Hukum Shalat Qashar Bagi Musafir

April 14th 2010 by Abu Muawiah |

29 Rabiul Akhir

Hukum Shalat Qashar Bagi Musafir

Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُواْ
“Jika kalian mengadakan perjalanan di muka bumi maka tidak mengapa atas kalian untuk mengqashar shalat jika kalian khawatir orang-orang kafir akan membahayakan kalian.” (QS. An-Nisa’: 101)
Dari Ya’la bin Umayyah dia berkata kepada Umar bin Al-Khaththab meminta penjelasan ayat di atas:
فَقَد أَمِنَ النَّاسُ فَقَالَ: عَجِبتُ مِمَّا عَجِبتَ مِنهُ فَسَأَلتُ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم –  عَن ذَلِكَ فَقَالَ: ((صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ الله بِهَا عَلَيكُم فَاقبَلُوا صَدَقَتَهُ)).
“Sekarang manusia sudah merasa aman (tidak ada bahaya dari orang kafir, pent). Maka Umar menjawab, “Aku juga mengherankan hal tersebut, karenanya aku juga menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, “Itu (qashar) adalah sedekah yang Allah bersedekah kepada kalian, karenanya terimalah sedekah-Nya.” (HR. Muslim no. 686)
Maksud Ya’la: Bukankah ayat tersebut hanya menyebutkan bolehnya safar jika khawatir akan diganggu oleh musuh? Jika keadaannya aman seperti sekarang, apakah hukum qashar masih tetap berlaku? Maka Umar menjawabnya dengan jawaban di atas
Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu anha dia berkata:
فَرَضَ الله الصَّلاةَ حِينَ فَرَضَهَا رَكعَتَينِ رَكعَتَينِ في الحَضَرِ وَالسَّفَرِ، فَأُقِرَّت صَلاةُ السَّفَرِ وَزِيدَ في صَلاةِ الحَضَرِ
“Dia awal kali Allah mewajibkan shalat, Dia mewajibkannya 2 rakaat 2 rakaat dalam keadaan mukim dan safar. Belakangan, shalat dalam keadaan safar ditetapkan sebagaimana awalnya, dan shalat dalam keadaan mukim ditambah (jadi 4 rakaat).” (HR. Al-Bukhari no. 1090 dan Muslim no. 685)
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:
فَرَضَ الله الصَّلاةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُم – صلى الله عليه وسلم –  في الحَضَرِ أَربَعًا، وَفي السَّفَرِ رَكعَتَينِ، وَفي الخَوفِ رَكعَةً.
“Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam sebanyak 4 rakaat dalam keadaan mukim, 2 rakaat dalam keadaan safar, dan 1 rakaat dalam keadaan takut (shalat khauf).” (HR. Muslim no. 687)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:
خَرَجنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم –  مِن المَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى رَكعَتَينِ رَكعَتَينِ حَتَّى رَجَعَ، قُلتُ: كَم أَقَامَ بِمَكَّةَ؟ قَالَ: عَشرًا
“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Madinah menuju Makkah, maka beliau shalat 2 rakaat 2 rakaat sampai beliau pulang ke Madinah. Saya (murid Anas) bertanya. “Berapa lama beliau menetap di Makkah?” dia menjawab, “10 hari.” (HR. Al-Bukhari no. 1081 dan Muslim no. 693)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:
صَلَّيتُ الظُّهرَ مَعَ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم –  بِالمَدِينَةِ أَربَعًا وَبِذِي الحُلَيفَةِ رَكعَتَينِ
“Aku shalat zuhur bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam di Madinah 4 rakaat dan shalat di Zil Hulaifah 2 rakaat.” (HR. Al-Bukhari no. 1089 dan Muslim no. 690)

Pembahasan Fiqhiah:
Sebelum kami membahas masalah qashar ini, ada 2 perkara yang harus diperhatikan:
1.    Shalat yang terkena qashar (pengurangan rakaat) hanyalah shalat yang rakaatnya 4 (zuhur, ashar, dan isya). Adapun maghrib dan subuh maka rakaatnya tetap dalam keadaan safar, tidak dikurangi. Ini adalah kesepakatan di kalangan ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ibnu Al-Mundzir dan selainnya.

2.    Qashar shalat hanya syariat yang diperuntukkan bagi imam atau yang shalat sendiri. Adapun bagi mereka yang bermakmum kepada seorang imam dalam shalat berjamaah, maka mereka mengikuti jumlah rakaat imamnya.
Dari Musa bin Salamah Al-Hudzali dia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas:
كَيفَ أُصَلِّي إِذَا كُنتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَم أُصَلِّ مَعَ الإِمَامِ؟ فَقَالَ: رَكعَتَينِ سُنَّةَ أبي القَاسِمِ
“Bagaimana saya shalat jika saya berada di Makkah (sedang safar) dan saya tidak ikut shalat di belakang imam (berjamaah)?” Maka beliau menjawab, “Shalatlah 2 rakaat, itu merupakan sunnahnya Abu Al-Qasim shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Muslim: 5/197-Syarh An-Nawawi)
Maka dari atsar di atas bisa dipahami, bahwa jika seseorang shalat di belakang imam yang mukim maka dia mengikuti rakaat imamnya yaitu 4 rakaat.

