Hukum Seputar Sumpah

June 5th 2010 by Abu Muawiah |

21 Jumadil Akhir

Hukum Seputar Sumpah

Allah Ta’ala berfirman:
فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan pertengahan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa yang tidak sanggup melakukannya, maka hendaknya dia berpuasa selama tiga hari. Itulah kaffarat sumpah-sumpah kalian bila kalian bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpah-sumpah kalian. Demikianlah Allah menerangkan kepada kalian ayat-ayatNya agar kalian bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89)
Yang dimaksud dengan makanan pertengahan adalah makanan yang terbaik dan ada yang mengatakan yang pertengahan mutunya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيَأْتِهَا وَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ
“Barangsiapa yang bersumpah kemudian dia melihat selainnya lebih baik daripada apa yang dia bersumpah atasnya maka hendaklah dia melakukan hal yang lain itu dan dia membayar kafarah atas (pembatalan) sumpahnya”. (HR. Muslim no. 1649)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
وَاللَّهِ لَأَنْ يَلِجَّ أَحَدُكُمْ بِيَمِينِهِ فِي أَهْلِهِ آثَمُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ أَنْ يُعْطِيَ كَفَّارَتَهُ الَّتِي افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Demi Allah, sungguh, orang yang berkeras hati untuk tetap melaksanakan sumpahnya, padahal sumpah tersebut dapat membahayakan keluarganya, maka dosanya lebih besar di sisi Allah daripada dia membayar kaffarah yang diwajibkan oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 6625 dan Muslim no. 1655)

Penjelasan ringkas:
Di antara ibadah yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah bahwa ketika seorang muslim ingin menekankan suatu perkara dengan menggunakan sumpah, maka hendaknya mereka bersumpah dengan menggunakan nama-nama Allah Ta’ala. Dan syariat sumpah dengan nama Allah ini telah ditunjukkan dalam Al-Qur`an, As-Sunnah, dan juga telah disepakati oleh kaum muslimin. Di antara dalilnya adalah hadits Abdullah bin Umar secara marfu’:
مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang mau bersumpah maka hendaknya dia bersumpah dengan nama Allah atau dia diam saja.” (HR. Al-Bukhari no. 2482 dan Muslim no. 3105)
Catatan:
Termasuk bersumpah dengan nama Allah adalah bersumpah dengan menggunakan sifat Allah. Karenanya dibenarkan bersumpah dengan Al-Qur`an karena Al-Qur`an adalah firman Allah dan firman Allah merupakan sifat Allah. Ini adalah pendapat sahabat Abdullah bin Mas’ud, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Malik, Asy-Syafi’i, Abu Tsaur, dan selainnya.
Adapun bersumpah dengan mushaf, jika yang dia maksudkan adalah mushafnya (yang terdiri dari lembaran kertas dan tinta) maka tidak boleh bersumpah dengannya, karena mushaf dalam artian ini adalah makhluk. Tapi jika yang dia maksudkan adalah apa yang tertulis dalam mushaf berupa ayat-ayat Al-Qur`an, maka ini sama hukumnya bersumpah dengan Al-Qur`an. Ini adalah pendapat Qatadah, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, dan selainnya.

