Hukum Budidaya Cacing

December 25th 2009 by Abu Muawiah |

Hukum Budidaya Cacing

Tanya:
Bismillaah.
Assalaamu’alaykumWarohmatulloh.bagaimana hukum budidaya cacing untuk dijual dan dimanfaatkan untk pakan ternak,pupuk,dll?
Jazaakumullohukhoir
“Zainab” <Zainab_985@yahoo.co.id>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Pendapat yang kami pegang dalam masalah ini adalah pendapat yang disebutkan oleh Imam Ibnu Hazm -rahimahullah- dimana beliau berkata, “Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis serangga, seperti: cicak (masuk juga tokek), kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk, dan yang sejenis dengan mereka. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Diharamkan untuk kalian bangkai”, dan firman Allah -Ta’ala-, “Kecuali yang kalian sembelih”. Dan telah jelas dalil yang menunjukkan bahwa penyembelihan pada hewan yang bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah teranggap secara syar’i kecuali jika dilakukan pada tenggorokan atau dadanya. Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan, kecuali bangkai yang tidak disembelih (misalnya ikan dan belalang maka dia boleh dimakan tanpa penyembelihan, pent.)”. (Lihat Al-Muhalla: 7/405)
Karenanya tatkala cacing bukanlah hewan yang bisa disembelih maka dia termasuk ke dalam jenis bangkai yang haram untuk dimakan. Sementara segala sesuatu yang haram untuk dimakan maka dia juga haram untuk diperjualbelikan. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:
إنَّ الله إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيءٍ حَرَّمَ عَلَيهِمْ ثَمَنَهُ
“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia akan mengharamkan harganya.” (HR. Ahmad: 1/247, 322 dan Abu Dawud no. 3488)
Maksud ‘diharamkan harganya’ adalah termasuk di dalamnya larangan memperjualbelikannya, menyewakannya, dan semua perkara yang menjadikan dia mempunyai harga. Karenanya jual beli cacing termasuk perkara yang tidak diperbolehkan. Wallahu a’lam bishshawab.

Incoming search terms:

  • budidaya cacing
  • hukum makan belut
  • budi daya cacing
  • Hukum cacing
  • ternak cacing
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, December 25th, 2009 at 11:14 pm and is filed under Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

41 responses about “Hukum Budidaya Cacing”

  1. abu aslam said:

    bismillah, ustadz,apakah kaidah yang menyebabkan sesuatu disebut dg bangkai?,kemudian apakah semua yg disebut bangkai itu najis kecuali yg dijelaskan oleh dalil bahwa bangkai itu tidak najis seperti ikan & belalang? jazakallahu khoir

    Lihat keterangan tentang bangkai di: http://al-atsariyyah.com/?p=1411, yang dengannya insya Allah antum bisa mengetahui apa-apa saja yang merupakan bangkai.
    Pada bangkai jenis ke-6 disebutkan semua hewan yang mati tanpa penyembelihan, maka termasuk di dalamnya semua hewan yang pada dasarnya tidak bisa disembelih.
    Ia semua bangkai najis kecuali bangkai ikan, bangkai belalang, bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya, dan bangkai manusia, semuanya suci. Waiyyakum

  2. ahmadyamin said:

    kalau boleh usul gmn kalau emailnya penanya ga ditampilkan penuh agar ga jadi fitnah….

    Jazakallahu khairan atas usulnya. Kami hanya menyebutkan alamat email itu sebagai amanah dan agar jangan sampai dikira kalau pertanyaan yang ada kami karang sendiri, walaupun memang apa yang antum sebut bisa saja terjadi. Ala kulli hal sebaiknya penanya (khususnya akhwat) membuat acount email sendiri (yang tidak menggambarkan kalau pemilik email itu akhwat) yang khusus digunakan untuk bertanya di situs ini. Untuk nama dia bisa pakai nama suaminya atau anak laki2nya dan seterusnya. Semoga solusi ini bisa dipahami.

  3. ibnushalih said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

    Ustadz, mohon ijinnya untuk mengcopy artikel di website ini untuk saya letakkan di blog saya

    jazakallahu khairan

    Waalaikumusalam warahmatullahi wabarakaatuh.
    Tafadhdhal, waiyyakum. Ngomong2 alamat blognya apa?

