Hukum Onani atau Masturbasi

December 25th 2009 by Abu Muawiah |

Hukum Onani atau Masturbasi

Tanya:
Apa hkm onani bg bujang/blm mampu menikah utk melampiaskan nafsu sahwat.
<Jibnunmuhammadjawas@yahoo.com>

Jawab:
Berikut jawaban dari tiga ulama besar di zaman ini:

1. Fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan -hafizhahullah-
Tanya : “Saya seorang pelajar muslim (selama ini) saya terjerat oleh kabiasaan onani/masturbasi. Saya diombang-ambingkan oleh dorongan hawa nafsu sampai berlebih-lebihan melakukannya. Akibatnya saya meninggalkan shalat dalam waktu yang lama. Saat ini, saya berusaha sekuat tenaga (untuk menghentikannya). Hanya saja, saya seringkali gagal.
Terkadang setelah melakukan shalat witir di malam hari, pada saat tidur saya melakukannya. Apakah shalat yang saya kerjakan itu diterima ? Haruskah saya mengqadha shalat ? Lantas, apa hukum onani ? Perlu diketahui, saya melakukan onani biasanya setelah menonton televisi atau video.”

Jawab :
Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” [QS. Al-Mu`minun: 5 – 6]

Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative syahwat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. (HR. Al-Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.

Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda.

Adapun tentang mengulangi shalat witir atau nafilah, itu tidak wajib bagi anda. Perbuatan dosa yang anda lakukan itu tidak membatalkan witir yang telah anda kerjakan. Jika anda mengerjakan shalat witir atau nafilah atau tahajjud, kemudian setelah itu anda melakukan onani, maka onani itulah yang diharamkan –anda berdosa karena melakukannya-, sedangkan ibadah yang anda kerjakan tidaklah batal karenanya. Hal itu karena suatu ibadah jika ditunaikan dengan tata cara yang sesuai syari’at, maka tidak akan batal/gugur kecuali oleh syirik atau murtad –kita berlindung kepada Allah dari keduanya-. Adapun dosa-dosa selain keduanya, maka tidak membatalkan amal shalih yang terlah dikerjakan, namun pelakunya tetap berdosa. [Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan IV 273-274]

2. Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-
Tanya :
“Apa hukum melakukan kebiasaan tersembunyi (onani) ?”

Jawab:
“Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.

Dalam Al-Qur’an dinyatakan, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-Mu’minun: 5 – 7]

Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.

Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.” (HR. Al-Bukhari: 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.
Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.

[As ilah muhimmah ajaba ‘alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9, disalin dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram]

3. Fatwa Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-
Tanya:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : “Ada seseorang yang berkata ; Apabila seorang lelaki perjaka melakukan onani, apakah hal itu bisa disebut zina dan apa hukumnya ?”

Jawab:
Ini yang disebut oleh sebagian orang “kebiasaan tersembunyi” dan disebut pula “jildu ‘umairah” dan ‘‘istimna” (onani). Jumhur ulama mengharamkannya, dan inilah yang benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan orang-orang Mu’min dan sifat-sifatnya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mu’minun: 5 – 7]
Orang yang melampuai batas artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.

Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah.

Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak. Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan.

Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut. Kewajiban anda, wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur’an dan menyalahi apa yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.

Maka ia wajib segera meninggalkan dan mewaspadainya. Dan bagi siapa saja yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.”

Di dalam hadits ini beliau tidak mengatakan : “Barangsiapa yang belum mampu, maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya”, akan tetapi beliau mengatakan : “Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”

Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :
Pertama: Segera menikah bagi yang mampu.
Kedua: Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.

Maka hendaklah anda, wahai pemuda, beretika dengan etika agama dan bersungguh-sungguh di dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan nikah syar’i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya Allah, Dia akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.

Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat pertolongan, sebagaimana Rasulullah tegaskan di dalam haditsnya, “Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah Azza wa Jalla : Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang hendak menunaikan tebusan darinya. Lelaki yang menikah karena ingin menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, dan mujahid (pejuang) di jalan Allah.” (HR. At-Tirmizi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

(Dikutip dari terjemah Fatawa Syaikh Bin Baz, dimuat dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130, disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram)

Sumber: Salafy.or.id offline Judul: Fatwa ulama seputar onani atau masturbasi dengan sedikit perubahan

Incoming search terms:

  • hukum onani
  • hukum masturbasi
  • onani
  • hukum melakukan masturbasi
  • hukumnya onani
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, December 25th, 2009 at 5:29 pm and is filed under Fatawa, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

170 responses about “Hukum Onani atau Masturbasi”

  1. qiqi said:

    Asslamualaikum.

    Sya mau tanya ustad.
    1. apa hukumnya kalo suami menolak ajakan istrinya untuk melakukan ibadah bersama termasuk di atas ranjang, yang menyebabkan istrinya merasa kecewa sampai seringkali menangis.
    2. bagaimana sebagai istri seharusnya menanggapi hal sperti itu?
    Trima kasih. mohon jawabannya.
    Wassalamualaikum.

    Waalaikumussalam.
    Yang jelas, masalah ini harus dibicarakan baik-baik, dan harus diketahui apa alasan suami melakukannya. Baru bisa diketahui hukumnya.

  2. kiinna said:

    assalamualaikum ustad.. ana mahu tanya,, dahulunya ana pernah berteman lelaki dgn teman persekolahan.. lalu kami pernah bermesej lucah di henpon sehingga mengeluarkan cairan.. hm.. soalannya,apakah berbalas mesej lucah sedemikian rupa itu dikira zina atau onani? kini ana telah pun memutuskan hubungan dgn nya.. terima kaseh.

    Waalaikumussalam.
    Itu termasuk zina dengan lisan atau hati, bukan onani.

  3. aeny said:

    saya sering masturbasi klau ingat sesuatu yg sensitif.tp saya saya tdak lakukan hal-hal yang engAK.tp cairan tw keluar dg sendirinya.bgaman tu hukumnya

    Kalau maksudnya keluar tanpa diusahakan, keluar dengan sendirinya, maka itu tidak termasuk masturbasi. Wallahu a’lam. Tapi perbuatan dia mengingat seperti itu adalah zina dengan hati.

  4. hamba allah said:

    assalamu’alaikum.wr.wb

    ustad saya mau tanya.pertanyaannya hampir sama yg d no 152 .setiap saya smsan ama calon istri saya yg agak negatif calon saya masturbasi pada hal dia tidak lakukan apa2.tp di selalu kluarin cairan itu dosa gak ustad mohon bantuannya.

    wa’alaikumsalam.wr.wb

    Waalaikumussalam.
    Kalau maksudnya keluar tanpa diusahakan, keluar dengan sendirinya, maka itu tidak termasuk masturbasi. Wallahu a’lam. Tapi yang jelas perbuatan di atas adalah terlarang dalam agama, karena merupakan sarana menuju perzinahan.

  5. fira said:

    Ass.
    Ustad bagaimana jika seorang suami menolak ajakan istri dari awal menikah..sama seperti yg diatas, sehingga istri sakit hati dan menangis, di ajak konsultasi dan berobat selalu ada saja alasannya..lalu bagaimana bila istri tidak bisa memebendung hasrat nya sehingga melakukan masturbasi? apakah suami dosa? apakah istri dosa? mengingat istri juga punya syahwat.
    wass.

    Ya, suaminya berdosa. Kalau seperti itu keadaannya terus-menerus, mungkin dia bisa mempertimbangkan untuk berpisah dengan suaminya. Karena apa gunanya menikah jika setiap saat harus berbuat dosa dengan masturbasi.

  6. abi said:

    Maaf stadz, mau tanya..bgmn hukumnya klo istri menolak ajakan suami untuk berhubungan badan, kemudian untuk menyalurkan hasratnya suami melakukan onani krn istri selalu menolak untuk melakukan hubungan badan..

    Keduanya berdosa. suami punya hak untuk memaksa istrinya dalam masalah ini.

