Hukum Jual Beli Tokek

November 9th 2009 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Hukum Jual Beli Tokek

Tanya:
Apa hukum jual beli tokek dengan alasan untuk dijadikan obat, mengingat amalan ini sedang marak akhir-akhir ini.
Abu Amr (08524262????)

Jawab:
Pertama-tama perlu diketahui bahwa ucapan para ulama yang ada dalam masalah ini adalah dalam masalah cicak, hanya saja ucapan mereka itu juga berlaku bagi tokek karena keduanya dihukumi sama oleh para ulama. Imam Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata dalam Nailul Authar (8/295), “Cicak (arab: al-wazg) itu termasuk binatang pengganggu dan bentuk jamaknya adalah al-awzag. Sementara tokek adalah hewan yang sejenis dengannya yang berbadan lebih besar.”

Kemudian, tokek/cicak adalah hewan yang haram untuk dimakan dengan tiga alasan:
1.    Keduanya adalah hewan yang khabits/jelek dan bukan termasuk makanan yang thayyib/baik.
Imam Ibnu Hazm -rahimahullah- berkata dalam Al Muhalla (7/405), “Cicak adalah salah satu binatang yang paling menjijikkan.”
Dan Allah telah mengharamkan semua makanan yang khabits dalam firman-Nya, “Dan dia menghalalkan yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk (menjijikkan).” (QS. Al-A’araf: 157)
2.    Keduanya adalah hewan yang fasiq.
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash dia berkata:
أَنَّ النبيَّ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغَ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا
“Sesungguhnya Nabi -shallallaahu alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh cicak, dan beliau menyebutnya sebagai fuwaisiq (binatang jahat).” (HR. Muslim no. 2238)
Dan para sahabat memahami bahwa semua hewan yang dinamakan fasik maka dia haram untuk dimakan. Ibnu Umar berkata, “Siapa yang makan burung gagak? Padahal Rasulullah telah menyebutnya fasiq. Demi Allah, dia bukanlah termasuk makanan yang baik.” Diriwayatkan juga yang semisalnya dari Urwah bin Az-Zubair.
Aisyah -radhiallahu anha- berkata, “Aku sungguh heran terhadap orang-orang yang memakan burung gagak, padahal Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- mengizinkan untuk membunuh gagak dan menyebutnya fasiq. Demi Allah, dia bukanlah termasuk makanan yang baik.” Lihat ucapan ketiga sahabat ini dalam Al-Muhalla: 7/404
Maka dari tiga ucapan sahabat ini menunjukkan bahwa semua hewan yang fasik dan yang diperintahkan untuk dibunuh maka dia juga haram untuk dimakan, wallahu a’lam.
3.    Keduanya diperintahkan untuk dibunuh. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:
مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ
“Barangsiapa yang membunuh cicak pada pukulan pertama maka dituliskan untuknya seratus kebaikan, jika dia membunuhnya pada pukulan kedua maka dia mendapatkan pahala kurang dari itu, dan pada pukulan ketiga maka dia mendapatkan pahala kurang dari itu.” (HR. Muslim no. 2240)
Banyak di antara ulama yang menyebutkan sebuah kaidah yang berbunyi: Semua hewan yang boleh dibunuh maka dia haram untuk dimakan, dan hal itu menunjukkan pengharaman, karena perintah untuk membunuhnya -padahal telah ada larangan untuk membunuh hewan-hewan ternak yang boleh dimakan tapi bukan bertujuan untuk dimakan-, menunjukkan kalau dia adalah haram. Kemudian, yang nampak dan yang langsung dipahami bahwa semua hewan yang Rasulullah  izinkan untuk membunuhnya tanpa melalui jalur penyembelihan yang syar’iyah adalah hewan yang haram untuk dimakan. Karena seandainya dia bisa dimanfaatkan dengan dimakan maka beliau pasti  tidak akan mengizinkan untuk membunuhnya, sebagaimana yang jelas terlihat. Lihat Bidayah Al-Mujtahid (1/344) dan Tafsir Asy-Syinqithi (1/273)

Jadi, tokek/cicak adalah hewan yang haram untuk dimakan. Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (15/186), “Dan cicak/tokek telah disepakati bahwa dia adalah hewan yang haram dimakan.”