  4. abu abdil halim said:

    السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

    Ustadz,

    Mohon kiranya antum membaca isykaal tentang hadis “Sesungguhnya jika Allah mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia akan mengharamkan harganya.” (HR. Ahmad: 1/247, 322 dan Abu Dawud no. 3488)itu dalam link berikut:

    http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=195230

    قال النبي صلى الله عليه وسلم” إن الله إذا حرم أكل شيء حرم عليهم ثمنه ”
    هل هذا الحديث أعله أحد من أهل العلم؟ ام انه صحيح؟
    فان صح فكيف الجمع بينه و بين جواز بيع كثير من الحيوانات التي لا يحل أكلها؟
    هناك من قال “والمعنى في ذلك أن الله تعالى إذا حرم أكل شيء ولم يبح الانتفاع به حرم ثمنه وأما ما أباح الانتفاع به فليس مما عني بقوله إن الله إذا حرم أكل شيء حرم ثمنه بدليل إجماعهم على بيع الهر والسباع والفهود المتخذة للصيد والحمر الأهلية قالوا وكل ما يجوز الانتفاع به يجوز بيعه.”
    فان كان هذا هو تقدير الكلام لجاز بيع الميتة , اذ قال صلى الله عليه وسلم انما حرم أكلها! فثبت ان فيها منفعة غير الاكل!
    رد مع اقتباس

    Kalau ada sumber rujukan yang mengupas tuntas isykaal tersebut, mohon diberitahu.

    بارك الله فيكم

    Jazakallahu khairan atas infonya. Menurut ana pendapat yang paling tepat adalah ucapan Abu Bakar Ibnu Al-Mundzir -rahimahullah- yang dibawakan setelahnya pada link yang sama:
    أما لرفع الإشكال عنكم إن شاء الله فهاك كلام ابن المنذر عقب إخراجه الحديث وتأمل بارك الله فيك في كلام السلف و بصيرتهم رحمهم الله تعالى.
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لعن الله اليهود حرمت عليهم الشحوم فباعوها وأكلوا أثمانها ، وإن الله إذا حرم شيئا حرم ثمنه ” قال أبو بكر : فقد أجمل النبي صلى الله عليه وسلم الأشياء كلها ، واعلم أن الله عز وجل إذا حرم شيئا حرم ثمنه ، وقد حرم رسول الله صلى الله عليه وسلم أكل السمن الذي سقطت فيه الفأرة ، وما حرمه رسول الله صلى الله عليه وسلم كتحريم الله عز وجل ، وليس يجوز أن يخص من ذلك شيئا إلا بحجة . فإن قال قائل : فقد وجدنا أشياء يجوز بيعها ويحل أثمانها ولا يحل أكلها ، وذلك كالرقيق ولحوم الحمر الأهلية . قيل : ذلك مستثنى من جملة ما حرم رسول الله صلى الله عليه وسلم لإجماع الأمة على ذلك ، ولا نعلم أهل العلم اختلفوا في إباحة بيع الحمر ، ما نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو أكل الحمر الأهلية وهو حرام ، وكذلك لما أجمعوا على تحريم لحوم بني آدم وجب تحريمه ولما أباحوا بيع الرقيق والحمر الأهلية كان ذلك جائزا ، ولو اختلف الناس في شيء من ذلك لكان حكمه في التحريم حكم ما أجمل النبي صلى الله عليه وسلم من قوله : ” إن الله عز وجل إذا حرم شيئا يحرم ثمنه ”
    Yang kesimpulannya adalah:
    Hukum asal menjual hewan yang haram dimakan juga adalah haram, kecuali jika ada dalil yang membolehkan, semisal: menjual budak, keledai jinak, selainnya yang dalil maupun ijma’ menunjukkan boleh menjualnya.
    Sekarang bagi siapa yang membolehkan memperjualbelikan cacing (kalau memang pertanyaan antum ini berkenaan dengan cacing), maka dia dituntut untuk mendatangkan dalil yang mengecualikannya dari hukum asal. Kalau ada harap diinfokan kepada kami agar kami bisa merubah pendapat kami, jazakallahu khairan.

