenakan khuf (sepatu) lalu dia berhadats, maka dia boleh mengusap kedua khufnya (sebagai pengganti dari mencuci kaki dalam berwudhu, penj.)

3. Mereka sepakat bahwa jika seseorg berwudhu secara lengkap kecuali dia belum mencuci kedua kakinya, lalu dia mencuci salah satu kakinya dan memasukkannya ke dalam khuf, lalu dia mencuci kakinya yang lain dan memasukkannya ke dalam khuf, maka dia sudah dinyatakan suci.

4. Mereka sepakat bahwa jika seorang musafir membawa air, namun dia khawatir akan kehausan (jika menggunakan airnya untuk bersuci, penj.), maka dia boleh menyimpan airnya untuk diminum, dan dia boleh bertayammum.

5. Mereka sepakat bahwa bertayammum dengan menggunakan tanah yang berdebu adalah syah.

6. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang bersuci dengan air sebelum masuknya waktu shalat, maka thaharahnya dinyatakan sempurna.

7. Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang bertayammum lalu mengerjakan shalat, kemudian dia mendapat air setelah habisnya waktu shalat, maka dia tidak perlu mengulangi shalatnya.

8. Mereka sepakat bahwa siapa yang telah bertayammum dengan benar, kemudian dia mendapatkan air sebelum dia memulai shalatnya, maka tayammumnya batal sehingga dia wajib bersuci kembali lalu mengerjakan shalat.

9. Mereka sepakat bahwa orang yang bersuci dengan air boleh mengimami orang-orang yg bersuci dengan tayammum.

10. Mereka sepakat bahwa siapa yang bertayammum untuk mengerjakan shalat wajib di awal waktu, kemudian dia melewati air namun dia tidak berwudhu, kemudian dia berjalan sampai ke tempat yang tidak ada air, maka dia harus mengulangi tayammumnya. Hal itu karena tayammum pertamanya batal ketika tadi dia melewati air.

11. Mereka sepakat bahwa jika seorang lelaki bermimpi junub atau bermimpi melakukan jimak, namun dia tidak mendapati cairan ketika dia bangun, maka dia tidak wajib mandi.

12. Mereka sepakat akan najisnya kencing (manusia, penj.)

13. Mereka sepakat bahwa keringat orang yang junub dan wanita yang haid adalah suci.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, September 3rd, 2014 at 1:10 pm and is filed under al Ijma', Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.