Hukum Anak ‘Haram’

January 10th 2010 by Abu Muawiah |

Hukum Anak ‘Haram’

Tanya:
Bismillah,
Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh
Ya Ustadz, ana mau tanya berkenaan dengan nasab. Begini:
Ibu ana pernah cerita sama ana, kata beliau, ketika menikah sama bapak ana dulu, mereka menikah tanpa wali. beliau mengakui bahwa menikahnya dengan bapak ana adalah dengan cara “kawin lari”.
Setelah mengetahui hal itu, ana kemudian  bilang sama ibu ana agar menikah lagi sama bapak karena sebenarnya mereka belum sah nikahnya. beliau sebenarnya mau, tapi bapak ana yg gak mau.
Nah, yg ingin ana tanyakan. Pertama, masalah nasab ana ini gimana, ya Ustadz. Di blog ana, ana menuliskan fulan bin fulan (yakni nisbah kepada ayah). Apakah hal ini dibenarkan? Sedang ana terlahir sebagai “anak haram”. Bolehkah nasab kepada ibu? Misalnya seperti shahabat abdulloh bin ummi maktum yang nasab ke ibu, bukan bapak. Mohon petunjuknya ya Ustadz.
Yg kedua bagaimana solusinya biar orang tua ana bisa “resmi” menikahnya. sedang dari pihak bapak nggak mau, ya mungkin alasannya “malu”, begitu.
Demikian, atas jawabannya ana ucapkan jazakallohu khoiron katsiron wa barokallohufiikum.

[mohon maaf pertanyaan telah kami edit, serta nama dan email penanya tidak kami tampilkan, semuanya guna menjaga privasi penanya, (admin)]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa menikah tanpa wali (bagi wanita) adalah haram dan tidak syah sehingga dia dihukumi perzinahan. Karenanya anak yang terlahir dari pernikahan seperti itu adalah anak zina, dan nasabkan dikembalikan kepada ibunya, bukan kepada ayahnya. Ini berdasarkan hadits Aisyah dan Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ
“Anak yang lahir untuk pemilik kasur (yakni: anak yang dilahirkan oleh istri seseorang atau budak wanitanya adalah miliknya), dan seorang pezina adalah batu (yakni: tidak punya hak pada anak hasil perzinaannya).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hanya saja jika ‘kawin lari’ ini dilakukan karena mereka meyakini bolehnya atau meyakini syahnya ‘kawin lari’, maka pernikahan seperti ini dikategorikan ke dalam nikah syubhat. Dan hukum anak yang lahir dari pernikahan syubhat seperti ini bukanlah anak ‘haram’ akan tetapi syah sebagai anak dari ayah dan ibunya, karenanya dia bisa menisbatkan namanya kepada ayahnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Asy-Syafi’i, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah dan Ibnu Al-Utsaimin -rahimahumullah- dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (5/641).
Adapun setelah mengetahui bahwa hukum ‘kawin lari’ adalah tidak syah, maka keduanya (ayah dan ibunya) wajib untuk berpisah lalu keduanya menikah kembali dengan akad nikah yang benar dan sah, tanpa harus melakukan istibra` ar-rahim (satu kali haid). Ini adalah fatwa dari Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Mar’i -hafizhahullah-.

Kembali ke pertanyaan antum: Apakah boleh bernisbat kepada ibu?
Jawab: Jika ‘kawin lari’ orang tua antum termasuk dari nikah syubhat maka tidak ada masalah antum bernisbat kepada ayah. Jika bukan termasuk nikah syubhat, yakni keduanya sudah mengetahui tidak syahnya ‘kawin lari’ maka antum tidak boleh bernisbat kepada ayah tapi hanya bernisbat kepada ibu, berdasarkan hadits Abu Hurairah dan Aisyah di atas.

Adapun keengganan ayah untuk menikah kembali, ana kira bisa dimaklumi karena dia mengira nikah ulang itu harus adakan nikah dengan mengundang banyak orang plus resepsi lagi. Tapi saya kira antum sudah mengetahui bahwa yang menjadi rukun dan syarat syahnya nikah hanyalah adanya kedua mempelai, adanya ijab qabul, keridhaan kedua mempelai, wali bagi wanita, mahar, dan 2 orang saksi dari kalangan lelaki dewasa. Jadi kapan rukun dan syarat nikah ini terpenuhi maka nikahnya sudah syah walaupun tidak ada resepsi dan tidak mengundang orang lain. Jadinya antum tinggal memahamkan ayah antum akan masalah ini, semoga dia bisa paham. Dan antum juga bisa mengingatkan bahwa jika dia tidak mau menikah maka anak-anaknya adalah anak ‘haram’ dan bukan anaknya sehingga akan berlaku padanya hukum:
a.    Dia dan anak-anak istrinya (karena anak-anak dinisbatkan kepada ibunya) tidak saling mewarisi.
b.    Dia tidak wajib memberi nafkah kepada anak istrinya.
c.    Dia tersebut bukan mahram bagi anak wanita istrinya.
d.    Dia tidak bisa menjadi wali bagi anak wanita istrinya dalam pernikahan.
Wallahul muwaffiq, wahuwa a’lam wa ahkam.

Incoming search terms:

  • hukum anak haram
  • anak haram nikahnya
  • www anak haram com
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, January 10th, 2010 at 5:04 am and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Seputar Anak. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

37 responses about “Hukum Anak ‘Haram’”

  1. ibnul masyriq said:

    bismillah, ustadz, apakah benar pemahaman ana bahwa nikah dalam keadaan perempuan hamil serta keduanya tidak mengetahui bahwa hal ini dilarang, maka nikah ini termasuk nikah syubhat ?, kemudian anaknya tetap bisa dinasabkan kepada bapaknya dalam setiap nikah yang digolongkan nikah syubhat ?, dan apakah dalam setiap nikah yang digolongkan nikah syubhat (setelah diketahui haramnya, admin), maka dihukumi tidak syah, harus nikah dg akad baru, tanpa harus dipersyaratkan istibro’ ? jazakallahu khoir

