Hukum Amalan yang Diniatkan Untuk Allah dan Selain Allah

April 14th 2012 by Abu Muawiah |

Hukum Amalan yang Diniatkan Untuk Allah dan Selain Allah

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:
Sebagian ulama menyatakan: Jenis amalan seperti ini ada tiga bentuk:
Pertama: Niat pertamanya dalam beramal adalah ikhlas, kemudian di tengah perjalanan ibadah dimasuki oleh riya` dan keinginan kepada selain Allah. Maka yang menjadi patokan di sini adalah niatnya yang pertama selama niatnya itu tidak dibatalkan dengan niat yang tegas untuk selain Allah. Jika dia membatalkannya maka hukumnya sama seperti memutuskan dan membatalkan niat di pertengahan ibadah.

Kedua: Sebaliknya, yaitu niat awalnya adalah untuk selain Allah, kemudian di tengah ibadahnya dia merubah niatnya untuk Allah. Maka yang seperti ini, amalannya yang sebelumnya tidak mendapat pahala dan yang mendapat pahala hanyalah amalan sejak dia merubah niatnya. Kemudian:
Jika ibadah yang dia sedang kerjakan tergolong jenis ibadah yang akhirnya tidak syah kecuali jika awalnya juga syah, seperti shalat, maka dia wajib mengulangi ibadahnya.
Tapi jika tidak maka dia tidak wajib mengulang ibadahnya. Seperti orang yang melakukan ihram haji dengan niat untuk selain Allah, kemudian ketika wuquf dan thawaf, dia merubah niatnya untuk Allah.

Ketiga: Dia memulai ibadahnya dengan meniatkan untuk Allah dan untuk manusia secara bersamaan. Maka dia mengerjakan ibadah itu untuk menunaikan kewajibannya sekaligus untuk mendapatkan balasan dan apresiasi dari manusia. Seperti orang yang shalat karena diberikan upah, dan seandainya pun dia tidak mengambil upah tersebut maka dia tetap shalat. Sehingga dia shalat untuk Allah dan juga untuk mendapatkan upah. Demikian halnya orang yang menunaikan haji dengan niat untuk menggugurkan kewajibannya, sekaligus agar orang-orang mengatakan: Si fulan telah haji. Demikian halnya ketika dia membayar zakat. Maka yang seperti ini, amalannya tidak diterima. Dan jika niat pada amalan tersebut merupakan syarat dari gugurnya kewajiban maka dia wajib mengulangi ibadahnya. Dikarena hakikat dari keikhlasan yang menjadi syarat syahnya amalan dan syarat adanya pahala, tidak ditemukan dalam ibadahnya. Sementara suatu hukum bergantung dengan syaratnya, dimana hukum itu tidak ada ketika syaratnya tidak ada. Hal itu karena keikhlasan adalah memurnikan niat dalam menaati Sembahan, dan ibadah tidaklah diperintahkan kecuali dengannya. Maka jika ini yang diperintahkan (beribadah dengan ikhlas, pent.) lantas dia tidak mengerjakannya maka beban ibadah itu tetap berada pada pundaknya.

Sunnah secara tegas telah menunjukkan hal ini, sebagaimana pada sabda beliau shallallahu alaihi wasallam:
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيامَةِ: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فَهُوَ كُلُّهُ لِلَّذِي أَشْرَكَ بِهِ
“Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat, “Saya adalah Zat yang paling tidak butuh pada sekutu. Karenanya siapa saja yang berbuat suatu amalan dimana dia menyekutukan Saya dengan selain Saya di dalamnya, maka amalannya semuanya untuk sekutu tersebut.” (HR. Muslim no. 2985)
Dan inilah makna firman Allah Ta’ala:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

[Source: Jami’ Al-Fiqhi li Ibni Al-Qayyim: 1/54-55, karya Yusri As-Sayyid Muhammad]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, April 14th, 2012 at 12:08 pm and is filed under Aqidah, Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Hukum Amalan yang Diniatkan Untuk Allah dan Selain Allah”

  1. abu ubaidillah said:

