Hukum Pegadaian & Jaminan BPKB

January 27th 2010 by Abu Muawiah |

Hukum Pegadaian & Jaminan BPKB

Tanya:
Ustadz bagaimana hukum pegadaian syariah yang sekarang berkembang ditengah-tengah masyarakat? Terus bagaimanakah sebenarnya sistem pergadaian yang sesuai dengan syar’i.Mohon dicantumkan juga dgn semua dalil2 yang lengkap dan shohih, yang berkenaan dengan hukum pergadaian ini. Jazzakallohu khoiro
“abu abdillaah” <abuabdillaah15@yahoo.com>

Jawab:
Wa’alaikumussalam waRahmatullaahi waBarakaatuh,
Berikut beberapa ketentuan umum dalam muamalah gadai atau dalam fiqh disebut dengan nama ar-rahn:
1- Barang gadai bukanlah sesuatu yang harus ada dalam hutang piutang, dia hanya diadakan dengan kesepakatan kedua belah pihak, misalnya jika pemilik uang khawatir uangnya tidak atau susah untuk dikembalikan. Jadi, barang gadai itu hanya sebagai penegas dan penjamin bahwa peminjam akan mengembalikan uang yang akan dia pinjam. Karenanya jika dia telah membayar utangnya maka barang tersebut kembali ke tangannya.

2. Barang gadai, walaupun dia digadaikan, maka dia tetap merupakan milik orang yang berhutang. Kepemilikannya tidak berubah hanya karena dia digadaikan.

3. Karenanya kepemilikannya tidak berpindah, maka pemilik uang tidak boleh memanfaatkan barang gadai karena itu bukanlah haknya, bahkan itu termasuk riba. Karena dia meminjamkan uang lalu dia memetik manfaat dengan menggunakan barang gadai tersebut.

4. Jika barang gadai butuh pembiayaan -misalnya hewan perahan, hewan tunggangan, dan budak (sebagaimana dalam as-sunnah) maka:
Jika dia dibiayai oleh pemiliknya maka pemilik uang tetap tidak boleh menggunakan barang gadai tersebut.
Jika dibiayai oleh pemilik uang maka dia boleh menggunakan menggunakan barang tersebut sesuai dengan biaya yang telah dia keluarkan, tidak boleh lebih.
Maksud barang gadai yang butuh pembiayaan, yakni jika dia tidak dirawat maka dia akan rusak atau mati. Misalnya hewan atau budak yang digadaikan, tentunya keduanya butuh makan. Jika keduanya diberi makan oleh pemilik uang maka dia bisa memanfaatkan budak dan hewan tersebut sesuai dengan besarnya biaya yang dia keluarkan.

5. Barang yang dijadikan boleh apa saja selama bernilai, dan nilainya tidak mesti lebih tinggi dibandingkan hutang. Dan yang diserahkan kepada pemilik uang, bisa barangnya dan bisa juga wakil dari barangnya, misalnya BPKB pada kendaraan.

6- Jika pemilik barang gadai tidak bisa melunasi hutangnya sampai pada waktu yang telah disepakati, maka barang tersebut tidak langsung dimiliki oleh pemberi hutang, karena itu merupakan perbuatan zhalim.
Maka dalam hal ini ada dua jalan keluar:
1.    Pemilik uang menambah tempo pembayaran.
2.    Barang gadai tadi dijual. Jika harga jualnya lebih tinggi dari hutangnya, maka sisa uangnya harus dikembalikan kepada pemilik barang gadai. Dan jika nilainya kurang maka pemilik barang gadai tetap wajib melunasi.

7- Jika pemilik uang menyimpan barang gadai tersebut di rumahnya dan dia yang menanggungnya, maka dia bisa meminta biaya penitipan kepada pemilik barang tersebut, yang besarnya tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Inilah secara umum ahkam dalam pegadaian, insya Allah dalil-dalilnya akan datang pada tempatnya. Wallahu a’lam bishshawab

Incoming search terms:

  • hukum pegadaian
  • hukum islam antara gadai dan rentenir
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, January 27th, 2010 at 2:44 pm and is filed under Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

19 responses about “Hukum Pegadaian & Jaminan BPKB”

  1. ibnubakram said:

    assalamualaikum
    afwan akhi ,ana barusan buka web arab yang islam academy ,disitu banyak mencantumkan solih munajjid dan abu ishaq al huwainy,kalo bisa di delet aja link ini.karena tidak steril.ganti link salaf yang lain aja.afwan sebelumnya
    barakallauhu fiik

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Barakallahi fiik, selain kedua orang itu, masih banyak durus dari para ulama seperti: Asy-Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Al-Utsaimin, Abdurrahman bin Nashir Al-Burrak, Abdul Aziz Ar-Rajihi, Khalid bin Ali Al-Musyaiqih, dan selainnya dari kalangan masyayikh dan mustafidin. Kita bisa mengambil banyak faidah dari mereka insya Allah. Karenanya situs ini hanya bagi mereka yang sudah bisa mengambil faidah darinya, dan bagi siapa yang mengetahui kepada siapa dia harus mengambil ilmu. Ala kulli hal jazakallahu khairan atas sarannya.

