Hukum-Hukum Seputar Puasa Muharram

January 5th 2009 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Hukum-Hukum Seputar Puasa Muharram

Alhamdulillah pada saat ini kita telah berada di bulan Muharram, salah satu bulan dari empat bulan yang memiliki kehormatan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dalam sabda beliau: “Sesungguhnya zaman telah berputar kembali seperti bentuknya ketika Allah menciptakan langit-langit dan bumi, satu tahun itu 12 bulan dan di antaranya ada 4 bulan haram (yang memiliki kehormatan), 3 bulan (di antaranya) berturut-turut : Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan bulan Rajabnya Mudhor yang berada antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan bulan ini juga merupakan salah satu dari beberapa bulan yang Allah Ta’ala telah menurunkan syariat puasa khusus di dalamnya yaitu puasa yang kita kenal bersama dengan nama puasa asyura. Karena itu pada pembahasan kali ini, kami akan mengangkat beberapa hukum seputar puasa Asyuro, semoga kaum muslimin sekalian bisa mendapatkan ilmu dan pelajaran tentangnya sebelum terjun melaksanakannya.

1. Dalil-Dalil Tentang Disyari’atkannya.
a.  Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha beliau berkata, “Dulu pada hari Asyuro, orang-orang Quraisy berpuasa padanya di masa jahiliyah dan adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam dulu juga berpuasa padanya. Tatkala beliau berhijrah ke Madinah, beliau berpuasa padanya dan memerintahkan (manusia) untuk berpuasa padanya. Dan tatkala (puasa) ramadhan diwajibkan beliaupun meninggalkan (puasa) hari Asyuro. Maka (semenjak itu) siapa saja yang ingin (berpuasa padanya) maka dia berpuasa dan siapa saja yang ingin (untuk tidak berpuasa) maka dia meninggalkannya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
b. Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Nabi datang (hijrah) ke Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro`, maka beliau bertanya: “Apa ini?”, mereka (orang-orang Yahudi) menjawab: “Ini adalah hari baik, ini adalah hari Allah menyelamatkan Bani Isra`il dari musuh mereka maka Musa berpuasa padanya”, beliau bersabda : “Kalau begitu saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian” maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan (manusia) untuk berpuasa”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
c. Hadits Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk berpuasa pada hari ‘Asyuro`, memotivasi dan mengambil perjanjian dari kami di sisi beliau, tatkala telah diwajibkan (puasa) Ramadhan, beliau tidak memerintahkan kami, tidakpula melarang kami dan tidak mengambil perjanjian dari kami di sisi beliau”. (HR. Muslim)
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa puasa asyura awal kali disyariatkan ketika beliau tiba pertama kali di kota Madinah. Adapun sebab asal pensyari’atannya yaitu karena pada hari itu Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dari musuhnya sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas di atas, jadi bukan karena mengikuti agamanya orang-orang Yahudi. Lihat Nailul Author (4/288)

2. Hukumnya.
Nampak jelas dari hadits-hadits di atas dan juga dari hadits-hadits yang lain yang semakna dengannya bahwa dulunya hukum puasa hari ‘Asyuro` adalah wajib karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas di atas. Akan tetapi setelah turunnya kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan maka hukum wajib ini dimansukh (terhapus) menjadi sunnah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Muslim (8/6), “Para ulama telah bersepakat bahwa puasa pada hari ‘Asyuro` hukumnya sekarang (yaitu ketika telah diwajibkannya puasa Ramadhan) adalah sunnah dan bukan wajib”. Dan ijma’ akan hal ini juga telah dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah sebagaimana dalam Fathul Bary (2/246)

3. Keutamaannya.
Ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan berpuasa pada hari ‘Asyuro`, berikut di antaranya :
a. Hadits Abu Qotadah Al-Harits bin Rib’iy radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, maka beliau menjawab : “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun yang lalu dan (setahun) yang akan datang”, dan beliau ditanya tentang puasa hari ‘Asyuro` maka beliau menjawab : “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun yang lalu”. (HR. Muslim)
b. Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam sangat bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang dia lebih utamakan daripada selainnya kecuali pada hari ini hari ‘Asyuro` dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
c. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu secara marfu’, “Puasa yang paling afdhol setelah Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Allah Muharram dan sholat yang paling afdhol setelah sholat wajib adalah sholat lail”. (HR. Muslim)