Hukum Sumpah
Hukum sumpah berbeda-beda disesuaikan dengan hukum masalah yang dia bersumpah untuknya. Karenanya hukum sumpah ada lima:
1.    Wajib. Jika sumpahnya bertujuan untuk menyelamatkan atau menghindarkan dirinya atau muslim lainnya dari kebinasaan
2.    Sunnah. Jika sumpahnya bertujuan untuk mendamaikan dua pihak yang bertikai atau untuk menghilangkan kedengkian dari seseorang atau untuk menghindarkan kaum muslimin dari kejelekan.
3.    Mubah. Misalnya dia bersumpah untuk melakukan atau meninggalkan suatu amalan yang hukumnya mubah.
4.    Makruh. Jika dia bersumpah untuk melakukan hal yang makruh atau meninggalkan amalan yang sunnah. Misalnya sumpah dalam jual beli karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah:
الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ
“Sumpah itu memang bisa melariskan dagangan akan tetapi menghapuskan berkahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1945)
5.    Haram. Bersumpah untuk suatu kedustaan atau dia berdusta dalam sumpahnya. Termasuk juga di dalamnya bersumpah dengan selain nama dan sifat Allah, karena itu adalah kesyirikan. Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda dalam hadits Ibnu Umar:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.” (HR. Abu Daud no. 2829 dan At-Tirmizi no. 1455)
Termasuk di dalam kesyirikan ini adalah bersumpah dengan menggunakan nama Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dalam hal apakah ada kaffaratnya, sumpah terbagi menjadi tiga jenis:
1.    Sumpah yang tidak butuh kaffarat jika dilanggar.
Yaitu sumpah yang diucapkan secara tidak sengaja, semisal dia mengatakan: Tidak demi Allah, betul demi Allah. Termasuk juga di dalamnya orang yang bersumpah atas sesuatu yang dia kira seperti yang dia pikirkan akan tetapi ternyata tidak demikian kenyataannya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja.” (QS. Al-Maidah: 89)
2.    Sumpah yang tidak bisa ditebus dengan kaffarat.
Yaitu sumpah dusta dimana dia bersumpah atas sesuatu padahal dia tahu bahwa itu adalah dusta. Misalnya dia mengatakan, “Demi Allah saya tidak melakukannya,” padahal dia telah melakukannya. Demikian pula sebaliknya. Termasuk di dalamnya bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah. Karena sumpahnya tidak syah, maka tidak ada kewajiban kaffarat atasnya. Yang ada hanyalah bertaubat dari syirik asghar yang telah diperbuatnya dan mengucapkan ‘laa ilaha illallah’. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى فَلْيَقُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ
“Barangsiapa yang bersumpah dan berkata dalam sumpahnya, “Demi Laata dan Uzza,” maka hendaknya dia mengatakan, “Laa Ilaaha Illallaah.” Dan barangsiapa yang berkata kepada temannya, “Ayo kita taruhan,” maka hendaknya dia bersedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 4482)
3.    Sumpah yang bisa ditebus dengan kaffarat.
Yaitu dia bersumpah dengan menggunakan nama atau sifat Allah untuk sesuatu yang akan datang tapi ternyata kenyataan yang terjadi tidak demikian. Misalnya dia mengatakan dengan jujur, “Demi Allah aku akan melakukannya,” kemudian ternyata dia tidak jadi melakukannya. Atau sebaliknya dia mengatakan, “Demi Allah aku tidak akan melakukannya,” lalu di kemudian hari dia melakukannya. Ibnu Qudamah dan Ibnu Al-Mundzir menukil kesepakatan ulama akan wajibnya membayar kaffarat atas sumpah jenis ini.

