Hukum Mengadopsi Anak Zina

January 28th 2010 by Abu Muawiah |

Hukum Mengadopsi Anak Zina

Tanya:
Assalaamu’alaikum ust,
Ana ingin bertanya beberapa soalan berkenaan anak angkat dan ibu susuan:
a)Apakah dibolehkan mengambil anak angkat dari hasil penzinaan dimana si ibu tidak mampu menjaga anak itu?

b)Bolehkah seorang wanita memakan pil dari doktor untuk memperbanyakkan susunya supaya ia boleh menjadi ibu susuan kepada anak angkatnya?

c)Siapakah yang berhak atas anak yang lahir dari perzinaan, ibu kandungnya atau ibu angkat/ibu susuannya?
“Ibnu Ismail” <ibnuismail@salafy.ws>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
1.    Ia boleh, bahkan itu termasuk perbuatan yang terpuji kalau memang ibu kandungnya tidak bisa merawatnya. Hanya saja anak itu tidak akan bisa menjadi mahramnya kecuali melalui jalur syar’i, yaitu dengan disusui sehingga dia menjadi anak susuannya. Adapun keberadaan dia sebagai anak zina maka dosa ibunya tidaklah menyebabkan dia boleh diperlakukan seenaknya, karena seorang tidak menanggung dosa yang tidak dia lakukan.

2.    Boleh saja, dengan syarat pil tersebut tidak menimbulkan mudharat baginya dan tentunya harus ada izin dari suaminya.

3.    Jika ibu kandungnya bisa merawat anaknya dengan baik, baik dari sisi ekonomi maupun akhlaknya ke depan, maka tentu saja ibu kandungnya lebih berhak untuk merawat karena dia merupakan darah dagingnya sendiri.
Demikian, wallahu Ta’ala a’lam.

Incoming search terms:

  • anak zina
  • hukum anak zina
  • apa hukumnya memelihara ank dari hubungan d luar nikah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, January 28th, 2010 at 10:31 am and is filed under Jawaban Pertanyaan, Seputar Anak. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Hukum Mengadopsi Anak Zina”

  1. Hukum Mengadopsi Anak Zina « Hijab Akhwat Salafyah Ahlussunnah wal Jama'ah said:

    […] Bertanda anak, hukum, zina http://al-atsariyyah.com/?p=1778 […]

  2. melly said:

    Assalamualaikum wr.wb

    Mohon maaf sebelumnya apa
    bila ada kesalahan dari kesimpulan sy dibawah ini
    Pa ustad dari bbrp mail diatas yg sy baca bahwa ayah biologis dari anak haram tidak berkewajiban menafkahi dalam arti anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab si ibu
    Sy bisa minta penjelasannya?
    Bukankah itu memberatkan pihak wanita,anggaplah pencari nafkah itu laki2
    Wanita sdh mengandung,melahirkan dan setelah anak lahir bpk biologis bisa melenggang dg angkat tangan tanpa ada pertanggungajawaban (menafkahi),benarkah seperti itu?
    Kasihan sekali para wanita yg diberatkan dg tanggung jawab mengurusi anak diluar nikah

    Terimakasih
    Wassalam

    Waalaikumussalam.
    Secara syar’i memang itu bukan anaknya, akan tetapi dari sisi kauni maka itu adalah anaknya, karenanya sangat tidak pantas jika dia melalaikan anak tersebut.
    Alangkah baiknya jika perasaan kasihan ini dia munculkan dahulu sebelum melakukan perzinahan. Ini merupakan salah satu konsekuensi atau bisa dikatakan hukuman bagi dia karena telah merelakan dirinya berzina.

  3. pramono said:

    Asslamualaikum Ustadz,
    sesuai dg jawaban Ustadz:
    “…hanya saja anak itu tidak akan bisa menjadi mahramnya kecuali melalui jalur syar’i, yaitu dengan disusui sehingga dia menjadi anak susuannya”.

    Yg saya tanyakan: jika si ibu yg mengangkat anak tsb tidak bisa menyususi sendiri/ tidak bisa memberikan ASI karena alasan kesehatan (pengalaman dari beberapa teman yg tidak keluar ASI ssetelah melahirkan), apa boleh kl si bayi tsb diberi susu buatan/ formula? dan bagaimana hukumnya.
    terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja tapi itu tidak menjadikannya sebagai mahram, karena yang dimaksud dengan susu di sini adalah ASI.