Setelah ini dipahami, maka sungguh Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah bersabda:
إنَّ الله إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيءٍ حَرَّمَ عَلَيهِمْ ثَمَنَهُ
“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia akan mengharamkan harganya.” (HR. Ahmad: 1/247, 322 dan Abu Dawud no. 3488)
Maksud ‘diharamkan harganya’ adalah termasuk di dalamnya larangan memperjualbelikannya, menyewakannya, dan semua perkara yang menjadikan dia mempunyai harga.

Dari keterangan yang telah lalu juga dipahami bahwa cicak/tokek bukanlah termasuk harta secara syar’i dia diperintahkan untuk dibunuh, seandainya dia adalah harta maka tidak mungkin dia diperintahkan dibunuh karena itu berarti perbuatan membuang harta dengan percuma.  Dan para ulama menyebutkan kaidah yang berbunyi: Semua yang bukan harta maka tidak boleh mengeluarkan harta untuknya.

Kesimpulannya, cicak/tokek haram untuk diperjualbelikan dengan dua alasan: Karena dia haram untuk dimakan dan karena dia bukanlah harta sehingga tidak boleh mengeluarkan harta untuk membelinya.

Adapun membolehkannya dengan alasan akan dijadikan obat sehingga ini termasuk perkara darurat yang bisa menjadikan hal yang haram itu dibolehkan, maka ini adalah dalih yang sangat lemah dengan dua alasan:
1.    Kaidah ‘keadaan darurat menjadikan hal yang haram diperbolehkan’ hanya bisa diterapkan jika tidak ada jalan lain untuk menghilangkan keadaan darurat itu kecuali dengan mengerjakan hal yang haram itu. Tapi kenyataannya, masih ada jalan lain untuk mengobati/menyembuhkan penyakit yang katanya bisa disembuhkan dengan tokek.
2.    Kaidah ini tidak berlaku dalam masalah pengobatan, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah menegaskan:
إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِي حَرَامٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat kalian pada sesuatu yang haram.” (HR. Ibnu Hibban -sebagaimana dalam Al-Mawarid no. 1397 dan Al-Baihaqi (10/5) dari Ummu Salamah)
Dari Abu Ad-Darda` beliau berkata:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوُوْا وَلاَ تَدَاوُوا بِحَرَامٍ
“Sesungguhnya Allah -Azza wa Jalla- menurunkan penyakit dan obat dan Dia menjadikan obat untuk setiap penyakit. Maka berobatlah kalian dan jangan kalian berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud no. 3874 dan Al-Baihaqi (10/5))
Abu Hurairah juga berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيْثِ
“Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- melarang menggunakan obat yang khabits/buruk.” (HR. Abu Daud no. 3870)
Wallahu a’lam bishshawab.

Incoming search terms:

  • hukum jual beli tokek
  • hukum tokek
  • hukum menjual tokek
  • hukum jual tokek
  • jual beli tokek
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, November 9th, 2009 at 3:32 am and is filed under Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

23 responses about “Hukum Jual Beli Tokek”

  1. Hukum Bisnis Jual Beli “Tokek” yang Bernilai Ratusan Juta Rupiah « ‎ ‎طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi | said:

    [...] SUMBER : http://al-atsariyyah.com/?p=1161 [...]

  2. Hukum Jual Beli Tokek « MPU BANDA ACEH said:

    [...] http://al-atsariyyah.com/?p=1161 5.578227 95.358536 Ditulis dalam Artikel. Tag: hukum, jual beli, pengobatan, tokek. Leave a Comment » [...]