Istitsna` (pengecualian) dalam sumpah.
Yang dimaksud dengan istitsna` di sini adalah dia menambahkan kalimat ‘insya Allah’ pada sumpahnya.” Misalnya dia mengatakan, “Demi Allah aku akan melakukannya insya Allah.”
Jika dia membatalkan sumpahnya yang mengandung istitsna` maka tidak ada kaffarat atasnya, karena pada dasarnya istitsna` itu merupakan pemutus sumpahnya. Diriwayatkan dalam sebuah hadits:
من حلف وقال: إن شاء الله، فقد حنث
“Barangsiapa yang bersumpah dan dia mengatakan dalam sumpahnya, “Insya Allah,” maka dia telah memutuskan sumpahnya.”
Dalam hadits Ibnu Umar secara marfu’:
مَنْ حَلَفَ فَاسْتَثْنَى فَإِنْ شَاءَ مَضَى وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ غَيْرَ حَنِثٍ
“Barangsiapa yang bersumpah tapi dia melakukan istitsna`, maka jika dia mau maka dia boleh tetap melanjutkan sumpahnya, dan jika dia mau maka dia boleh meninggalkan sumpahnya tanpa ada dosa.” (HR. Abu Daud no. 2839 dan An-Nasai no. 3733 -dan ini adalah lafazhnya-)
Al-Qurthubi berkata, “Jika sumpah telah syah diucapkan maka dia bisa diputuskan dengan membayar kaffarat atau melakukan istitsna`.” Ini adalah mazhab para fuqaha` dan inilah pendapat yang dinyatakan kuat oleh Ibnul Araby. Hanya saja Ibnul Araby mengatakan, “Dipersyaratkan untuk keabsahan istitsna` ini adalah dia terlafazhkan dan bersambung dengan sumpahnya dalam pengucapan.”
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Jika ini (istitsna`) syah, maka dipersyaratkan pada istitsna` dia harus bersambung dengan sumpahnya, tidak dipisahkan dari kalimat sumpahnya oleh ucapan lain dan tidak juga diselingi oleh diam yang lamanya memungkinkan dia berbicara saat itu. Adapun jika istitsna`nya terputus dari kalimat sumpahnya akibat dia menarik nafas, atau suaranya habis, karena dia sakit, atau ada gangguang tiba-tiba, atau karena bersin, atau sesuatu yang lain, maka semua itu tidak membuat istitsna`nya tidak syah, akan tetapi hukumnya syah. Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ats-Tsauri, Abu Ubaid, Ishaq, dan Ashhab Ar-Ra’yi.” Kemudian beliau berkata selanjutnya, “Dipersyaratkan untuk keabsahan istitsna` dia harus mengucapkannya, tidak ada manfaatnya melakukan istitsna` dengan hatinya. Ini adalah pendapat sejumlah ulama, di antaranya: Al-Hasan, An-Nakhai, Malik, Ats-Tsauri, Al-Auzai, Al-Laits, Asy-Syafi’i, Ishaq, Abu Tsaur, Abu Hanifah, Ibnul Mundzir, dan kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini.”

Mengganti sumpah dengan yang lain
Barangsiapa yang bersumpah untuk melakukan sesuatu yang haram atau yang makruh atau yang mubah, kemudian dia menilai ada amalan lain yang lebih baik darinya maka wajib atasnya untuk melakukan yang lebih baik itu dan membatalkan sumpahnya dengan membayar kaffarat. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah yang pertama di atas.

Kaffarat pembatalan sumpah
Telah dijelaskan di atas sumpah jenis bagaimana yang bisa ditebus dengan kaffarat. Adapun kaffaratnya maka sebagaimana yang tersebut dalam surah Al-Maidah di atas:
1.    Kaffarat pertama berisi 3 perkara yang harus dipilih salah satunya: Memberikan makan 10 orang miskin, atau memberikan pakaian 10 orang miskin, atau membebaskan seorang budak.
2.    Jika dia tidak sanggup ketiganya maka barulah dia beranjak ke kaffarat yang kedua, yaitu berpuasa selama 3 hari.

Berikut rinciannya:
a.    Memberi makan 10 orang miskin.
Makanan yang diberikan sebanyak 1 sha (dua telapak tangan lelaki dewasa). Orang miskin di sini selain dari kerabat yang dia wajib memberikan nafkah kepadanya misalnya anaknya atau orang tuanya atau istrinya atau kerabat lain yang berada di bawah tanggungannya. Ini adalah pendapat Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan selain keduanya.
Tidak boleh memberikan makan kepada satu orang sebanyak 10 kali sebagaimana tidak boleh mengganti makanan dengan uang, karena semua ini bertentangan dengan nash ayat di atas.
Apakah boleh memberikannya kepada orang miskin yang kafir? Ada silang pendapat di kalangan ulama.
b.    Memberikan pakaian 10 orang miskin.
Sama seperti di atas tidak boleh memberikan 10 baju kepada satu orang miskin atau mengganti baju dengan uang. Adapun ukuran bajunya, maka ada silang pendapat di kalangan ulama. Hanya saja Ibnu Qudamah berkata, “Pakaian bagi lelaki adalah satu pakaian yang bisa menutupi seluruh tubuhnya. Adapun bagi wanita, maka ukuran minimalnya adalah pakaian yang mereka bisa pakai dalam shalat.” Wallahu a’lam
c.    Membebaskan budak.
Pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran dalam hal ini adalah, dipersyaratkan budaknya harus seorang muslim. Berdasarkan hadits Muawiah bin Al-Hakam As-Sulami tentang ‘dimana Allah’, di dalamnya disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam membebaskan budak wanita Muawiah  setelah beliau menguji keislamanannya. Maka hadits ini menunjukkan bahwa semua kaffarat dosa yang sifatnya pembebasan budak, maka dipersyaratkan haruslah budak yang muslim.
d.    Berpuasa 3 hari.
Dia tidak boleh berpuasa 3 hari kecuali jika dia sudah tidak sanggup melakukan salah satu dari ketiga kaffarat di atas. Apakah dipersyaratkan dalam keabsahannya harus puasa 3 hari berturut-turut? Ada silang pendapat di kalangan ulama, hanya saja tidak diragukan bahwa mengerjakannya secara berurut jauh lebih utama.