    Ia sudah benar, demikian yang kami jelaskan di atas. Waiyyakum

  2. Bekam, Fatwa Kesehatan & Thibbunnabawiy said:

    Bismillah,
    Ustadz Abu Muawiah Hafizahullah mohon penjelasan atas pertanyaan yang masuk ke blog ana sebagai berikut :

    assalamu’alaikum.
    ustadz hafidhokumullah. ana mau menanyakan tentang anak hasil perkosaan. ada seorang gadis (msih belajaiyg diperko di ponpes) ktika liburan diperkosa oleh seorang laki laki yg msih tetanggax. dan qodarullah akhirx gadis itu hamil.

    sempat dari pihak keluarga laki laki minta diselesaikan secara kekeluargaan yaitu laki laki tsb bersedia untk menikahi sigadis. tetapi sigadis keluargax tdk mau. akhirx gadis tsb melahirkn dan anakx diadopsi oleh seseorang.kmudian gdis tsb kembali masuk ponpes(krna br umur 16 th) yg mau ana tanyakan:

    1.bolehkah anak tsb diadopsi.
    2.anak tsb bernasab kpd siapa.
    3.apakah nantix anak tsb perlu dikasih tau riwayat kelahiranx.dan pada umur berapa sbaikx anak tsb mengetahuix
    4.apkh anak tsb jg perlu di kenalkn dg bpakx.
    5. bgmna hubungan anak tsb dg anak2 ibunya dn anak bapakx.

    syukran/jazakumullahu khairo

    Waalaikumussalam warahmatullah
    1. Boleh saja selama ibunya menyetujui. Tapi tentunya sudah dimaklumi bahwa orang tua angkat dengan anak angkatnya bukanlah mahram. Karenanya hendaknya ibu angkatnya menyusuinya dengan ASI sebanyak 5 kali susuan yang mengenyangkan, barulah setelah itu dia menjadi mahram sebagai anak susuannya.
    2. Bernasab kepada ibu kandungnya, bukan kepada ayah angkatnya dan bukan pula kepada lelaki yang memperkosa ibunya.
    3. Itu semua kembalinya kepada pertimbangan maslahat. Kalau memang ada mashalat diberitahu maka diberitahu. Tapi kalau akan menimbulkan mudharat pada dirinya kalau dia tahu maka sebaiknya tidak perlu diberitahu, wallahu a’lam.
    4. Ana nggak paham maksudnya. Kalau maksud antum hubungan anak ini dengan anak ibunya yang akan datang (setelah menikah dan punya anak) maka hubungan mereka adalah saudara seibu, bukan sebapak. Tapi kalau hubungan antara anak ini dengan anak ortu angkatnya maka mereka saudara susuan, kalau ibu angkatnya syah menjadi ibu susuannya. Wallahu a’lam.

  3. amaturrohman said:

    Assalamu’alaikum, ustadz, ibu ana pernah cerita bahwa waktu kawin dengan bapak ana (waktu itu status ibu ana janda, suami pertamannya meninggal dunia), ibu ana kawin tanpa persetujuan ortunya, ortu ibu ana (utamanya bapak dari ibu ana) tidak suka dengan bapak ana, akhirnya ibu dan bapak ana memutuskan menikah di KUA dengan wali Hakim… bagaimanakah status pernikahan bapak dan ibu ana ini? Setelah menikah di KUA, baru bapak dan ibu plang ke rumah ortu ibu ana, dan meminta maaf…setelah itu hubungan ortu ibu ana dengan bapak dan ibu ana menjadi baik kembali… apakah ini termasuk nikah syubhat?
    kalo iya, bagaimana cara memperbarui akadnya sedang bapak ana -ghoffarollohulahu- telah meninggal?

    bagaimanakah hukumnya bagi wanita yang tidak mengetahui hukum wajibnya mandi junub selama bertahun2 berumah tangga karena kejahilan terhadap ilmu dien, kemudian setelah suaminya meninggal baru mengetahui hal tersebut?

    Jazaakumulloh khoiron katsiiron

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ketika seorang muslimah (walaupun janda) tidak diizinkan oleh walinya untuk menikah, maka tidak seenaknya dan tidak segampang itu dia langsung lari ke wali hakim. Karena bagaimanapun juga, jika alasan wali wanita itu syar’i, maka tidak boleh seorang pun yang bisa menjadi wali bagi menikahi wanita tersebut.
    Kalau memang alasannya tidak syar’i, maka masih ada wali lain dari pihak keluarga ayah. Jika semua wali tidak mau menikahkannya dengan alasan yang tidak syar’i maka wanita itu bisa meminta bantuan kepada KUA untuk membujuk dan bermusyawarah dengan baik dengan keluargannya. Jika semuanya buntu padahal alasannya tidak syar’i maka di negara Islam, pemerintah berhak memaksa sang wali untuk menikahkan anaknya.
    Ala kulli hal, hukum paling buruk dari kasus di atas adalah nikah syubhat, kalau memang dia meyakini bolehnya perbuatan tersebut. Jika hukumnya baru diketahui setelah sang lelaki meninggal, maka tentunya tidak ada kewajiban untuk memperbaharui nikah. Wallahu a’lam.

    Adapun pertanyaan yang kedua, maka dia berdosa karena kejahilannya tersebut. Karena itu termasuk dari ilmu yang sifatnya fardhu ain bagi lelaki dan wanita.

  4. muhammad priyanto said:

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    apabila kita berjauhan dengan orang tua (di luar pulau), bagaimana cara kita berbakti kepada orang tua, apakah dengan menelpon ortu tiap pekan menanyakan kabar, itu sudah termasuk berbakti?sedangkan untuk berkunjung ke rmh ortu memerlukan biaya yang tidak sedikit sehingga hanya berkomunikasi dengan ortu lewat telepon

    terimakasih atas jawabannya
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Insya Allah bisa dengan cara seperti itu, atau dengan mengirimkan hadiah kepada mereka, dan yang terutama adalah senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka, dan selalu mengamalkan amalan saleh, karena semua amalan anak akan mengalir kepada orang tuanya. Dan inilah bakti yang paling besar lagi hakiki, yakni sang anak taat kepada Allah agar orang tuanya juga mendapatkan pahalanya.

