Hukum Mempelajari Anatomi Dengan Peraga Patung Kerangka Manusia

September 16th 2013 by Abu Muawiah |

Hukum Mempelajari Anatomi Dengan Peraga Patung Kerangka Manusia

Tanya:

Bolehkah mempelajari anatomi tubuh manusia dengan menggunakan patung tengkorak manusia?

Jawab:

Para ulama telah bersepakat bahwa gambar makhluk bernyawa dalam berwujud 3 dimensi -seperti patung kerangka manusia di sini- adalah termasuk gambar yang terlarang untuk dibuat dan terlarang untuk membawanya masuk ke dalam rumah. Mereka berdalilkan dengan banyak dalil, di antaranya:

  1. Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata:
    نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الصُّوَرِ فِي الْبَيْتِ وَنَهَى أَنْ يَصْنَعَ ذَلِكَ
    “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar.” (HR. At-Tirmizi no. 1671 dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”)
  2. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
    لا تَدْخُلُ الْمَلائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ تَمَاثِيلُ أَوْ تَصَاوِيرُ
    “Para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat patung-patung atau gambar-gambar.” (HR. Muslim no. 5545)
  3. Aisyah radhiallahu anha berkata: Rasulullah masuk ke rumahku sementara saya baru saja menutup rumahku dengan tirai yang padanya terdapat gambar-gambar. Tatkala beliau melihatnya, maka wajah beliau berubah (marah) lalu menarik menarik tirai tersebut sampai putus. Lalu beliau bersabda:
    إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ
    “Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupakan makhluk Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 5525 dan ini adalah lafazhnya)
    Dalam riwayat Muslim:
    أَنَّهَا نَصَبَتْ سِتْرًا فِيهِ تَصَاوِيرُ فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَنَزَعَهُ ، قَالَتْ : فَقَطَعْتُهُ وِسَادَتَيْنِ
    “Dia (Aisyah) memasang tirai yang padanya terdapat gambar-gambar, maka Rasulullah masuk lalu mencabutnya. Dia berkata, “Maka saya memotong tirai tersebut lalu saya membuat dua bantal darinya.”

Lihat hadits-hadits lain yang semakna dengannya di sini.

Karenanya, tidak boleh memasukkan patung kerangka manusia secara utuh ke dalam rumah, dan juga tidak boleh melakukan shalat di ruangan yang patung itu terdapat di dalamnya.

 

Solusinya:

Tatkala yang dilarang dalam syariat hanyalah gambar makhluk yang bernyawa, maka pisahkanlah antara kepala patung dengan bagian tubuhnya, lalu pelajarilah anatomi bagian tubuh terlebih dahulu. Karena Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:
اسْتَأْذَنَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلام عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : « ادْخُلْ » . فَقَالَ : « كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُؤوسُهَا أَوْ تُجْعَلَ بِسَاطًا يُوطَأُ فَإِنَّا مَعْشَرَ الْمَلائِكَةِ لا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ
“Jibril alaihissalam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. An-Nasai no. 5270)
Mirip dengan hadit ini dari hadits Aisyah riwayat Muslim, hadits Ibnu Umar riwayat Al-Bukhari, dan hadits-hadits lainnya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:
اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ
“Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak ada lagi gambar.” (HR. Al-Baihaqi: 7/270 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

Kedua hadits ini menunjukkan bahwa memanfaatkan gambar makhluk bernyawa diperbolehkan setelah kepalanya dipotong atau dihilangkan. Hal itu karena tidak ada satu pun makhluk bernyawa yang tidak mempunyai kepala.

Setelah selesai mempelajari bagian tubuh, silakan mempelajari anatomi bagian kepalanya saja. Karena, sebagaimana tidak ada makhluk bernyawa yang hanya mempunyai tubuh tanpa kepala, maka demikian halnya tidak ada makhluk bernyawa yang hanya mempunyai kepala tanpa tubuh. Wallahu a’lam.

Kemudian, ketika sedang tidak digunakan, hendaknya patung ini disimpan di tempat yang tertutup atau ditutupi dengan sesuatu, dengan tetap memisahkan antara bagian kepala dengan bagian tubuhnya. Wallahu a’lam.

 

Sebagai tambahan:

Para ulama kontemporer secara umum telah memfatwakan bolehnya membedah jenazah untuk tujuan pendidikan kedokteran. Mereka berdalil bahwa maslahat yang lahir darinya jauh lebih besar daripada mudharat yang terdapat di dalamnya. Di antara yang memfatwakan pembolehan ini adalah:

  1. Haiah Kibar Al-Ulama KSA, pada sidang IX, keputusan no. 47, tahun 1420 H.
  2. Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami, pada sidang X, bulan Safar tahun 1408 H.
  3. Lajnah Al-Ifta` Al-Azhar Mesir, pada tanggal 29 Februari 1971 M

Namun, sebagian ulama ada yang membatasi pembolehan ini hanya pada jenazah non muslim secara umum. Di antara yang memfatwakan hal ini adalah Asy-Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi. Bahkan Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah -pada sebagian fatwa beliau- hanya membatasi pembolehannya pada kafir harbi, bukan semua jenis non muslim. Wallahu a’lam.

Yang ingin ditekankan di sini adalah: Jika menjadikan jenazah manusia sebagai alat praktek dalam mempelajari anatomi tubuh manusia adalah hal yang diizinkan karena besarnya maslahat padanya, maka menjadikan patung kerangka manusia sebagai alat praktek dalam hal ini lebih patut untuk diperbolehkan. Terlebih jika kita sudah memisahkan antara bagian kepala dengan bagian tubuhnya. Karena dalam keadaan seperti itu, patung itu sudah tidak dihukumi sebagai gambar makhluk bernyawa. Wallahu a’lam.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, September 16th, 2013 at 1:38 pm and is filed under Fatawa, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Hukum Mempelajari Anatomi Dengan Peraga Patung Kerangka Manusia”

  1. Abu Abdillah Yunus said:

    Assalamu alaikum ustadz, Afwan ana mau bertanya (OOT)
    1. Bagaimanakah hukumnya seorang mahasiswa(i) memanggil dosennya ayahanda/ibunda ?
    2. Ana pernah membaca artikel tentang Ya’juj dan Ma’juj,dimana Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan bahwa “mereka adalah dari keturunan Adam ‘alayhi’l-salām dari keturunan Nabi Nuh ‘alayhi’l-salām, dari anak keturunan Yafits yakni nenek moyang bangsa Turki yang terisolir oleh benteng tinggi yang dibangun oleh Dzulqarnain.”
    Yang ana tanyakan Ustadz apakah ada ulama yang mengetahui di mana keberadaan benteng itu?
    Baarakallahu fiyk.

    Waalaikumussalam.
    1. Ditinggalkan.
    2. Wallahu a’lam.