Faidah:
1.    Apakah boleh membayar kaffarat sebelum sumpah dibatalkan?
Banyak ulama yang membolehkannya, di antara mereka adalah:
Dari kalangan sahabat ada Umar, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Salman Al-Farisi, Maslamah bin Makhlad radhiallahu anhum.
Dari kalangan tabi’in: Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Rabiah bin Abdirrahman, Abdurrahman Al-Auzai, dan selainnya.
Dari kalangan imam: Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Al-Mubarak, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Ubaid, dan selainnya.
2.    Jika dia meninggal sebelum sempat membayar kaffarat maka diambil dari hartanya sebelum warisan dibagikan. Ini adalah mazhab Asy-Syafi’i dan Abu Tsaur.

[sumber: Diterjemahkan secara ringkas dari:  http://www.islamadvice.com/ibadat/ibadat1.htm#_ftn34]

Incoming search terms:

  • hukum sumpah
  • cara membatalkan sumpah
  • bersumpah palsu kepada suami dengan menyebut demi allah
  • hukum melakukan sumpah
  • membatalkan sumpah demi Allah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, June 5th, 2010 at 4:18 am and is filed under Aqidah, Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

218 responses about “Hukum Seputar Sumpah”

  1. Hamba Allah SWT. said:

    Assalamualaikum ustadz, mau tanya
    apakah sumpah demi Allah yg diucapkan hanya lewat suara berbisik itu sah? Makasih…

    Waalaikumussalam.
    Ya, tetap syah.

  2. Musafir said:

    Assalamaulaikum, bagi anak 18th yg masih dibawah tanggungan orang tua, apakah boleh membayar kaffarah dengan cara memberi 10 pakaian ke fakir miskin/puasa 3 hari? Trims

    Waalaikumussalam.
    Bisa jg dgn memberi makan 10 org miskin. Klau dia tidak punya uang, maka dia berpuasa 3 hari.

  3. Hamba Allah "Agung said:

    Assalamualaikum wr wb

    apa hukumya sumpah ats nama allah, dan sumpa itu bohong ?
    saya merasa menyesal, apa lagi saya bersumpah dengan ibu saya sendiri
    .tpi langsung seketika sya sholat isyak + ngaji dan berdo.a kpd ALLAH mohon ampunan, aku ykin allah maha pemaaf, tpi jiwa saya kurang tenang, mohon sarannya

    Waalaikumussalam

    Waalaikumussalam.
    Jika anda memang sudah ikhlas dan jujur dlm bertaubat, insya Allah Allah akan mengampuni, dan anda harus yakin akan hal itu.

  4. aty said:

    Aslm pa ustad..
    sy mau bertanya sputar sumpah yg nanti mau sy ucapkan.
    pa ustad,saya adl wanita yg mpunyai masa lalu kelam dgn banyak laki2.
    tp InsyaAllah aq skg bnr2 ingin berubah&tdk mau mgulangi pbuatan
    dulu lg.
    skg sy btemu dengan pria yg sgt baik&dia mau mgetahui semua
    perbuatan masa lalu sya dgn smua laki2 pacar saya dulu&tmn2 saya.
    tp sdh byk pbuatan yang benar2 saya lupa yg sdh saya lakukan dgn pacar2
    atau tmn2 saya terdahulu,sy sdh mceritakan smua hal yg saya ingat dan
    skg sy dminta bersumpah,apabila sy berbohong saya akn lumpuh seumur
    hidup saya,saya harus bersumpah dimesjid&di atas Al Qur’an.
    saya bingung pa ustad,sy sudah mceritakan smua hal yg saya ingat,tp
    karena dulu saya pnh berbohong,mknya saya hrs bsumpah spt itu.
    lalu apa yg hrs saya lakukan pa ustad,apakah kalau sy lupa ttg bbrp hal
    yg sdh tjdi,lalu saya dpaksa bsumpah spt itu,apakah sy akn bnr2 lumpuh&bdosa??dsni sy bnr2 dtuntut utk bsumpah spt itu.
    tolong sy pa ustad,sy bnr2 tkt klo ada hal terlupa yg sy ceritakan,lalu sy akan lumpuh?
    mohon jawaban dr pa ustad..
    terima kasih atas phatiannya,mdh2an niat sy utk berubah&hdp lebih
    baik lg,sll mdapat cahaya&jln dr Allah SWT..Amin Ya Rabb

    Apa yang kita lupa, insya Allah tidak menjadi masalah, selama kita betul-betul bertaubat kpd Allah. Dan itu jg tidak berpengaruh pada sumpah anda, karena memang anda hanya bersumpah untuk menceritakan semua yang anda ingat dan ketahui.

  5. fulann said:

    assalamualaikum ustadz.
    saya mw tanya apa bisa diterima taubatnya orang yang sudah bersumpah bohong atas nama Allah?

    Waalaikumussalam.
    Jelas bisa, sangat bisa.

  6. Ala said:

    Assalamualaikum ustad,
    Dulu saya pernah bersumpah dgn nama Allah sama suami bahwa saya gak akan marah-marah atau mengeluh lagi. Sampai sekarang sumpah itu sudah beberapa kali saya langgar. Dan saya sampai sekarang belum bayar kafarat. Yg ingin saya tanyakan, misal sebelum bayar kafarat saya melanggar 1 sumpah itu sebanyak 10 kali,apakah saya harus bayar kafarat 10 kali lipat atau 1 kali saja? Trimakasih ustad.

    Waalaikumussalam.
    Cukup sekali saja.

  7. nanang said:

    asalamualaikum wr wb pak ustad

    saya mo nany
    dulu saya punya pacar dan dy slalu menanyakan apa saya sayang dengan dy ,saya sllu bilang sayang dan berucap akan menyayangi dy apapun yg terjadi tetapi ada yg di tutupi dr dy kemudian saya bertanya apa yg terjadi, ternyata dy seorang janda pikiran saya sempat berubah tapi tetap saya lanjutkan tapi dengan setengah hati saya mencintainya tapi semenjak itu dy minta untuk diikat atau tunangan ,ya saya pernah berucap saya akan tunagan dengan mengucapkan insyallah atau tidak saya lupa ,tapi kemudian hari saya berfikir jika cinta dengan setengah hati pasti kedepannya akan tidak baik,jadi saya memutuskan tidak melanjutkannya dengan rasa sakit hati yg tertinggal ,
    kemudian dy slalu sms saya dengan menyebut nama allah dan tetang hukum karma mendoakan saya yg jelek

    yg saya tanyakan
    1. apakah saya berdosa?
    2. trus bagaimana dengan saya yg sudah berucap atau berjanji yg menimbulkan harapan ,apakah sudah termasuk sumpah dan saya harus membayar dengan tata cara yg telah dijelaskan diatas?

    Apa yg harus saya lakukan?

    Waalaikumussalam.
    1. Insya Allah tidak berdosa. Apa yang anda lakukan sudah tepat.
    2. Bukan termasuk sumpah.

  8. ani said:

    assalamu’alaikum ustadz…
    sy mau tnya,kmrn ini sya mngcpkan “sumpah demi Allah tidak prnh berbuat sprt itu” pdhl sy prnh berbuat nya. bagaimana cara sy bertaubat agar diampuni dosa sy itu dan apakah harus membayar kafarat.
    mohon penjelasannya ustadz. mksh
    wassalam

    Waalaikumussalam.
    Bertaubat dan istighfar kepada Allah. Sumpah seperti ini tdk ada kaffaratnya.

