Hukum Program Keluarga Berencana

September 19th 2011 by Abu Muawiah |

Hukum Program Keluarga Berencana

Tanya:
Assalamualaikum, ana mau tanya ustadz,bgm hukum berKB (keluarga berencana) dalam islam,jazakallah khairan ksira..
Ummu fatih asyra [Julianiwidyastuti@ymail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Berikut beberapa fatwa para ulama sunnah berkenaan dengan masalah ini:

SEPUTAR HUKUM KELUARGA BERENCANA [KB]

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz ditanya : Apa hukum KB ?

Jawaban.
Ini adalah permasalahan yang muncul sekarang, dan banyak pertanyaan muncul berkaitan dengan hal ini. Permasalahan ini telah dipelajari oleh Haiah Kibaril Ulama (Lembaga di Saudi Arabia yang beranggotakan para ulama) di dalam sebuah pertemuan yang telah lewat dan telah ditetapkan keputusan yang ringkasnya adalah tidak boleh mengkonsumsi pil-pil untuk mencegah kehamilan.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan untuk hamba-Nya sebab-sebab untuk mendapatkan keuturunan dan memperbanyak jumlah umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Nikahilah wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kiamat dalam riwayat yang lain : dengan para nabi di hari kiamat)”. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162 (lihat takhrijnya dalam Al-Insyirah hal.29 Adazbuz Zifaf hal 60) ; Baihaqi 781, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Karena umat itu membutuhkan jumlah yang banyak, sehingga mereka beribadah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, melindungi kaum muslimin -dengan ijin Allah-, dan Allah akan menjaga mereka dan tipu daya musuh-musuh mereka.

Maka wajib untuk meninggalkan perkara ini (membatasi kelahiran), tidak membolehkannya dan tidak menggunakannya kecuali darurat. Jika dalam keadaan darurat maka tidak mengapa, seperti :

[a]. Sang istri tertimpa penyakit di dalam rahimnya, atau anggota badan yang lain, sehingga berbahaya jika hamil, maka tidak mengapa (menggunakan pil-pil tersebut) untuk keperluan ini.

[b]. Demikian juga, jika sudah memiliki anak banyak, sedangkan isteri keberatan jika hamil lagi, maka tidak terlarang mengkonsumsi pil-pil tersebut dalam waktu tertentu, seperti setahun atau dua tahun dalam masa menyusui, sehingga ia merasa ringan untuk kembali hamil, sehingga ia bisa mendidik dengan selayaknya.

Adapun jika penggunaannya dengan maksud berkonsentrasi dalam berkarier atau supaya hidup senang atau hal-hal lain yang serupa dengan itu, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan wanita zaman sekarang, maka hal itu tidak boleh”.

[Fatawa Mar’ah, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, Darul Wathan, cetakan pertama 1412H]

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : “Ada seorang wanita berusia kurang lebih 29 tahun, telah memiliki 10 orang anak. Ketika ia telah melahirkan anak terakhir ia harus melakukan operasi dan ia meminta ijin kepada suaminya sebelum operasi untuk melaksanakan tubektomi (mengikat rahim) supaya tidak bisa melahirkan lagi, dan disamping itu juga disebabkan masalah kesehatan, yaitu jika ia memakai pil-pil pencegah kehamilan akan berpengaruh terhadap kesehatannya. Dan suaminya telah mengijinkan untuk melakukan operasi tersebut. maka apakah si istri dan suami mendapatkan dosa karena hal itu ?”

Jawaban.
Tidak mengapa ia melakukan operasi/pembedahan jika para dokter (terpercaya) menyatakan bahwa jika melahirkan lagi bisa membahayakannya, setelah mendapatkan ijin dari suaminya.

[Fatawa Mar’ah Muslimah Juz 2 hal. 978, Maktabah Aadh-Waus Salaf, cet ke 2. 1416H]

SEPUTAR HUKUM KELUARGA BERENCANA [KB]

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seorang ikhwan bertanya hukum KB tanpa udzur, dan adakah Udzur yang membolehkannya?”

Jawaban.
Para ulama telah menegaskan bahwa memutuskan keturunan sama sekali adalah haram, karena hal tersebut bertentangan dengan maksud Nabi mensyari’atkan pernikahan kepada umatnya, dan hal tersebut merupakan salah satu sebab kehinaan kaum muslimin. Karena jika kaum muslimin berjumlah banyak, (maka hal itu) akan menimbulkan kemuliaan dan kewibawaaan bagi mereka. Karena jumlah umat yang banyak merupakan salah satu nikmat Allah kepada Bani Israil.

“Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” [Al-Isra : 6]

“Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu’ [Al-A’raf : 86]

Kenyataanpun mennguatkan pernyataan di atas, karena umat yang banyak tidak membutuhkan umat yang lain, serta memiliki kekuasaan dan kehebatan di depan musuh-musuhnya. Maka seseorang tidak boleh melakukan sebab/usaha yang memutuskan keturunan sama sekali. Allahumma, kecuali dikarenakan darurat, seperti :

[a] Seorang Ibu jika hamil dikhawatirkan akan binasa atau meninggal dunia, maka dalam keadaan seperti inilah yang disebut darurat, dan tidak mengapa jika si wanita melakukan usaha untuk mencegah keturunan. Inilah dia udzur yang membolehkan mencegah keturunan.

[b] Juga seperti wanita tertimpa penyakit di rahimnya, dan ditakutkan penyakitnya akan menjalar sehingga akan menyebabkan kematian, sehingga rahimnya harus diangkat, maka tidak mengapa.

[Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah Juz 2 hal. 974-975]

SEPUTAR HUKUM KELUARGA BERENCANA [KB]

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan, dan kapan hal itu diharamkan ? Adakah nash yang tegas atau pendapat di dalam fiqih dalam masalah KB? Dan bolehkah seorang muslim melakukan azal kerika berjima tanpa sebab?”

Jawaban.
Seyogyanya bagi kaum msulimin untuk memperbanyak keturunan sebanyak mungkin, karena hal itu adalah perkara yang diarahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.

“Artinya : Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan berlomba dalam banyak jumlahnya umat” [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Dan karena banyaknya umat menyebabkan (cepat bertambahnya) banyaknya umat, dan banyaknya umat merupakan salah satu sebab kemuliaan umat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan nikmat-Nya kepada Bani Israil.

“Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” [Al-Isra’ : 6]

“Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu” [Al-A’raf : 86]

Dan tidak ada seorangpun mengingkari bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemuliaan dan kekuatan suatu umat, tidak sebagaimana anggapan orang-orang yang memiliki prasangka yang jelek, (yang mereka) menganggap bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemiskinan dan kelaparan. Jika suatu umat jumlahnya banyak dan mereka bersandar dan beriman dengan janji Allah dan firman-Nya.

“Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” [Hud : 6]

Maka Allah pasti akan mempermudah umat tersebut dan mencukupi umat tersebut dengan karunia-Nya.

Berdasarkan penjelasan ini, jelaslah jawaban pertanyaan di atas, maka tidak sepantasnya bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan kecuali dengan dua syarat.

[a] Adanya keperluan seperti ; Wanita tersebut memiliki penyakit yang menghalanginya untuk hamil setiap tahun, atau, wanita tersebut bertubuh kurus kering, atau adanya penghalang-penghalang lain yang membahayakannya jika dia hamil tiap tahun.

[b] Adanya ijin dari suami. Karena suami memiliki hak atas istri dalam masalah anak dan keturunan. Disamping itu juga harus bermusyawarah dengan dokter terpercaya di dalam masalah mengkonsumsi pil-pil ini, apakah mmakaiannya membahayakan atau tidak.

Jika dua syarat di atas dipenuhi maka tidak mengapa mengkonsumsi pil-pil ini, akan tetapi hal ini tidak boleh dilakukan terus menerus, dengan cara mengkonsumsi pil pencegah kehamilan selamanya misalnya, karena hal ini berarti memutus keturunan.

Adapun point kedua dari pertanyaan di atas maka jawabannya adalah sebagai berikut : Pembatasan keturunan adalah perkara yang tidak mungkin ada dalam kenyataan karena masalah hamil dan tidak, seluruhnya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika seseorang membatasi jumlah anak dengan jumlah tertentu, maka mungkin saja seluruhnya mati dalam jangka waktu satu tahun, sehingga orang tersebut tidak lagi memiliki anak dan keturunan. Masalah pembatas keturunan adalah perkara yang tidak terdapat dalam syari’at Islam, namun pencegahan kehamilan secara tegas dihukumi sebagaimana keterangan di atas.