    Bismillah. Afwan, ana mau tanya Tadz. Bagaimana dengan seseorang yang beribadah agar Alloh memberikan jalan keluar baginya dari kesempitan dunia?
    Dan bagaimana cara menggabungkan perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab Tauhid :
    باب من الشرك إرادة الإنسان بعمله الدنيا
    “Termasuk Syirik Keinginan Seseorang Utk Mendapatkan Dunia dengan Amalannya”
    dengan penjelasan Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitab beliau Al Qoulul Mufid Syarh Kitab At Tauhid (3/149) dan dalam Majmu’ Fatawa (10/720):

    “Perkara ketiga : Jika seseorang dengan amalannya menginginkan dua kebaikan – yaitu kebaikan dunia dan kebaikan akhirat – maka hal tersebut tidak mengapa. Sebab Alloh ta’ala berfirman :

    {وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ}

    “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath Thalaq : 2-3)
    Dalam ayat tersebut) Alloh memotivasi untuk bertakwa dengan menyebut adanya jalan keluar dari segala kesempitan, dan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.
    Jika ada yang mengatakan : “Bagaimana bisa dikatakan ikhlas orang yang menginginkan dunia dengan amalannya, padahal dia menginginkan harta misalnya?”
    Jawabannya : Sesungguhnya dia telah ikhlas dalam ibadah tersebut, dan tidak mengharapkan makhluk secara mutlak dengan amalan itu, juga tidak menginginkan agar dilihat dan dipuji oleh orang-orang. Tetapi dia menginginkan materi, sehingga keikhlasannya tidak sempurna. Sebab, pada amalan seperti itu ada suatu kesyirikan, tetapi tidak seperti syirik riya yang mana dia menginginkan untuk dipuji dengan taqarrubnya kepada Alloh. Orang tadi dengan amalannya tidak menginginkan pujian orang-orang, tetapi hanya menginginkan sesuatu yang lain yang nilainya rendah.
    Tidak mengapa seseorang dalam shalatnya berdoa dan meminta agar Alloh memberikan rezeki berupa harta kepadanya. Tetapi hendaknya dia tidak melaksanakan shalat semata-mata demi hal itu, karena itu adalah kedudukan yang rendah.”

    Jazakumullahu khairan atas jawabannya.

    Wallahu a’lam. Salah seorang ulama -kalo nggak salah Ibnu Rajab rahimahullah- pernah menyebutkan bahwa jika suatu amalan ibadah memang ada dalil yang menunjukkan bahwa selain pahala akhirat, amalan itu juga mempunyai pahala dunia, maka yang seperti ini tidak mengapa dia meniatkan keduanya dalam ibadah tersebut.
    Beliau memberikan contoh silatuhmi. Siapa yang bersilaturahmi dengan niat karena Allah sekaligus diluaskan rezkinya maka itu tidak mengapa karena memang ada dalil yang menunjukkan itu.
    Tapi jika itu ibadah murni untuk Allah dan tidak ada pahala dunianya, maka ini tidak boleh diniatkan untuk dunia. Wallahu a’lam.

  2. Andi Isran said:

    Bismillah Ustadz kalau amalan itu awalnya ikhlas karena Allah kemudian setelah amalan itu selesai, ana ceritakan amalan tersebut kepada orang lain. pertanyaan ana :
    1. kalau maksud menceritakan amalan itu adalah
    karena Riya’ bagaimana dengan pahalanya
    ustadz?
    2. Kalau maksud menceritakan amalan itu adalah
    agar orang tersebut lebih paham dan yakin
    akan kebenaran amalan tersebut atau dengan
    maksud dakwah bagaimana kalau seperti ini
    ustadz?

    Jazakallahu Khairan

    1. Amalannya tidak terpengaruh karena sudah selesai, hanya saja dia telah berdosa karena sum’ah tersebut.
    2. Itu adalah amalan yang dibolehkan dan termasuk dakwah, insya Allah.

  3. Hukum Amalan yang Diniatkan Untuk Allah dan Selain Allah « Perahu Itu Tidak Berlayar di Atas Daratan said:

    […] Oleh : Al Ustâdz Abû Muâwiah Hammâd […]