Hukum Mendengar Kajian Penganut Bid’ah

December 25th 2009 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Hukum Mendengar Kajian Penganut Bid’ah

Tanya:
Bismillah. Bagaimanakah hukum mendengarkan kajian/rekaman/radio milik penganut bid’ah?
“mu’minatun m” <mu_minatun.muttaqiyah@yahoo.com>

Jawab:
Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan -hafizhahullah- pernah ditanya dengan nash soal sebagai berikut: Bagaimana pendapat yang benar mengenai hukum membaca buku-buku para pelaku bid’ah dan mendengarkan kaset-kaset mereka?

Maka beliau menjawab, “Tidak boleh membaca buku-buku para pelaku bid’ah dan tidak juga mendengarkan kaset-kaset mereka kecuali bagi siapa yang bertujuan untuk membantah mereka dan menjelaskan kesesatan mereka. Adapun seorang pemula dalam ilmu agama, atau seorang penuntut ilmu, atau orang awam, atau orang yang tujuan membacanya hanya untuk sekedar tahu saja dan bukan untuk membantah dan menjelaskan kesesatannya, maka mereka semua tidak boleh untuk membacanya. Karena terkadang isi dari buku-buku itu bisa mempengaruhi atau menanamkan syubhat (kerancuan) ke dalam hatinya, sehingga diapun tertimpa kejelekan dari buku tersebut. Karenanya tidak boleh membaca buku-buku para pengikut kesesatan kecuali para ulama guna membantah dan mentahdzir mereka.”

(Diterjemah dari Min Fatawa As-Siyasah Asy-Syar’iyah soal no. 18)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, December 25th, 2009 at 11:02 pm and is filed under Fatawa, Jawaban Pertanyaan, Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

9 responses about “Hukum Mendengar Kajian Penganut Bid’ah”

  1. ibnu sholeh said:

    assalamu’alaikum ust,
    lalu bagaimana sikap kita apabila sudah terlanjur memiliki buku/kaset rekaman mereka.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Sebaiknya buku/kaset tersebut diperlihatkan kepada asatidz salafiyin di tempat antum lalu minta saran kepadanya mengenai buku/kaset tersebut. Karena terkadang sebagian asatidz -dengan beberapa pertimbangan- jika dia mengetahui isinya semuanya bersih dari penyimpangan dan bid’ah, maka terkadang mereka membolehkan orang awam dan yang tidak mengetahui adanya masalah perpecahan untuk mengambil manfaat darinya. Sementara bagi yang sudah terjun dalam ilmu tapi masih pemula (bukan orang awam), maka mereka (asatidz) akan melarang mereka untuk membacanya dan akan menyarankan untuk membaca buku2 yang ditulis oleh ulama salaf saja. Wallahu a’lam.

  2. cahyo said:

    bismillah,

    as salamu ‘alaika wa rohmatullahi wa barokatuh ya ustadz,

    berhubungan dengan rekaman kajian yang sudah banyak tersebar di zaman ini, saya ingin bertanya tentang hak cipta dari rekaman kajian yang dikeluarkan sebuah tasjilat.

    bila saya membeli sebuah rekaman kajian dari sebuah tasjilat yang berasal dari luar pulau jawa -makasar misalnya-, apakah rekaman tersebut boleh teman – teman saya -dalam lingkup terbatas / sedikit jumlahnya-, mengkopi rekaman kajian tersebut dengan tujuan untuk diambil faedahnya secara pribadi tanpa dengan niat untuk diperjualbelikan dalam keadaan mereka sendiri sebenarnya mampu membelinya sendiri ?

    apakah berbeda hukumnya bila kami membelinya dengan sistem patungan / semua mempunyai sumbangsih dari harga rekaman tersebut di saat membeli rekaman kajian tersebut, sehingga masing – masing berhak mengkopinya untuk pribadinya masing – masing karena mereka juga memiliki hak dari rekaman kajian tersebut ?

    demikian pertanyaannya saya rinci agar dalam jawabannya bersifat khusus dan bukan fatwa yang bersifat umum.

    jazakallahu khoir

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Tidak boleh menggandakan rekaman yang tidak diizinkan untuk digandakan, baik dibeli sendiri maupun secara patungan, karena intinya adalah dilarang menggandakan. Adapun jika belinya secara patungan maka hendaknya mendengarnya juga secara patungan (berbarengan) atau secara bergantian, bukan justru menggandakannya. Wallahu a’lam

  3. cahyo said:

    afwan ustadz, maksud kami bukan untuk digandakandalam bentuk CD, namun hanya dikopi dalam bentuk softcopy di konputer komputer kami dan bukan untuk diperjualbelikan, apakah hukum pada 2 keadaan yang saya tanyakan sama dengan jawaban di atas ?

    Ia sama saja akh, baik digandakan maupun hanya dicopy ke hardisk, semuanya adalah bentuk pembajakan.