  3. Abu Maryam said:

    Bismillah.
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
    Afwan jiddan ust.
    Ana Mau Tanya. Dalam artikel hukum jual beli tokek ada kalimat yang ana kurang mengerti yaitu pada kalimat:
    ” Kemudian, yang nampak dan yang langsung dipahami bahwa semua hewan yang Rasulullah  izinkan untuk membunuhnya tanpa melalui jalur penyembelihan yang syar’iyah adalah hewan yang haram untuk dibunuh. ”
    ana tidak paham pada kalimat hewan yang haram untuk dibunah. jazakallahu khairan wa Barokallahu fiik

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.
    Ia afwan ana salah ketik, seharusnya: Hewan yang haram untuk dimakan. Sudah kami rubah.
    Jazakallahu khairan atas koreksinya

  4. Abu Maryam said:

    Bismillah.
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
    Afwan jiddan ust. ana minta izin untuk menkopi artikel yang ada di al-atsariyyah untuk disebarkan di mesjid pada hari jumat.
    catatan: ana mengubah tampilan tanpa mengubah isi artikelnya. Jazakallahu Khoiran.

    Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.
    Tafadhdhal, waiyyakum.

  5. ir said:

    Salam..

    Bagaimana hukum air (dalam bak mandi) yang dikenai/ disentuk cicak.? apakah halal digunakan untuk wudhu..?

    sukron..

    Wassalam

    Ia boleh dipakai berwudhu, karena cicak bukanlah najis, baik ketika dia masih hidup maupun setelah jadi bangkai.

  6. abuabdirrohman said:

    bismillah..
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
    afwan apa hukum bangkai dan kotoran cicak ?
    jazakalloh khoir

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Hukumnya sama seperti tokek, yakni suci dan bukan najis, walaupun dia haram dimakan. Silakan baca juga artikel tentang hukum jual beli tokek dalam situs ini.

  7. Cevarief said:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

    Afwan ustadz, bagaimana dengan hadist riwayat muslim “Apabila kulit bangkai disamak, maka ia sungguh telah suci”, bukankah berarti kulit dan bangkainya juga najis, kecuali telah disamak.

    Begitu juga dengan hadist ketika rosululloh ingin buang air besar dan meminta tiga buah batu, dan salah satu diberikan adalah kotoran himar dan itu najis ? Apakah berlaku juga untuk kotoran tokek/cicak yang berarti najis ?

    Mohon penjelasannya.
    Jazakalloh Khoir.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Betul hukum asal semua bangkai adalah najis, hanya saja para ulama mengecualikan 4 bangkai yang tidak najis:
    1. Bangkai manusia.
    2. Bangkai hewan air.
    3. Bangkai belalang.
    4. Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir, termasuk cicak dan tokek.

  8. Greico Ibanez said:

    Assalaamu’alaikum ww.
    Saya mo tanya tentang jawaban Ustadz atas pertanyaan dari Abuabdirrohman (no. 6 di atas). Beliau tanya tentang hukum bangkai dan kotoran cicak. Antum jawab : Hukumnya sama seperti tokek, yakni suci dan bukan najis, walaupun dia haram dimakan. OK, untuk bangkai cicak bisa saya terima kalo suci dan bukan najis. Tapi bagaimana kotoran cicak? Apa ya betul suci dan bukan najis? Setahu saya sih, najis. Jazakallah. Wassalaamu’laikum ww.

    Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh
    Hukum asal segala sesuatu itu adalah suci sampai ada dalil yang menyatakan najisnya. Kalau memang ada yang berpendapat bahwa kotoran cicak itu najis, silakan dia bawakan dalilnya. Kalau ada, insya Allah kami juga akan berpendapat najisnya.

  9. Ram said:

    Saya keliru dalam persoalan ini. Pertama Tokek di jatuhkan haram kerana termasuk sejenis cicak apa ia benar?

