Ijma’ Dalam Bab Air

August 25th 2014 by Abu Muawiah |

Bab: Hal-Hal yang Menjadi Ijma’ Dalam Masalah Air

1. Para ulama bersepakat akan tidak bolehnya berwudhu dengan menggunakan air bunga ward, air hasil pepohonan, dan air tumbuhan ushfur.
Dan mereka sepakat akan tidak bolehnya thaharah kecuali dengan air mutlak (yang masih berada pada bentuk asal penciptaannya, penj.) yang masih dinamakan sebagai ‘air’.

2. Mereka bersepakat bahwa berwudhu dengan air adalah syah.

3. Mereka bersepakat akan tidak bolehnya mandi (wajib) dan wudhu dengan minuman semacam ini (yang berasal dari buah-buahan, penj.), kecuali nabidz (semacam air dicampur anggur, krn padanya ada perbedaan pendapat, penj.)

4. Mereka bersepakat bahwa berwudhu dengan air àjin (yang berubah sifatnya karena lama tertutup di suatu wadah, penj.) adalah syah, selama tdk ada najis yg masuk ke dalamnya.
Ibnu Sirin bersendirian dengan pendapat: Tidak boleh berwudhu dengannya.

5. Mereka bersepakat bahwa jika air -sedikit maupun banyak- kemasukan najis lalu najis ini merubah rasa atau warna atau bau air, maka air itu menjadi najis selama masih berubah sprti itu.

6. Mereka sepakat bahwa air dalam jumlah banyak seperti sungai nil, laut, dan semacamnya, jika najis masuk ke dalamnya namun tidak sampai merubah warna, rasa, dan bau air, maka hukumnya sama seperti sebelumnya (suci, penj.) dan boleh digunakan bersuci.

7. Mereka bersepakat bahwa air bekas minum hewan yang halal dimakan adalah suci, sehingga boleh diminum dan boleh digunakan berwudhu.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, August 25th, 2014 at 9:21 pm and is filed under al Ijma', Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.