  4. Abu Rifqah said:

    Ustadz, menyambung pertanyaan Al Akh Cahyo, ana juga sudah beli CD dari Tasjilat, tapi karena ana sering bepergian, ana bermaksud untuk mencopy filenya ke mp3 player ana sendiri dan akan mendengarkan sendiri, sedang CD ana simpan dan hanya ana putar kalau di rumah.
    Apakah itu boleh? Tolong penjelasannya. Jazakallah khoir.

    Insya Allah tidak bermasalah, karena hal itu saya rasa dibolehkan -secara tidak langsung- oleh penjual CD dengan sekedar dibelinya CD tersebut. Wallahu a’lam.

  5. Hendri said:

    assalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh

    Ustadz, bagaimana hukum mendengar rekaman kajian dikantor dengan suara keras yang dapat di dengar seluruh orang yang ada diruangan itu padahal di dalam ruangan tersebut ada orang kafirnya. Apakah ini termasuk bentuk dari menzholimi orang lain?

    Jazakallah khoir

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Memang sebaiknya dia mendengarnya sendiri saja, jika memang bisa mengganggu orang lain.

  6. muslim said:

    Ustadz yang ana hormati. Semoga Allah menambahkan n ilmu pada kita semua. Pada cd tasjilat almadini tetulis :”Dilarang Memperbanyak Isi Untuk Komersial”. Yang ana pahami bahwa memperbanyak isi untuk selain komersial (diambil faidahnya) adalah diperbolehkan. Maka ana copy isi cd tersebut untuk diberikan kepada adik ana. apakah benar pemahaman ana ustadz? jazakallohukhoiron

    Kalau masalah maksud tulisan itu bisa langsung ditanyakan ke pihak tasjilatnya.

  7. pemula said:

    assalaamu’alaikum warahmatullah…

    ustadz, apa benar bagi seorang pemula dalam mendalami manhaj salaf wajib untuk menerima setiap apa pun kebenaran dari siapa pun karena kami cintakan kebenaran? apa kasus ini bisa di qiaskan dengan hadist ini di mana nabi shallallahu’alaihi wa sallam membenarkan apa yang diajari oleh iblis berkenaan ayat qursi walaupun iblis adalah seorang pendusta..?

    mohon nasehat. jazaakallohu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Mengambil kebenaran dari siapapun bukan hanya kewajiban penuntut ilmu pemula, akan tetapi dia juga adalah kewajiban setiap ulama dan seluruh kaum muslimin. Karena kebenaran itu adalah harta seorang muslim yang hilang, dimanapun dia menemukannya maka dia wajib untuk mengambilnya. Dan kebenaran tidak diukur dengan orang tertentu kecuali Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi orang-orang itulah yang dinilai dengan kebenaran.

  8. Ummu Rafah said:

    Assalamu’alaikum,,,
    Ustad,sy pernah membeli buku yg isinya terdapat amalan tentang baikny wanita hamil dan menyusui dlm keadaan berwudlu jika ingin makan shg qta selalu dlm keadaan suci ketika makan dan makanan itu akan diserap oleh anak qta.amalan tsb contoh dr Fatimah binti Rasulullah saw.yg ingin sy tanyakan apakah amalan tsb benar ataukah hanya bid’ah soalny sy sudah t’lanjur menganjurkan kpn sodara yg lagi hamil.
    Wassalamu’alaikum,,,

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam tentang penisbatan amalan itu kepada Fathimah radhiallahu anha. Yang jelas, tidak disunnahkan berwudhu sebelum makan. Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah buang air kemudian beranjak ke hidangan, maka ada sebagian sahabat yang bertanya, “Tidakkah anda berwudhu terlebih dahulu?” Maka beliau menjawab, “Apakah saya mau shalat, sehingga saya harus wudhu?!”
    Hadits ini jelas menunjukkan wudhu sebelum makan bukanlah amalan yang disunnahkan. Tapi apakah dia bid’ah? Insya Allah juga tidak, karena telah ada banyak dalil yang menunjukkan disunnahkannya selalu dalam keadaan suci. Walaupun demikian, apa yang tersebut di atas tidak boleh diyakini tanpa dalil, karena bisa merupakan bentuk tathayyur. Wallahu a’lam.

  9. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, bagaimana membedakan buku2 karangan penganut bid’ah atau bukan, khususnya bagi kami yang sedang menimba ilmu agama/awam? Sedangkan kami tidak ada orang yg bisa ditanyakan langsung/sulit meminta pertimbangan mengenai buku tsb.
    Misal di toko buku kita tertarik subuah buku karangan si A dan kita tidak tahu si A penganut bid’ah atau bukan.

    Waalaikumussalam.
    Belajar yang banyak tentang agama ini dari seorang alim ahlussunnah. Dan hindari membaca buku-buku yang penulisnya tidak dikenal sbg ulama ahlussunnah.