  5. abu 'asiyah said:

    Afwan ustadz, bagaiman dengan hukum memakan belut dan bekicot? apakah disamakan pula dengan cacing?? Karena telah ma’ruf di daerah jawa belut dijadikan barang dagangan yang diolah dalam bentuk keripik. Demikian pula bekicot dijadikan sate dan semacamnya.
    Baarokalloohu fiik.

    Belut dan bekicot adalah hewan air, jadi dia halal dimakan. Lihat pembahasannya di: http://al-atsariyyah.com/?p=1408

  6. abu sholih said:

    Ustadz, bagaimana dengan memanfaatkan cacing untuk menyuburkan tanah, mengolah sampah, membuat pupuk dsb, dan itu berarti dengan cara menernakkannya. kalaupun tidak diternakkan, cacing akan berkembang sendiri dalam proses pembuatan pupuk dsb. Bagaimana yang seperti ini?

    Tidak ada masalah insya Allah, karena cacing bukanlah najis.

  7. kacong said:

    Hmm.. maaf, jika misalnya cacing yang digunakan untuk pakan hewan ternak/hias diberi makan tumbuh2an (misal: ampas tahu, kelapa, singkong, daun2an, sayur2an, dan sejenisnya) bagaimana hukumnya?
    Apakah hukumnya masih tetap haram seperti cacing yang diberi makan kotoran hewan (misal: sapi)?
    Jazakumullah atas jawabannya.

    Tidak ada masalah insya Allah, walaupun dia diberi makan dengan kotoran sapi, karena kotoran sapi dan semua kotoran hewan yang halal dimakan bukanlah najis. Wallahu a’lam

  8. urgiz said:

    Afwan ustadz,jadi kalo melakukan budidaya cacing trus cacingnya dijual itu boleh apa tidak menurut hukum islam. trus membudidayakan cacing untuk pakan belut apa juga haram.

    Jika dibudidayakan memang untuk pakan belut maka tidak mengapa asal dia tidak menjualnya. Wallahu a’lam.

  9. ibnufauzy said:

    Afwan nanya,bukankah cacing termasuk hewan air seperti belut? untuk bekicot apa bukan tmsk hewan menjijikan? sukron

    Cacing bukan hewan air, bukankah cacing tinggalnya di tanah atau di sebagian tanaman? Semua hewan yang hidup di air bukanlah hewan yang menjijikkan dalam pandangan syariat.

  10. Muhammad said:

    apakah buaya termasuk yang halal dimakan?

    Ia, buaya halal dimakan karena dia termasuk hewan air.

  11. santo said:

    assalamu’alaikum wr. wb
    http://www.halalguide.info/2009/03/27/mengenal-makanan-haram/

    cacing sebenarnya masuk kedalam kategori apa?? ko bisa langsung menyebutkan haram… menurut bapak definisi bangkai itu apa??? kl soal ikan sama belelng walau pun dia udah mati dan menjadi bangkai tetap hukumnya halal.. ku sepakat… wallahu alam,
    yang saya ga mengerti memakan cacing hukumnya haram… hidup di 1 alam…

    kl cacing mati dan jadi bangkai saya sepakat hukumnya haram…(termasuk bangkai).. pa ustad tolong jelaskan dalili mana yg mengatakan bahwa cacing itu haram…

    wasalam.. agar semuanya pembaca jelas ….
    saya ternak cacing buat pakan belut dan saya jg menjual cacing buat petani yang membutuhkan cacing buat obat…

    Waalaikumussalam
    Termasuk dalam kategori bangkai adalah semua hewan yang mati dalam keadaan tidak disembelih. Sementara cacing ini tidak bisa dimakan kecuali setelah dia mati, dan matinya tentu saja bukan melalui penyembelihan karena memang dia tidak bisa disembelih, karenanya dia dihukumi bangkai. Dan memakan bangkai hukumnya adalah haram kecuali bangkai belalang dan hewan air.