  9. nana said:

    Assallamu’alaikum ustad?
    ustad, saya mau tanya. kemarin waktu saya mengikuti tes masuk perguruan tinggi,kerena sudah berkali kali gagal/ tidak lolos tes, pada tes yang terakhir di salah satu perguruan tinggi, saya punya nadzar “jika di tes terakhir ini saya lolos, keesokan hari setelah pengumuman saya akan khatam Al-Quran dalam satu hari. Alhamdulillah, saya lolos. keesokan harinya saya memulai untuk melaksanakan nadzar tersebut, belum sampai khatam,ternyata ada hal yang tidak saya duga, yang mengharuskan saya untuk menunda menyelesaikan nadzar tersebut. pertanyaan saya,apa yang harus saya lakukan? dan bagaimana hukumnya? sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih. wassallam

    Waalaikumussalam.
    Anda wajib bayar kaffarat nazar.

  10. lyana said:

    assalamu’alaikum ustadz,,,
    sy mau brtanya 1.bolehkah menyuruh orang b’sumpah d’atas alqur’an,,, spaya sya tahu orang itu brbohong atau tdak wlopun sya thu tntang kbenaran’a dan sy hnya ingin menguji k’jujuran orang trsebut??
    2.krna utk menutupi kjadian yg sy lihat trhdap si A agar kluarga’a ttap hrmonis sya mengtakan sumpah bhwa sya tdak tahu kejadian trsebut wlopun sya tahu kjadian’a,, apakah sya wjib membyar kaffarat??
    3.ustad apa yg hrus d’lakukan sy agar ayah sya brani mngatakan yg sbenar’a wlopun yg sbenar’a sy thu,,, dan b’efek kpd k’utuhan kluarga, apakah boleh jika melakukan sumpah tuk hal itu??

    Waalaikumussalam.
    1. Tidak boleh. Bersumpah cukup dengan menyebut nama Allah atau sifat-sifatNya. Adapun bersumpah dengan cara meletakkan tangan di atas mushaf, maka itu adalah cara yang bid’ah.
    2. Tidak wajib bayar kaffarat.
    3. Boleh saja meminta orang lain bersumpah atas suatu hal yang urgen, apalagi jika berkenaan dengan hak orang lain.

  11. yanti said:

    ass. pak ustaz sy mau tanya waktu anak sy masih bayi sering sakit sakitan lalu tanpa sengaja saya mengucapkan saya berjanji mau jd ibu rumah tangga aja tidak akan kerja kantoran kalau saya melanggar nanti anak saya akan celaka karna sy waktu itu kasihan melihat kondisi anak saya
    tp sekarang anak saya sudah besar dan udah sekolah jg sehat2 jd sy berpikir untuk kerja kantoran lg tp sy takut klo saya kerja kantoran lagi apakah sy sudah melanggar sumpah saya pak ustad,apakah sumpah saya ini bs saya tarik lg pak ustad krn kasian anak saya bagaimana agar sumpah saya ini bisa dibatalkan dan saya bisa kerja lg untuk menambah penghasilan keluarga untuk membantu org tua saya. mohon dibantu pak ustad

    Itu sumpah atau janji? Karena hukumnya janji itu tidak sama seperti sumpah, sementara di atas anda bilang ‘saya berjanji’.

  12. yanti said:

    ass. pak ustad gimana kalo sumpah yg kita ucapkan itu dalam hati seperti saya berjanji kalau saya jadi wanita karir maka saya akan kehilangan keluarga saya apakah itu sah atau tidak karna sumpah ini dalam hati tidak diucapkan

    Itu bukan sumpah, tapi mendoakan diri sendiri dengan kejelekan. Itu adalah dosa dan kesalahan yang besar, karena itu hendaknya dia bertaubat kpd Allah.