  5. abu ismail said:

    Bismilah…Apakah hukum anak zina?Apa yg seharusx ayah anak zina itu harus di perbuat..Apakah menelantarkanx atau tetap mengasuhx

    Adapun dosa maka dia tentunya tidak mendapatkan dosa atas ulah orang tuanya, karena setiap orang tidak akan menanggung dosa orang lain. Maka anak zina mendapatkan hak dan kewajiban yang sama seperti anak kaum muslimin lainnya, kecuali dalam beberapa perkara:
    a. Dia (jika wanita) dan lelaki yang berzina dengan ibunya bukanlah mahram.
    b. Lelaki tersebut tidak wajib memberikan nafkah kepada dirinya, walaupun boleh saja lelaki tersebut melakukannya.
    c. Dia tidak berhak mendapatkan warisan dari lelaki tersebut.
    d. Lelaki tersebut bukanlah walinya (jika dia wanita) dalam pernikahan.
    e. Dia tidak dinisbatkan kepada lelaki tersebut (baik dalam hal nama maupun yang lainnya) akan tetapi dia dinisbatkan kepada ibunya. Karenanya perawatan anak ini diserahkan kepada ibunya.

    Hanya saja ada dua perkara yang bisa dilakukan oleh lelaki itu agar dia juga bisa mengasuh anak tersebut:
    1. Menikahi wanita yang telah dia zinahi dengan syarat keduanya telah bertaubat dari perbuatan zina dan wanita itu telah melahirkan (jika wanita itu hamil). Dengan begitu dia (lelaki) itu bisa menjadi ayahnya yang syah, walaupun anak itu dihukumi sebagai rabibah (anak tiri)nya
    2. Jika lelaki ini menikah dengan wanita lain selain wanita yang melahirkan anak zina ini, maka dia bisa menyuruh istrinya untuk menyusui anak tersebut (jika anaknya masih bayi). Dengan demikian dia bisa menjadi ayah susuannya.

    Yang jelas, diharamkan bagi siapapun untuk menelantarkan anak yang tidak berdosa walaupun dia merupakan anak ‘haram’. Wallahu a’lam

  6. sarah said:

    Ass.wr.bb

    assalammualaikum ustad,saya menikah dengan wali hakim.dikarenakan orang tua saya tidak menyetujui hubungan saya.meski kami sudah mencoba berusaha berbicara dgn ortu tp ortu tetap tidak setuju.akhirnya setelah konsultasi dengan seorang ustad yg juga penghulu pegawai KUA dikota saya,beliau menyarankan kami untuk menikah.dikarenakan alasan orangtua saya bukan karena alasan syar’i dan kami sudah dewasa umur saya 29th,swami 37th, bapak saya sudah lama menikah lagi dan meninggalkan ibu saya kurang lebih 10 tahun.tapi bapak tidak menceraikan ibu,jadi gantung gitu ustad.ibu&bapak saya tinggal dikota yang berbeda.bapak saya sudah jarang pulang & tdk lagi menafkahi ibu saya sejak menikah lagi.tetapi untuk biaya kuliah saya,masih dari bapak waktu itu.saya sudah kurang lebih 5 tahun bekerja & membiayai hidup saya sendiri.

    akhirnya saya menikah di kota tempat orangtua swami saya (sumatra) yangmana kota ini berbeda dengan kota dimana ibu (balikpapan) dan bapak (tarakan)saya tinggal.

    sehingga waktu itu saya menikah dengan menggunakan wali hakim,karena di kota tempat saya menikah tidak ada satupun saudara saya.tetapi pernikahan saya tercatat resmi di negara.

    saya sudah memohon maap dengan ortu saya,ketika kemarin saya pulang mendadak krn eyang saya meninggal.sehingga bapak saya juga datang ke balikpapan.akhir-akhir ini hubungan bapak& ibu saya sudah mulai membaik,ibu saya sudah bisa memaafkan bapak saya.ohya sedangkan swami saya belum memohon maap dengan ortu saya.kami menunggu waktu yang tepat.

    yang ingin saya tanyakan,syahkah pernikahan saya secara agama?dan sebaiknya apa yang harus saya&swami saya lakukan.kami baru menikah 4 bulan ini.

    terimakasih ustad mohon sarannya.waalaikumsalam

    note:saya minta tolong untuk daerah kota saya mohon nanti dihilangkan.thanks

    Maaf kami tidak bisa menjawab pertanyaan ini hingga saudari menyebutkan apa alasan ortu melarang nikah yang menurut ustad yang saudari maksud itu katanya alasannya tidak syar’i.

  7. abu muhammad said:

    Bismillah
    Assalamualaykum Warohmatullah Wabarokatuh…
    Afwan Ustadz..ana mau tanya tentang nikah,dulu ana sewaktu menikah dengan istri yang sekarang dari pihak istri di walikan oleh wali hakim,di karena kan ketika kami menikah kami berada di pulau yang berjauhan dengan dengan tempat tinggal kedua orang tua istri ana,kalau naik kapal laut diperkirakan sekitar 1 malam perjalanan, pertanyaan ana apakah pernikahan ana sah, untuk ustadz ketahui ana sekarang sudah mempunyai 3 orang anak.
    Apa yang seharusnya ana lakukan apabila pernikahan ana dianggap tidak sah?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Kalau memang wali dari istri telah menyerahkan/mewakilkan perwaliannya kepada wali hakim maka pernikahannya syah. Tapi jika pernikahan itu terjadi tanpa izin dari wali istri maka pernikahannya dihukumi nikah syubhat kalau dulu dia menganggap nikahnya syah. Dan nikah syubhat harus diulangi akad nikahnya sementara anak-anaknya yang sudah ada tetap syah menjadi anaknya dan bukan termasuk anak zina. Wallahu a’lam

  8. Annisa said:

    Assalamu’alaikum…
    ustadz, yang bisa tergolong nikah syubhat itu apa saja? Dan bolehkah si ‘suami’ dari nikah syubhat menjadi wali nikah bagi anak perempuannya padahal ia belum mengulang akad nikah yang baru?
    Terimakasih atas penjelasannya ustadz
    Wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Untuk selamatnya, sebaiknya akad nikah diulangi terlebih dahulu.