4. Orang yang telah makan sedang dia lupa atau tidak tahu bahwa hari itu adalah hari asyuro, apa yang dia lakukan ?
Masalah ini hukumnya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim (8/19), “Bab : Barangsiapa yang sudah makan pada hari ‘Asyuro` maka hendaknya dia menahan (berpuasa) pada sisa harinya”.
Ada dua dalil yang menunjukkan akan hal ini :
a. Hadits Salamah ibnul Akwa’ radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan seorang lelaki dari Bani Aslam agar mengumumkan kepada manusia bahwa barangsiapa yang yang sudah makan maka hendaknya dia berpuasa pada sisa harinya dan barangsiapa yang belum makan maka hendaknya dia berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyuro`”. (HR.Al- Bukhari dan Muslim)
b. Hadits Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiallahu ‘anha dia berkata, “Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam mengutus (utusan) kepada desa-desa Anshor pada subuh hari ‘Asyuro` (untuk menyerukan) : “Barangsiapa yang masuk di waktu subuh dalam keadaan berbuka (telah makan) maka hendaknya dia sempurnakan sisa harinya (dengan berpuasa) dan barangsiapa yang masuk di waktu subuh dalam keadaan berpuasa maka hendaknya dia berpuasa”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

5. Kapankah Hari ‘Asyuro` Itu?
Terdapat perselisihan pendapat di kalangan ulama dalam masalah penentuannya, dan pendapat yang paling kuat adalah bahwa hari asyura itu jatuh pada tanggal 10 Muharram. Ini adalah pendapat Said ibnul Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Imam Malik, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan ini merupakan pendapat jamahir (mayoritas) ulama terdahulu dan belakangan.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dia berkata, “Tatkala Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyuro` dan beliau memerintahkan (manusia) untuk berpuasa, mereka berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani”, maka Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda : “Jika tahun depan (saya masih hidup) insya Allah, maka kita akan berpuasa pada hari kesembilan”. (Ibnu ‘Abbas) berkata : Maka tahun depan belum datang sampai Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam wafat”. (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, “Jika saya masih hidup sampai tahun depan maka (Demi Allah) sungguh betul-betul saya akan berpuasa pada hari kesembilan”.
Berkata Imam An-Nawawy rahimahullah dalam Syarh Muslim (8/18), “Maka ini jelas menunjukkan bahwa dulu beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berpuasa pada tanggal 10 (Muharram) bukan tanggal 9”. Dan ini juga merupakan pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah.
Hal ini lebih dipertegas oleh perkataan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘Asyuro`, hari kesepuluh”. (HR. At-Tirmizi dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmizi (1/399 no. 755))
Faedah:
Disunnahkan pula untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram karena Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berpuasa pada tanggal 10 dan berniat untuk berpuasa pada tanggal 9 tahun depannya sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas di atas, ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq dan lain-lainnya. Hal ini juga berdasarkan ucapan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah pada hari ke 9 dan ke 10”. (Riwayat Abdurrozzaq (4/287) dan Al-Baihaqi (4/287))
Wallahu a’lam bish showab.

Incoming search terms:

  • puasa muharram
  • hukum puasa 1 muharram
  • puasa asyuro
  • hukum puasa 1 muharam
  • puasa muharam
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, January 5th, 2009 at 4:01 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

19 responses about “Hukum-Hukum Seputar Puasa Muharram”

  1. Hukum-Hukum Seputar Puasa Muharram « Muhammad Reza Abdulhaqq said:

    [...] telah menyusun panduan seputar puasa muharram, silakan klik di website beliau hafizhahullah…. Baca lebih lanjut

  2. setiaji said:

    Alhamdulillah..

    makasih infonya..

  3. Hukum Hukum Seputar Puasa Muharram « Muhammad Reza Abdulhaqq said:

    [...] Al Ustadz Abu Muawaiyah Hammad telah menyusun panduan seputar puasa muharram, silakan klik di website beliau hafizhahullah

  4. Choirun Nisak said:

    trima kasih bnyak, artikel ini sngat m’bntu sy.
    krn sy bimbangan antra tgl 9 atw 10 utkt brpuasa.
    tp syukurlah it smw da trjawab stelah baca artikel ini.
    sukron katsir…..

  5. Abidin said:

    Assalamu’alaikum. Ustadz,

    point 4. Orang yang telah makan sedang dia lupa atau tidak tahu bahwa hari itu adalah hari asyuro maka dia boleh menyempurnakan puasanya berdasarkan 2 hadits yang tercantum.

    pertanyaannya: apakah kaidah itu juga berlaku pada umumnya puasa, wajib dan puasa sunnah ?

    bagaimana bila dia diingatkan setelah lewat waktu dzuhur. kemudian dia berpuasa pada sisa harinya ?

    Jazakumullahu khair atas jawabannya

    Waalaikumussalam.
    1. Hanya berlaku bagi puasa sunnah. Adapun puasa wajib, maka niat puasanya harus ada dari malam hari.
    2. Ya, insya Allah dia tetap terhitung puasa. Wallahu A’lam.

  6. Abidin said:

    Berarti, kalau seseorang terlanjur sarapan pagi, sementara dia belum niat puasa sunnah dimalam harinya kemudian dia diberitahu oleh saudaranya kalau hari itu ada puasa arofah, senin-kemis, dan semisalnya maka dia masih bisa untuk berpuasa pada sisa harinya walaupun sudah lewat waktu dzuhur.

