Hukum Meminjam ke Rentenir

May 13th 2010 by Abu Muawiah |

Hukum Meminjam ke Rentenir

Tanya:
Assalammualaikum Wr Wb.
Para ustad dan pengasuh yang dimuliakan Alloh SWT, saya ada pertanyaan perihal dengan riba. dimana salah satu kawan saya yang bekerja sebagai pengojek terlibat hutang dengan rentenir dikarenakan terpaksa untuk membayar cicilan motor. Yang menjadi pertanyaan apa hukumnya orang yang meminjam kepada rentenir tersebut?
saat ini kawan saya merasa berdosa atas hal tersebut dan adakah cara menebus dosa tersebut. ( sebelumnya kawan saya sudah tahu tentang hukum riba namun tidak mengerti hukum bagi yang meminjamnya. ) sekian pertanyaan saya, dan mohon dimaafkan apabila ada kata kata saya yang kurang sopan, akhirul kata Wasslammualaikum Wr Wb.
(sandhy [sandhy.indra@yahoo.com])

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Silakan download jawabannya melalui link berikut:
Pinjam ke Rentenir
Anda juga bisa mendownload jawaban di atas dan jawaban pertanyaan lainnya melalui halaman ‘Download Audio

Incoming search terms:

  • hukum rentenir
  • Rentenir
  • hukum rentenir dalam islam
  • hukum islam meminjam uang pada rentenir
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, May 13th, 2010 at 11:47 am and is filed under Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Hukum Meminjam ke Rentenir”

  1. murid said:

    assalamu’alaikum
    saya sedang belajar memperdalam agama, dan alhamdulillah menemukan web ini..
    saya tertarik dengan beberapa tanya jawab di sini, akan tetapi, kenapa jawabannya harus didownload?
    saran saya, tidak bisakah diberi garis besar isi tulisan tersebut? mengingat koneksi internet saya terbatas untuk download dan di sisi lain saya ingin belajar banyak di sini..
    bukankah suatu kebaikan ketika mempermudah jalan orang lain untuk belajar?
    maaf jika ada salah-salah kata dari saya
    jazakumulloh khoiron
    wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia awalnya memang kami menulis jawabannya, akan tetapi baru kali ini kami merekam jawabannya. Alasannya bisa anda baca di sini: http://al-atsariyyah.com/tanpa-kategori/jawaban-pertanyaan-dan-komentar.html
    Maaf atas ketidaknyamanannya, semoga alasan kami bisa dimaklumi

  2. ummu naufal said:

    bismillaah
    assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatu
    afwan ustadz, mohon nashihatnya,,
    zaujiy pns di salah satu badan tinggi negara, sbgmn pemahaman nahnu, bahwa apa2 yg diterima tanpa surat resmi (selain dari gaji, tunjangan, gaji ke 13) berarti rizki yg syubhat, krn zaujiy mengetahui sedikit bgm dana tsb dikumpulkan sblm dibagikan rata (dari pimpinan tertinggi di cabang smp kroco2) yaitu terkadang dari sisa anggaran yg dimark-up, atw anggaran kegiatan yg tdk dipergunakan kmudian untuk mjaga agar kegiatan tsb ttp ada di tahun aggaran berikutnya maka dan tsb dibuatkan fiksi bahwa kegiatan tsb tlah dilaksanakan padahal kegiatan tsb tdk dilaksanakan atw kegiatan tsb dialihkan pd kegiatan lain yg tdk ada anggarannya. pada akhir tahun biasanya dana tsb dikumpulkan kmudian dibagikan kpd smua pegawai.
    pertanyaan ;
    1. apa hukum uang yg diterima oleh pns tsb diluar dr pnerimaan resmi adalah harta syubhat ?
    2. apakah hanya dengan mengira2 asal dari harta tsb (mnurut dari kebiasaan) di atas, maka harta tsb adlah harta syubhat ?
    3. apakah kami haram menerima bahkan mengunakannya utk kebutuhan kami?
    4. apakah bila harta tsb tdk dapat ditolak, maka harta tsb boleh kami gunakan untuk membayar cicilan kartu kredit suatu bank konvensional (riba)? krn jujur, kami hanya hidup dari gaji serta tinggal sangat jauh dari orangtua, dimana tmpat mukim kami biaya hidupnya sangat tinggi shingga sulit bg kami utk mnabung utk kperluan mendesak kami (pulang menengok orangtua yg sakit mendadak) menggunakan kartu kredit dr salah satu bank konvensional?
    5. kami meminjami seorang ikhwah dana utk kebutuhan mendesaknya, tanpa ada perjanjian kapan dana tsb harus dikembalikan, dana tsb sebenarnya diperuntuk bg keperluan ana melahirkan bln februari thn dpn, Sedangkan utk menagih zaujiy agak berat, & zaujiy lebih memilih utk menggunakan fasilitas asuransi kesehatan (askes) dari kntor utk biaya mlahirkan nanti & ana tdk ridho dg itu. apakah nashihat ustad, apakah kami minta dana tsb dari ikhwah tsb atw kmi pakai fasilitas askes tsb ?
    jujur, ikhwah d tempat mukim kami saat ini yg dibilang berkecukupan hanya sedikit, jadi kadang ikhwah datang kpd kami walaupun kami pas2an memang kami agak berlebih dari mreka, hanya saja, terkadang kami malah jadi menjatuhkan diri kami kpd kmaksiatan (spti riba) utk kbutuhan kami sndiri, sdangkan ikhwah taunya kami berlebih, utk mnolak permintaan tolong mreka kadang ngga enak,,, bagaimana ustadz menyikapi hal ini ?
    jazaakalloh khoir wa baarokallohu fiik. afwan jiddan panjag sekali.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    1. Tidak bisa dihukumi rata seperti itu, butuh dilihat sumbernya satu persatu.
    2. Jika itu memang sudah menjadi kebiasaan dan dugaan besar berasal dari situ maka itu adalah harta yang haram.
    3. Jika dia adalah harta yang haram maka tidak boleh digunakan.
    4. Uang itu tidak boleh dijadikan pembayaran utang karena utang adalah kewajiban kita sementara uang itu bukan uang kita. Adapun apakah uang tersebut boleh diambil lalu digunakan untuk fasilitas umum, maka wallahu a’lam.
    5. Jika askesnya syar’i (karena tidak semua askes itu haram) maka tentunya boleh menggunakannya. Jika askesnya tidak syar’i maka sebaiknya suami menagih utang tersebut sesuai dengan kemampuan orang yang berhutang. Wallahu A’lam

  3. tika said:

    assalammualaikum wr,wb.

    Para ustad yang dimuliakan Alloh SWT, saya ada pertanyaan

    1.dalam melaksanakan ibadah, itu berpengaruh kepada perilaku kehidupan seseorang sehari-hari.bagaimana tanggapan ustad tentang orang yang sudah menunaikan ibadah haji tetapi menjadi seorang rentenir?

    sekian pertanyaan saya, dan mohon dimaafkan apabila ada kata kata saya yang kurang sopan, akhirul kata

    Wasslammualaikum Wr Wb.

    Waalaikumussalam.
    Jelas ada yg bermasalah dalam ibadah hajinya, bahkan semua ibadahnya. Riba yg merupakan mata pencaharian rentenir adl haram berdasarkan Al-Qur`an, hadits, dan ijma’ ulama. Namun itu bukan berarti ibadah-ibadahnya -termasuk hajinya- tidak diterima, karena ini permasalahannya berbeda.