  13. Cahaya said:

    Aslm,ust ana mw nanya..
    1.Boleh gak berikrar/brjanji dg brsumpah d dpan ust(sbg saksi) dan diawali dg kalimat syahadat,bhwa ana tdk akan prnah syirik,durhaka,brbohong,brzina dll yg trmasuk dosa besar,hal ini demi kebaikan dri sndiri agar ke dpannya mnjadi lbhbaik..,suami ana sdh mlakukannya,skrg dia mnyuruh ana,tp tdk memaksa krna ana msih ragu..Apkah ana ikut suami atau gmn?klu sekiranya itu tdk ad dlm syariat mk ana tdk mw mlakukannya n sbaliknya..apkah sumpah sprti itu ada kaffaratnya?misalnya suatu saat suami ana brbohong dll…
    2.Ana sering brkata2 sumpah wlupun dlm hal biasa,misalnya mngatakan”km cntik bgt nak,sumpah..”sy benci bgt nengok dia,sumpah”bgaimana hukumnya ust??jazakallah khairan

    1. Itu biasanya adl baiat versi kelompok2 sempalan dalam Islam. Jangan dilakukan dan jangan mengucapkannya. Jika itu adl sumpah dan dia melanggarnya, maka ada kaffaratnya.
    2. Itu termasuk kesalahan yang tersebut. Jaga lisan agar tidak terlalu sering bersumpah, apalagi kalau ada nama Allah di dalamnya. Makruh sering bersumpah dgn nama Allah.

  14. Den said:

    Assalamualaikum Pak Ustad, Saya punya masalah yang saya bingung menyelesaikannya:

    Saya seorang perancang dan saya berasumsi bahwa salah satu rancangan saya mungkin dapat memberi efek negatif di masa depan. Hal ini membuat saya sempat bernazar bahwa saya akan hapus rancangan saya.

    Setelah saya telusuri, ternyata kemungkinan efek negatif itu mulai pudar, sehingga saya berpkir untuk membatalkan nazar saya untuk menghapus rancangan saya.

    Pertanyaan saya:
    – apakah hal diatas termasuk nazar yang belum terkabul
    – apakah boleh dibatalkan nazarnya sebelum terkabul?

    Terima kasih. Wassalam.

    Waalaikumussalam.
    Bagaimana kalimat nazar yang diucapkannya?

  15. Ahmad said:

    Assalamualaikum ustaz…saya tidak brapa faham dgn 4 kafarah trsebut…ada kafarah tu adalah untuk membatalkan nazar ataupun dikenakan kafarah akibat tidak mampu melakukan nazar trsbut….sebagai contoh “sya tlah brnazar akan brpuasa 1 hari setiap kali sya mnghisap sebatang rokok” untuk kes ni…adakah kafarah tu untuk membatalkan nazar sya iaitu sya tidak lagi trikat dgn nazar tu….ataupn sya kna byar kafarah setiap kali sya tdak mampu melaksanakn nazar trsbut…mohon pencerahan ya…terima kasih :)

    Waalaikumussalam.
    Kaffarat itu membatalkan nazar, jadi nazar sdh tidak berlaku setelah kaffarat dibayar.

  16. maink said:

    Assalamualaikum ustad,
    saya dulu pernah berjanji tidak akan berbuat suatu kebiasaan buruk yg biasa saya lakukan, lalu saya bernadzar jika saya saya melakukan hal itu lagi saya akan shaum selama 1 hari. Lalu saya melakukan kebiasaan buruk itu lagi, dan saya menunaikan nadzar saya shaum 1 hari.
    Apakah saya harus membayar kafarah ustad? mohon pencerahannya

    Waalaikumussalam.
    Tidak bayar kaffarat krn anda melakukan isi nazarnya.

  17. asqo ahmad said:

    Aku punya teman dia sudah bilang kalau besok dia tidak melakukan perbuatan jahat lagi lalu apa dia juga harus puasa 3 hari.tapi dia belum baligh

    Tidak perlu. Anak yg belum balig tdk punya kewajiban apa-apa.

  18. aan setiawan said:

    Pak ustad sya mau nanya, sya pernah bersumpah di dlam hati sya, tidak akan main game lagi dan jika sya main game lagi sya keluar dari islam, dan sya memang tidak main game lagi, tapi setelah 1 bulan sya main game lagi.tolong berikan penjelasannya, karna tidak mungkin sya keluar dari islam. Mohon bantuannya.

    Itu bukan sumpah. Sumpah itu kalau sudah diucapkan.