Hukum Dua Masjid Untuk Shalat Jumat Dalam Satu Daerah

September 12th 2011 by Abu Muawiah |

Hukum Dua Masjid Untuk Shalat Jumat Dalam Satu Daerah

Tanya:
Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ustadz ana mau nanya, kebetulan di RW ana ada sekitar 3 mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat dan ketiga-tiganya tidak penuh (tapi mencapai jumlah minimal 40 jamaah lebih sesuai pendapat imam asy-syafi’i) , ada ustadz yang bilang bahwa jika kondisinya seperti itu (mesjid tidak sampai penuh meskipun mencapai jumlah minimal 40 jamaah) maka jumatan yang dianggap sah adalah jumatan yang paling dahulu takbiratul ihram untuk shalat jumat, maka dengan demikian 2 masjid lainnya yang kedahuluan takbiratul ihramnya dianggap tidak sah shalat jumatnya dan diharuskan menggantinya dengan shalat dhuhur, betulkah demikian? syukran atas jawabannya
Anas Nasrudin [anasnasrudin75@yahoo.co.id]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah
[Memperhatikan pelaksanaan jum'at di masa Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, di mana sholat jum'at hanya dilakukan di masjid Nabawy padahal ada mesjid-mesjid lain yang di lingkungan para shohabat untuk sholat lima waktu, juga memcermati makna syari'at dalam penegakan jum'at dan makna pelaksanaannya, yaitu untuk menyatukan kaum muslimin dan mendekat hubungan antara sesama mereka, dimana telah ada mesjid ditegakkan jum'at di sekitar kantor, serta memperhatikan bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam dan para shohabatnya tidak pernah melakukan jum'at di dalam perjalanan, bahkan hanya beliau lakukan di mesjid yang telah ditetapkan, maka seharusnya apa yang disebutkan dalam pertanyaan tidaklah terjadi dan seharusnya mereka menegakkan jum'at bersama kaum muslimin yang lainnya di mesjid yang telah ada.] (Dinukil dari milis an-nasihah: 8 jan 2009)

Adapun ucapan ustadz yang antum sebutkan tidaklah benar, karena selama ketiganya mendapatkan izin dari pemerintah untuk mendirikan jumat, memenuhi semua syarat dan rukun shalat jumat, maka insya Allah shalat jumatnya syah dan tidak perlu diulang.
Walaupun sepantasnya antum shalat di masjid yang paling pertama mendirikan jumat, yakni yang lebih dahulu dibangun daripada yang lainnya. Karena masjid yang belakangan dibangun bisa dikategorikan sebagai masjid tandingan yang seorang muslim sebaiknya tidak shalat di tempat tersebut. Wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • hukum dua masjid berdekatan
  • satu tempat ada 2 masjid
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, September 12th, 2011 at 8:55 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

10 responses about “Hukum Dua Masjid Untuk Shalat Jumat Dalam Satu Daerah”

  1. amil said:

    pak ustad ana mau tanya ne tad
    gmn hukum a kalau pendakwah dalam setiap tampil untuk dakwah di kasih uang, trus sampai mau dakwah d tanya tu tarif a ma yg ngajak????( mf sblum a kalau g nyambung sama topik kita)

    Hukum asal menerima insentif dari mengajar agama adalah boleh dan halal.
    Hanya saja jika sudah dijadikan profesi dan diberikan tarif dalam artian dia tidak mau mengajar kecualin insentifnya sebesar tarif itu, maka ini adalah hal yang tercela dan tidak pantas dilakukan oleh seorang dai yang ikhlas.

  2. abu rijal said:

    MasyaAllooh.. Afwan ya akhi amil..
    Sebaiknya kalau niat berdo’a jangan disingkat gitu dong..
    Ucapan salam (assalamu’alaykum) adalah sebuah do’a yang kita mohonkan kepada Alloh ta’ala. Kita ketika berdo’a berarti sedang berinteraksi/berbicara kepada Robb semesta alam.
    Lalu apakah begitu adab (sopan-santun) kita dihadapan Dia yang Maha segalanya..dengan berbicara sok gaul…”askum tad” ?
    Mohon direnungkan.. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu memperbaiki diri dan mendapatkan ampunan-Nya..

  3. amil said:

    trima kasih sebelumnya

  4. Sri Wahyuningsih said:

    Assalamu’alaikum wr wb

    Ustadz/Ustadzah yang muliakan Allah,

    Suami saya bekerja dihotel yang menyewakan ruang meeting, orang yang meeting tidak semua muslim, jadi kalau hari jum’at ada yang tidak sholat jum’at, makanya sudah 3x jum’at suami saya tidak bisa sholat, pihak panitia juga tidak mau tahu, yang penting selama istirahat ada yang standby untuk melayani kalau peserta rapat ada yang butuh sesuatu, sementara suami saya kerja sendiri tanpa ada teman yang bisa diajak gantian, yang mau saya tanyakan gimana hukumnya bagi suami saya?

    Kadang kalau hari minggu ada acara dr gereja yang sewa ruang, sedangkan yang jaga ruang dan mengelola suami saya, apa hukumnya juga?

    Apakah suami saya harus pindah kerja, sedang cari kerja zaman sekarang susah.

    Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih

    Wassalamu’alaikum wr wb

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Sebaiknya seperti itu bu, karena pekerjaan duniawiah bukanlah udzur untuk meninggalkan shalat jumat atau mendukung/membantu peribadatan orang kafir. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Wallahu a’lam.

