Hukum Upacara Bendera

October 27th 2011 by Abu Muawiah |

Hukum Upacara Bendera

Tanya:
bismillah, Bgmna Hukum mengikuti upacara kenaikan bendera di mana terdapat penghormatan kepada sangsaka bendera merah putih apakah termasuk syirik kecil atau besar? dan kalau upacra itu haram bgmna seharusnya kami sbg PNS agar selamat dari penghormatan pada bendera merah putih jika mengikuti upacara? krn PNS wajib mengikuti upacra bendera pada setiap hari kemerdekaan?
Abu Zaid siakad
andi.isran@yahoo.co.id

Jawab:
Berikut kami nukilkan jawaban dari Ust. Zulqarnain -hafizhahullah- yang pernah dimuat dalam majalah An-Nashihah:
Di dalam upacara bendera terdapat beberapa kemungkaran :
Pertama : Sering terdapat ikhtilath didalamnya dan banyak dalil yang menunjukkan tentang haramnya ikhtilath.

Kedua  : Menghormati bendera adalah bid’ah dan merupakan bentuk tasyabbuh kepada orang-orang kafir sedangkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka”.(Dihasankan oleh Syaikh Al-AlBany dalam Al-Irwa` no.1269)
Dan apabila ada bentuk pengagungan atau penghormatan terhadap bendera yang menyamai dengan pengagungan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka hukumnya adalah syirik akbar.
Demikian jawaban beliau.

Dan di sini kami menambahkan:
Ketiga: Upacara bendera biasanya diiringi dengan lagu kebangsaan, sementara mendengarkan lagu walaupun tanpa alat musik adalah hal yang terlarang. Allah Ta’ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”.
Kebanyakan para mufassirin seperti Ibnu Mas’ud dan lain-lainnya menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” dalam ayat di atas adalah musik dan sejenisnya.
Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Malik Al-Asy’ary yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary:
لَيَكُوْنُنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الحِرَّ وَالحَرِيْرَ وَالخَمَرَ وَالمَعَازِفَ
“Akan ada dari ummatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutra, minuman keras dan alat-alat musik”.
Kalimat “menghalalkan” dalam hadits menunjukkan bahwa hal-hal yang tersebut di atas adalah haram kemudian mereka menghalalkannya.

Keempat: Para peserta upacara berdiri untung menghormati, mungkin menghormati pemimpin upacara ataukah untuk menghormati benderanya. Padahal Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata mengisahkan keadaan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam:
لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُوْنَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ
“Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para sahabat) cintai daripada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa wasallam-. (Sekalipun demikian) mereka jika melihat beliau , maka mereka tidak berdiri karena mereka tahu akan kebencian beliau terhadap hal tersebut”. (HR. At-Tirmizi no. 2754)
Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Maka sebagai kesimpulan bahwa berdiri (untuk menghormati), duduk, ruku’, dan sujud hanyalah hak Allah satu-satunya yang telah menciptakan langit dan bumi. Jadi apa saja yang merupakan hak Allah, maka tidak boleh dipalingkan kepada siapa pun juga dari kalangan makhluk-Nya.” (Ziyaratul Qubur wal Istinjadu bil Maqbur, hal. 55-57)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, October 27th, 2011 at 9:18 pm and is filed under Aqidah, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Hukum Upacara Bendera”

  1. Hukum Upacara Bendera | ~Ruang Belajar ABU RAMIZA~ said:

    […] dari: http://al-atsariyyah.com/hukum-upacara-bendera.html Share this:FacebookTwitterEmailLike this:SukaBe the first to like this post. This entry was […]

  2. ginanjar indrajati said:

    السلام عليكم

    Jazakallah khaira atas postingannya.
    Sedikit koreksi, sptnya ada kesalahan pengetikan.

    Pada kalimat:
    Keempat: Para peserta upacara berdiri untung menghormati, mungkin menghormati pemimpin upacara ataukah untuk menghormati benderanya.

    mungkin kata “untung”, maksudnya “untuk” ya?

    Jazakumullah khaira

    Ya, yang benarnya ‘untuk’

  3. elfirdausy said:

    solusi utk pns tidak dijelaskan disini, cm menurut sy, km bisa menjelaskan kedudukan sebenarnya kepada atasan km.. kalo atasan keberatan bisa dibahas ke meja hijau. kalo ga mau repot2 ya pensiun dini aja ato cari pekerjaan lain…

  4. asrul said:

    afwan ustad, bagaimana dengan sebagian anggota kepolisian atau tentara yang sudah mengenal dakwah dan hukum2 islam yang kalau tidak ikut upacara bendera bisa ditegur bahkan sampai dipecat, sementara mereka masih membutuhkan pekerjaan tersebut untuk mencari nafkah, jazakallahu kahyran, wabarokallahu fiik,

    Wallahu A’lam