  12. Didin Zaenudin said:

    Tolong diperjelas dengan data dari sisi kesehatan pak ustadz, biasanya tidak semata-mata Allah melarang jika terdapat suatu keburukan di kemudian…, keburukan apa yang akan terjadi dengan memakan cacing pak ustadz?

    Maaf pak, saya bukan dokter jadi mungkin sebaiknya ditanyakan kepada yang ahli. Kalau dia adalah hal yang haram maka memakannya akan menimbulkan keburukan pada hati karena telah mengonsumsi sesuatu yang haram.

  13. halimah said:

    Afwan mengomentari jawaban ustadz tentang

    “Cacing bukan hewan air, bukankah cacing tinggalnya di tanah atau di sebagian tanaman? ”

    sebaiknya tidak di generalisir untuk semua cacing karena ada jenis cacing air tawar dan cacing laut

    Ia betul. Semua hewan yang hidup di air adalah halal.

  14. hadi said:

    assalamualaikum…

    Muhammad said:
    March 21st, 2011 at 12:04 pm
    apakah buaya termasuk yang halal dimakan?

    Ia, buaya halal dimakan karena dia termasuk hewan air.

    Yang saya tanyakan, mengapa jawabannya halan bagi buaya untuk kita makan. padahal buaya kan hidup di dua alam yakni bs hidup di darat dan air

    Waalaikumussalam.
    Memangnya ada dalil yang mengharamkan hewan yang hidup di dua alam???

  15. abu musa said:

    afwan Ustadz mau tanya soal buaya, menurut Ustadz kan halal krn dia hewan air (atau dua alam).

    lalu bagaimana hadits berikut ini:
    “Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari (mengkonsumsi) semua hewan buas yang bertaring”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

    Bukankah buaya jelas2 bertaring dan memangsa dg tarignya?

    menyambung jg dg hukum memakan ikan hiu, walaupun dia hewan air tapi dia bertaring.

    Mohon penjelasannya…

    Hadits itu hanya berlaku bagi hewan darat. Dan ikan hiu itu hukumnya halal dimakan, sama seperti ikan lainnya.

  16. muhammad salikin said:

    ass.mf pak ustad sy mau nanyak,kalau kt membudidayakn cacing, kemudian cicingnya untk pakan belut dan belutnya kt jual gmana hukumnya

    Boleh insya Allah.

  17. Cahbagus said:

    Mohon pencerahan,
    Kalau buaya tidak diharamkan, bagaimana dengan kodok, bulus, kura-kura. Sebab saya pernah mendengan bahwa sweeke/kodok olahan diharamkan.
    terima kasih.

    Kodok diharamkan karena ada hadits yang menyebutkanya. Kura-kura halal karena dia hewan air. Bulus itu apa?

  18. haki said:

    assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh
    pak ustads mau nanya
    bolehkah kita memberi makan hewan piaraan kita dengan hewan lain dalam keadaan masih hidup
    sebagai contoh misal saya punya kucing atau ular trus saya kasih tikus hidup2; atau saya punya ikan arwana trus saya kasih makan ikan lele hidup2;atau saya punya burung trus saya kasih jangkrik dan ulat hidup2; mohon petunjuk dan pencerahannnya, makasih banyak

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ya, tidak mengapa.

  19. ari said:

    BULUS ITU LABI LABI hampir sejenis dengan kura kura bedanya bulus lebih pipih

    Kalau dia hewan yang hidup di air maka hukumnya halal.

  20. Haidar said:

    Ustad
    sebangsa Nyambik (Buaya Kecil) apa juga termasuk halal

    Jika dia hewan air maka halal.

  21. abul abbas said:

    bismillah,, afwan, kembali kpda kaidah fiqih disebutkan, bahwa asal hukum segala sesuatu adalah boleh kecuali yang ditetapkan hukum keharamannya secara pasti oleh nash-nash/tek-teks dalil yang shahih/benar dan sharih/tegas dan jelas (Al Ashlu fil asy-yaai al-ibaahatu hatta yaridaddaliilu ‘ala tahriimihi).
    pada cacing,, apakah ada dalil yang melarangnya??
    bukankah penetapan hukumnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu, yaitu boleh dan halal.