Catatan penting:
Sebagian manusia ada yang sengaja meninggalkan shalat berjamaah saat safar dengan alasan karena dia ingin melakukan qashar. Ini adalah kesalahan, karena shalat berjamaah tetap diwajibkan bagi setiap lelaki balig, baik dalam keadaan mukim maupun safar.
Dalil akan wajibnya shalat berjamaah bagi musafir adalah hadits Malik bin Al-Huwairits dia berkata: Ada 2 lelaki yang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang mana mereka berdua ini akan melakukan safar. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada keduanya:
إِذَا أَنتُمَا خَرَجتُمَا فَأَذِّنَا، ثُمَّ أَقِيمَا، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكبَرُكُمَا
“Jika kalian berdua telah keluar (dan waktu shalat telah masuk), maka kumandangkanlah azan dan iqamah, kemudian hendanya yang paling tua di antara kalian yang menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)
Juga telah warid dari hadits Abu Dzar, Abu Qatadah, Abu Hurairah, dan Imran bin Hushain bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap mendirikan shalat berjamaah dalam safar.
Lihat dalil-dalil lain akan wajibnya shalat berjamaah di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1914

Berikut beberapa permasalahan yang butuh dibahas berkenaan dengan masalah qashar shalat:

Hukum qashar shalat
Pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwa mengqashar shalat bagi musafir hukumnya adalah wajib. Ini adalah pendapat Umar bin Abdil Aziz, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Hasan bin Saleh, dan merupakan mazhab Zhahiriah dan selainnya, serta yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar: 3/202.
Di antara dalil-dalil mereka adalah:
1.    Hadits Ya’la bin Umayyah di atas. Sisi pendalilannya adalah adanya perintah Nabi shallallahi alaihi wasallam untuk menerima sedekah dari Allah (shalat qashar), sementara hukum hukum asal perintah beliau adalah wajib.
2.    Hadits Aisyah di atas yang tegas menunjukkan bahwa dalam safar, shalat kembali kepada rakaat asalnya yaitu dua rakaat. Karenanya barangsiapa yang shalat itmam (4 rakaat) dalam safar maka dia telah menambah 2 rakaat tanpa ada keterangan dari Allah dan Rasul-Nya. Semakna dengannya hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma setelahnya.
3.    Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata:
صَحِبتُ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم –  فَكَانَ لا يَزِيدُ في السَّفَرِ عَلَى رَكعَتَينِ وَأَبَا بَكرٍ وَعُمَرَ وَعُثمَانَ كَذَلِكَ
“Saya bersahabat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (sebegitu lama), akan tetapi dalam safar beliau tidak pernah shalat lebih dari 2 rakaat. Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” (HR. Al-Bukhari no. 1102)
Maka ini menunjukkan bahwa pendapat dan amalan ketiga khalifah pertama adalah mengqashar shalat saat safar. Adapun amalan Utsman radhiallahu anhu yang shalat itmam di Mina saat musim haji, maka amalan ini (itmam shalat) hanya beliau lakukan di Mina dan beliau hanya melakukan di akhir-akhir kekhalifaan beliau. Ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu Umar dimana beliau berkata:
صَلَّيتُ مَعَ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم –  بِمِنًى رَكعَتَينِ وَأبي بَكرٍ وَعُمَرَ وَمَعَ عُثمَانَ صَدرًا مِن إِمَارَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا
“Saya shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam di Mina 2 rakaat, demikian pula dengan Abu Bakar, Umar dan juga bersama Utsman di awal kepemimpinannya, kemudian di akhir kepemimpinannya dia pun melakukan itmam.” (HR. Al-Bukhari 1082, 1657 dan Muslim no. 694)
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata, “Beliau mengqashar shalat yang 4 rakaat dan mengerjakannya 2 rakaat ketika beliau keluar melakukan safar hingga beliau kembali. Dan tidak shahih sama sekali dari beliau bahwa beliau shalat itmam pada shalat yang 4 rakaat dalam safar.” Lihat Zaad Al-Ma’ad: 1/464

Bolehkah qashar jika safarnya untuk maksiat?
Hukum qashar shalat bagi musafir berlaku dalam segala keadaan dan bagi siapa saja, selama dia melakukan safar, berdasarkan keumuman dalil-dalil di atas. Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam Al-Muhalla masalah 512, “Keberadaan shalat yang tersebut dalam keadaan safar yang dikerjakan dua rakaat, hukum wajibnya berlaku baik safarnya untuk ketaatan, atau untuk maksiat, atau bukan untuk ketaatan dan bukan pula untuk maksiat (safar mubah), dan berlaku baik safarnya dalam keadaan aman maupun ketika khawatir akan bahaya.”
Ini adalah pendapat Al-Auzai, Ats-Tsauri, Al-Muzani, Abu Hanifah, dan yang dikuatkan oleh Shiddiq Hasan Khan dalam Ar-Raudhah An-Nadiah: 1/375