Adapun pertanyaan ketiga yang berkaitan dengan ‘azal ketika berjima’ tanpa adanya sebab, maka pendapat para ahli ilmu yang benar adalah tidak mengapa karena hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Kami melakukan ‘azal sedangkan Al-Qur’an masih turun (yakni dimasa nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam)” [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud 1/320 ; Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu nu’aim dalam Al-hilyah 3/61-62]

Seandainya perbuatan itu haram pasti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. Akan tetapi para ahli ilmu mengatakan bahwa tidak boleh ber’azal terhadap wanita merdeka (bukan budak) kecuali dengan ijinya, yakni seorang suami tidak boleh ber’azal terhadap istri, karena sang istri memiliki hak dalam masalah keturunan. Dan ber’azal tanpa ijin istri mengurangi rasa nikmat seorang wanita, karena kenikmatan seorang wanita tidaklah sempurna kecuali sesudah tumpahnya air mani suami.

Berdasarkan keterangan ini maka ‘azal tanpa ijin berarti menghilangkan kesempurnaan rasa nikmat yang dirasakan seorang istri, dan juga menghilangkan adanya kemungkinan untuk mendapatkan keturunan. Karena ini kami menysaratkan adanya ijin dari sang istri”.

[Fatawa Syaikh ibnu Utsaimin Juj 2 hal. 764 dinukil dari Fatawa Li’umumil Ummah]

[sumber: http://almanhaj.or.id/content/127/slash/0]

Fatwa Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah:

Pertanyaan: Apakah KB (pengaturan kelahiran) berbeda dengan pembatasan jumlah keluarga?

Jawab: KB (birth control) mempunyai beberapa detail di dalamnya. Maka, aku katakan bahwa hal ini telah dikenal dan digunakan dalam masyarakat muslim. Namun, ada beberapa kasus yang harus dikembalikan pada niat atau motif di belakangnya. Salah satu contoh dari motif penggunaan KB ini adalah berdasarkan petunjuk dokter yang menganjurkan kepada pasangan untuk ber-KB untuk menyelamatkan kesehatan ibu yang telah berada dalam keadaan yang bukan normal karena telah melahirkan banyak anak. Maka jika seorang dokter muslim yang ahli menganjurkan untuk ber-KB, maka ini menjadi alasan yang sah (diperbolehkannya) untuk ber-KB.
Alasan untuk menggunakan KB seperti itu adalah diperbolehkan. Namun untuk alasan yang bertolak belakang dari motif yang tadi, seperti karena alasan kemiskinan atau karena biaya, yang biasanya selalu berada di pikiran orang kafir, (maka itu tidak boleh). Makanya kalian lihat seorang diantara mereka (orang kafir) berkata: “Istri saya dan saya berdua, dan saya punya anak dua, sedangkan anggota keluarga yang kelima adalah anjingnya. Maka gaji yang saya terima hanya cukup untuk kami berlima!”
Ini tidak diperbolehkan dalam Islam karena alasan ini datang dari pikiran jaman Jahiliah, yang kita diperingatkan untuk menjauhinya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu bunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami memberi kamu rizki dan juga mereka.” (Al An’am: 151)
Hal ini terutama dimana terjadi seorang muslim meyakini bahwa anak itu menjadi tanggungannya. Sedangkan sebenarnya adalah bahwa rizki si anak sudah ditentukan semenjak dia berada di kandungan ibunya, seperti yang diterangkan oleh sunnah. Maka KB seperti ini adalah sangat dilarang. Dan untuk alasan yang tak berdasar dan salah yang diucapkan sebagian orang untuk membolehkannya, maka itu tidak ada tempatnya dalam agama. (Majalah Al Salah edisi ke-2)

[sumber: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/5273]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, September 19th, 2011 at 9:18 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Hukum Program Keluarga Berencana”

  1. Cahbagus said:

    Assalamu’alaikum,
    Ustadz, bagaimana pendapat ustadz jika suami istri tidak melakukan KB kemudia mempunyai beberapa anak (katakan lebih dari 2 anak) kemudian tidak bisa merawat anak dengan baik dan tidak bisa memberikan pendidikan yang layak (karena ekonomi) dan akhirnya anak tersebut terlantar masa depannya, padahal anak adalah titipan Allah yang harus kita didik dan bimbing untuk mencapai masa depan yang lebih baik?

    terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Yang memberikan rezki kepada anak adalah Allah, bukan kita. Rezki kita tidak akan berkurang atau dipindahkan (kepada anak) hanya karena adanya anak. Jadi menurut pendapat saya pribadi -wallahu a’lam- asalnya alasan seperti itu tidak bisa dijadikan alasan. Wallahu a’lam.
    Hanya saja bukan artinya dalam hal ini tidak ada pengecualian. Para ulama memberikan pengecualian bolehnya KB, silakan baca artikel di atas secara lengkap.