  7. alif said:

    Sy sdh lama melakukan onani, smnjak baligh smpe saat ini, sy sudah tahu bhwa prbuatan itu dilaknat, tapi sy selalu mengikuti hawa nafsu. apakah ada harapan bagi saya untuk diampuni?

    Silakan baca komentar2 di bawah

  8. alif said:

    Sy sdh lama melakukan onani, smnjak baligh smpe saat ini, sy sudah tahu bhwa prbuatan itu dilaknat. apakah ada harapan bagi saya untuk diampuni?

    Tentu saja. Kalau orang kafir saja masuk Islam Allah akan terima taubatnya, apalagi sekedar dosa besar.

  9. fikri said:

    Asalamualaikum uztad boleh tanya tentang firman Allah Subhanahu wa
    Ta’ala , “Dan orang-
    orang yang menjaga
    kemaluannya, kecuali terhadap
    isteri-isteri mereka atau budak
    yang mereka miliki; maka
    sesungguhnya mereka dalam
    hal ini tiada tercela.” [QS. Al-
    Mu`minun: 5 -6]
    maksud dari “budak
    yang mereka miliki” berarti kita Dboleh behubungan dg budak kita tanpa menikahinya? mohon penjelasan terimakash wasalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Ya, boleh.

  10. arqo said:

    pa ustad saya mau nanya, bagimana cara menghindari dari perbuatan onani?, dan bagai mana jika orang itu suka berbuat onani tetapi saat dia mau menghilangkan perbuatan itu selalu saja ada halangannya?, bagaimana hukummnya pa ustadz

    Silakan baca komentar2 yang ada di bawah.

  11. indri setiani said:

    assalamualaikum ustdz bgaimana kan seorang teman bertanya katax dia sering tdk puas dgn suamix makax untuk memenuhi kepuasanx si istrix suka menggunakan alat yg bnyk beredar skrng untuk memenuhi kepuasanx itu apakah itu berdosa?

    Waalaikumussalam.
    Ya, itu perbuatan yang terlarang. Dia tidak ada alasan melakukan amalan seperti itu. Kalau pernikahan tidak bisa menjaga kehormatan, maka apa gunanya pernikahan tersebut?! Ada baiknya dia berbicara baik-baik dengan suaminya, mungkin ada masalah yang membuatnya berbuat seperti itu. Yassarallahu umurana.

  12. dyandra said:

    ustad saya sedih mau curhat kemana lagi,, saya seorang istri yang sudah 9 tahun menikah dan mempunyai 2 anak laki2…suami saya dari pertama nikah hampir ga pernah minta duluan ke saya, bahkan sampai berbulan bulan.saya heran, ternyata suami saya pecandu onani dengan menonton film2 barat. Saya ga sengaja pernah membuka laptopnya dan ternyata isinya film2 seperti itu. Dan sejak saat itu suami saya tidak mengijinkan saya membuka laptopnya, bahkan paswordnya saya tidak tahu. Akhirnya saya tegur dan nasehati suami agar tidak onani. Tapi dia selalu menghindar dari topik masalah. Sudah berkali kali saya menasehati sampai kadang saya capek. Saya introspeksi diri dan akhirnya saya buang rasa malu saya sbg wanita,saya selalu yang minta duluan, saya rutinkan seminggu 2 kali, dengan harapan suami tidak onani lagi. Tapi ternyata suami masih saja mencuri waktu untuk onani. Saya sudah bersabar dan ikhlas,tapi sebagai wanita saya merasatidak bernilai. Suami saya orangnya pendiam, introvert, soleh, sholatnya 5 waktu selalu di masjid,….. saya bingung ustad apa yang harus saya lakukan….

    Apa yang anda lakukan adalah perbuatan yang terpuji dan sudah benar insya Allah. Tetap lanjutkan nasehat2 dan peringatannya kepada suami dan jangan putus asa. Namun jika suami tidak berhenti melakukannya, dan anda merasa ‘terganggu’ dengannya, lalu ada niat -maaf- minta cerai, maka itu pun tidak mengapa, karena dia adalah orang yang fasik.