Kapan musafir mulai mengqashar?
Ibnu Al-Mundzir rahimahullah berkata, “Semua ulama yang kami hafal pendapat mereka telah bersepakat bahwa siapa yang ingin safar maka dia boleh mengqashar jika dia sudah meninggalkan semua rumah yang ada di kampung yang dia keluar darinya.”
Apa yang disebutkan oleh Ibnu Al-Mundzir di sini akan adanya ijma’ adalah sebatas apa yang beliau hafal -sebagaimana yang beliau sendiri ingatkan-, karena kenyataannya ada silang pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Pendapat yang beliau sebutkan tersebut adalah pendapat mayoritas ulama, dan di antara dalil mereka adalah atsar dari Ali bin Abi Thalib bahwa beliau pernah safar lalu beliau melakukan qashar bersama yang lainnya dalam keadaan mereka melihat rumah-rumah (di dalam kampung). Lalu ketika mereka pulang, mereka mengqashar dalam keadaan mereka melihat rumah-rumah.
Atsar di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2/569) secara mu`allaq dengan konteks al-jazm (pemastian keshahihannya).

Berapa lama boleh mengqashar?
Dalam hal ini, musafir ada dua keadaan:
1.    Jika dia masih sementara dalam perjalanan atau dia singgah di tengah perjalanan walaupun dia menginap di tempat persinggahan tersebut.
Dalam keadaan seperti ini Imam Ibnu Al-Mundzir dan selainnya menukil tidak adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama akan diizinkannya dia mengqashar selama apapun selama dia masih berada di tengah perjalanannya.
2.    Jika dia sudah tiba di tempat tujuannya dan tidak meniatkan mukim, akan tetapi dia menunggu hingga urusan atau tujuan safarnya selesai barulah dia pulang. Maka di sini ada silang pendapat di kalangan ulama mengenai sampai kapan dia boleh mengqashar.
Hadits Anas bin Malik di atas menunjukkan bahwa beliau mengqashar selama 10 hari di Makkah.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:
أَقَامَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم –  تِسعَةَ عَشَرَ يَقصُرُ، فَنَحنُ إِذَا سَافَرنَا تِسعَةَ عَشَرَ قَصَرنَا وَإِن زِدنَا أَتمَمنَا
“Nabi shallallahu alaihi wasallam tinggal di tepat safarnya selama 19 hari sambil mengqashar shalat. Karenanya, jika kami safar selama 19 hari kami mengqashar dan jika lebih maka kami melakukan shalat itmam.” (HR. Al-Bukhari no. 1080)
Dan pembatasan 19 hari inilah yang dipilih oleh Ishaq bin Rahawaih dan yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani.

Apakah penyebutan 19 hari ini adalah pembatasan?
Yang nampak hal itu bukan pembatasan, karena para sahabat tidak memahaminya seperti itu. Berikut beberapa keterangan dari mereka:
Dari Abdurrahman bin Miswar dia berkata, “Kami berdiam di Amman selama 2 bulan bersama Sa’ad bin Malik, dia mengqashar shalat sementara kami shalat itmam. Ketika kami (para tabi’in) menanyakan hal itu, beliau menjawab, “Kami lebih mengetahui.” Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (3/153) dengan sanad yang hasan.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata kepada Simak bin Salamah, “Jika kami berdiam di sebuah negeri selama 5 bulan, maka qasharlah shalatmu.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2/341) dengan sanad yang shahih.
Bahkan dalam pada tempat yang sama, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Abu Al-Minhal bertanya kepada Ibnu Abbas, “Saya berdiam (sebagai musafir) di Madinah selama setahun dan tidak sedang melanjutkan perjalanan?” maka Ibnu Abbas menjawab, “Shalatlah kamu dua rakaat.”
Dan pada atsar setelahnya Ibnu Abbas berkata, “Shalatlah dua rakaat walaupun engkau berdiam selama 10 tahun.”
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa beliau berdiam di Naisabur (sebagai musafir) selama setahun atau dua tahun sambil mengqashar shalat.”
Dan dari sahabat Jabir bin Zaid bahwa beliau ditanya, “Saya tinggal (sebagai musafir) di negeri Tastur selama setahun atau dua tahun, dan saya sudah mirip dengan penduduk asli di situ,” maka Jabir menjawab, “Shalatlah dua rakaat.”
Semua atsar sahabat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dengan sanad yang shahih.

