Hukum Hadiah Pada Barang Dagangan

March 18th 2009 by Abu Muawiah |

Hukum Hadiah Pada Barang Dagangan

Hadiah seperti ini ada beberapa jenis:
Jenis Pertama: Hadiahnya berasal dari penjual, dan hadiahnya telah diketahui oleh pembeli. Dan hadiahnya terkadang berupa barang dan terkadang berupa manfaat.
Contoh yang berupa barang: Seorang membeli deterjen tertentu lalu penjual memberikan hadiah sebuah mangkok atau piring. Atau siapa saja yang membeli air isi ulang di tempatnya sebanyak 5 kali maka dia memberikan hadiah gratis sekali isi ulang.
Contoh yang berupa manfaat: Siapa yang mencuci kendaraan sebanyak 5 kali di tempatnya maka dia memberikan hadiah gratis sekali cuci kendaraan lengkap.
Hukumnya:
Asalnya adalah boleh dan halal karena kedudukannya sama seperti diskon dan karena di dalamnya tidak adanya suatu hal yang terlarang oleh syariat.

Jenis Kedua: Hadiahnya tidak diketahui oleh pembeli karena dia berada di dalam kemasan barang dagangan.
Hukumnya:
Ada rincian dalam masalah ini:
Kalau dengan adanya hadiah ini menyebabkan harga barang itu naik dari harga yang sepantasnya, maka hadiah seperti ini tidak diperbolehkan dan membelinya juga tidak boleh. Karena ketika seseorang membeli produk tersebut maka ketika itu juga dia mempunyai kemungkinan untung dan kemungkinan merugi, yaitu bisa saja tambahan harga ini setara dengan hadiahnya atau lebih besar dari hadiahnya atau kurang darinya, dan ini adalah maisir yang diharamkan sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya.
Kalau hadiah tersebut tidak menyebabkan harga produk itu naik maka ini tidak bermasalah karena dia menyerupai diskon dan juga hukum asal dalam muamalah adalah halal.

Jenis Ketiga: Hadiahnya hanya terdapat dalam sebagian barang dagangan, baik dari jenis produk yang sama maupun berbeda.
Bentuknya: Seorang membeli barang dalam keadaan bisa jadi di dalamnya ada hadiah dan bisa jadi juga tidak ada. Misalnya sebuah perusahaan memasarkan produk tertentu dan dalam sebagian produk tersebut tertulis nama hadiah -yang jelas bukan uang- yang akan diperoleh oleh orang yang membelinya.
Hukumnya:
Boleh dengan dua syarat:
1. Hadiah tersebut tidak menyebabkan harga barangnya naik.
2. Dia hanya membeli barang yang memang dia butuhkan. Jadi dia tidak boleh membeli barang yang pada dasarnya dia tidak butuhkan hanya karena ingin mendapatkan hadiah yang ada di dalamnya.

Jenis Keempat: Hadiahnya berupa uang tunai.
Para ulama belakangan berbeda pendapat mengenai hukumnya:
Pendapat pertama: Haram dan tidak boleh.
Karena ini termasuk ke dalam muamalah menukar dua barang ribawi dengan ada tambahan pada salah satu dari kedua barang ini, walaupun tambahan ini tidak sejenis dengan kedua barang tersebut. Misalnya: Beras ditukar dengan beras plus uang. Beras ini adalah barang ribawi sementara uang berbeda jenisnya dengan beras.
Muamalah seperti ini dilarang berdasarkan hadits Fudhalah bin Ubaid radhiallahu anhu bahwa dia pernah membeli kalung yang mempunyai manik-manik dengan menggunakan uang dirham. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh sampai kamu memisahkannya.”
Yakni dipisahkan antara kalung dengan manik-maniknya. Hal itu karena dirham adalah emas dan kalung itu juga terbuat dari emas sebagaimana yang disebutkan dalam riwayatnya. Dari larangan ini, para ulama memetik pendalilan bahwa tukar menukar dua barang ribawi dengan tambahan pada salah satu dari keduanya tapi dari jenis yang berbeda adalah hal yang dilarang.
Jika tambahan itu sejenis dengan kedua barang ribawi tersebut maka ini adalah riba fadhl. Tapi jika tidak sejenis maka tetap dilarang karena dia adalah wasilah kepada riba fadhl.
Pendapat kedua: Mereka membedakan hukumnya dari besarnya nominal hadiah.
Jika nominalnya kecil dan sepele maka hukumnya tidak mengapa karena di sini bukan uangnya yang menjadi tujuan mengingat nilainya yang kecil, akan tetapi uang itu hanya mengikut saja.
Adapun patokan kecil besarnya nominal uang, mereka kembalikan kepada ‘urf (kebiasaan yang berkembang). Misalnya ada barang seharga Rp. 50.000,- dan di dalamnya ada hadiah uang Rp. 500,- atau Rp. 1.000,-. Maka uang sekecil ini secara ‘urf di zaman adalah kecil bahkan kurang bernilai lagi. Sehingga yang seperti ini dibolehkan.
Dalil mereka membolehkan adalah bahwa para ulama yang mengharamkan muamalah di atas (menukar dua barang ribawi dengan ada tambahan pada salah satu dari kedua barang ini) tetap mengecualikan dan membolehkan jika tambahan itu nilainya kecil atau kurang bernilai.
Tapi jika nominal uangnya besar sehingga uang itu yang menjadi tujuan ketika membeli produk tersebut maka muamalah seperti ini tidak boleh karena adanya unsur maisir (untung-untungan) di dalamnya.

Inilah beberapa bentuk hadiah dalam barang dagangan, wallahu A’lam bishshawab

Incoming search terms:

  • hukum hadiah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, March 18th, 2009 at 4:22 pm and is filed under Ekonomi Islam. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Hukum Hadiah Pada Barang Dagangan”

  1. abdurrahman said:

    jazakallaah khoir ustadz. Sangat bermanfaat ilmunya…