Main Picture

 

Hukum Menyusu Kepada Istri

November 12th 2008 by Abu Muawiah |

Hukum Menyusu Kepada Istri

Tanya:
“Apakah boleh seorang suami yang sedang berhubungan dengan istrinya, menyusu kepada istrinya?

Heru-samarinda

Jawab:

Berikut adalah jawaban dari Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi -rahimahullah-, “Boleh, karena air susunya adalah halal, dan boleh baginya (suami) untuk meminumnya sampai dia meninggal(1) , dan itu tidaklah menjadikan hukum mahram berlaku padanya (suami), karena penyusuannya (kepada istrinya) ini tidak terjadi pada masa al-haulain (berumur dua tahun).”
(Lihat Fatawa wa Rasail: 1/212 no. 5)

Demikian halnya Asy-Syaikh Al-Albani membolehkan hal tersebut, sebagaimana dalam kaset silsilah Al-Huda wa An-Nur seingat kami pada kaset pertama.

Berhubung kami pernah menanyakan permasalahan ini kepada Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri via thullab yang ada di sana, maka sebagai amanah ilmiah kami bawakan jawabannya sebagai berikut,  “Air susu wanita tidaklah lezat, dia hanya untuk anak bayi dan tidak menumbuhkan daging orang dewasa. Susu kambing dan sapi lebih baik baginya.”

Wallahu a’lam, ucapan beliau ini juga tidak menunjukkan haram atau makruhnya. Sehingga yang benarnya bahwa menyusu kepada istri adalah boleh, berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, “Istri-istri kalian adalah ladang kalian maka datangilah ladang kalian sesuai dengan kehendak kalian.”

____________
(1) Kalimat ini maksudnya sebagai penguat bahwa hukumnya betul-betul tidak mengapa walaupun dia melakukan hal itu bertahun-tahun sampai dia meninggal, wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • Hukum menyusu kepada istri
  • HUKUM MENYUSU PADA ISTRI
  • hukum suami menyusu kepada istri
  • hukum suami menyusu istri
  • hukum suami menyusu pada istri
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, November 12th, 2008 at 10:42 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

14 responses about “Hukum Menyusu Kepada Istri”

  1. bambang said:

    Tanya
    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Bagaimana cara kita meminta maaf pada orang yang telah meninggal dunia,sedangkan kita merasa masih mempuyai kesalahan padanya
    wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Adapun kalau kalau orang yang kita zhalimi itu sudah tidak kita ketahui dimana tinggalnya atau kalau dia telah meninggal dan kita tidak sempat untuk meminta maaf kepadanya maka -secara ringkas- berikut amalan yang bisa kita lakukan:
    1. Banyak-banyak minta ampun kepada Allah.
    2. Menyesali kezhaliman yang telah dia lakukan kepada orang tersebut.
    3. Banyak-banyak meminta ampunkan orang yang telah dia zhalimi.
    4. Menyebut-nyebut kebaikan orang yang telah dia zhalimi itu di berbagai kesempatan, terkhusus di depan orang-orang yang dulunya dia menzhalimi orang tersebut di hadapan mereka.
    5. Banyak-banyak bersedekah, karena “sedekah itu menghapuskan kesalahan-kesalahan seperti air mematikan api.” (HR. At-Tirmizi)
    Apakah setelah dia melakukan semua hal tersebut maka kezhalimannya akan Allah maafkan? Wallahu a’lam, tidak ada kepastian karena sudah kita ketahui bersama bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa kezhaliman kepada orang lain sampai orang yang kita zhalimi memaafkan kita. Akan tetapi dia berharap kepada Allah semoga dengan semua amalan di atas Dia berkenan untuk memberikan maaf-Nya atau membuat orang kita zhalimi memaafkan kita, karena Allah tidak akan menelantarkan amalan orang-orang yang berbuat baik. Wallahu a’lam.

  2. rio tanaka.bwi said:

    assalamu’alaikum…

    ustadz..ana mo nanya,

    apakah lafadz istighfar 3x setelah salam dalam dzikir selesai sholat itu cuma “astaghfirulloh” tok (saja)?
    bukankah redaksi haditsnya ttg itu umum, yaitu: “istaghfarolloha tsalatsan…” (beliau-shollallohu ‘alaihi wa sallam- memohon ampunan kepada Alloh 3x). Dus, apa boleh ana pake’ lafadz istighfar yg ada di hadits lain, seperti “astaghfirulloh alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaih” tanpa mengkhus

  3. ummu said:

    afwan ustadz, ana mohon penjelasan, bagaimana kalo kita sudah berbuat baik dan memohon maaf kepada orang yang kita zholimi, namun ia tetap tidak memaafkan kita bahkan balik mencaci? Apakah kita masih menanggung dosanya? syukran.

    Wallahu a’lam. Kalau memang kita yang lebih dahulu berbuat zhalim kepadanya, lantas dia tidak mau memaafkan kita -mungkin karena dia sangat tersinggung dengan perbuatan kita-, maka itu adalah hak dia dan kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali terus meminta maaf kepadanya, karena kitalah yang menzhalimi dia. Adapun kalau dia balik berbuat zhalim kepada kita maka demikian pula dia wajib meminta maaf kepada kita. Kezhaliman sesama kaum mukminin yang terjadi di dunia lantas tidak terselesaikan di dunia maka akan diperhitungkan/diqishah pada hari kiamat, yaitu di atas qintharah (jembatan) yang ada setelah sirath (titian), sebelum masuk ke dalam surga. Wallahu a’lam.