Dari semua tarjihat ulama yang pernah kami ketahui, apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri dalam kitabnya Dhiya` As-Salikin merupakan pendapat yang paling pertengahan, yaitu:
Bagi siapa safar dalam keadaan yang kedua di atas, maka paling maksimal dia hanya mengqashar sampai 19 hari karena itulah waktu maksimal yang tersebut dalam hadits-hadits yang shahih.
Hanya saja bagi siapa yang berpendapat bolehnya mengqashar lebih lama dari itu dengan alasan tidak ada hadits yang melarang dan bahwa penyebutkan 19 hari dalam hadits Ibnu Abbas bukan pembatasan tapi sekedar pengabaran. Ini dibuktikan dengan atsar Ibnu Abbas sendiri yang membolehkan qashar selama setahun bahkan 10 tahun selama dia tidak berniat mukim. Dan pemahaman Ibnu Abbas ini didukung oleh bebeberapa sahabat lainnya dan tidak dinukil adanya sahabat lain yang menyelisihi mereka dalam hal ini.
Jika ada yang mengikuti pendapat mereka ini maka kami katakan: Mereka mempunyai salaf pada pendapatnya dan tidak menyalahkan pendapat mereka. Karena sebagaimana yang kita lihat bahwa pemahaman sahabat terhadap hadits-hadits di atas bukanlah sebagai pembatasan.
Walaupun yang lebih selamat dan lebih berhati-hati adalah terikat dengan apa yang tersebut dalam hadits yaitu 19 hari, wallahu a’lam bishshawab.

Jarak perjalanan yang teranggap safar
Ada silang pendapat yang besar di kalangan ulama dalam masalah ini, sampai-sampai sebagian ulama ada yang menyebutkan sampai 20 pendapat dalam masalah ini. Perbedaan pendapat ini lahir akibat perbedaan dalam menshahihkan sebuah hadits dan dalam memahami hadits-hadits yang menyebutkan adanya penyebutan jarak dalam safar Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di antara hadits-hadits yang menyebutkan adanya jarak tertentu adalah:
1.    Hadits Anas di atas yang menunjukkan beliau shalat qashar di  Zil Hulaifah. Sementara Zul Hulaifah jaraknya sekitar 3 mil atau 4,8 km dari Madinah, karena  mil = 1,6 km
Hanya saja para ulama menyebutkan bahwa hadits ini tidak menunjukkan bahwa itu merupakan jarak minimal safar, tapi hanya menunjukkan bahwa beliau melakukan qashar di Zul Hulaifah.
2.    Hadits Anas riwayat Muslim no. 691 dia berkata, “Jika Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar sejauh 3 mil atau 3 farsakh, maka beliau shalat 2 rakaat.”
Hanya saja dalam hadits di atas juga tidak ada keterangan itu adalah jarak safar minimal yang diizinkan qashar. Lagipula riwayat Muslim di atas terjadi perbedaan lafazh yang mengharuskan perbedaan hukum, yaitu dalam penyebutan jarak antara 3 mil atau 3 farsakh. 1 mil = 1,6 km dan 1 farsakh = 5,541 km (walaupun tentunya ukuran 1 farsakh ini bukanlah ukuran yang disepakati).
Dan ada beberapa hadits lain, hanya saja tidak sedikit di antaranya yang lemah.
Karenanya Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak memberikan batasan bagi umatnya kapan mereka boleh mengqashar dan tidak berpuasa (saat safar). Bahkan beliau menyebutkan pembolehan qashar secara mutlak dalam keadaan safar atau sedang dalam perjalanan. Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dari beliau mengenai adanya pembatasan safar (minimal) sehari atau dua hari atau tiga hari, maka tidak ada satupun hadits tersebut yang shahih.” Lihat Zaad Al-Ma’ad: 1/481
Dan juga sebelumnya Ibnu Taimiah rahimahullah menyatakan, “Maka pembatasan qashar dengan jarak tertentu tidak ada asalnya dalam syariat, tidak pula dari sisi bahasa, tidak pula dari sisi kebiasaan, dan tidak pula dari sisi akal.”
Karenanya, pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa dalam masalah batasan kapan boleh mengqashar, dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat setiap tempat mengenai kapan seseorang dianggap bersafar. Karenanya, jarak minimal boleh mengqashar tentu akan berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya.
Ini adalah pendapat yang dipilih oleh sejumlah muhaqqiqin seperti kedua syaikhul islam di atas, juga sebelum mereka Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, dan di kalangan belakangan Asy-Syaikh Shiddiq Hasan Khan rahimahumullah.

Rujukan utama: Dhiya` As-Salikin fii Ahkam wa Adab Al-Musafirin karya Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri hafizhahullah.

Incoming search terms:

  • shalat qashar
  • cara mengerjakan sholat qosor salaf
  • Dalil dari al-quran dan hadist tentang pembolehan meng-qashar shalat
  • hukum sholat musafir sudah tiba di tempat sholat tetap berjamaah tidak mengqosor
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, April 14th, 2010 at 10:05 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

28 responses about “Hukum Shalat Qashar Bagi Musafir”

  1. ali said:

    apa dalam keadaan safar sekaligus boleh jamak juga??

