Hukum Berduka Atas Kematian Penentang Syariat

January 29th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Hukum Berduka Atas Kematian Penentang Syariat

Tanya :
Ustadz, apa hukumnya kita ikut berduka atas kematian orang yang pernah menentang bahkan menghina syariat Islam. bolehkah kita mendoakannya?
“Abidin” <abdul.abidin@yahoo.com>

Jawab:
Kalau memang dia jelas merupakan penentang agama dan menghinakan syariat maka tidak boleh kita mendoakannya bahkan tidak boleh bagi kita untuk menyolatinya. Karena menghina dan mengejek syariat adalah perbuatan kekafiran dan merupakan pembatal keislaman. Jika dia menampakkan keislaman maka dia adalah orang munafik, dan sungguh Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah dilarang untuk menyolati jenazah orang munafik.
Allah Ta’ala berfirman, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)
Ayat ini turun menegur Nabi -alaihishshalatu wassalam- yang meminta ampunkan untuk pamannya, Abu Thalib yang meninggal dalam keadaan musyrik.
Dan juga Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu sekali-kali menyalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: 84)
Ayat ini juga turun menegur Nabi -alaihishshalatu wassalam- ketika beliau menyalati jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan orang munafik.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, January 29th, 2010 at 9:46 am and is filed under Jawaban Pertanyaan, Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

5 responses about “Hukum Berduka Atas Kematian Penentang Syariat”

  1. Roni Ialno said:

    Assalamu’alaikum.
    1. Ustadz, Bagaimana cara/langkah-langkah yang harus ditempuh oleh orang yang dahulunya pernah menghina syariat Islam dimuka umum (mimbar, koran, internet, majalah, dsb.), apakah ia harus memenuhi semua syarat taubat atau cukup dengan mengatakan kepada Allah “Ya Allah saya Bertaubat” dan bagaimana pula cara bertaubatnya orang yang dahulunya pernah menghina syariat dihadapan beberapa orang saja.
    2. Seseorang yang membaca Al Qur’an tapi ia tidak sengaja merubah maknanya karena memang tidak begitu fasih membacanya. apakah ia termasuk penghina syariat ?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati. kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 159-160)
    Para ulama menyatakan bahwa orang yang telah berbuat bid’ah lalu bid’ahnya tersebar dan menyesatkan orang lain maka taubatnya tidak syah sampai dia menjelaskan kesesatannya dahulu dan menyebarkan penjelasannya itu kepada orang-orang yang telah dia sesatkan, berdasarkan nash ayat di atas.
    Jadi ketika seseorang mengamalkan kesesatan di hadapan umum maka taubatnya juga di hadapan umum, maksudnya taubat dia harus diketahui oleh orang yang pernah mendengarkan kesesatannya. Dan sama sekali tidak cukup dia sembunyi-sembunyi di rumahnya seraya mengatakan, “Aku bertaubat kepada Allah.”
    2. Insya Allah tidak termasuk tapi dia bisa terjatuh ke dalam dosa. Wajib atas seorang muslim untum membaca Al-Qur`an dengan baik dan terhindar dari lahn yang menyebabkan makna ayatnya berubah (lahn jaly). Wallahu a’lam

  2. Tri Widodo said:

    bagaimana dengan hukum melayat kepada orang kafir yang dia adalah tetangga?
    (sebelah rumah)

    Wallahu a’lam, hal itu tidak diperbolehkan karena tidak ada lagi yang bisa diperbuat dengannya. Adapun menjenguknya ketika dia sakit maka diperbolehkan jika padanya ada masalahat mendakwahi dia kepada Islam.

  3. Roni said:

    Assalamu’alaikum.
    Jazakallah Ustadz atas jawabannya. ana usul kata asing diberi keterangan ringkas. seperti kata lahn (……….)

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Insya Allah, jazakallah atas usulnya. Adapun lahn, maknanya adalah salah baca atau salah ucap. Dia terbagi dua:
    1. Lahn jaly (jelas), yaitu kesalahan yang bisa diketahui oleh orang yang tidak mahir dalam bidang itu (misalnya tajwid)
    2. Lahn khafy (tersembunyi), yaitu kesalahan yang hanya bisa diketahui oleh yang ahli dalam tajwid.

  4. Hukum Berduka Atas Kematian Penentang Syariat « RUANG BELAJAR ABU RAMIZA said:

    [...] Roni Ialno said: January 30th, 2010 at 6:58 am [...]

  5. liana said:

    assalamu’alaikum…
    ustadz saya mau bertanya apa hukumnya orang yang menikmati makanan slametan dari orang yang meninggal???minta tolong penjelasannya secara rinci dengan hadist atau dalil yang menerangkan persoalan tersebut karena keluarga saya selalu dikirim makanan slametan bila ada orang meninggal padahal kami tidak ikut dalam acara tahlilan..
    Trima kasih atas jawabannya…
    wassalamu’alaikum..

    Waalaikumussalam.
    Jika makanan itu dikirimkan ke rumah, maka hukumnya makanan itu bagi kita adalah hukum hadiah. Karenanya insya Allah boleh dimakan.