  9. pengunjung said:

    bismillah.

    ya ustadz hafizhakumullahu ta’ala,
    jika seorang lelaki menikah dengan seorang perempuan dalam keadaan perempuan itu hamil akibat zina, (a’udzubillahi mindzalik),
    namun keduanya menganggap nikah tsb sah.
    apakah hal ini masuk dalam kategori nikah syubhat??

    apakah hukum mahram tetap berlaku pada keadaan itu ?
    misal antara anak hasil zina (laki-laki) tersebut dengan adik si lelaki yang berzina tsb (perempuan) tetaplah berlaku hubungan seperti keponakan dengan bibi,
    sehingga mereka tetap dianggap mahram??

    jazakumullahu khairan

    Ia itu termasuk nikah syubhat, karenanya setelah mereka tahu maka mereka wajib mengulangi akad nikahnya. Adapun anak tersebut maka dia bukan mahram bagi suami ibunya secara syar’i, maka tentu saja dengan adik wanita lelaki tersebut juga bukan merupakan mahram. Wallahu a’lam

  10. Ikrar said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

    Saya seorang pemuda muslim (26 thn) yang sedang menjalani hubungan dengan seorang wanita muslim sebut namanya “Dina”. Kami sudah menjalani hubungan lebih dari 1 tahun dan berencana akan melanjutkan ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.

    Wanita yang ingin saya jadikan istri adalah seorang anak tunggal di keluarganya (dan statusnya sbg anak angkat). Statusnya sebagai anak angkat tidak membuat saya mundur untuk menjalani hubungan lebih serius dengan dia, karena saya sangat sayang dan mencintainya. Kedua keluarga pun juga sudah bertemu dan merestui hubungan kami berdua.

    Diceritakan oleh calon mertua saya (ibunda kekasih saya) : bahwa Dina diadopsi/diangkat dulu pada hari kelahirannya di sebuah rumah sakit di Bandung. Ortu angkatnya tidak mengetahui siapa orang tua/keluarga kandung Dina karena proses pengangkatan Dina sebagai anak mereka sangat mudah karena sepertinya Dina adalah anak2 terlantar saat di rumah sakit tersebut dan pihak rumah sakit memberikan kemudahan agar Dina diasuh oleh pasangan yang tidak memiliki anak (calon mertua saya). Secara hukum negara dan sipil Akta Kelahiran Dina pun ditulis atas nama orang tua angkatnya.

    Nah kebimbangan saya dan yang ingin ditanyakan, Kelak di saat kami akan melangsungkan pernikahan. Apakah papa Dina (ortu angkatnya) sah sebagai wali nikah Dina?

    Menurut persepsi saya (maaf mungkin pemikiran tentang agama Islam tidak terlalu dalam), Ayah Dina berhak dan bisa saja menjadi wali nikah Dina kelak karena suatu kebanggaan seorang ayah (walaupun ortu angkat) yang membesarkan Dina dari bayi yang masih merah, mendidik, merawat, mennyekolahkan Dina sampai Dina bisa berpendidikan tinggi sekarang (S2) untuk menikahkan Dina dengan pasangan hidupnya..

    Dina pun pernah saya tanyakan, Dia tidak mau mencari dan tidak akan pernah mau mencari tahu siapa ortu kandungnya. karena bagi dia ortu dia sekarang (ortu angkat) adalah segala2nya bagi hidupnya Dina dan Dina sangat menyayanginya dan ingin menjaga mereka di saat masa tua ortu angkatnya.

    Mhn petunjuk dan pencerahan dari Ustad atas kebimbangan saya ini?

    Terima kasih

    Wassalamualaikum..

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Orang tua angkatnya tidak bisa menggantikan posisi ayah kandungnya dalam hal menjadi wali nikah karena tidak adanya hubungan darah di antara mereka. Sehingga yang berhak menjadi wali bagi wanita itu adalah pemerintah dalam hal ini adalah penghulu KUA, karena pemerintah adalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.

  11. Ariani said:

    Assalammualaikum wr.wb

    Afwan ustadz, Saya mau bertanya, 3 tahun lalu saya menikah dengan suami saya dan di karuniai seorang anak perempuan, tapi pernikahan tersebut terjadi setelah hamil di laur nikah/MBA (Maaf ustadz). saya di nikahkan resmi langsung ayah saya sbg wali. saya pernah dengar saran-saran dari keluarga suami,bahwa setelah nanti anak pertama saya itu lahir, saya dan suami harus menikah kembali. Tapi ustadz, masalahnya sekarang saya telah hamil lagi 2 bulan dan kami belum melaksanakan nikah kembali setelah melahirkan. yang ingin saya tanya bagaimana status anak saya yang pertama? dan bagaimana status calon bayi yang masih saya kandung? apa yang harus kami lakukan? apakah suami tidak bisa menjadi wali bagi anak2 saya? syukran ustadz..wassalammualikum wr.wb

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Saran dari keluarga itu sangat benar, dan itulah yang wajib dikerjakan.
    Anak pertama adalah anak zina, dia tidak mempunyai hubungan dengan suami saudari sekarang.
    Adapun anak yang dalam kandungan maka hukumnya tergantung keyakinan saudari mengenai syah tidaknya nikah tersebut sebelum hamil. Jika saudari sudah tahu tidak syahnya nikah tersebut sebelum hamil yang kedua akan tetapi tetap melakukan hubungan dengan suami sehingga hamil anak kedua, maka anak kedua juga dihukumi sebagai anak zina. Wallahu a’lam
    Kalau demikian maka suami bukanlah mahram (jika anaknya wanita) bagi kedua anak tersebut dan karenanya juga dia tidak bisa menjadi wali keduanya.
    Yang wajib sekarang adalah segera bertaubat kepada Allah Ta’ala dari semua dosa, memutuskan pernikahan. Dan melangsungkan kembali pernikahan setelah anak kedua lahir. Karena sekarang saudari dalam masa iddah (hamil) sementara pernikahan yang diadakan dalam masa iddah adalah tidak syah. Masa iddah wanita hamil berakhir dengan dia melahirkan kandungannya.

  12. akmal said:

    Ass.. Ustadz, saya mau nanya.. saya pernah berhubungan dengan janda tiga anak selama kurang lebih 10 tahun (tidak menikah) dan kami mempunyai satu orang anak laki-laki dari hasil hubungan kami sekarang berumur lima tahun. Dan saat ini kami sudah berpisah,dan saya sudah menikah. anak hasil hubungan zina kami di ambil mantan saya. dan saya tidak di perbolehkan ketemu sama anak saya lagi. tapi kebutuhan mereka semua saya yang biayai (via transfer). sejak kami berpisah mantan saya sering mengancam saya mau membunuh anak saya dan bunuh diri. bagaimana ya caranya saya membiyai anak saya ?? karena istri saya tidak mau kalau hasil jerih payah saya di nikmati sama mantan saya dan anak-anaknya, kecuali anak saya. apa bisa saya mendapatkan hak atas anak saya, karena saya takut anak saya besar di lingkungan yang menurut saya kurang baik. bagaimana caranya saya bisa bertemu anak saya ?? Terima kasih Ustadz mohon sarannya.. wassalammualikum wr.wb..