    Ia boleh, insya Allah artikelnya setelah ini.

  2. Fahrul said:

    Assalamu’alaikum
    Yang menjadi pertanyaan saya apakah saat kita menjamak shalat memakai niat jamak shalat sebelum melaksanakan shalat yang dijamakkan, sebagai contoh pada saat setelah selesai shalat zhuhur yang dqhasar di Bandung tiba-tiba paman saya memberitahu untuk melaksanakan shalat ashar dengan kata lain jamak taqdim,padahal sebelum shalat zhuhur dia tak memberitahukan akan menjamak antara zhuhur dan ashar, dan apakah shalat saya sah untuk shalat asharnya? Jazakallah.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Insya Allah tetap syah shalat asharnya, karena keduanya masih dianggap sebagai pelaksanaan jamak takdim, yaitu menggabungkan dua shalat dan dikerjakan di waktu shalat yang pertama. Wallahu a’lam

  3. Fahrul said:

    Dan apakah shalat untuk jamak taqdim dan ta’khir harus secara berurutan atau tidak? Mohon penjelasannya Pak Ustadz. Jazakallah.

    Lahiriah dalil-dalil yang ada menunjukkan pelaksanaan kedua shalat yang dijamak adalah berurutan dan tidak ada selang waktu lama di antara keduanya. Silakan baca artikel ‘shalat jamak bagi musafir’.

  4. Fahrul said:

    Assalamu’alaikum
    Bagaimana mengukur jarak safar apabila kita tak mengetahui tentang kebiasaan negeri setempat untuk masalah jarak yanh dianggap safar?
    CATATAN: PERTANYAAN INI DIAJUKAN OLEH TEMAN SAYA YANG TINGGAL DI NEGERI JEPANG UNTUK BELAJAR ILMU TEKNIK DI SEBUAH UNIVERSITAS DI JEPANG.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Bisa ditanyakan kepada masyarakat setempat mengenai tempat yang akan dia kunjungi, apakah itu sudah dianggap safar menurut mereka ataukah belum teranggap safar.

  5. Hukum Shalat Qashar Bagi Musafir « Kabut Fajar said:

    […] : http://al-atsariyyah.com Tag:Hukum, Ibadah Komentar RSS […]

  6. ali said:

    misalnya saya melakukan safar ke jakarta (berangkat dari Makassar)selama 1 minggu, apakah selama di jakarta saya boleh menjamak qashar shalat saya, padahal pada waktu tertentu dalam safar itu, saya tdak merasa berat untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid?

    Ia, tetap disyariatkan bagi dia untuk melakukan shalat qashar selama dia tidak bermakmum kepada imam yang mukim. Demikian halnya dengan shalat jamak, seperti yang kami sebutkan pada artikel setelah ini. Wallahu a’lam

  7. Abu Muqaffa said:

    As-Salaamu ‘alaikum wa rahmatullaah.

    Ustadz – بارك الله فيك -, ada yang ingin saya tanyakan mengenai musafir yang shalat berjamaah di belakang imam yang mukim. [Note: Hati kami lebih condong dengan pendapat ulama yang menyatakan wajibnya qashar bagi musafir]

    Apabila ia (musafir) mendapati satu atau dua rakaat bersama imam, maka apakah:

    [1]. Ia harus menyempurnakan empat rakaat -sebagaimana pendapat jumhur ulama-, atau

    [2]. Cukup baginya dua rakaat tersebut -sebagaimana pendapat Ishaq, Thawus, Asy-Sya’bi, Tamim bin Hadzlam dan Ibnu Hazm-?

    بارك الله فيك

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Dia harus menyempurnakan empat rakaat berdasarkan dalil yang kami sebutkan di awal artikel. Wa fiikum barakallah

  8. abdul hafid said:

    1.berdosakah saya jika saya dalam keadaan safar dan telah tiba di tempat tujuan, dan ketika saya mendengar azan, saya tidak mendatangi mesjid untuk shalat berjamaah melainkan saya jamak qashar shalat saya di rumah sendirian?
    2. apakah orang yang dalam keadaan safar sudah tidak diwajibkan lagi menghadiri shalat berjamaah?sehingga dia boleh terus menerus menjamak qashar shalatnya?
    3. misalkan orang dalam keadaan safar dia tidak berat menghadiri shalat berjamaah, apakah dia wajib shalat berjamaah?

    Tolong dibaca kembali dengan seksama artikel di atas, semua jawaban pertanyaan antum sudah tertera di sana.

  9. abu farraya said:

    Assalamu’alaykum,

    Ana mau tanya, apakah hadist yg mengatakan “tidak boleh seorang wanita safar sehari semalam kecuali bersama mahrom” bisa di jadikan batasan jarak safaq?

    Ana ambil contoh:
    PP jakarta jogja lewat darat bisa di qashar sedangkan kalau naik pesawat (1 jam) tidak bisa di qashar?

    Apakah bisa seperti itu?