    Dalilnya adalah haramnya bangkai. Di antara bentuk bangkai adalah semua hewan yang mati tanpa penyembelihan yang syar’i, sementara cacing jelas tidak bisa disembelih, karenanya matinya adalah mati bangkai.

  22. ari fin said:

    maaf mau nanya pak..kalau budidaya belut, tp budidaya cacing juga buat di kasih ke belut..hukumna gimana ya pak…? terimakasih….

    Tidak apa-apa insya Allah.

  23. dwi said:

    afwan setau saya bekicot bukan hewan air,, yang hewan air itu keong..
    apakah masalah cacing ini’,ada khilaf di kalangan para ulama gak?

    Ya, setahu kami memang ada perbedaan pendapat. Karenanya silakan mengikuti pendapat yang diyakini paling tepat.

  24. abdul aziz said:

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Ustadz menjawab “semua bangkai najis kecuali bangkai ikan, bangkai belalang, bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya, dan bangkai manusia, semuanya suci”
    cacing apakah hewan yang mengalirkan darah? ulat sagu, laron apakah juga mengalirkan darah? bagaimana hewan ini dihukumi?

    جزاك الله

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Bangkai itu diharamkan karena darahnya tertahan dan tidak keluar dengan disembelih. Karenanya, semua hewan yang tidak mempunyai darah -seperti cacing-, matinya tidaklah dihukumi najis karena dia tidak mempunyai darah.

  25. abdul aziz said:

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Jadi kalau tidak najis, apakah boleh dimakan? kalau tidak boleh apa alasannya?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Dia tidak najis tapi dia bangkai, karenanya tidak boleh dimakan? Apa anda tidak tahu apa dalilnya dilarang makan bangkai?!

  26. abdul aziz said:

    Assalamu’alaikum….
    sepengetahuan saya bekicot merupakan hewan darat.

    Bekicot (Achatina fulica)
    a. Karakteristik Umum
    Bekicot (Achatina fulica) merupakan salah satu species dari kelas Gastropoda yang memiliki habitat di daratan. Tubuhnya terdiri atas kepala, leher dan masa jerohan. Pada bagian kepalanya terdapat dua macam tentakel, sepasang terdapat pada bagian depan yang lebih pendek dan mangandung saraf pencium, dan sepasang terletak dibelakangnya dengan ukuran yang lebih panjang dan terdapat terdapat mata. Pada tubuhnya, cangkang spiral membungkus masa jerohan (garis pertumbuhan), dimana pada bagian dalam cangkang tersebut terdapat lapisan tipis yang di kenal sebagai mantel yang berfungsi untuk menghasilkan cangkang.
    b. Klasifikasi
    Klasifikasi dari hewan ini adalah sebagai berikut :
    Kingdom : Animalia
    Phylum : Mollusca
    Classis : Gastropoda
    Ordo : Stylomtophora
    Familia : Achatinidae
    Genus : Achatina
    Species : Achatina fulica
    (Marshall, 1972: 693)
    c. System Fisiologi
    System pencernaan pada Bekicot termasuk dalam system pencernaan yang termasuk sempurna. Pencernaannya dimulai dari mulut, terus kef faring yang berotot. Pada bagian dorsal faring terdapat sebuah rahang dan pada bagian ventral terdapat adanya radula. Dari faring, selaknjutnya akan diteruskan ke esophagus, lambung, usus halus yang berkelok-kelok dan berakhir di anus.
    Sabagai hewan darat, bekicot memiliki paru-paru yang disebut pulmonata. Paru-paru ini berupa jaringan pembuluh darah dan berada di sebelah luar dinding ruang mantel. Udara akan masuk dan keluar melalui porus-porus respiratorius. Selain itu, hewan ini juga memiliki sistem ekskresi, dimana ginjal akan menyaring kotoran dari ruang pericardial di sekitar jantung dan mengeluarkannya ke dalam ruang mantel. System saraf pada hewan ini terdiri atas saraf-saraf ganglion secara rapat berpasangan sebagai saraf serebral, saraf kaki dan saraf jeroan. Saraf-saraf dari ganglia ini akan dilanjutkan ke seluruh sistem organ.

    http://catatanbiologi09.blogspot.com/

    jazakallah…

    Waalaikumussalam.
    Jazakallahu khairan atas infonya. Dari ucapan para ulama, kelihatannya memang ada bekicot darat dan bekicot air. Jika dia bekicot darat maka berlaku padanya hukum hewan darat, yakni bangkai yang tidak boleh dimakan. Tapi jika dia bekicot air maka berlaku padanya hukum hewan air yaitu boleh dimakan. Wallahu A’llam.