  4. indera hanafi said:

    assalamu’alaikum ustadz…

    ada pertanyaan dari saya dmn saya sangat bimbang tentang permasalahan ini yang mungkin memang berhubungan dengan diri saya…
    saya mempunyai kekasih seorang wanita non muslim namun terpisah kota, lalu setelah lama kenal dekat dia saya ajak mualaf dan subhanallah terjadi, dia pun mengucap kalimat 2 syahadat, tapi saya belum juga menikahinya karena merasa belum mapan,, selama ini memang jika kami bertemu kami melakukan perzinahan tapi saya selalu memakai alat kontrasepsi,, nah singkat cerita saya dapat kabar dia hamil. saya tidak percaya dan setelah interogasi yg sangat detail dia pun mengakui pernah berbuat zinah dengan laki2 lain tapi bukan keinginan dia melainkan terpaksa dan dipaksa untuk membayar hutang, tapi itu kan pengakuan dia ( Wallahua’lam ) nah lalu saya pun merawat dia di kota saya untuk menghindari ke mudharattan bagi dirinya,, skrang kehamilannya sedang jalan 8 bulan dan janin nya perempuan,,

    pertanyaan :

    1. insyaAllah jika nanti anak tersebut lahir dan di adopsi oleh pasangan suami istri yang memang tidak memiliki keturunan dan menginginkan seorang anak, sedangkan sang ibu tidak mampu mengurus anak kandungnya sendiri, siapa wali yang berhak atas pernikahan nya kelak sedangkan ayahnya tidak jelas dan ibunya tidak mungkin lagi menemui anaknya nanti untuk mengindari ke mudharattan bagi keduanya?

    2. InsyaAllah bila setelah anaknya di adopsi dan saya menikahi wanita tersebut secara sah dan memulai kehidupan baru di suatu tempat, tidak masalahkah kami membina keluarga dan tidak mengingat ingat anak yang telah dilahirkan nya tersebut untuk ke menghindari mudharattan?

    3. apakah saran dan nasehat anda untuk kami nanti yang insyaAllah akan menikah??

    terima kasih.

    wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    1. Yang menjadi walinya adalah wali hakim (penghulu KUA).
    2. Pernikahannya tidak masalah kalau memang dia betul-betul sudah bertaubat dari perzinahan tersebut. Namun suatu dosa besar bagi si wanita jika dia tidak merawat anaknya sendiri.
    3. Kami sarankan anda tetap merawat anak tersebut setelah dia lahir dan tinggal di tempat dimana tidak ada seorang pun yang mengetahui masalah ini.

  5. ummu aisyah said:

    afwan ustadz..
    dikatakan td jika dia disusukan maka akan menjadi mahromnya…bagaimana jika ibu yg mengangkatnya tdk dpt memberikan dia asi tp saudara si ibu angkat tersebut yg memberikannya…apakah perkara tersebut dapat menjadikan ibu angkatnya itu menjadi mahromnya??? syukron.

    Ya, ibu angkatnya adalah mahram sebagai bibi susuannya.

  6. Iwan said:

    Assalamu’alaikum ustadz…

    Ditempat sy ada yang melaihrkan seorang anak permpuan, hasil hubungan diluar nikah, dan bapak dari anak tersebut tidak jelas.
    Saya ditawarkan unutk mengadopsi anak tersebut, yang ingin saya tanyakan:
    1. Apa kewajiban Saya sebagai Bapak angkatnya?
    2. Mengingat saya bukan Mahram-nya, apa ada batasan2 dalam perlakuan sehari2, karena anak tersebut seorang perempuan.
    3. Jika bersentuhan dengan anak tersebut apa saya berdosa?

    Demikian, mohon penjelasannya.
    Wassalam…

    Waalaikumussalam.
    1. Kewajibannya sama seperti kewajiban orang tua secara umum dalam hal merawat dan mendidik.
    2. Jika anda punya istri, maka anda bisa meminta istri anda menyusui bayi tersebut, sehingga anak itu bisa menjadi mahram anda sebagai anak susuan.
    3. Jika dia sudah balig dan dia bukan mahram anda, maka anda berdosa. Tapi jika dia sudah menjadi anak susuan, maka dia adalah mahram anda.

  7. lina said:

    Assalamualaikum wr wb
    pak ustadz, saya berada dalam kebimbangan karena menginginkan anak namun Allah belumlah memberikannya skr yang mau saya tanyakan:
    1. adakah doa atau dzikir yang khusus untuk memohon keturunan?
    2. saya ditawari anak laki2 yg kini masih dikandungan ibunya, karena faktor ekonomi yg sangat tidak mampu dia ingin memberikan anaknya. kalau kelak saya mengambilnya dan yang menyusuinya adalah adik kandung perempuan saya apakah anak tersebut telah dapat menjadi mahram saya?

    atas jawaban ustadz, saya haturkan terima kasih
    Wassalam

    Waalaikumussalam.
    1. Anda bisa memperbanyak doa dengan doa Nabi Zakariya ketika beliau memohon anak kepada Allah.
    Dan tentu saja dalam berdoa, anda harus memenuhi semua syarat dikabulkannya doa dan menjauhi semua amalan yang menyebabkan ditolaknya doa.
    2. Ya jadi mahram, tapi statusnya sebagai keponakan susuan anda.