    Jazakallahu khoir

    Waalaikumussalam
    Hadits di atas tidak bisa dijadikan pembatasan, karena lafazhnya bukan pembatasan, hanya pengabaran. Selama namanya safar maka wanita tidak boleh tanpa mahram walaupun hanya 1 jam

  10. Abu Faris said:

    As-Salaamu ‘alaikum wa rahmatullaah.

    Ustad, ana ingin bertanya dgn 2 pertatanyaan yaitu :
    1. jika “shalat berjamaah tetap diwajibkan bagi setiap lelaki balig, baik dalam keadaan mukim maupun safar.” Apakah kewajiban berjama’ah disini ada perbedaan. Seperti jika mukim wajib berjama’ah di mesjid NAMUN jika musafir berjama’ahnya apakah boleh ditempat tinggal sementara (daerah tujuan) seperti rumah, hotel, kantor, atau kita ditengah sawah dengan arti kata tidak mendatangi mesjid yg azannya kedengaran oleh kita.
    2. Jika saya dengan istri shalat dalam keadaan safar atau saya dalam keadaan udjur kemesjid dan ingin melaksanakan shalat berjam’ah siapakah yang komad diantara kami ?
    Jazakallahu khoir
    As-Salaamu ‘alaikum wa rahmatullaah.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    1. Ia boleh.
    2. Suami yang sebaiknya melakukan iqamah.

  11. Adi Victoria said:

    Tanya tentang shalat jama dan qashar. Boleh tidak jama dgn hanya salah satunya qashar? Misalnya sholat dzuhur berjamaah dgn mukim (4 rakaat) langsung diikuti dgn shalat ashar qashar (2 rakaat).

    Ya boleh.

  12. sofyan said:

    1. Bagaimana hukum Jama’ dan qashor pada hari jum’at?

    2. Pada saat safar, saya kepengin menjama’ dan mengQashar sholat dhuhur dan ‘asar di masjid. Tetapi di situ sudah didirikan sholat asar berjamaah. pertanyaannya adalah apa yang harus saya lakukan?

    1. Saya tidak paham maksudnya.
    2. Dia ikut shalat jamaah itu 4 rakaat tapi dia niat shalat zuhur. Setelah selesai, baru dia mengqashar shalat ashar.

  13. faqih said:

    Assalamualaikum.
    Saya safar ke Semarang, dan jam 4 sore saya pulang ke Blora. Ketika pulang,apa yang sebaiknya saya lakukan :
    1. Saya sholat Magrib dan isak (jamak qosor)di perjalanan pulang atau
    2. Saya sholat magrib dan isak di Blora (rumah) dengan jamak (magrib 3 rokaat, isak 4 rakaat)
    3. atau keduanya bisa saya pilih sesuai keadaan.

    Waalaikumussalam.
    Keduanya boleh dikerjakan selama dia tiba di rumah dan masih ada waktu isya.

  14. Nur said:

    Bismillah.

    Ustadz, bagaimana keadaanya mahasiswa yang (afwan)”ngekos”, apakah ia terhitung mukim ataukah musafir? Apakah tergantung niatnya?

    apakah jika termasuk mukim, ia menyempurnakan shalat ruba’iyyah-nya, jika ia terhitung musafir ia mengqashar shalat ruba’iyyah-nya, betul ndak yang ana pahami ini Ustadz? mohon bimbingan.

    Nuwun. Jazakallahu khairan.

    Kalo kostnya di dalam kota dia sendiri maka itu mukim, dan jika kostnya di luar kota dia maka itu safar. Jika dia safar maka dia boleh mengqashar shalat selama 19 hari, setelah itu dia kembali menyempurnakannya.

  15. abu abdillah said:

    bismillah,

    ustadz bagaimana jika safar dan tinggal selama 1 minggu/beberapa hari, untuk wanita selama itu pula shalatnya d qashar terus sampai kembali pulang?

    syukron, jazakallahu khairan.

    Ya, maksimal 19 hari.

  16. wahyu said:

    pak ustad saya mau bertanya jarak shalat qashar itu yang wajib kita ketahui berapa? lalu apa boleh shalat dzuhur di qashar dengan ashar dilaksanakan di dzuhur, dengan arah perjalanan itu dari semarang ke purwodadi? apa hukumnya?

    Mengenai jarak safar, sudah dibahas di atas.
    Boleh, itu namanya jamak taqdim.

  17. oky said:

    Saya mau bertanya
    saya kuliah di luar kota dan ngekost kemudian saya setiap sebulan sekali pulang ke kampung halaman.
    Yang saya tanyakan:
    1.apakah saya dalam keadaan safar?
    2.bagaimanakah sholat saya ketika berada di kost?apakah saya wajib mengqashar sholat?
    3.ketika habis pulang dari kampung halaman trus kembali ke kost, apakah saya wajib mengqashar sholat atau menyempurnakan shalat mengingat pulang kampung sebulan sekali sudah menjadi kebiasaan?