  2. Zahar b. Zainul said:

    assalamualaikum
    wujudkah kedai penggadaian(ar-rahn) ini samaada di zaman rasullah saw maupun di zaman para sahabat. (2) adakah penggadaian pada masa itu hanya tertumpu barangan emas sahaja atau termasuk barangan lain yang boleh dijadikan gadaian?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    1. Wallahu a’lam apakah kedai pegadaian sudah ada di zaman Nabi, tapi yang jelas prakteknya kepada orang per orang sudah ada. Di antaranya adalah amalan Nabi yang masyhur dimana beliau menggadaikan baju besi beliau kepada seorang yahudi.
    2. Semua barang yang mempunyai nilai tukar bisa dijadikan sebagai barang gadai (jaminan), sebagaimana Nabi telah menjaminkan baju besi beliau. Wallahu a’lam.

  3. Nurhidayah said:

    Bismillah
    Assalamu’alykum ya ustadz…
    afwan, ana mau tanya gmn hukum bekerja di Bank Muamalat ? mohon jawabannya…Jazaakumullah khoir..

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Sampai sekarang kami belum mengetahui adanya bank muamalat yang betul-betul mengamalkan hukum perbankan sesuai syariat. Sampai-sampai sebagian ikhwan ada yang mengatakan: Perbedaan antara bank konvensional dan bank syariah sekarang hanyalah dari sisi pegawai bank syariah itu memakai koko dan mengucapkan salam, berbeda halnya dengan pegawai bank konvensional. Sisanya tetap sama.
    Karenanya hendaknya dia tidak bekerja pada bank seperti itu sebagaimana dia tidak boleh bekerja pada bank konvensional. Wallahu a’lam

  4. abu ruqayyah said:

    apakah boleh menggadaikan brg objek jual beli? misal: kredit mbl dng jaminan mbl i2 sndr.

    Maaf konsepnya kami belum paham betul, kenapa harus ada jaminan?

  5. Hukum Seputar Pegadaian | JURNAL SALAFIYUN said:

    [...] Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=1771#more-1771 [...]

  6. habili said:

    asalamualaikum…
    ustad mau nanya
    sektar 10 bulan yang lalu,saudara dari bapak saya pinjem uang kepada saya dan kakak saya sekitar 80 juta,trus sebagai jaminannya sebidang tanah diserahkan kepada kami trus dalam kesepakatan tersebut saya mengelolah tanah tersebut untuk jangka beberapa tahun untuk dijadikan usaha pertanian saya,,,
    1.yang saya tanyakan apa boleh saya mengelolah tanah tersebut sebagai usaha saya tanpa memberi hasilnya kepada kepada pemilik tanah??
    2.apakah dalam hal tersebut ada unsur ribanya?
    3.seandainya ada unsur ribanya apa sebaiknya yg harus saya lakukan?
    …Jazaakumullah khoir

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Dalam masalah hutang piutang, ada kaidah di kalangan ulama yang berbunyi: Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat maka manfaat itu adalah riba.
    Jadi dalam hal ini anda tidak boleh mengambil manfaat dari tanah tersebut, karena dia hanyalah sebagai jaminan dan pemiliknya tetap paman anda. Jika anda mengambil manfaat dari tanah tersebut maka berarti anda mengambil riba darinya.
    Yang wajib anda lakukan adalah bertaubat kepada Allah. Adapun jika memang tanah tersebut mau dimanfaatkan, maka sebaiknya dalam bentuk bagi hasil. Paman sebagai pemilik tanah dan anda sebagai pengelola, hasilnya nanti bisa dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama.

  7. salwa said:

    asalmu alaikum wr wb, ustad langsung saja saya mau tanya “jika seseorang mengadaikan kalung nya kepada orang lain dan tidak di tentukan kapan pengaembalianya ,tapi pihak yang mempunyai kalung memberikan bunga 10% tiap bulan selama belum mengembalikan uang yang di tukar dgn kalung,bagaimakah hukum nya ?terimaksih ,,,wasalam wr wb

    Waalaikumussalam
    Hukumnya haram karena 10% itu adalah riba.

  8. abu ridha said:

    Assalamualaikum,
    ustadz, mengenai jalan keluar dari ketentuan keenam, barang gadai itu dijual, apakah dibolehkan si pemilik uang yang membelinya sesuai dengan harga yang disepakati: 1) sesuai dengan jumlah uang yang dipinjam, atau 2) sesuai harga pasar?

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja, dan harganya disesuaikan dengan harga pasar sesuai dengan nilai barang tersebut.

  9. Abu hasan said:

    Assalamualaikum
    Ustadz ana mau bertanya apakah kaidah gadai di atas bisa diterapkan pada cara berkebun emas yang banyak tersebar pada saat ini. dengan cara gadai emas di bank syariah, lalu uang hasil gadai itu dibelikan emas lagi.

    Waalaikumussalam.
    Maaf kami tidak paham mengenai maksud berkebun emas itu, jadi kami tidak bisa menjawabnya.