    Barokallahu fiiikum Ustadz atas jawabannya.

    Ya, kalau memang dia tidak tahu kalau hari itu adalah hari disunnahkan puasa, maka insya Allah dia tetap boleh berpuasa dan puasanya syah, walaupun sudah lewat waktu zuhur.
    Adapun jika dia sudah tahu besok ada puasa arafah atau senin kamis, lalu dia sarapan, lalu dia berniat untuk melakukan puasa sunnah itu, maka ini tidak syah. Wallahu A’lam.

  7. Moen_Ww said:

    Bismillah..
    Bagaimana dengan kebiasaan sebagian masyarakat mengkhususkan puasa pada tanggal 1 muharram? Adakah dalil perintahnya?
    Syukron..

    Wallahu a’lam, kami belum pernah mendapati dalil tentang hal itu.

  8. eza said:

    apa yang dilakukan wanita yang sedang haid pada tanggal 9 dan 10 muharam??

    Sama seperti ibadah yang dia lakukan pada hari-hari lainnya, kecuali puasa.

  9. aziz said:

    Assalamualaikum..

    Saya menanyakan penggalan dari hadist diatas.

    1. Dan tatkala (puasa) ramadhan diwajibkan beliaupun meninggalkan (puasa) hari Asyuro. Maka (semenjak itu) siapa saja yang ingin (berpuasa padanya) maka dia berpuasa dan siapa saja yang ingin (untuk tidak berpuasa) maka dia meninggalkannya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    2. tatkala telah diwajibkan (puasa) Ramadhan, beliau tidak memerintahkan kami, tidakpula melarang kami dan tidak mengambil perjanjian dari kami di sisi beliau”. (HR. Muslim)

    Dan beliau tidak memerintahkan juga tidak melarang.
    Bukankah Rasulullah sendiri sudah mengajarkan dengan cara beliau tidak berpuasa?? Bagaimana ini?? Bukankah Rasulullah adalah panutan yang baik dan mengerjakan segala kebaikan… Tapi kenapa Rasulullah sendiri tidak berpuasa??

    Tolong, saya masih bingung.

    Ini sama seperti shalat tarawih berjamaah selama bulan Ramadhan. Nabi hanya shalat tarwih berjamaah 3 malam lalu beliau meninggalkannya. Tapi itu bukan berarti tidak boleh shalat tarwih, hal itu karena Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mencontohkannya dan menyebutkan keutamaannya, maka berjamaah tarwih tetap menjadi sunnah sampai hari kiamat. Demikian halnya dengan puasa asyura di sini. Wallahu A’lam.

  10. edy susanto said:

    baarokalloh fiekum…

  11. zahra said:

    Assalamu’alakum Ustadz :
    saya penasaran dengan BBM yg banyak beredar saat ini yg menyatakan barang siapa yg mengingatkan sesama untuk berpuasa pada tgl.9 dan 10 Muharram seolah ia telah melakukan ibadah selama 80 tahun apakah itu ada hadistnya Ustadz ?? mohon penjelasannya<terima ksh wass

    Waalaikumussalam.
    Wallahu A’lam, kami belum pernah mendengar hadits dengan lafazh seperti itu.

  12. devi said:

    asslamu’alaikum ustad:
    boleh g puasa setelah puasa satu muharam, tapi niat nya bayar puasa yang kemarin…mohon jawabanya
    terimakasih, wass

    Waalaikumussalam.
    Puasa tanggal 1 muharram pun boleh.

  13. bagz said:

    bismillah,
    mohon penjelasan tentang perbedaan pengucapan nama salah satu ulama salaf Said ibnul Musayyab (sebagaimana artikel ini), di lain sumber ada yang menyebutkan Said ibn Al Musayyib. Dari kedua ini mana yang lebih afdhol pengucapannya?
    zaadakumullahu hirson ustadz

    Keduanya sama saja, boleh dibaca dengan lafazh yang mana saja.

  14. vianto said:

    puasa tgl 1 muharam boleh nggak?

    Boleh.

  15. laras syafitri said:

    alhamdulillah sedikit lebih tau bsk insya allah puasa ,,, niatnya gmn?

  16. Yunie said:

    syukron, jadi tahu hukumnya puasa di bulan muharam

  17. lendawati said:

    apa boleh kita puasa di hari pertama bulan muharam?

    Boleh saja

  18. Budi said:

    Terimakasih hadist dan penjelasan puasa 1 muharamnya.

  19. syihabuddin said:

    Jazakamullah artikelnya, sangat bermanfaat , oh ya Ustadzuna usulan untuk artikel dalil Quran dan sunnahnya ditulis sekalian bahasa arabnya..jazkallahu wa baarakallahu fiikum