    Mohon jawabannya,,
    trima kasih

    1. Tergantung seberapa jauh jaraknya dan tergantung kebiasaan orang di kedua daerah tersebut. Apakah jarak segitu sudah dihukumi safar atau belum.
    2. Jika niatnya di daerah t4 kost itu adalah safar maka sebagian ulama membolehkan mengqashar sampai 19 hari, setelah itu sempurnakan shalatnya.
    3. Perjalanan pulang balik itu dia boleh qashar dan jama’ kalo memang itu dihukumi safar.

  18. Anto said:

    Asalamu’alaikum pak ustadz.
    1.jdi apa maksud dari jamak,qodo’,qosor?
    2.jika sy melakukan perjalanan dg bis,dari pukul 4 (waktu asar) sampai 9 (sudah isya),apa yg harus sy lakukan?
    Terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    1. Jamak artinya menggabungkan 2 shalat dalam satu waktu. Tapi ini hanya berlaku untuk shalat zuhur dengan ashar dan untuk shalat magrib dengan isya.
    qadha': Menunaikan shalat yang ketinggalan.
    Qashar: Meringkas shalat yang tadinya 4 rakaat menjadi 2 rakaat, hanya berlaku untuk shalat yang punya 4 rakaat, dan hanya berlaku bagi musafir.
    2. Sebaiknya dia jamak zuhur dengan ashar dan dikerjakan di waktu zuhur, dan dia menjamak shalat magrib dan isya dan dikerjakan di waktu isya.

  19. Anto said:

    Dari pertanyaan yg sebelumnya,
    1.bagaimana jika saya belum menjamak shalat dzuhur dg ashar (krn sy tdk menyangka perjalanan akan memakan waktu sampai waktu isya)?
    2.bagaimana cara menjamak magrib dg isya?

    1. Anda shalat ashar di kendaraan jika tidak memungkinkan turun. Bertayammum lalu shalat sambil duduk.
    2. Maghrib dulu lalu iqamat lagi baru shalat isya.

  20. ajis said:

    ustadz. Gmana Tata cra shalt kasar jamak taqdim dan kasar jamak takhir.?? Sy slalu kerja luar kota dg jarak lbih 4 km. Kdg ngerjainya jd bingung. Pjlsn para ulama bda2 bkin pusing.

    Memangnya dimana rumah dan tempat kerjanya, soalnya kalau cuma 4 km, itu belum termasuk safar yang dibolehkan jamak dan qashar.

  21. Anto said:

    Terima kasih banyak ustadz,semoga dakwahnya di berkahi Allah(amin)

  22. ahmad said:

    bismillah.,

    “dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat setiap tempat mengenai kapan seseorang dianggap bersafar”..
    bisa dijelaskan lebih rinci tentang keterangan diatas ya ustadz.,? bagaimana mengetahui kebiasaan masyarakatnya? ditanyakan kepada masyarakat biasa atau ahli ilmu setempat?
    jazaakallohu khairan.,

    Ya, ditanyakan kepada masyarakat di situ.

  23. abu yahya said:

    ustadz, kalau kita lupa mengqashar shalat karena kita lupa kalau kita musafir. baru ingat setelah shalat selesai 4 rakaat. apakah harus mengulang?

    Tidak perlu diulang, sudah syah.

  24. Ario said:

    Assww
    Ustd mau nanya nih..saya dan istri awalnya tinggal di kota A,,,kemudian istri akhirnya kerja di kota lain..tiap dua minggu sekali saya mengunjungi istri di kota lain itu (+-4 jam perjalanan) saya biasa berangkat hari jumat siang (sekitar jam 1 siang) dengan menggunakan kapal..pertanyaan saya
    1.apakah saya boleh menjamak sholat ashar (tetap 4 rokaat) dengan sholat jumat ketika sebelum berangkat? Ataukah harus jamak qosor ashar dan sholat jumat ( sholay jumat dulu baru disambung 2 rokaat sholat ashar)
    2. Di tempat istri apakah status sy safar? Hingga berlaku hukum2 safar?

    Terimakasih…kalau tidak merepotkan minta diemailkan juga..

    Semuanya tergantung apakah jarak kedua kota itu sudah dinamakan ‘safar’ menurut kebiasaan orang-orang di kedua kota itu atau tidak?

  25. abu umar said:

    Asslamu’alaiykum…
    ustadz mau nanya,
    1. ana perjalanan dari balikpapan ke jakarta. sebelum perjalanan ana naik pesawat sudah ana jamak dan qashar. tapi untuk hari2 biasa dijakarta (selama 2 hari aja) ana melaksanakan sholat seperti orang mukim aja, isyanya 4 rkaat, maghribnya 3 rakaat, dan seterusnya. apakah perbuatan ana ini benar?
    2. trus ketika pulang kebalikpapan dan sampainya isya, ana melakukan jamak dan qashar dengan maghrib dulu 2 rakaat trs iqomah lalu lanjut isya 2 rakaat. apakah maghrib tidak boleh diqashar?

