Hukum Jima’ Menghadap dan Membelakangi Kiblat

July 22nd 2011 by Abu Muawiah |

Hukum Jima’ Menghadap dan Membelakangi Kiblat

Tanya:
Assalamualaikum Wr.Wb.
Ustad kami yang terhormat, saya mau menanyakan hal2 yang sebenarnya bikin saya resah. Begini ustad, saya dulu pernah bertanya kepada seorang ikwah perihal adab hubungan suami istri, saya pernah diberitahu bahwa  :
1. Makruh berhubungan suami istri menghadap kiblat atau membelakangi-nya
2. Tidak boleh (maaf) memegang kemaluan istri saat berhubungan suami istri.
Benarkah hal tersebut secara syariah, mohon solusinya, soalnya hal tersebut sangat mengganggu dalam kehidupan saya. Terimakasih banyak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Hartono H [Yanti_sri02@yahoo.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
1. Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا
“Jika kalian mendatangi masuk ke dalam WC, maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya.” (HR. Al-Bukhari no. 380 dan Muslim no. 388)
Hadits ini di antara dalil yang digunakan oleh para ulama yang melarang buang air menghadap dan membelakangi kiblat. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai sebab larangan ini menjadi 3 pendapat:
1.    Sebabnya adalah adanya najis yang keluar.
2.    Sebabnya adalah membuka aurat.
3.    Kedua sebab ini merupakan sebab larangan di atas.
Dari perbedaan pendapat di atas inilah dan juga perbedaan dalam hal najis tidaknya mani, dibangun perbedaan pendapat dalam masalah jima’ menghadap kiblat.

Bagi yang berpendapat dengan pendapat yang pertama, maka dia membolehkan jima’ menghadap dan membelakangi kiblat karena tidak adanya najis yang keluar.

Sementara bagi yang berpendapat dengan pendapat pertama dan ketiga dan berpendapat akan najisnya mani, maka dia akan melarang jima’ menghadap dan membelakangi kiblat karena adanya najis yang keluar.

Sementara yang berpendapat dengan pendapat kedua maka dia akan melarang jima’ menghadap dan membelakangi kiblat secara mutlak. Bahkan kelazimannya akan melarang mandi atau tidur telanjang menghadap dan membelakangi kiblat, karena adanya amalan memperlihatkan aurat.

Sementara yang berpendapat dengan pendapat ketiga tapi tidak menganggap mani itu najis, maka mereka tetap memperbolehkannya karena kedua sebab itu tidak berkumpul.

Kesimpulannya, ada 2 pendapat dalam masalah hukum jima’ menghadap dan membelakangi kiblat:
Pendapat pertama: Tidak membolehkan. Ini adalah pendapat Ibnu Habib dan sebagian Al-Malikiah.
Pendapat kedua: Boleh jima’ menghadap dan membelakangi kiblat. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Daud Azh-Zhahiri.
Dan pendapat yang lebih kuat insya Allah pendapat kedua. Hal itu dikarenakan menurut pendapat yang paling kuat: Mani bukanlah najis dan sebab larangan dalam hadits Abu Ayyub di atas adalah karena adanya najis yang keluar, bukan karena terbukanya aurat. Maka tatkala mani bukanlah najis dan tidak ada dalil yang tegas dan shahih melarang dari membuka aurat menghadap dan membelakangi kiblat, maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang membolehkan jima’ menghadap dan membelakangi kiblat, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Al-Mulaqqin rahimahullah dalam Al-I’lam: 1/450. Wallahu a’lam.

2. Adapun menyentuh kemaluan antara suami istri, maka hal itu diperbolehkan berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala yang artinya, “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223)
Dan juga sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang yang dibolehkan dari wanita haid:
اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ
“Perbuatlah segala sesuatu kecuali jima'”. (HR. Muslim no. 455)
Dan ‘segala sesuatu’ di sini mencakup menyentuh kemaluan.

Incoming search terms:

  • tidur membelakangi kiblat
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, July 22nd, 2011 at 8:22 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

5 responses about “Hukum Jima’ Menghadap dan Membelakangi Kiblat”

  1. dr. Abu Hana said:

    Bismillah,

    izin copas tadz, Baarokallaahu fiikum..

  2. abu sarah said:

    Assalamu’alaikum
    Afwan Ustadz. mau bertanya,bagaimana hukumnya jika di tinjau dari syariat agama , jika seorang lelaki mengikuti kursus menjahit, atau memasak yang mana para pesertanya di dominasi oleh kaum wanita,sementara untuk mengikuti kursus atau pendidikan yang peserta lelaki tidak ada.apa di bolehkan atau tidak , sekian jazakallohu khoiron.

    Waalaikumussalam.
    Saya rasa jawabannya sudah jelas tidak boleh karena adanya percamburbauran antara lelaki dan wanita yang bukan mahram di dalamnya.

  3. Abu Zaid said:

    Bismillah, mau tanya ustadz :
    1.mengenai dalil yang melarang telanjang pada saat berhubungan suami istri? karena pernah ana membaca buku bahwa rasulullah menutup seluruh tubuhnya pada saat berhubungan suami istri (jima’)apakah benar demikian?

    2. bagaimana hukum telanjang pada saat Jima’?
    3. Doa Jima’ apakah dibaca oleh suami atau istri atau suami istri keduanya membaca dan pada saat kapan doa ini di baca?

    jasakumullahu Khairan

    Kalau masalah boleh, ya boleh saja. Tidak ada dalil yang melarang. Walaupun memang tentunya lebih baik jika tetap ada kain yang menutupi mereka.
    Lahiriah hadits, doa tersebut hanya dibaca oleh suami, ketika dia akan mulai mendatangi istrinya.

  4. Wawan said:

    Assalamu’alaikum,
    Mau bertanya Ustadz..
    1. Jika kami melakukan hubungan Suami Istri sebanyak 2 kali, apakah selesai berhubungan pertama harus Mandi Junub dulu baru melakukan hubungan yang kedua atau bisa Mandi Junub nanti setelah melakukan hubungan Suami Istri yang kedua..??

    2. Istri sy ada kelainan dengan jadwal haid, kadang 10 hari baru haid berhenti, karena kondisi ini, terkadang saat sy lagi ingin, terpaksa saya salurkan melalui masturbasi. Hal ini sy lakukan untuk menghindari pikiran kotor yg sering muncul untuk melampiaskannya ke perempuan lain. Apakah masturbasi yg saya lakukan itu tetap berdosa..??

    Waalaikumussalam.
    1. Tidak wajib, tapi disyariatkan dia berwudhu di antara keduanya.
    2. Boleh, asalkan ‘dibantu’ oleh istri, tidak dilakukan sendiri.

  5. lila said:

    assalamu’alaikum. Ustadz, mau bertanya, suami saya tidak pernah bisa menggembirakan hati saat kami berjima’. Ini disebabkan dia mengalami ejakulasi dini. Sedihnya dia tak mau mengerti kondisi saya. krnnya saya terpaksa melakukan masturbasi, yg sebetulnya enggan sekali. krn tak terpenuhinya hak saya dari suami. bgm solusinya ya, krn suami menganggap tak masalah jika dia tak mampu melakukan tugasnya dg baik.

    Waalaikumussalam.
    Sebaiknya anda meminta suami untuk berobat atau anda mencarikan solusi kesehatan untuk suami. Karena ejakulasi dini sama seperti penyakit pada umumnya, insya Allah bisa disembuhkan.