  27. Abu Aisyah said:

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Ustadz menjawab “..Karenanya, semua hewan yang tidak mempunyai darah -seperti cacing-, matinya tidaklah dihukumi najis karena dia tidak mempunyai darah” kok berubah pendapat antum dengan diatas yang mengatakan cacing itu najis…..
    jadi kalau tidak najis kenapa tidak boleh dikonsumsi? apa dasar tidak diperbolehkan?…

    jazakallah….

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Afwan, seingat saya, saya tidak pernah mengatakan cacing itu najis? Kalau haram, ya. Mungkin saya tidak ingat, tolong ditunjukkan tempatnya dimana saya mengatakan kalau cacing itu najis.

  28. abu aisyah said:

    Assalamu’alaikum
    gmana hukum berobat dengan cacing yang kata antum tidak najis?

    Waalaikumussalam.
    Kalau dia dimakan maka tidak boleh, karena walaupun dia tidak najis, dia adalah bangkai yang diharamkan.

  29. Fahrizal said:

    Insya ALLAH .. bisa menjadi bahan pertimbangan.

    http://www.halalmui.org/index.php?option=com_content&view=article&id=270%3Acolection-of-fatwa-kumpulan-fatwa&catid=108%3Afatwa&Itemid=532&lang=en

    Jazakallahu khairan.

  30. andi yushar said:

    Bolehkah makan daging buaya?
    Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari
    mengatakan: ْﻦِﻣَﻭ
    ﺎًﻀْﻳَﺃ ﻰَﻨْﺜَﺘْﺴُﻤْﻟﺍ
    ِﻪِﻧْﻮَﻜِﻟ ﺡﺎَﺴْﻤِّﺘﻟﺍ
    ِﻪِﺑﺎَﻨِﺑ ﻭُﺪْﻌَﻳ
    “Termasuk hewan yang dikecualikan dari
    kehalalan untuk dimakan adalah buaya karena ia
    memiliki taring untuk menyerang
    mangsanya.” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al
    Asqolani, 9/619, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379]
    Imam Ahmad mengatakan: ُّﻞُﻛ ُﻞَﻛْﺆُﻳ
    ﺎَّﻟِﺇ ِﺮْﺤَﺒْﻟﺍ ﻲِﻓ ﺎَﻣ
    َﻉَﺪْﻔُّﻀﻟﺍ
    َﺡﺎَﺴْﻤِّﺘﻟﺍَﻭ
    “Setiap hewan yang hidup di air boleh
    dimakan kecuali katak dan buaya.” [Tuhfatul
    Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Abul
    ‘Alaa Al Mubarakfuri, 1/189, Darul Kutub Al
    ‘Ilmiyyah]

    Memang itu merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah. Namun kami lebih cendrung kepada pendapat halalnya buaya karena tidak ada satupun dalil yang mengharamkannya. Adapun keberadaan dia bertaring, maka hadits yang berbicara tentang itu khusus berlaku bagi hewan darat. Adapun hewan air maka berlaku keumuman dalil akan halalnya semua hewan air. Wallahu A’lam.

  31. anggi said:

    penjelasannya kurang bisa di pahami. terlalu berputar2. saya tidak mengerti mengapa cacing disamakan dengan bangkai? pertanyaanya kan apakah cacing diperbolehkan untuk di manfaatkan (bukan di jual atau di makan)

    Ya boleh.

  32. Link copas « gudang fadhl said:

    […] Hukum Budidaya Cacing Sumber: http://al-atsariyyah.com/hukum-budidaya-cacing.html […]

  33. mansur said:

    aslmkum
    mau tanya apakah hukumnya memakan bulus
    kan hidup di dua alam…

    Kura-kura, penyu, dan bulus adalah hewan air, karenanya dia halal dimakan.