    Barakallahufiykum…

    Waalaikumussalam.
    1. Kalau dia shalat sendirian atau sebagai imam, dia wajib mengqashar. Tapi jika dia berjamaah, maka itu sudah benar.
    2. Yang boleh diqashar hanya shalat yang 4 rakaat saja.

  26. Yasir said:

    Afwan Ustadz,
    kami masih ada hal yg kurang faham.
    Seorang musafir tetap wajib sholat berjamaah. Shahih. Kemudian:
    1. Apakah wajib disini adl wajib sholat berjamaah bersama imam mukim atau dengan rombongan safar?
    — Afwan, kami memahaminya: wajib berjamaah dengan rombongan safar, dan tidak wajib berjamaah dengan imam mukim —

    Dasarnya dari hadits dalam artikel diatas:

    Dari Musa bin Salamah Al-Hudzali dia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas:

    كَيفَ أُصَلِّي إِذَا كُنتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَم أُصَلِّ مَعَ الإِمَامِ؟ فَقَالَ: رَكعَتَينِ سُنَّةَ أبي القَاسِمِ

    “Bagaimana saya shalat jika saya berada di Makkah (sedang safar) dan saya tidak ikut shalat di belakang imam (berjamaah)?” Maka beliau menjawab, “Shalatlah 2 rakaat, itu merupakan sunnahnya Abu Al-Qasim shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Muslim: 5/197-Syarh An-Nawawi)
    Kami memahaminya (mohon koreksi jika keliru):
    Bolehnya untuk tidak sholat bersama imam mukim, maka gugurlah kewajiban sholat bersama imam mukim.
    –Jika Musa bin Salamah Al-Hudzali (musafir) wajib sholat bersama imam mukim, tentu Ibnu Abbas akan menyalahkannya ketika ia mengatakan “… dan saya tidak ikut shalat di belakang imam (berjamaah)?”.–
    –Sholat berjamaah bersama imam mukim adalah tidak wajib, akan tetapi sholat berjamaah bersama imam safar/rombongan adalah wajib. Sebagaimana Nabi tetap sholat berjamaah selama safar (tentu kita pahami sholat beliau bersama/imam rombongan safar)–

    2. Jika dia safar seorang diri, manakah yang sebaiknya dia lakukan? Apakah berjamaah bersama imam mukim, atau sholat sendiri?
    — Afwan, kami memahaminya: Qoshorlah sholatnya (yg berarti ia sholat sendiri).

    Dasarnya:
    “Pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwa mengqashar shalat bagi musafir hukumnya adalah WAJIB. Ini adalah pendapat Umar bin Abdil Aziz, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Hasan bin Saleh, dan merupakan mazhab Zhahiriah dan selainnya, serta yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar: 3/202″

    Kami tambahkan:
    Namun jika ada kemudhorotan jika ia tidak berjamaah ke masjid (misal: ada omongan warga, “dahulu fi Fulan rajin ke masjid, tapi skrg ga’ lagi. Sejak dia berjenggot/cungklang”), maka sholatlah ia di masjid bersama imam mukim.

    Allohua’lam..
    (Mohon koreksi dan pencerahan Ustadz atas apa yang kami pahami.. *senyumsapa)

    1. Asalnya bermakmum kepada imam muqim. Kalau terlambat, maka silakan mereka sesama musafir membentuk jamaah.
    Atsar Ibnu Abbas tidak menunjukkan apa yang antum pahami.
    2. Dia berjamaah bersama imam muqim.
    Fatwa yang antum bawakan itu tidak menunjukkan apa yang antum pahami.
    Harap diperhatikan lagi lebih seksama.

  27. margono said:

    ustadz kami rombongan piknik lebaran dalam perjalanan pulang dari semarang ke solo(boyolali) ketika sampai disolo tiga kebetulan pas waktu sholat dzuhur kami istirahat makan siang direstorant yg bersampingan dengan masjid sekalian sholat berjama’ah,apakah kami tetap disunahkan untuk mengqosor sholat asar 2 rokaat? ketika masyarakat setempat tau kalo perjalanan mudik kami sudah dekat -+30km dari dirumah,syukron, jazakallahu khairan.

    Ya, tetap disyariatkan anda mengqoshor shalat, karena anda masih berstatus musafir ketika itu.

  28. hamzah said:

    Asalamu’alaikum ustadz
    saya ingin bertanya saya adalah mahasiswa kost
    apakah saya selama 3- 4 tahun boleh menjama’ dan meng qoshor sholat selama itu?? jika hanya 19 hari berarti saya men sia siakan sedekah allah sesuai hadis diatas
    apakah saya boleh sholat jumat dengan NIAT SHOLAT ZUHUR selama 3- 4 tahun ??

    Waalaikumussalam.
    Tidak boleh. Maksimal yang ditunjukkan dlm hadits shahih hanya 19 hari. Wallahu a’lam.