  2. Arsanty said:

    Assalamualaikum,

    Ustadz, berkaitan dengan komentar sebelumnya, tentang perihal kondisi ekonomi dan pendidikan untuk anak.. Kalau dilihat kenyataannya, banyak masyarakat yg mempunyai anak tapi akhirnya tidak terawat dengan baik akibat beban kondisi ekonomi dan psikologis yg dimiliki orang tua, bukan saja kurang gizi tapi tidak terdidik sosial dan moralnya dengan baik.. Bukan ingin beralasan, tapi kenyataan itu kita lihat di kehidupan langsung.. Kalau mempunyai anak banyak, dan kita sendiri tidak mempunyai kemampuan yg cukup bagaimana, bukan saja dalam hal ekonomi tapi juga alokasi perhatiannya.. Terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Kalau masalah pendidikan keagamaan dan perawatan, mungkin saja kita katakan sebagai udzur. Tapi jika masalahnya adalah masalah perut maka ini bukanlah alasan sama sekali. Karena kewajiban kita hanya merawat anak-anak, sementara Allah yang memberi makan kepada mereka, bukan kita. Maksudnya, bahwa kita ini hanya sebagai sebab sampainya rezki Allah kepada mereka.

  3. zulian said:

    Bismillah. Assalaamu’alaykum. Afwan ustadz,anak pertama saya dilahirkan secara cesar, menurut dokter kandungan saya, maka saya harus menunda kehamilan hingga 2 tahun. berdasar apa yang saya pahami dari wacana yang ustadz berikan, saya dan suami dibolehkan untuk ber KB. apakah kesimpulan saya ini benar?
    Waalaikumussalam.

    Ya, insya Allah boleh.

  4. ricco said:

    Assalamualikum….
    saya mau bertanya bagaimana dan apa hukumnya bagi suami istri yang mempunyai dua orang anak dan itu menurut mereka sudah cukup dan mereka tidak ingin mempunyai anak lagi dgn cara minum pil KB ato kontrasepsi lainnya??apakah hal tersebut dilarang??
    terima kasih atas penjelasannya…
    Wassalamualaikum….

    Waalaikumussalam.
    Ya, itu jelas dilarang.

  5. jauhar said:

    Assalamualaikum..
    Pak ustadz, saya punya pertanyaan.. Apa hukumnya menumpahkn air mani diluar kemaluan istri sesaat setelah bersenggama dan istri mengijinkan… Terima ksih sebelumnya..

    Waalaikumussalam. Boleh saja.

  6. Dwi said:

    Assalamualaikum pak ustad
    mohon maaf sebelumnya pertanyaan saya Out Of topic karena halaman yang membahas mani,wadi,mahzi ga bisa submit pertanyaan.

    Dikatakan bahwa jika kita mengeluarkan madzi kita diharuskan berwudhu. Pertanyaan saya jika mendekati waktu sholat apakah kita harus wudhu 2 kali dengan rincian wudhu untuk madzhi dan wudhu untuk menunaikan sholat? ataukah cukup sekali saja? trima kasih

    Waalaikumussalam.
    Cukup sekali saja, karena wudhu sekali sudah mengangkat semua hadats kecil, berapapun jumlahnya.

  7. awan said:

    assalammualaikum wr wb…bagai mana bila ternyata seorang suami istri hanya menginginkan beberapa saja anak dengan alasan untuk fokus mendidik anak tersebut menjadi shaleh ataupun shaleha,,,hal tersebut dikarenakan takut ada yang terlalaikan karna terlalu banyak anak…???
    mohon jawabannya
    :)

    Waalaikumussalam.
    Tidak mengapa kalau itu sifatnya hanya sementara. Tapi dia tidak boleh mencegah kehamilannya secara permanen.