  13. Deka said:

    assalamualaikum…
    mau tanya pak ustadz…
    ada yang bilang kalo setelah berhubungan intim suami istri harus segera mungkin mandi wajib…
    dan tisak boleh melakukan kegiatan apapun seperti: memasak, mencuci, makan dll (selain ibadah) sebelum mandi wajib…
    apakah benar itu…??? mohon penjelasannya…
    terimakasih…
    wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    Itu tidak benar. Abu Hurairah pernah berjalan di pasar dalam keadaan junub dan Nabi shallallahu alaihi wasallam menyetujui tindakannya.

  14. achmad said:

    assalamualaikum wr.wb..maaf ustadz pertanyaan saya sama dengan no.159.bisa lebih jelas lagi dengan “budak” yang dimaksud? apa seperti pembantu gitu ? dan apa halal tidak melalui pernikahan?…wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Bukanlah, bagaimana bisa ada orang yang berpikiran pembantu itu budak?!

  15. Gita said:

    Menanggapi pertanyaan no. 148 “Bolehkan bercumbu dengan istri lewat video call, karena jarak yang jauh dan pulang dalam waktu yang lama”

    Jawaban Pa ustadz”Boleh saja insya Allah.

    Pertanyaan ana,bagaimana jika pasangan tersebut pada saat bercumbu, sampai akhirnya melakukan masturbasi masing2.. hingga mengeluarkan cairan, Apakah hukumnya masih di perbolehkan?
    Jazakumullah khoir..

    Tidak boleh kalau sampai seperti itu, wallahu a’lam.

  16. Suami said:

    Maaf ustad mau tanya, saya berhubungan dengan istri melalui penetrasi, tapi untuk menghindari kehamilan pas mau keluar saya cabut penis saya dan saya kocok dengan tangan saya sendiri agar cepat ejakulasi,apakah ini diharamkan ato termasuk merangsang diri sendiri (onani)?

    Seharusnya dia menggunakan tangan istriya atau bagian tubuh istrinya yang lain.

  17. eget said:

    mau tanya pak ustad…
    assalamualaikum wr wb…
    apakah ada larangan dari al-quran dan hadits yg sahih bahwa onani itu dilarang, bukankah pada dasar y kita tidak boleh melakukan sesuatu apabila itu ada larangannya.

    Waalaikumussalam.
    Bukankah dalam fatwa-fatwa di atas sudah disebutkan dalil ayat dan haditsnya?

  18. Dian said:

    Ass, maf pa Ustad, kalo misalnya niat mandi wajib setelah melakukan masturbasi adlah “sengaja aku mandi wajib utk membuang hadas besar karena Allah Ta’ala”.. Apakah niatnya benar ? Mhon jwbnnya

    Sudah benar, tapi tidak perlu diucapkan, cukup di dalam hati saja.

  19. Andre said:

    Pak ustadz saya mau tanya:saya sering melakukan onani tetapi saya sudah bertobat kpd allah, saya sdh banyak beramal dgn iklas tetapi sekarang dgn sengaja saya melakukan onani lagi

    yang saya tanya:
    1 apa saya berdosa
    2.apa saya bisa bertobat lagi
    3.apa amalan saya selama ini diterima,
    mohon jawaban pak ustadz

    1. Jelas berdosa.
    2. Bertaubat itu adalah kewajiban yang terus diwajibkan sampai matahari terbit dari sebelah barat.
    3. Tidak ada seorang pun yang tahu apakah amalannya diterima oleh Allah atau tidak. Namun kita semua berharap bahwa Allah berkenan menerima semua amal ibadah kita, amin.

  20. amil said:

    tad ana mau tanya ne, pa hukum memakai gelang bagi laki2 al a ana pernah liat kalau orang yg baru pulang dari menunaikan ibadah haji memakai gelang, mohon penjelasan a

    Boleh saja, asalkan bukan terbuat dari emas. Karena laki-laki dilarang memakai emas.