Hukum Membaca Al-Fatihah Dalam Shalat

May 26th 2012 by Abu Muawiah |

Hukum Membaca Al-Fatihah Dalam Shalat

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata sebagaimana dalam Taysir Al-Ali Al-Qadir Ikhtishar Tafsir Ibni Katsir hal. 8-9:
Dalam permasalahan ini ada tiga pendapat:
1.    Wajib membaca. Yakni: Wajib membaca Al-Fatihah bagi imam, makmum, dan yang shalat sendiri.
Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits yang datang dalam permasalahan ini seperti:
لاَ صَلاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفاتِحَةِ الْكِتابِ
“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah.”
مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat apa saja yang dia tidak membaca Al-Fatihah di dalamnya maka shalatnya itu cacat, tidak sempurna.”
لاَ تَجْزِئُ صَلاةٌ لاَ يُقْرَأُ فِيْها بِأُمِّ الْقُرْآنِ
“Tidak syah shalat yang di dalamnya tidak dibaca surah Al-Fatihah.”
Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i rahimahullah.

2.    Makmum tidak wajib membaca apa-apa sama sekali, baik itu Al-Fatihah maupun surah lainnya, baik itu pada shalat jahriah maupun shalat sirriah.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam kitabnya Al-Musnad dari Jabir bin Abdillah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
مَنْ كانَ لَهُ إمامٌ, فَقِرَاءَةُ الإمامِ لَهُ قِراءَةٌ
“Barangsiapa yang mempunyai (baca: bermakmum kepada seorang) imam, maka bacaan imam adalah bacaan dia juga.”
Akan tetapi pada sanadnya ada kelemahan. Malik juga meriwayatkannya dari Wahb bin Kaisan dari Jabir tapi dari ucapan beliau (baca: secara mauquf). Hadits ini telah diriwayatkan dari beberapa jalan, akan tetapi tidak ada satu pun di antaranya yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Wallahu A’lam

3.    Makmum wajib membaca Al-Fatihah pada shalat sirriah dan dia tidak wajib membacanya pada shalat jahriah.
Hal ini berdasarkan hadits yang tsabit dalam Shahih Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إنَّما جُعِلَ الإمامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ: فَإِذا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإذا قَرَأَ فَأَنْصِتًوا
“Tidaklah imam itu diangkat kecuali untuk diikuti: Karenanya jika dia bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan jika dia membaca maka diamlah kalian …” -lalu Ibnu Katsir menyebutkan kelanjutan haditsnya-.
Demikian pula diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunan, yaitu: Abu Daud, At-Tirmizi, An-Nasai, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
وَإذا قَرَأَ فَأَنْصِتًوا
“Dan jika dia membaca maka diamlah kalian.”
Hadits Abu Hurairah ini juga telah dinyatakan shahih oleh Muslim bin Al-Hajjaj.
Maka kedua hadits ini menunjukkan benarnya pendapat ini, dan ini merupakan pendapat lama dari Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala.

Incoming search terms:

  • hukum membaca surat al fatihah saat tahiyat awal
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, May 26th, 2012 at 9:13 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

15 responses about “Hukum Membaca Al-Fatihah Dalam Shalat”

  1. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum ustadz,
    Jadi antara pendapat point 1 & 3, manakah yg paling benar? Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Yang paling tepat menurut kami adalah pendapat yang pertama. Dan berhubung artikel di atas adalah terjemahan maka kami tidak berhak menambahkan komentar kami di dalamnya.

  2. Soydaily Fresh said:

    owh begtu ya pak,,
    makasih atas sharenya,,
    menginspirasi sekali,,

  3. Abu Zaid said:

    Bismillah Ana mengambil pendapat pertama diatas namun jika masbuq ana meganggap rukshoh (Keringanan) untuk tidak membaca alfatihah pada rakaat yang ana mendapatkan ruku bersama imam sehingga ana meganggap mendapatkan satu rakaat, adapun rakaat selanjutnya ana tetap membaca alfatihah di belakang imam ini yang ana yakini ustadz. Bagaimana ustadz apakah cara ini boleh diamalakan?

    jasakumullahu Khairan

    Wallahu a’lam, apakah antum tahu ada ulama yang berpendapat seperti itu? Maksud saya yang membedakan antara yang masbuk dengan yang tidak. Kalau masbuk boleh tidak baca alfatihah, kalau tidak masbuk maka wajib baca alfatihah. Kalau ada, silakan antum berpendapat dengannya kalau memang antum yakin itu yang benar.
    Jika tidak ada salafnya, maka hati-hati beramal dengan amalan yang tidak ada ulama yang mendahuluinya.