  4. ummu said:

    bagaimana hukum menggunakan halaman masjid untuk keperluan acara orang kafir?

    Walaupun pendapat yang paling dalam masalah bolehkah orang kafir masuk masjid -apalagi sekedar masuk di halamannya- adalah pendapat yang menyatakan bolehnya, hanya saja dalam hal ini butuh dilihat untuk acara apa mereka pergunakan halaman masjid tersebut.
    Kalau mereka pakai untuk merayakan sesuatu yang menjadi ciri khas agama mereka atau hal-hal lain yang ada kaitannya dengan agama mereka -misalnya pernikahan-, maka tidak boleh mereka menggunakan halaman masjid. Karena semua perayaan mereka adalah dibangun di atas kebatilan, sementara tidak boleh berbuat kebatilan kapan dan dimanapun, apalagi di dekat masjid.
    Adapun kalau halaman masjid mereka pakai untuk acara keduniaan mereka yang tidak berhubungan dengan agama mereka dan bukan merupakan ciri khas mereka, maka tetap tidak sepantasnya mereka diperbolehkan bersenang-senang di dekat masjid, terlebih lagi sudah diketahui bersama bahwa acara mereka sarat dengan maksiat dan dosa. Wallahu a’lam bishshawab.

  5. ailia said:

    Assallamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Apakah hukumnya jika suami atau istri terminum sperma salah satunya?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Jawabannya silakan lihat di sini

  6. Hukum Menyusu Pada Istri « Kabut Fajar Di Pucuk Merapi said:

    [...] http://al-atsariyyah.com Tags: Fatwa Comments RSS [...]

  7. Roni said:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz,bukankah pada saat suami menyusu kepada isterinya maka akan timbul PERTALIAN DARAH, yg secara otomatis akan akan merusak tali pernikahan.

    dan bukankah Al Qur’an sendiri sudah menyatakan larangan pernikahan antara saudara yang sepersusuan,“Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.” An-Nisa(4):23.

    Mohon penjelasannya Ustadz.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Bukankah sudah dijelaskan di atas oleh Asy-Syaikh Abdurrazzaq bahwa hal itu tidak menyebabkan sang istri menjadi ibu susuan suami. Karena penyusuan yang menjadikan wanita itu menjadi mahram adalah penyusuan yang dilakukan di bawah 2 tahun menurut para ulama.

  8. ismail.lubis said:

    assalamu alaikum

    pak ustadz boleh nanya g???

    kepada nabi siapa diwajibkan untuk beristinja’?
    dan pkh d hadisnya?
    wassalamu alaikum….

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Maaf, kami tidak paham maksud pertanyaannya.

  9. abu rafka said:

    Assalammualaikum, ustadz apakah batal puasa seseorang ketika berwudhu dia berkumur kumur. Sedangkan berkumur kumur termasuk bagian dari ber wudhu . Terima kasih

    Waalaikumussalam.
    Tidak batal kecuali dia sengaja menelan air wudhunya.

  10. purwanto said:

    izin copast ustadz, jazakumullahukhoiron

  11. rizky said said:

    assalamu’alaikum wr.wb. . .
    Pak ustad saya mau tanya kan di hadist shahih ada yg bolehin menyusu kepada istri tetapi hanya 5 hisapan saja dan yg menjadi prtanyaan saya apakah boleh suami menyusu kepada istri sebanyak banyaknya. . .
    Mohon jawabannya pak ustad karena saya penasaran. . .
    Trima ksih. . .

    Waalaikumussalam.
    Yang mana hadits shahihnya? Kami belum pernah mendengar hadits yang membatasi seperti itu.
    Ya boleh saja.

  12. rizky said:

    assalamu’alaikum wr.wb. . .
    Pak ustad saya mau tanya lagi bila ada seorang yang menelan mani atau madzinya sendiri tetapi belum tahu hukumnya tapi setelah tahu kalau hukumnya haram orang tsb menyesal tp kalau sudah trlanjur bgmna pak ustad apakah orang tsb dosa.
    Mohon dijawab secepatnya pak ustad.

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah tidak ada dosa jika dia tidak tahu.

  13. rani said:

    assalamu’alaikum wr.wb. . .

    Pak ustadz saya mau tanya,
    Apa dosa seorang suami jika suami membuat istri nya menangis, tapi suami nya tidak tahu kalau istri nya menangis karena kata-kata yang dikeluarkan,

    Mohon bantuan jawaban nya,

    Wassalamu’alaikum..

    Waalaikumussalam.
    Kalau masalahnya cuma salah paham, maka segera diselesaikan, dan tidak mengapa suami minta maaf kepada istrinya dalam masalah ini.

  14. titin said:

    Assalamualaikum ustad, sya mau tanya, bolehkah seorang suami berkenalan dengan wanita lain dan memberi perhatian kepada wanita itu?? Mohon dijelasak ustad

    Waalaikumussalam.
    Kalau berkenalan saya rasa nggak ada masalah. Tapi kalau memberikan perhatian, ini yang bermasalah, khawatir terjadi fitnah yang mengganggu rumah tangganya.