Hukum Bayi Tabung

October 21st 2008 by Abu Muawiah |

Hukum Bayi Tabung

Tanya:

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Ustadz Abu Muawiyah,
Ana mo tanya hukum bayi tabung dan transplantasi organ (misal Pencangkokan ginjal)? beserta keterangan para ulama sunnah bagaimana?.
Baarokallaahu fiikum
dr.Abu Hana

http://kaahil.wordpress.com

Jawab:

Adapun masalah transplantasi, maka ini telah kami jawab di sini.

Adapun masalah bayi tabung, maka berikut ucapan dari Muhaddits Al-Ashr, Asy-Syaikh Muhammad Al-Albani -rahimahullah- ketika menjawab pertanyaan yang senada dengannya dalam Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah hal. 288. Beliau berkata, “Tidak boleh, karena resiko minimal yang muncul dari proses pengambilan sperma (sel telur) wanita tersebut adalah si dokter (laki-laki) akan melihat aurat wanita lain, sedangkan melihat aurat wanita lain hukumnya adalah haram dalam pandangan syariat, sehingga hal ini tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat.
Sementara tidak mungkin terbayangkan ada keadaan darurat dimana seorang lelaki terpaksa harus memindahkan spermanya ke istrinya dengan cara yang haram ini. Apalagi hal itu beresiko si dokter akan melihat aurat wanita tersebut, dan ini pun tidak boleh.
Dari sisi lain, menempuh cara ini merupakan sikap taklid terhadap peradaban orang-orang barat dalam perkara yang mereka senangi atau (sebaliknya) mereka hindari.
Seseorang yang menempuh cara ini untuk mendapatkan keturunan hanya karena belum diberi rizki oleh Allah berupa anak dengan cara alami (melalui jima’), maka perbuatannya ini menunjukkan dia tidak ridha terhadap takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya.
Kalau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing kaum muslimin untuk mencari rizki berupa penghasilan dan harta dengan cara yang halal, maka lebih-lebih lagi tentunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing mereka untuk menempuh cara yang sesuai dengan syariat (halal) dalam mendapatkan anak.”

Incoming search terms:

  • hukum bayi tabung
  • hukum bayi tabung salaf
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, October 21st, 2008 at 9:12 pm and is filed under Fatawa, Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Seputar Anak. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

12 responses about “Hukum Bayi Tabung”

  1. dr.abu hana said:

    Jazaakallaahu khairan katsiiran ustadz atas jawabannya..

    semoga Allah Ta’ala senantiasa menjadikan antum istiqomah di atas manhaj Salafus Shalih.

    Ana langsung copas jawaban antum di blog ana.

    dr.Abu Hana

  2. muhammad priyanto said:

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
    ustadz ada hal yang ingin saya tanyakan:

    bagaimana hukum USG dalam ilmu kedokteran yang dalam praktiknya dokter bisa memprediksi apakah bayi yang dalam kandungan laki-laki/atau perempuan, apakah kita di bolehkan melakukan USG terhadap bayi yang dalam kandungan?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Insya Allah tidak bermasalah, selama yang melakukan USG bukan laki-laki dan tidak ada maksiat lain dalam pelaksanaannya. Wallahu a’lam.

  3. sri wahyuningsih said:

    Assalamu’alaikum wr wb

    Saya sekarang sedang hamil 8 bln, saya berniat memberi nama anak saya Adis Rafif Attaqi yang berarti anak laki2 yang berakhlak mulia dan bertaqwa, mohon diberikan penulisannya yang benar sesuai huruf arab, dan apakah artinya benar sesuai dengan yang saya maksud?

    Atas perhatian dan jawabannya kami sampaikan terima kasih.

    Wassalamu’alaikum wr wb
    Yuni

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Kami tidak tahu apa arti ‘adis’ dan ‘rafif’. Jika maksudnya yang beradab maka arabnya: ‘Adib’. Wallahu a’lam.
    Sekedar sebagai pertimbangan ibu, nama-nama sesuai adab islam hanyalah terdiri dari satu kata, tidak lebih dari itu. Karenanya nama seluruh nabi (yang kita ketahui) dan juga para sahabat, semuanya dengan satu kata. Wallahu a’lam.
    Untuk tambahan keterangan, silakan download risalah tentang penamaan anak di sini.

  4. Ahmad said:

    Assalamu’alaikum..
    Ustadz..kalau sudah terlanjur memberi nama anak dg lebih dari satu kata,apa yg harus dilakukan?kalau kita mau mengganti nama anak dg nama2 yg islami,gimana caranya?
    Jazakallahu khayr atas jawabannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Kalau sudah terlanjur yang nggak masalah insya Allah. Kalaupun mau diganti maka boleh diganti dengan nama-nama yang mempunyai makna yang bagus, tidak ada cara tertentu. Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dulu merubah nama para sahabatnya begitu saja tanpa ada ritual tertentu. Silakan download juga risalah yang kami sebutkan pada jawaban komentar di atas.