  4. no name said:

    assalamu’alaikum
    pak ustadz,apakah setiap sholat harus dikumandangkan azan/iqomat terlebih dulu? bagaimana kalau sholatnya sendirian? apa diwajibkan seperti itu?
    ada yang bilang kalau membaca surah pendek di tiap2 rakaat sholat,maka surahnya harus berurutan (misal: al-ikhlas,lalu al-falaq,lalu an-naas),apa itu benar?
    kenapa sih kalau tahiyat akhir kepala harus dimiringkan?
    satu lagi,apakah sholat subuh atau sholat2 dua rakaat lain,bacaan tahiyat harus sampai selesai (hamiidun madjiid) atau hanya sampai salawat nabi (allaahumma shalli ‘alaa muhammad)??
    syukran

    Waalaikumussalam.
    1. Tidak diwajibkan seperti itu. Boleh saja langsung shalat, tanpa azan dan iqamah.
    2. Ucapan itu tidak benar, tidak harus berurut.
    3. Siapa bilang harus memiringkan kepala. Tidak ada sama sekali tuntunan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam kalau harus memiringkan kepala. Justru kepala tetap tegak jika memungkinkan.
    4. Sampai selesai, karena itu sudah teranggap tahiyat akhir.

  5. bori said:

    Assalaamu’alaikum ustadz.

    Mohon penjelasan mengenai kisah Ali yg masbuk sholat subuh karena menghormati seorang yahudi tua, kalau membaca kisahnya jelas Ali dihitung ikut berjama’ah walau hanya mendapati ruku’ Nabi Saw dan sahabat lainnya.
    Bila dari kisah tsb berarti seorang makmum mendapatkan raka’at bila mendapati imam sedang ruku’.

    Jazakumullah khairan katsiron.

    Waalaikumussalam.
    Sebelum bertanya, harap anda perjelas dulu argumennya. Bagaimana dan dimana kisah yang anda maksud.

  6. bori said:

    Assalaamu’alaikum.

    Maaf ustadz, sebenarnya saya sendiri belum menemukan sumber asli dari cerita tentang Ali bin Abi Thalib r.a ini, jadi (ringkasnya) dalam cerita ini Ali bin Abi Thalib r.a. ketika berjalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah mendapati seorang Yahudi tua yang berjalan pelan didepannya, karena Ali menghormati orang Yahudi tua tersebut ia tidak kemudian ‘menyalip’ untuk mempecepat jalannya menuju masjid.
    Dan dalam cerita ini ketika hendak bangkit dari ruku’ rakaat kedua Rasulullah Saw merasakan punggungnya ditahan Jibril, sehingga ruku’nya sangat lama sekali.
    Singkat cerita ketika mencapai masjid dimana Rasulullah Saw sedang berjamaah maka Ali r.a. mendapati Rasulullah Saw dan jamaah sedang ruku’, dan dari penjelasan Rasulullah Saw melalui Jibril diketahui Ali r.a. mendapatkan nilai shalat berjamaah.

    Demikian, mohon maaf kalo kepanjangan… :)

    Jazakumullah khairan katsiron.

    Waalaikumussalam.
    Kami juga baru kali ini mendengar kisah ini.

  7. Abu Fauzan said:

    Bismillah. Ust. bukannya ada dalil kalo masbuq ma’mum mendapt imam sdg rukuk lalu ma’mum rukuk, maka mendapat 1 rakaat?
    Dalil yang menunjukkan bahwa bacaan imam juga menjadi bacaan bagi makmum dapat dilihat pada hadits Abu Bakroh di mana dia tidak disuruh mengulangi shalatnya.

    Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Al Hasan, dari Abu Bakroh bahwasanya ia mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang ruku’. Lalu Abu Bakroh ruku’ sebelum sampai ke shof. Lalu ia menceritakan kejadian yang ia lakukan tadi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

    “Semoga Allah menambah semangat untukmu, namun jangan diulangi.