    Ia, para ulama menyatakan bahwa tokek itu sejenis cicak, hanya saja ukurannya lebih besar.

  10. Husen said:

    Bismillah, Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

    Afwan ustadz mengenai Tokek sebagai obat klo di negri kita memang berbeda-beda, klo untuk obat walaupun haram boleh karena darurat seperti sutra yg nabi membolehkan bg laki2 yg sakit gatal2 padahalkan harom.
    1. Apakah hadits tsb bisa di jadikan dalil dlm masalah ini?
    2. Bgmana pula dengan cacing yang juga di jadiakn sebagai obat?
    3. Apakah setiap hewan yang menjijikan haram untuk di makan walaupun tidak ada dalil yg mengharamkan?

    Jazakallah khairan

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    1. Hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dalil untuk mengkiaskannya dengan tokek, karena adanya dalil yang melarang berobat dengan yang haram lagi najis. Dan tentunya tokek jika dia mati maka dia adalah bangkai dan pengecualian makan bangkai hanya bagi yang akan mati jika tidak memakannya.
    Kami tidak yakin bahwa suatu penyakit, obatnya hanya tokek atau hewan semacamnya yang dilarang untuk dikonsumsi. Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan Dia juga yang menurunkan obatnya, dan Dia tidak menjadikan obat tersebut pada apa-apa yang diharamkan atas manusia memakannya.
    Hadits tentang sutra di atas hanya menunjukkan pengecualian sutra dan tidak bisa dikiaskan pada selainnya. Lagipula sutra itu hanya digunakan dan tidak dikonsumsi tentunya, berbeda halnya dengan makanan haram yang dikonsumsi untuk dijadikan obat.
    2. Setiap hewan yang khabits (jelek/buruk) tidak boleh dimakan berdasarkan nash Al-Qur`an. Hanya saja yang menentukan hewan itu khabits/menjijikkan adalah syariat dan bukan kebiasaan orang atau kaum tertentu.

  11. Amirul said:

    apakah hukum jual beli tokek dalam agama islam?

    pembahasan ini bisa dibaca di link : http://al-atsariyyah.com/?p=1161

  12. Niko said:

    apakah boleh jual beli cacing tanah untuk dimanfaatkan memancing, makanan ternak, atau pupuk tanah?
    mengingat cacing adalah suci dan tidak najis, dan bukan merupakan makanan manusia.
    Bagaimana juga dengan hukum jual beli keledai jinak? yang juga haram dimakan?

    Semua yang haram dimakan maka juga tidak boleh memperjual belikannya.
    Adapun keledai jinak maka dia dikecualikan karena adanya dalil. Adapun yang tidak ada dalilnya maka tetap berada pada hukum hadits yang kami bawakan di atas. Silakan baca komentar-komentar yang ada di sini, kami pernah menjawab pertanyaan seperti ini sebelumnya.

  13. wong ndeso said:

    Assalamu’alaikum. ustadz, apa hukum ternak jangkrik dan cacing, untuk jual makanan ternak spt burung, umpan pancing, dll. kadang2 kita makan? tolong jawabnya segera ustadz krn sy butuh jawaban tsb. makasih…semoga Allah membalas kebaikan anda

    Waalaikumussalam.
    Jengkring hukumnya halal sehingga boleh diperjualbelikan Jangkrik tidak boleh dimakan karenanya dia tidak boleh diperjual belikan, dan cacing juga tidak boleh dimakan karenanya dia juga tidak boleh diperjualbelikan.

  14. Tokek Sabah said:

    Salam.
    Adakah ini bermakna ianya dihalalkan untuk menjual tokek ini kepada pengkaji perubatan?