  5. Deny said:

    asslamualaykum uztadz,..

    adabeberapa hal yg mau saya tanyakan…..
    1. saya sdh mengikuti beberapa pengkajian AlQur’an bahkan membaca bbr artikel berupa tdk adany dalil seputar adzan dan iqomah setelah bayi dilahirkan,..yg ada hanya mentaqlik dan menyebut nama sang bayi di hari kelahirannya…mohon penjelasan dari pak uztadz
    2, insya’allah ustadz saya akan diberi anak perempuan masih dlm kandungan umminya ( 7 bln 2 minggu ), dan insya’allah saya beri nama Zainab Umairah Zakiah kira2 bgmn menurut pak ustadz….
    kalau boleh pak uztadz dibales juga mail saya ini ke mail saya deny.sutriyadi@yahoo.co.id
    sekian terimakasih pak uztadz

    assalamualaykum

    Waalaikumussalam.
    1. Tidak disyariatkan azan dan iqamah pada bayi karena tidak adanya satupun hadits yang shahih dalam permasalahan.
    2. Boleh saja selama maknanya baik dan benar. Hanya saja sebaiknya kata ‘Zakiah’ yang berarti ‘wanita yang suci’ dihilangkan, karena nama ini mengandung tazkiah/rekomendasi/pujian kepada diri sendiri, dan Allah Ta’ala telah melarang amalan seperti ini.
    Dan lebih baik lagi jika nama itu hanya satu kata karena demikianlah sunnahnya para nabi dan para sahabat, dimana nama mereka seluruhnya hanya terdiri dari satu kata. Wallahu a’lam

  6. Hadi said:

    Assalamu’alaikum, ustadz kalau memberi nama anak “umar faruq” menurut ustadz gimana?jazakumullahu khairan

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja, tapi lebih baik lagi kalau namanya hanya ‘Umar’, mengingat termasuk sunnah dalam penamaan adalah nama itu sebaiknya hanya terdiri dari satu kata, sebagaimana nama para nabi dan pasa sahabat, semuanya hanya satu kata. Umar sendiri nama beliau hanya Umar, adapun Al-Faruq adalah gelar, itupun bukan beliau yang menggelari diri sendiri.

  7. Hukum Bayi Tabung Dan Transplantasi « ~Ruang Belajar ABU RAMIZA~ said:

    […] Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/hukum-bayi-tabung.html […]

  8. ummu hafshah said:

    bismillah,

    assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

    afwan ustadz, jika seandainya tenaga kesehatan yang membantu proses inseminasi buatan atau bayi tabung tersebut adalah akhwat,mulai dari dokter, bidan, perawat, anastesi, dll… apakah hukum tersebut masih di haramkan?

    jazakallahu khoyron

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ya tetap haram, karena kemaluan wanita adalah aurat bagi wanita yang lain. Belum lagi kemungkaran tasyabbuh yang ada padanya seperti apa yang Asy-Syaikh katakan. Juga adanya perbuatan onani dari suami tanpa ada udzur syar’i.

  9. Ummi Rafah said:

    Assalamu’alaikum,,,
    Anak sy 2,smuany laki laki.pernah sy diberi saran oleh dokter kandungan kalo ingin anak perempuan sebelum hamil konsultasi kedokter nanti diberi saran ttg makanan en lain2 shg bisa hamil anak perempuan.gmn itu hukumny?
    Wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    Apakah itu merupakan hasil riset yang sudah terbukti atau hanya sekedar dugaan? Karena itu bisa saja termasuk ke dalam bentuk tathayyur (pamali) yang merupakan kesyirikan. Yang jelas, wajib atas setiap muslim untuk meridhai semua pemberian Allah dan meyakini bahwa apa yang Allah berikan kepadanya itulah yang terbaik dan keinginan dia itu belum tentu baik bagi dirinya.

  10. Ummi Rafah said:

    Assalamu’alaikum
    Mau nambah pertanyaan:
    Kalau kemaluan adl aurat bg wanita lain,bgm melahirkan yg bnr apakah melahirkan sendiri?mhn penjelasanny,terima kasih.
    Wassalamu’alaikum,,,

    Waalaikumussalam.
    Kalau bisa sendiri, ya nggak ada masalah selama aman. Tapi jika tidak bisa maka seharusnya dengan bantuan bidan /dokter wanita, tidak boleh yang laki-laki. Lagipula, mencari bidan/dokter wanita di zaman ini insya Allah mudah.

  11. Shepia nisa nurjannah said:

    Assalamu’alaikum ustd ,, amalan apa agar cept dikaruniani momongan, jazakumulloh khoiron

    Waalaikumussalam.
    Momongan sama seperti rezki, semuanya sudah menjadi takdir dari Allah yang tidak bisa dirubah. Karenanya dibutuhkan kesabaran, usaha, berbaik sangka kepada Allah, tidak berburuk sangka kepada-Nya, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dan di antara usaha yang terbesar adalah berdoa kepada Allah, dan di antara doa yang bagus dalam hal ini adalah doa Nabi Zakariya alaihissalam ketika beliau meminta keturunan. Yang jelas bukan anda sendiri yang mendapatkan ujian seperti itu. Kami mengenal ada orang yang belum diberi keturunan sampai belasan tahun, namun akhirnya Allah Ta’ala memberikannya keturunan. Mungkin saja Allah menilai bahwa kita belum saatnya untuk menerima ujian dan amanah berupa anak. Maka bersabarlah sampai Allah Ta’ala menganggap kita sudah mampu untuk menerima ujian tersebut.

  12. Irul Anam said:

    Assalamu’alaikum
    Mau nambah pertanyaan:

    Jika dalam persepsi hukum bayi tabung itu tidak boleh . . .
    Adkah Dalil-dalil dan Hadits yang bisa diperkuat

    mhn penjelasanny,terima kasih.
    Wassalamu’alaikum,,,

    Waalaikumussalam.
    Bukankah dari semua alasan yang dikemukakan di atas, sudah jelas akan ayat dan hadits yang melarangnya?!