  10. Pribadi bin Supardi said:

    Assalamualaikum
    Ustadz saya mau tanya; Seseorang pinjam uang kpd saya sebanyak Rp.3juta tapi dia memberikan jaminan spedamotor kpd saya dgn kesepakatan bahwa spdmotor tsb boleh dipakai selama belum dikembalikan uangnya dan beaya kerusakan ditanggung saya (pemilik uang). Cara spt ini banyak yg melakukan.
    Tolong jelaskan hukumnya dgn tambahan penjelasan lainnya akibat perbuatan tsb.
    Penjelasan ini akan saya beritahukan kpd yg lain utk dibaca, krn apa yg saya dengar dari radio saya tdk mampu utk menyampaikan.
    syukron.

    Waalaikumussalam.
    Para ulama menyatakan, ‘Setiap pinjaman yang melahirkan manfaat maka itu adalah riba’. Dan manfaat ini tidak terbatas pada uang dan semacamnya, akan tetapi mencakup semua jenis manfaat.
    Karenanya, apa yang anda sebutkan itu adalah riba karena anda meminjamkan uang lalu mendapatkan manfaat yaitu penggunaan motor.

    Maka dalam ha

  11. Abu Fauzan said:

    Afwan ustadz
    ana pikir kalau motor memerlukan perawatan, yang mana dpt menyebabkan kerusakan jika tdk pernah dipakai.
    Jadi ketika kita memakai motor tsb justru kita merawatnya.
    Mohon penjelasannya ustadz…

    Saya rasa perawatannya hanya butuh dipanasi mesinnya (tanpa perlu mengendarainya). Dan jika ada perawatan lain, maka pemiliknya bisa diminta untuk mengurusnya atau mewakilkan kepada kita dengan biaya dari pemiliknya

  12. abu hafshoh said:

    assalamu’alaikum,
    bolehkah memakan makanan pemberian orang yang bekerja murni dipegadaian (persero) ?
    jazakallah

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja insya Allah. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah menerima hadiah dari orang Yahudi yang notabene bermuamalah dengan riba.

  13. lukman said:

    assalamu a’laikum
    Pa ustad bagaimana hukumnya jika membeli barang dari hasil pelelangan di pegadaian….
    Terimakasih..
    Wasalamu a’laikum

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada masalah, selama tidak ada kezhaliman dan penipuan di dalamnya.

  14. inayah said:

    assalamu’alaikum..
    pak ustadz saya mau tanya, jika seseorang menggadaikan sebuah hp misalnya dg uang 30.000, mnurut ksepakatan 3hari kmudian akan dbayar dg jumlah uang 35.000. bagaimana hukumnya??

    Waalaikumussalam.
    Itu jelas riba yang diharamkan.

  15. sutrisni said:

    BPKB mobil keluarga tanpa sepengetahuaan sy sbgai istri, bgmn hukumnya ??? Sementara pajak mobil tsb telah mati 2tahun. di gadai ke bank dgn menggunakan nama org lain, dan disatu pihak org tsb kembali mengajukan pinjaman tanpa sepengetahuan siapapun secara sepihak. Apakah bank bisa mencairkan dana sementara pajak mati, karena saya tau persis sampai detik ini pajaknya blm di bayar.

    Maaf, kami tidak paham tentang teknis masalah ini di bank. Mungkin lebih tepatnya ditanyakan langsung ke bank.
    Lagi pula, pertanyaan anda di atas juga kurang jelas maksudnya apa.

  16. Galang said:

    Assalamualaikum..ustad,sy kadang binggung dlm kondisi perbankan(syariah dan sejenisny) yg menurut sy serba meragukan bagaimana menurut ustad cara menabung yg aman dunia akhirat,mksh.wassalam..
    Waalaikumussalam.

    Bukan hanya anda yang bingung, kita semua bingung melihat kondisi seperti itu.

  17. Nadiyah Nad said:

    Assalamu’alaikum…
    saya ingin menanyakan bagaimana status anak dari hewan yang digadaikan, apakah milik Rahin atau murtahin? trimakasih… jika bisa dengan dalilnya

    Waalaikumussalam.
    Tetap menjadi milik yang menggadaikan, karena induknya adalah milik dia.

  18. rudi said:

    Assalamualaikum..ustad saya dan teman ingin buka usaha dagang kira2 modalnya 6jt masing2 sebesar 3jtan. nanti hasilnya dibagi rata. tapi karna teman saya belum punya modal saya kasih pinjam uang 3jt pada teman saya 3jt untuk modal usaha ini. nanti setelah ada uang dia kembalikan lg yg 3jt itu. apakah ada perkara riba dalam masalah ini?

    Waalaikumussalam.
    Bukan, itu bukan riba. Itu pinjaman biasa.

  19. zaki bin rahman said:

    Ustadz lgsg aja,
    Apa hukumnya bekerja dipegadaian persero yang ada pada zaman sekarang ini.

    Pegadaian di zaman ini jelas terdapat riba di dalam transaksinya, karenanya hendaknya seorang muslim tidak bekerja di tempat2 seperti ini dan menjaga mulutnya dr hal-hal yang haram.