    Ia tidak boleh memperjualbelikan tokek, wallahu a’lam

  15. johar bin jumah said:

    assalamualaikum… maaf kerana pertanyaan saya bukan tokek . tapi berkanaan tentang jual beli.
    Saya adalah seorang yangb berniaga. kalau saya beli sesuatu barang yang berharga $10.00 berapakah yang boleh saya naikkan harga yang paling maksima. adakah 10.00 menjadi 30.00 atau 10.00 menjadi 40.00.

    Waalaikumussalam.
    Terserah saudara, selama kenaikan harga itu tidak menzhalimi para pembeli.

  16. Moen_Ww said:

    Bismillah..
    Assalamu’alaikum..
    Sy prnh mbaca riwayat bhw para Sahabat makan biawak padang pasir dan Nabi tdk mlarang.. Lalu bgmn dg biawak selain di padang pasir, pakah jg boleh dimakan?
    Syukron ustadz

    Waalaikumussalam.
    Bukan biawak padang pasir, tapi kadal padang pasir.

  17. abu abdillah said:

    Bismillah.
    Afwan ustadz mo tanya tp pertanyaan ini pernah saya baca pd suatu artikel tapi malah membuat saya jadi bingung.
    Begini hal tersebut adanya :

    BAGAIMANA HUKUM BERJUALAN TIKUS UNTUK KEPERLUAN LABORATORIUM?

    JAWABANNYA KURANG LEBIH BEGINI:

    Perlu diuraikan beberpa hal:

    Pertama, perlu diketahui bahwa salah satu syarat transaksi jual beli bahwa transaksinya pada hal manfaat yang dibolehkan, walaupun tanpa keperluan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa dalil.

    Kedua, Rasulullah shallallâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah bila mengharamkan sesuatu maka Dia (juga) mengharamkan harganya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud dan selainnya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu `anhuma. Dishohihkan oleh Al-Albany)

    Dan dimaklumi bahwa tikus adalah hewan yang diharamkan untuk dimakan sebagaimana yang dijelaskan oleh sejumlah dalil.
    Ketiga, keledai adalah hewan yang diharamkan untuk dimakan sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah hadits. Kendati demikian, kaum muslimin dari dahulu hingga sekarang sepakat tentang bolehnya jual beli keledai karena padanya ada manfaat; yaitu untuk ditunggangi dan keperluan lainnya. Tentunya ini tidak bertentangan dengan hadits di atas. Karena jual beli keledai ini karena manfaatnya, bukan untuk dimakan. Andaikan ada yang menjual keledainya untuk dimakan maka disini letak pemberlakuan hadits tersebut sehingga kita tegaskan bahwa haram untuk mengambil harganya atau haram menjualnya.

    Dari tiga keterangan itu,maka dijawab bahwa:

    Diperbolehkan menjual tikus untuk laboratarium. Karena ada manfaatnya, bukan untuk dimakan.

    Afwan ustadz saya mohon kejelasannya yang lebih rinci.

    Jazaakumullohu khoiron.

    Kami sudah menjawab pertanyaan senada ini dalam salah satu komentar. Dan kami katakan bahwa dalam hukum ini ada beberapa perkara yang haram dimakan tapi dikecualikan boleh dijual -dan ini berdasarkan ijma’-, di antaranya adalah: Keledai jinak dan budak. Jadi tidak ada pertentangan. Keledai jinak ada yang mengecualikan bolehnya diperjual belikan. Tapi tikus, apakah ada dalil yang mengecualikannya?

  18. ibnu muhammad said:

    Assalamu’alaikum ustad

    ana ingin bertanya : klo dalam sebuah botol yg berisi madu terdapat babgkai cicak, apakah madu tersebut halal dan msh bs di konsumsi?
    syukron

    Waalaikumussalam.
    Bangkai cicaknya dibuang dan madu yang ada di sekitarnya. Sisanya boleh diminum.

  19. Adi said:

    Asslamu’alaikum
    ustadz dalam al-Mughni ketika menafsirkan ayat
    “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (QS. Al-A’Raf: 157).

