Hukum Berobat

September 27th 2011 by Abu Muawiah |

Hukum Berobat

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdillah rahimahullah berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam hukum berobat: Apakah dia mubah tapi lebih utama meninggalkannya, ataukah sunnah ataukah wajib?
Yang masyhur dari Ahmad adalah pendapat pertama (mubah tapi meninggalkannya lebih utama) berdasarkan hadits ini (hadits 70.000 orang masuk surga tanpa hisab, pent.) dan hadits lain yang semakna dengannya. Hanya saja kritikan yang telah lalu (pada hadits tersebut, pent.) menjadikan hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai dalil untuk masalah itu.
Yang masyhur dari Asy-Syafi’i adalah pendapat kedua (sunnah). Sampai-sampai An-Nawawi menyebutkan dalam Syarh Muslim (14/191) bahwa ini adalah mazhab mereka (Asy-Syafi’iyah) dan mazhab mayoritas ulama terdahulu dan semua ulama belakangan. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Al-Wazir Abu Al-Muzhaffar. (Al-Ifshah: 1/184)
Sementara mazhab Abu Hanifah menyatakan bahwa berobat adalah sunnah muakkadah yang mendekati wajib.
Sementara mazhab Malik bahwa berobat itu setara antara mengerjakan atau meninggalkannya. Karena Malik berkata, “Tidak mengapa berobat dan tidak mengapa meninggalkannya.”
Syaikh Al-Islam (Ibnu Taimiah) berkata, “(Berobat) tidak wajib menurut pendapat mayoritas ulama, yang mewajibkannya hanya sekelompok kecil dari para pengikut mazhab Asy-Syafi’i dan Ahmad.” (Majmu’ Al-Fatawa: 24/269)
Selesai ucapan Asy-Syaikh Sulaiman dari Taysir Al-Aziz Al-Hamid Syarh Kitab At-Tauhid (1/276-277)

Kami katakan: Dan dalam masalah ini, pendapat yang lebih tepat insya Allah adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan disunnahkannya berobat. Dalilnya adalah hadits Usamah bin Syarik radhiallahu anhu dia berkata: Para orang Arab baduwi berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah kami ini harus berobat (jika sakit)?” Beliau menjawab:
نَعَمْ يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ قَالَ دَوَاءً إِلَّا دَاءً وَاحِدًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ قَالَ الْهَرَمُ
“Ya wahai sekalian hamba Allah, berobatlah kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu penyakit melainkan menciptakan juga obat untuknya kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya, “Penyakit apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu penyakit tua (pikun).” (HR. Abu Daud no. 3357 dan At-Tirmizi no. 1961)
Sabda beliau [berobatlah kalian] adalah perintah dan hukum asal perintah adalah wajib. Hanya saja hukum wajib di sini dipalingkan kepada hukum sunnah dengan hadits Ibnu Abbas dimana dia berkata kepada Atha’ bin Abi Rabah: “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?” Jawabku; “Tentu.” Dia berkata:
هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا
“Wanita berkulit hitam ini, dia pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, “Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untuk (menyembuhkan)ku.” Beliau bersabda: “Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu berkenan, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Ia berkata, “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi, “Tapi jika kambuh, auratku sering tersingkap. Maka tolong berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka beliau mendoakan untuknya.” (HR. Al-Bukhari no. 5220 dan Muslim no. 4673)
Maka hadits ini tegas menunjukkan tidak wajibnya berobat. Karena seandainya berobat itu wajib, niscaya Nabi shallallahu alaihi wasallam akan mendoakannya atau menyuruhnya berobat dan bukannya menganjurkan dia untuk bersabar. Wallahu A’lam.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, September 27th, 2011 at 12:39 pm and is filed under Aqidah, Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Hukum Berobat”

  1. Achmad said:

    Bismillah,

    Ustadz, saya condong kepada pendapat bahwa berobat adalah mubah, sedangkan meninggalkannya adalah lebih utama, berdasarkan hadits wanita yg terkena ayan tersebut.

    Pertanyaannya:
    Bagaimana hukumnya, jika kita merasa berat dalam membiayai pengobatan orang tua (jika dipaksakan harus menjual harta benda) sehingga kita menghentikannya, padahal orangtua berharap kita terus membiayai pengobatannya (seperti yg dimaklumi, penyakit akan membuat menderita si pasien). Apakah termasuk durhaka kpd orangtua?

    Selama dia mampu membiayai dan hal itu tidak memudharatkan dirinya, maka tidak membiayai orang tua adalah perbuatan kedurhakaan, terlebih jika orang tua meminta dan berharap.

  2. amil said:

    tad ana mau tanya ne tapi g masuk dalam pembhasan kita x ne,ble y
    1. pa hukum alat kosmetik yg mengandung alkohol
    2. pa ble kita mengunakan alat kosmetik yg mengandung alkohol tsb utk shalat
    3. tad kalau da facebook ble dung bgi buat ana
    wassalam…..

    Silakan baca artikel ‘Hukum Parfum dan Obat-Obatan Beralkohol’.
    FB: al-atsariyyah.com

  3. amil said:

    trima kasih pak ustad, tpi untuk pertanyaan yg no.3 it maksd ana tempat bisa langsung chatting gtu tad
    jadi bisa tanya menanya langsung..
    sblm a tima kasih bnyak

  4. kholifah aridien said:

    apa istimewanya mengamalkan yaa rohman yaa rohiim?

    Kalau sekedar ‘yaa rohman yaa rohiim’, maka itu bukan doa dan bukan pula zikir, karena tidak ada dalil yang menjelaskan keutamaannya.
    Namun jika dia berkata ‘yaa rohman yaa rohiim rahmati saya atau berikan saya ini,’ dan seterusnya, maka itu adalah doa dan disyariatkan.