    1. Memang ada dalilnya tapi hadits-haditsnya lemah.
    2. Bukankah Nabi sudah larang untuk mengulanginya? Lantas kenapa harus kita ulang?
    Lagipula dalam hadits tersebut juga tidak disebutkan kalau Abu Bakrah tidak menambah rakaatnya. Darimana kita tahu, siapa tahu Abu Bakrah menambah rakaat tersebut setelah Nabi salam?!

  8. hamba alloh said:

    Ustadz tolong diperjelas ana ga ngerti apa itu siriah/jahriyah
    yang ana tau kalo imam membaca keras maka makmun harus diam , makmun membaca al-fatiha saat imam membaca pelan (pernah dengar dalam sebuah majelis taklim) wallahu a’lam
    tapi setelah baca artikel ana jadi bingung
    mohon penjelasannya, jazzakallahu….

    Jahriah itu suaranya diperdengarkan, kalau sirriah, cuman dia sendiri yang mendengarnya.

  9. amil said:

    tad berdasarkan pertanyaan no.5 ana mau tanya sebenar a yang d hitung masbuk itu dari mana d dalam fardu shalat ????

    Seseorang dikatakan masbuk suatu rakaat jika dia belum menyelesaikan alfatihahnya sampai imam i’tidal.

  10. Youngky Pratama said:

    Pak Ustad….. bagaimana seharusnya, kita sebagai makmum dalam sholat, apakah bacaan al fatihahnya dibaca bersamaan dengan imam ataukah pada saat imam membaca surat – surat setelah al fatihah…..
    mohon penjelasannya ustad….
    Jazakumullah khairan katsiran

    Keduanya boleh. Tapi yang dimaksud dengan bersamaan di sini adalah mengikuti imam ayat per ayat, tidak bersamaan dengannya dan tidak mendahuluinya.

  11. abu 'abdillah said:

    afwan ustadz ana nanya disini…
    apakh sholat kita batal krn terlambat 1 rukun sholat??
    misal,sholat brjama’ah seorg ma’mum ruku,kmudian imam i’tidal,tp ma’mum msh ruku..ketika imam takbir u/sujud,barulah ma’mum i’tidal…
    nah apakah sholat ma’mum batal krn hal tsb??

    Tidak batal, cukup tambah 1 rakaat di akhir setelah imam salam.
    Tidak batal, tapi dia berdosa karena tidak mengikuti imam.

  12. abu 'abdillah said:

    afwan…ana ralat tulisan ana,,trnyata msh ada…mohon dihapus aja tulisan ana yg kedua & ketiga
    tp ustads,,tolong pertanyaan ana dibantu jawab…juga dikirim ke email ana
    jazakallaahu khair

  13. Alfath said:

    Assalamu’laikum warohmatullohi wabarokatuh,
    Ustadz,jadi kalau pendapat no 1 yang benar, apakah makmun membaca Al-Fatihah ketika imam membaca surat yang kedua?

    Waalaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh
    Boleh ketika itu.

  14. fahmi ali said:

    SEDIH SEDIH SEDIH banget…krn solat 5 waktu dirumah kecuali subuh…bukan karena ajaran sesat. namun krn klo di mesjid alfatihah imam SANGAT CEPAT, aku gak bisa membaca tamat alfatihah di rokaat manapun shg solatku batal, klo aku paksa kejar maka tajwid-ku pun rusak dan itu batal juga solatnya. apakah pendapatku untuk tidak shalat berjamaah bersamaa imam dapat dibenarkan? aku sudah berusaha untuk mencari masjid yang bacaan alfatihanya aga panjang tapi belum ketemu mohon bimbingannya

    Jangan baca alfatihahnya pas imam baca surah pendek, tapi baca alfatihahnya dgn cara mengikuti imam, ayat per ayat.

  15. john said:

    maksud pertanyaan saya diatas adalah bacaan tahyat saya keterusan sampai hamidum majid padahal kondisi saya lagi masbuk.

    Kalau sudah terlanjur ya mw diapain lagi. Walaupun seharusnya cuman sampai shalawat. Namun shalatnya tetap syah.