    Dalam aturan Islam, saudara tidak punya hubungan apa-apa dengan wanita tersebut dan tidak pula dengan anak tersebut. Karena dia adalah anak zina maka dia dinisbatkan kepada ibunya dan saudara bukanlah ayahnya secara syah dalam agama.
    Karenanya saudara tidak punya tanggung jawab dan kewajiban untuk menafkahi keduanya, karena keduanya adalah orang asing atau non mahram bagi saudara. Wallahu a’lam

  13. andi mualif said:

    hukum nikah siri yang sudah nikah

    Nikah siri ada dua bentuk:
    1. Yang terpenuhi rukun nikah (wali wanita, mahar, dan 2 saksi) tapi tidak tercatat di KUA. Hukum nikahnya adalah syah dalam Islam. Hanya saja tidak sepatutnya hal ini dilakukan bisa menimbulkan mudharat yang besar di kemudian hari, baik kepada keduanya jika keduanya bercerai, maupun kepada anak-anaknya kelak yang membutuhkan bukti dari negara untuk mendapatkan hak-haknya selaku warga negara.
    2. Yang tidak terpenuhi rukun nikah, misalnya tidak ada wali wanita. Nikahnya haram dan tidak syah.

  14. akmal said:

    Ass.. Ustadz, tapi saya sangat menyayangi anak saya dan saya takut, kelak anak saya membenci saya dan tidak mengakui saya nantinya. saya juga tidak tega menelantarkan anak saya. waktu saya masih berhubungan sama mantan saya, saya sudah berkali-kali mengajaknya menikah, tapi dia tidak mau. saya bingung sendiri, apa maksud dan tujuan mantan saya. malahan dia hanya membuat buku nikah palsu, agar dapat di masukan ke kantor.(saya tidak tau gimana cara dia mendapatkan buku tsb). tapi setelah kami pisah, saya pindah kerja dan tidak menggunakan buku nikah palsu lagi. dan kami punya akte lahir anak saya. akte itu masih ada sama saya. adakah cara lain agar saya dapat terus menafkahi anak saya?? apakah saya dapat menggunakan akte itu suatu hari nanti ?? karena dalam hal ini anak saya sama sekali tidak bersalah..(hanya korban). yang bersalah adalah kami orang tuanya. wassalammualikum wr.wb..

    Anda boleh-boleh saja memberikan harta kepada anak itu, akan tetapi itu dalam Islam dianggap sebagai sedekah atau hadiah, bukan dianggap nafkah wajib dari ayah kepada anaknya, karena sekali lagi dia bukanlah anak anda yang syah dalam Islam.
    Dalam masalah urusan2 dunia, silakan anda mempergunakan akte tersebut, kecuali yang telah dilarang oleh syariat.
    Islam telah menetapkan hukum tertentu kepada anak zina, dan hukum ini walaupun dari satu sisi si anak adalah korban, akan tetapi di sisi lain, keadaan anak yang seperti itu termasuk bentuk hukuman Allah kepada pelaku zina.
    Semoga Allah Ta’ala mengampuni seluruh dosa kita dan memberikan jalan yang terbaik untuk bisa terlepas dari akibat jelek suatu dosa, Allahumma amin.

  15. ummu abdulkhaliq said:

    Bismillah,
    utadz saya mau nanya..
    seorang janda menikah dengan duda tetapi tanpa wali, walinya wali hakim dari KUA (mereka kawin lari tanpa izin orang tuanya). Hasil dari pernikahan tersebut lahir 2 orang anak, anak pertamanya laki-laki, anak keduanya perempuan. Setelah kedua anaknya besar mereka baru mengetahui bahwa nikahnya tidak sah, lalu mereka melakukan akad nikah ulang..Yang ingin saya tanyakan:
    1. Apakah anak2nya dinasabkan ke bapaknya?
    2. Bolehkah anak laki-lakinya menjadi wali pada pernikahan adik perempuannya?
    Jazakumullah khiaran

    Jika saat menikah keduanya meyakini bolehnya menikah dengan wali pemerintah walaupun ayah tiak mengizinkan, maka nikahnya dihukumi nikah syubhat. Anak-anaknya insya Allah syah dinasabkan kepada ayahnya, hanya saja kapan mereka tahu kalau akad yang lalu itu salah maka segera akad nikah harus diulang dengan wali yang syah bagi wanita.
    Anaknya yang lelaki boleh menjadi wali nikah bagi saudarinya. Wallahu A’lam

  16. ummu said:

    Bismillah,
    afwan ustadz ana mau tanya..
    Ada wanita yg minta khulu’ dr suaminya dgn menyerahkan sejumlah uang dan perhiasan emas (merupakan hasil usaha dia dan suaminya bersama2/bukan uangnya pribadi). Suaminya menerima uang dan emas tsb, tp hanya berkata “kita lihat nanti”. Lalu dia kawin lari (tanpa sepengetahuan walinya)
    1. Apakah dia sudah sah talaq dr suami pertamanya ini?
    2. apakah nikahnya yg ke-2 ini sah?

    Kemudian dr pernikahan kedua ini dia punya anak (laki2 dan perempuan)..selang beberapa tahun dan kedua anaknya mulai besar, keluarganya tau, kemudian mrk dinikahkan ulang.
    1. Bagaimana status anaknya? Apakah kedua anaknya bs dinasabkan kpd ayahnya (suami ke-2)?
    2. Bisakah anak laki-lakinya menjadi wali pada pernikahan adik perempuannya?

    Mohon penjelasannya ustadz..
    Jazakumullahu khairan..