  34. aji said:

    Assalamu’alaikum
    afwan ustad keluar dari pembahasan, apa boleh membunuh ular yg masuk kerumah?

    Waalaikumussalam.
    Ya, boleh.

  35. heru said:

    Assalamu’alaikum…

    Mau tanya Ustad, bagaimana hukumnya usaha penetasan telur gurami, karena setelah menetas pakannya harus cacing sutera. Bagaimana kalau kita tidak bisa membudidayakan cacingnya, dan harus membeli cacing, apakah haram hukumnya membeli cacing untuk pakan, apakah ada solusinya, trims….
    Wassalamu’alaikum…

    Waalaikumussalam.
    Sebagian ulama membolehkan membeli cacing jika cacingnya tidak untuk dimakan.

  36. Hukum Budidaya Cacing « Jυrηαl Sαlαfiyυη said:

    […] http://al-atsariyyah.com/hukum-budidaya-cacing.html Rate this: Bagikan ke teman:FacebookTwitterSurat elektronikCetakLike this:SukaBe the first to like […]

  37. mumin said:

    Assalamu’alaikum Wr.wb…

    saya beternak/budidaya cacing, apakah menjual dan uang hasilnya haram, sementara kita tidak tahu apakah untuk pakan atau obat yang mereka gunakan cacing tersebut, dan saya berasumsi hanya untuk pakan….mohon pencerahannya….terima kasih

    Wassalamu’alaikum…

    Waalaikumussalam.
    Sebaiknya dia tidak memperjualbelikan cacing.

  38. penanya said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz.

    1. Cacing adalah hewan yang haram dimakan. Namun cacing bukanlah najis, baik ketika ia hidup maupun sudah mati. Begitu, Ustadz?

    2. Bolehkah saya membeli kosmetik perawatan wajah/kulit yang salah satu bahan pembuatnya adalah cacing?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    1. Ya betul.
    2. Boleh saja, tidak ada masalah.

  39. ahmad said:

    Assalamu’alaikum …

    saya pernah membaca hadist ini,apakah bisa digunakan utk budidaya cacing….

    مَااَحَلَّ اللهُ فِى كِتَابِهِ فَهُوَ حَلاَلٌ وَمَاحَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَاسَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ فَاَقْبَلُوْا مِنَ اللهِ عَافِيَتَهُ فَاِنَّ اللهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا

    “Apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya (al-Qur’an) adalah halal, apa-apa yang diharamkan-Nya, hukumnya haram, dan apa-apa yang Allah diamkan/tidak dijelaskan hukumnya, dimaafkan. Untuk itu terimalah pemaafan-Nya, sebab Allah tidak pernah lupa tentang sesutu apa pun”.hadist riwayat al hakim.

    surat al baqarah ayat 29….
    هُوَ الَّذِىْ خَلَقَ لَكُمْ مَا فِىالاَرْضِ جَمِيْعًا

    “Allah-lah yang menjadikan semua yang ada di bumi untuk kamu sekalian”.

    pada dasarnya semua isi bumi ini mubah untuk manusia sehingga ada hal yg menghalalkan dan mengharamkanya.
    jika dilihat lebih banyak kemaslahatannya untuk dibudidayakan,
    utk manusia bisa menjadi penopang hidup,
    utk tumbuhan menyuburkan tanah,
    utk hewan menjadi makanan,
    dll….

    Waalaikumussalam.
    Semua dalil itu benar. Namun Allah telah mengharamkan bangkai, dan cacing itu termasuk dalam kategori bangkai.

  40. firman said:

    assalamu’alaikum
    afwan mau tanya, saya suka memancing, apa boleh cacing digunakan sebagai umpan? jazaakumullah khoir

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja, tidak ada masalah.

  41. sidik said:

    Assalamu’alaikum Ustads,
    Bagaimana hukum beternak semut rang rang untuk dijual

    Waalaikumussalam.
    Hukumnya sama seperti beternak cacing. Silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/hukum-budidaya-cacing.html