  5. fadhl said:

    assalamu’alaykum.
    bagaimana jika masjid yang awal dibangun banyak melakukan amalan bid’ah, sementara masjid kedua (tandingan?) justru hendak menegakkan sunnah? ikut shalat jum’at dimana?

    Waalaikumussalam.
    Jika memang jaraknya berdekatan dan masjid kedua itu bukan masjid khusus (semacam masjid ponpes atau universitas dan semacamnya), maka tetap tidak boleh membangun masjid di dekat situ. Kalau sudah terlanjur terbangun dan telah mendapat izin dari pemerintah, maka terserah dia mau shalat dimana. Wallahu a’lam.

  6. wildan said:

    asalamualaikum ustadz.,
    saya mau tanya…

    di daerah saya juga begitu, bahkan dalam 1 rw ada 2 masjit yang di buat salat jum’at.,

    dikarnakan dulu cuman mempunyai 1 masjit, tetapi masih berdiri di tanah milik pemerintah.,
    sudah di upayakan bertahun-tahun oleh takmir masjit untuk menjadikan status tanah tu menjadi wakaf, tetapi masih nihil sampai sekarang.,

    sampai dp suatu saat, ad tanah yang notabenya itu dulu adalah balai desa yang sudah terbengkalai, dan tanah itu dulu di wakafkan oleh seorang warga untuk menjadi balai desa.,

    dan takmir masjit pun mempunyai ide.,
    bagaimana kalau tanah balai desa itu di dirikan masjit, dengan meminta izin kpd ahli waris orang yang me wakafkan tanah, karena yang mewakafkan tanah itu sudah meninggal.,

    dan sang ahli waris pun menyetujuinya.,
    kemudian di bangunlah 1 masjit lagi d atas tanah yg notabenya sudah tanah wakaf.,

    tetapi masalah nya ad di sini.,
    ada sekelompok warga yang tidak setuju akan adanya masjit baru.,
    karna mereka berbendapat bahwa masjit lama itu adalah peninggalan nenek moyang dan dibangun dari nol dgn tidak mempunyai modal(menghargai nenek moyang akan kerja keras ereka membangun masjit) dan alasan bahwa amal-amal yang di kerjakan di masjit lama akan terputus karena berpindahnya masjit(alasan konyol).,
    dan mereka membentuk takmir masjit baru.,

    dan sampai sekarang ke 2 masjit itu di pakai untuk salat jumat.,
    dimanakah salat juat yang sah menurut agama??
    dan apakah berdosa meyakini peninggalan nenek moyang sebagai hartan yang berharga sehingga mengesampingkan masalah agama??
    apa yag seharusnya saya lakukan sebagai takmir masjit(masjit baru)

    Waalaikumussalam.
    Shalat di kedua masjid insya Allah syah. Namun saya pribadi lebih senang jika jamaah berkumpul shalat jumat di masjid lama selama memang kapasitas jamaah masih bisa ditampung oleh masjid lama. Karena bagaimana pun juga, masjid kedua ini telah ‘memecah belah’ jamaah menjadi dua. Wallahu a’lam.

  7. agustono said:

    bagaimana jika dalam 1 rw ada sebuah masjid untuk sholat jumat. Karena sudah tidak muat menampung jamaah, maka membuat masjid baru untuk sholat jumat. Jazakumullah atas jawabannya.

    Boleh saja. Tapi lebih baik lagi jika masjid itu saja yang diperbesar.

  8. maman said:

    maaf mau nimrung ikut nanya
    ada salah seorang kiai yang mengatakan bahwa syarat mendirikan jumatan itu adalah harus orang yang menetap…. shg jumatan di mesjid sekolahan itu ga syah……. ada hadist nya ga? makasih banyak

    Wallahu a’lam. Yang jelas pendapatnya itu tidak tepat.

  9. warna adi sudrajat said:

    assalamu ‘alaikum ustadz

    pertanyaan saya hampir sama dengan wildan said,cuma kalau di tempat saya masjid pertama berdiri di tanah koperasi yg belum di wakafkan..
    masjid yg baru sudah tanah wakaf,
    pertanyaannya,masjid mana yg di anggap syah menurut anjuran islam tentang status tanahnya yg lama belum wakaf,yg baru sudah wakaf??

    makasih banyak ustadz

    Waalaikumussalam.
    Shalt di kedua masjid tetap syah.

  10. Abdullah M. Aziz said:

    Assalamu’alaikum warahmatullah, kami memiliki masjid yg didirikan tanpa izin dari pemerintah setempat, alasan pemerintah tidak mengizinkan krn jumlah KK yg hanya 2 KK, sedangkan pemerintah mensyaratkan minimal 40 KK, yg saya tanyakan bgm status mesjid tsb dan sahkan sholat jum’atnya? Pd saat jum’atan jumlah jama’ah sekitar belasan orang krn ada ikhwan dari luar kawasan tsb hadir. Perlu diketahui bhw jarak antara mesjid kami tsb dgn mesjid masyarakat kira2 3 KM. Adapun bentuk mesjid kami tsb seperti rumah biasa tanpa kubah dan mihrab yg banyak dari masyarakat di desa itu tdk tahu klu dia adalah masjid, apalagi masyarakat dari desa lain lebih tdk tahu. Kami adzan dan sholat tdk pakai mikropon. Jazakallahu khoiron atas jawabannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Jika tidak ada izin, maka tidak seharusnya ada shalat jumat di masjid itu. Apalagi di zaman sekarang, jarak 3 km itu dekat dgn banyaknya sarana transportasi. Jadi, hendaknya menghindari fitnah dan menjaga nama baik dakwah ahlussunnah di mata masyarakat.