    A. 1. Dia belum syah talak dari suaminya.
    2. Nikahnya yang kedua tidak syah.

    B. 1. Jika si wanita tahu pernikahan keduanya itu tidak syah tapi dia tetap menikah maka dia dianggap berzina dan anak2nya adalah anak zina sehinggi tidak boleh dinasabkan ke ayahnya. Tapi jika dia meyakini bahwa nikahnya syah maka nikahnya dihukumi nikah syubhat, dia tidak dihukumi berzina dan kedua anaknya adalah syah dan boleh dinasabkan kepada ayahnya.
    2. Boleh anak lelakinya menjadi wali bagi anaknya yang wanita.

  17. syed said:

    assalamualaikum..!! sy mahu bertanya.. ada kawan saya ni,dia bercinta dgn seorang perempuan yg mana perempuan itu telah diceraikan suaminya akan tetapi penceraiannya masih belum diputuskan mahkamah..!! atas sbb cinta mereka telah melakukan hubungan zina..dan telah lahir seorang anak luar nikah hasil dari hubungan tersebut..!! apakah pasangan tersebut boleh berkahwin apabila makhamah sudah sahkan penceraian perempuan tu dgn suaminya dan apakah status anak itu dgn kawan saya itu yg telah berzina dgn perempaun itu..??

    Waalaikumussalam.
    Yang jelas keduanya telah melakukan zina, wal ‘iyadzu billah.
    Jika sudah syah dia bercerai dari suami pertamanya maka:
    a. Jika salah satunya bertaubat dan yang lainnya tidak maka mereka tidak boleh menikah karena seorang pezina tidak boleh menikahi/dinikahi oleh orang yang baik. Keduanya wajib bertaubat jika mereka ingin menikah.
    b. Jika si wanita hamil maka tidak boleh ada akad nikah sampai dia melahirkan kandungannya. Karena akad nikah dalam keadaan hamil adalah tidak syah.
    Adapun anaknya, maka dia adalah anak haram dan tidak punya hubungan perwalian dan kemahraman dengan laki-laki tersebut. Wallahu A’lam

  18. abu ramiza said:

    Bismillah,
    Kepada Ustadz Abu Muawiah Hammad hafidzahulloohu ta’ala,telah masuk ke blog ana (http://aburamiza.wordpress.com) 2 (dua) buah pertanyaan:

    1. Assalamualaikum Ustad,
    saya mempunyai adik sepupu perempuan yg saat ini kondisinya hamil di luar nikah. Dan kami, keluarga, ingin secepat mungkin agar dia menikah dg orang yg telah menghamilinya. Apakah pernikahannya akan sah atau tidak? Bagaimana prosedur yang benar dalam agama Islam? Dan satu hal lagi, baru kami ketahui, bahwa adik sepupu kami itu dulunya, orang tuanya menikah dikarenakan kecelakaan kehamilan yg sama dg dia (adik sepupu). Dan dinikahkan resmi. Bagaimana ini hukumnya Ustadz, apa yg harus kami lakukan? Karena ada masukan2 seperti orang tua adik sepupu harus menikah kembali dulu, Bapak sepupu kami ini tdk boleh mengawini pernikahan anaknya? Mohon jawaban dari Ustadz atas kebingungan kami ini. Terima kasih.

    2. salam…
    sy nk tanye, apkah kesan jika, lelaki baru kahwin janda, kemudian bernikah pula dengan cucu isteri….
    serta langkah untuk mengatasi…
    terima kasih.

    Demikian pertanyaan tersebut atas jawabannya ana ucapkan jazakalloohu khoir

    Waalaikumussalam.
    Afwan soal no. 2 ana nggak paham.
    Adapun yang pertama, maka butuh kami perjelas bahwa adik sepupu yang akan menikah ini dulu adalah anak yang lahir di luar nikah?
    Jika demikian maka yang menikahkannya adalah wali hakim, karena pemerintah adalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.
    Adapun ayahnya sekarang (yang menghamili ibunya di luar nikah), maka dia bukanlah ayahnya secara syar’i karenanya dia tidak syah menjadi walinya.
    Adapun masalah orang tuanya maka itu masalah lain yang tidak berhubungan dengan ini. Keduanya memang harus dipisah lalu dinikahkan kembali. Hanya saja itu tidak membuat ayahnya syah menjadi wali nikahnya. Wallahu A’lam

  19. ahmad aziz said:

    apakah mengeluarkan madzi waktu puasa bisa membatalkan puasa saya tidak?
    terimakasih sebelumnya

    Tidak, hanya saja pahala puasanya berkurang karena dia belum meninggalkan syahwat secara sempurna.

  20. ahmad said:

    Assalamualaikum wr.wb. ustad….sebentar lagi saya akan melangsungkan pernikahan, tetapi ada satu hal yg mengganjal di hati saya karena saya pernah mendengar dari tetangga calon saya bahwa calon saya ngga jelas bapaknya…semacam ibunya selingkuh dengan tetanga di kala ayahnya sedang bekerja di luar kota dalam jangka waktu yg lama..saya bingung apa yg harus saya perbuat agar kelak keturunan saya menjadi turunan yg baik…assalamualaikum wr.wb
    Waalaikumussalam.

    Yang jelas pertama berita itu harus dipastikan kebenarannya.
    Dan kalaupun benar maka kembalinya kepada anda sendiri, karena seorang anak itu tidaklah menanggung dosa orang tuanya. Kalaupun betul dia anak zina akan tetapi dia bertakwa kepada Allah maka dia adalah muslim yang pantas untuk dinikahi.

  21. aci said:

    Assalamualaikum wr. wb
    Ustadz, saya bingung, saya perempuan yg terlahir dalam keluarga kristen, ayah dan ibu saya menikah secara kristen..
    ketika saya masuk SD, kami menjadi pemeluk Islam, (dalam ktp maupun KK tercantum beragama Islam) tp saya sendiri tidak tau bagaiamana prosesnya, yg jelas sejak saat itu hingga saat ini saya meyakini agama saya Islam dan berusaha menjalankan kewajiban2nya meski belum sempurna karena tidak mendapatkan bimbingan agama dari orangtua sehingga harus mencari2 sendiri.
    Yang sangat disayangkan, kedua orang tua saya hingga saat ini hampir tidak pernah menjalankan kewajiban keIslamannya (baik sholat maupun puasa). Lantas bagaimana status keislaman saya dan status saya sebagai anak? siapakah yang berhak menjadi wali saya saat menikah?
    mohon penjelasannya ustadz
    trimakasih

    Waalaikumussalam.
    Saudari dan orang tua saudari adalah muslimah selama tidak mengerjakan pembatal keislaman.
    Selama orang tua muslim maka ayah yang berhak menjadi wali. Tapi jika tidak ada keluarga yang muslim, maka KUA yang menjadi walinya.