    Maknanya segala yang buruk adalah: berarti sesuatu yang menjijikkan seperti barang-barang najis,kotoran atau hewan-hewan sejenis ulat,kumbang, jangkrik, tikus, tokek/cecak, kalajengking, ular dan sebagainya. sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i (lihat Al-Mughni (13/317) oleh Ibnu Qudamah) dan sesuatu yang membahayakan seperti racun, narkoba dengan aneka jenisnya, rokok dsb.
    tapi kata ustadz jangkrik halal mohon penjelasannya! Barakallahu Fiikum

    Waalaikumussalam.
    Ya, itu kekeliruan ana. Waktu itu, yang muncul di benak ana adalah belalang. Yang benarnya, jangkrik tidak boleh dimakan. Jazakallahu khairan atas koreksinya.

  20. abdullah said:

    assalamualaikum Ustadz
    Mohon penjelasan lagi tentang hukum jangkrik,karena ada 2artikel yg beda penulisanya dalam al-atsariyyah.

    Kategori Alwajiz : Thaharah
    Air, An-Najaasaat
    Sabtu, 21 Mei 2005 13:23:08 WIB

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah. Kedua bangkai itu adalah ikan dan jangkrik. Sedangkan kedua darah tersebut adalah hati dan limpa.” Kedua, bangkai hewan yang tidak berdarah. Seperti lalat, semut, lebah, dan sebagainya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seekor lalat jatuh ke dalam bejana salah seorang di antara kalian, maka benamkan semua lalu buanglah ia. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, sedangkan pada sisi lainnya terdapat penawar.” Ketiga, tulang bangkai, tanduk, kuku, rambut dan bulunya. Semuanya suci, merujuk pada keasliannya, yaitu suci. Dasarnya hadits yang diriwayatkan al-Bukhari secara mu’allaq. Dia mengatakan bahwa az-Zuhri berkata tentang tulang bangkai -seperti gajah dan sebagainya-, “Aku mendapati beberapa kalangan ulama terdahulu bersisir dan berminyak dengannya. Mereka tidak mempermasalahkannya.”. Hammad berkata, “Tidak ada masalah dengan bulu bangkai.”

    Sedangkan dalam artikel yg lain yang ditulis ustadz abu Ubaidah dg judul Hakanan Haram.begini

    Sedangkan makan “Al-Khabaaits” bisa berarti sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Sesuatu yang menjijikan seperti barang-barang najis, kotoran atau hewan-hewan sejenis ulat, kumbang, jangkrik, tikus, tokek/cecak, kalajengking, ular dan sebagainya sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i. [Lihat Al-Mughni (13/317) oleh Ibnu Qudamah]. Sesuatu yang membahayakan seperti racun, narkoba dengan aneka jenisnya, rokok dan sebagainya. Adapun makanan haram seperti babi, bangkai dan sebagainya

    Waalaikumussalam.
    Maaf, itu kesalahan kami. Bukan jangkring, tapi belalang. Belalang halal, adapun jangkrik, maka itu tidak boleh dimakan karena merupakan bangkai. Jazakallahu khairan sudah diingatkan.

  21. me said:

    apa hukum membunuh semut atau nyamuk? apakah nyamuk yang ada darah di tubuhnya dibunuh (ketika sehabis mengisap darah manusia) itu termasuk najis? dan bagaimana jika terkena kulit atau pakaian? mohon penjelasannya syukron.

    Tidak ada masalah jika memang mengganggu.
    Tidak najis. Karena semua darah itu suci kecuali darah haid dan nifas.

  22. me said:

    jadi kalau misalnya memancing ikan menggunakan hewan seperti jangkrik,ulat,dsb maka ikan nya juga haram dong?

    Tidak haram, tidak ada masalah. Itu tidak ada hubungannya.

  23. agung said:

    kalau beli jangrik,untuk makanan burung peliharaan apa juga haram ?

    Tidak, insyaAllah. (MT)