  22. abu hafiz said:

    Assalamu’alaikum

    Ustadz, apakah syah nikah syubhat yang diulang tapi sebelumnya mereka tidak dipisah terlebih dahulu atau langsung melakukan akad.

    jazakumullah khairan

    Waalaikumussalam.
    Maksud dipisah di sini adalah nikahnya dibatalkan. Baru kemudian akad yang baru kembali. Wallahu a’lam.

  23. rembulan said:

    assalamualaikum….
    saat ini saya punya calon istri…dengan hasil kawin lari..tapi saat ini 2 keluarga telah setuju…dan juga calon saya itu setelah di hitung ternyata dia deprediksi telah di kandung ibunya sebelum ibunya menikah …yg jadi pertaanya bagamana cara saya menyampaikan hal tersebut ke calon mertua saya…agar dpt di mengerti dan tidak tersinggung?

    Waalaikumussalam.
    Bagaimana caranya tentu anda lebih tahu situasi dan kepribadian calon mertua, sehingga anda tentu lebih bisa memilih waktu dan cara berbicara yang baik. Yang jelas yang menjadi wali dari calon istri adalah wali hakim, bukan ayahnya sekarang. Karena dia adalah anak zina maka ayahnya sekarang tidak berhak menjadi walinya.

  24. yuli said:

    assalamu alaikum pak ustad?
    begini ya pak,,,sya ditanya teman?akhir ini marak sekali berita ayah kandung memperkosa putrinya sendiri,,,yang dia tanyakan bagaimana hukum perwalian jika putrinya itu menikah dengan lelaki lain?

    Waalaikumussalam
    Ayah ini tetap berhak menjadi wali putrinya. Dosa yang diperbuat ayah tidaklah menggugurkan hak perwaliannya. Wallahu a’lam.

  25. abu ramiza said:

    Bismillah,
    Ustadz Abu Muawiah Hammad hafidzhullohu ta’ala, telah masuk ke blog ana (https://aburamiza.wordpress.com) sebuah pertanyaan sebagaimana yang tercantum di bawah ini:

    pak ustad sekarang banyak perkosaan ayah terhadap putrinya sendiri. bagaimana hukum perwalian manakala ayahnya sendiri yang harusnya menjadi wali telah memperkosa putrinya?apa sah hukum pernikahan jika walinya (bapa) yang pernah menggaulinya?

    Atas perhatian dan jawabannya ana ucapkan jazakallohu khoiron

    Jika maksudnya si anak menikah dengan ayahnya, maka ini tentu saja tidak syah dan tidak dibenarkan.
    Namun jika si ayah menikahkan putrinya dengan orang lain, maka ayah ini tetap berhak menjadi wali putrinya. Wallahu a’lam.

  26. annisa said:

    assalmualaikum
    begini pak ustad. sy dl prnh menikah, selama setahun lebih tp tdk dikaruniai anak. lalu kami bercerai. secara agama kami sdh sah bercerai. tp akta dari pengadilan blm keluar. ketika itu sy pernah dekat dgn seorang laki2 , tp hubungan sy dgn laki2 itu sdh berakhir slm 5 bln, kemudian sy br tau kl sy hamil 6 bln. krn sy sdh tdk ad hubungan lg dg laki2 itu dan sy ada rncna mw menikah dgn laki2 sholeh. smpai saat ini sy blm menceritakan ke calon suami sy kl sy sedang hamil, mksd sy sampai sy melahirkan. bgmn mnrt ustad? saya benar2 bingung…..apa sy harus mundur menikah? dan apa blh sy minta calon suami sy untuk menjaga aib saya dr keluarga dy dan keluarga sy? tp sy takut harus jujur.terima kasih pak. mohon bimbingannya
    wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Pernikahan yang dilakukan pada masa hamil adalah tidak syah secara agama.
    Boleh saja dia meminta hal itu kepada calon suaminya jika lelaki itu ridha. Wallahu a’lam.

  27. zahra said:

    assalmualaikum
    begini pak ustad. sy dl prnh menikah, selama setahun lebih tp tdk dikaruniai anak. lalu kami bercerai. secara agama kami sdh sah bercerai. tp akta dari pengadilan blm keluar. ketika itu sy pernah dekat dgn seorang laki2 , tp hubungan sy dgn laki2 itu sdh berakhir slm 5 bln, kemudian sy br tau kl sy hamil 6 bln. krn sy sdh tdk ad hubungan lg dg laki2 itu dan sy ada rncna mw menikah dgn laki2 sholeh. smpai saat ini sy blm menceritakan ke calon suami sy kl sy sedang hamil, mksd sy sampai sy melahirkan. bgmn mnrt ustad? saya benar2 bingung…..apa sy harus mundur menikah? dan apa blh sy minta calon suami sy untuk menjaga aib saya dr keluarga dy dan keluarga sy? tp sy takut harus jujur.terima kasih pak. mohon bimbingannya
    wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Pernikahan yang dilakukan pada masa hamil adalah tidak syah secara agama, karenanya menikahnya setelah dia melahirkan.
    Boleh saja dia meminta dirahasiakan jika calon suaminya ridha.

  28. abu abdirrohman said:

    bismillah
    afwan mungkin tdk sesuai tema.
    soal penisbahan,
    ana lahir di pekalongan faktanya,selang bberapa hari dibawa ke solo trus aktanya dibuat di solo & ditulis “lahir di solo”,
    1.Apakah penisbahannya ke solo/pekalongan?
    2.dalam pengisian surat dsb. TTL diisi solo/pekalongan?
    jazakalloh khoiro

    Kami rasa tidak ada masalah dalam hal ini insya Allah. Tidak mengapa mengisi TTL sesuai dengan apa yang tertulis di akte kelahiran.

  29. mira said:

    ustad,
    saya mau tanya hukum mahrom tidaknya anak lelaki hasil perzinaan dengan istri sah ayah biologisnya.

    terima kasih ustad

    Wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Bukan mahram.

  30. al a'zam said:

    apa hukumnya menikah bagi yang hamil lebih dulu’lalu gimana setus anak tersebut?

    Harus melahirkan dulu baru boleh nikah. Karena nikah dalam keadaan hamil adalah tidak syah. Adapun status anak, maka tergantung, apakah kehamilannya itu disebabkan perzinahan atau dari suaminya sebelumnya.

  31. agenxamthonplus.info said:

    saya rasa anak itu tidak haram,melaikan anakitu anugrah yang diberikan kepada ortu yang sudah di percaya untuk merawat anak,tapi yang menyebabkan anak itu jadi haram adalah para ortunya yang melakukan jinah,padahal allah telah melarang umatnya agar tidak melakukan jinah,tapi itu salah manusianya saja,
    emm artikel ini bagus buat dibaca dan dipahami

  32. Indri said:

    Bagaimana hukumnya jika ada perempuan yg hamil diluar nikah,kemudian stlah mlhirkan dia tidak akd lg,krn mrka brkyakinan sah dlm prkwinannya dlm keadaan hamil..
    setelah 2th mereka tinggal brsama tnp nikah ulang,lalu hukumnya menggauli perempuan zinah nya apa? dan anak yg telah dilahirkannya itu bagaimana kewjiban menafkahi anak tersebut krn itu hsl perzinahan mereka

    Yang jelas, anak yang merupakan janin ketika dia menikah adalah anak zina, dan berlaku padanya hukum anak zina.
    Adapun kalau memang seperti itu keyakinan mereka dan tidak berubah, maka mereka dihukumi sesuai dengan keyakinan mereka yaitu syah.
    Tapi jika suatu saat dia meyakini bahwa nikahnya yg dulu tidak syah, maka mereka wajib mengulangi akadnya.

  33. irna said:

    assalamualaikum ,
    ustad, ada seorang sepupu saya pernikahannya tidak dikaruniai keturunan, pada saat kondisi pernikahannya rapuh, masuk orang ketiga dan akhirnya terjadilah perzinahan dan membuahkan seorng anak laki2, saat usia anak ini sudah 10 tahun. saat usia anak ini 3 tahun sepupu saya menceritakan status yg sebenarnya kepada suaminya dan meminta maaf (bahwa ini bukanlah anak mereka, melainkan hasil perzinahannya dengan lelaki lain). karena pertolongan Allah swt masa sulit rumah tangga yg hampir hancur bercerai berai ini tetap dipersatukan Allah. sepupu saya amat sangat menyadari dosa besarnya dan lsg bertobat, memohon ampunan kepada Allah swt, berumroh, dan saat ini sepenglihatan saya dia menjadi wanita yg sholelah, keluarga itu telihat bahagia, krn suaminya amat sangat menyayangi anak laki2 tersebut dan mendidik anak laki2 tersebut dengan ajaran agama yg amat kuat bahkan 2 tahun ll mereka bertiga menjadi tamu Allah ke tanah suci. intinya suami sepepu saya sudah meenggangapnya sepeti anak kandungnya sendiri, krn memang sudah sejak lahir.
    pertanyaan saya:
    1. jika anak tersebut menikah, bin siapakah nama yg digunakan agar sah dimata Allah swt? nama ayah biologisnya atau ayah yg membesarjannya sejak lahir.?

    Waalaikumussalam.
    Dia dinisbatkan kepada ibunya, karena dia tidak mempunyai ayah secara syar’i karena dia adalah anak hasil perzinahan. Jadi dikatakan fulan bin fulanah (nama ibunya)

  34. irna said:

    2. sejak usia 3 tahun tidak ada lagi kontak dengan ayah biologisnya. apakah perlu jika dia dewasa nanti dia mengenal ayah biologisnya?

    Tidak harus, karena lelaki itu bukanlah ayahnya yang syah menurut syar’i, walaupun memang dia ayah biologisnya. Namun tidak ada larangan kalau dia ingin mencari tahu.

  35. Mahra Harahap said:

    Ass Ustad, saya mau tanya, bagaimana, hukumnya islam dan negaranya, apabila ada perkawinan yang menikahkannya adalah ayah tirinya, pada hal ayah kandungnya masih hidup namun sudah bercerai, dan sempat berganti marga,? kalau sah,apakah ada hadistnya,? kemudian ibu kandungnya melarang, agar ayahnya tidak menikahkan putrinya,walaupun akhirnya ayahnya merestui pernikahan dengan menggunkan wali hakim,karena anak tersiksa,yang mau saya tanya, pernikahan itu apakah syah?

    Tidak syah, karena ayah tiri bukan wali bagi wanita itu. Kecuali jika ayah kandungnya menyerahkan hak perwaliannya kepada ayah tirinya atau kepada wali hakim, maka insya Allah syah.

  36. anto said:

    assalamu alaikum wr wb. saya lelaki berumur 31 satu tahun, yang menjadi pertanyaan saya selama ini begini, 8 tahun alalu saya menikah, sebelum menikah calon istri saya sudah hamil. kemudian saya berinisiatif untuk melahirkan dulu baru menikahi istri saya. apa hukumnya nikah saya, dan bagaimana dengan status anak saya tersebut. anak yang dilahirkan calon istri saya tersebut lelaki. saya mohon petunjuk dari para ustadz di forum ini. terima kasih. wassalam

    Waalaikumussalam.
    Inisiatif anda sudah tepat, karena tidak syah nikah dalam keadaan hamil.
    Maaf, anak yang dikandung istri anda itu, apakah dari pernikahan sebelumnya atau karena MBA?

  37. tika said:

    Assalamualaikum,
    Ustad saya ingin bertanya, apa hukumnya kalau kawin lari, dan ketika menikah si ceweknya sedang hamil, dan sekarang siceweknya mau cerai dengan alasan tidak diberi nafkah 6bulan berturut-turut, dan sicowok sama sekali tidak bekerja, oiya, merrka menikahnya umur 18tahun, dan dilaksanakan bukan didaerah mereka, jadi, alamat yg di buku nikah mereka itu palsu, gimana itu ustad?? Mohon bantuan jawabannya, terimakasih..
    Assalamualaikum..

    Waalaikumussalam.
    Yang pertama, nikahnya tidak syah. Yang kedua, lelakinya tidak memenuhi kewajibannya. Jadi sudah seharusnya mereka berpisah.