Haramnya Riba Dalam Muamalat (selesai)

November 5th 2008 by Abu Muawiah |

Haramnya Riba Dalam Muamalat (selesai)

Hukum penambahan dalam transaksi dua barang ribawy sejenis namun berbeda mutu.
Misal : 1 gr emas 23 karat ditukar dengan 2 gr emas 21 karat.
Nampak dari uraian tentang haramnya riba fadhl bahwa tidak boleh melebihkan sesuatu apapun kalau barangnya sejenis, apakah mutunya sama atau berbeda.
Dan ini lebih dipertegas lagi dalam Hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairah riwayat Al-Bukhary dan Muslim :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَهُ بِتَمْرٍ جَنِيْبٍ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : (( أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا ؟ )) قَالَ : لَا, وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّا لَنَأْخَذُ الصَّاعَ مِنْ هَذَا بِالصَّاعَيْنِ وَالصَّاعَيْنِ بِالثَّلَاثَةِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : (( لَا تَفْعَلْ, بِعْ الْجَمْعَ بِالدَّرَاهِمِ ثُمَّ ابْتَعْ بِالدَّرَاهِمِ جَنِيْبًا )).
“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mempekerjakan seorang di Khaibar. Maka datanglah dia kepada beliau membawa korma Janib (korma dengan mutu sangat baik) maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bertanya : “Apakah semua korma Khaibar seperti ini ? ia menjawab : “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, kami mengganti satu sho’ dari (korma Janib) ini dengan dua sho’ (dari korma jenis lain) dan dua sho’nya dengan tiga sho’. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : Jangan kamu lakukan seperti itu, juallah semua dengan dirham (mata uang perak) lalu dengan dirham itu belilah korma Janib.”

Berkata Imam Asy-Syaukany : “Dan hadits (ini) menunjukan bahwa tidak boleh menjual (barter) jenis yang jelek dengan yang baik dalam bentuk ada penambahan, dan ini adalah perkara yang disepakati, tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama tentangnya”.
Dan di akhir hadits di atas, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memberikan jalan keluar yang bersih dan bebas dari riba untuk segala bentuk tukar menukar yang semisal dengan masalah penukaran korma di atas.
Demikian pula misalnya emas 1 gr 23 karat ditukar dengan 2 gr 21 karat, setelah mengetahui tidak bolehnya penukaran seperti ini, maka jalan keluarnya emas 23 karat ditukar dengan uang dahulu atau selain jenis emas kemudian dengan uang itu ia membeli emas 21 karat dan begitu seterusnya. Wallahul Muwaffiq.

Barang-barang yang tergolong ribawy:
Para ulama sepakat bahwa emas, perak, gandum, korma, sya’ir dan garam adalah barang ribawy berlaku padanya hukum-hukum riba.

Maka apakah ada barang ribawy selain emas jenis di atas ?
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang hal ini :
Pertama : Pengharaman riba hanya terbatas pada enam jenis ini. Ini pendapat Thawus, ‘Utsman Al-Butti, Qotadah, Abu Sulaiman, Ibnu Hazm Azh-Zhohiry dan Ibnu ‘Aqil Al-Hanbaly serta dikuatkan oleh Ash-Shon’any dalam Subulus Salam.
Kedua : Pengharaman riba tidak terbatas pada enam ini saja, tapi juga pada jenis-jenis barang lain yang semakna dalam ‘illatnya (sebabnya). Dan ini adalah pendapat jumhur ulama termasuk didalamnya Imam empat.

Tarjih:
Tiada keraguan bahwa yang kuat adalah pendapat yang kedua sebagaimana yang dikuatkan oleh ulama terkenal dari dulu sampai sekarang. Ada beberapa dalil yang menguatkan pendapat ini.
1.    Hadits Ma’mar bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ
“Makanan dengan makanan, semisal dengan semisal.”
Maksudnya : Kalau menukar makanan dengan makanan maka harus harus semisal tidak boleh melebihkan.
Sisi pendalilan : Konteks hadits dengan lafazh “makanan” dan kalimat “makanan” adalah umum sehingga tercakup didalamnya makanan selain dari yang terhitung pada enam jenis di atas.

2.    Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُزَابَنَةِ, أَنْ يَبِيْعَ تَمْرَ حَائِطِهِ إِنْ كَانَ نَخْلًا بِتَمْرٍ كَيْلًا وَإِنْ كَانَ كَرْمًا أَنْ يَبِيْعَهُ بِزَبِيْبٍ كَيْلًا وَإِنْ كَانَ زَرْعًا أَنْ يَبِيْعَهُ بِكَيْلِ طَعَامٍ, نَهَى عَنْ ذَلِكَ كِلِّهِ
“Rasulullah melarang dari al-Muzabanah (yaitu) seseorang menjual buah kebunnya, apabila pohon korma (maksudnya Ruthob yaitu korma yang belum matang) untuk (dijual/ditukar) dengan korma (matang) setakaran, apabila anggur untuk dijual dengan kismis setakaran dan apabila tanaman untuk dijual dengan setakar makanan, (Nabi) melarang dari hal itu semua.”
Sisi pendalilan : Hadits ini menunjukan bahwa hukum riba juga berjalan pada karam (anggur) dan kismis (anggur yang di keringkan) dan keduanya tidak termasuk dari enam jenis.

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa barang ribawy tidak terbatas pada enam jenis barang saja tapi juga pada barang lainnya yang mempunyai ‘illat yang semakna dengannya.

Tapi apakah ‘illat (sebab) yang menjadikan barang ribawy di atas dianggap sebagai barang yang berlaku padanya hukum riba ?.
Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, kami ringkas dengan kesimpulan sebagai berikut :

‘Illat barang ribawy yang telah berlalu penyebutannya terbagi dua :
Pertama : ‘Illat pada emas, perak dan yang sejenisnya.
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang ‘illat emas dan perak ini.
Satu : ‘Illatnya adalah karena ditimbang. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad dalam satu riwayat.
Jadi menurut pendapat ini emas dan perak itu termasuk barang ribawy karena emas dan perak masuk dalam katagori barang yang ditimbang dalam transaksi jual beli. Berati menurut pendapat ini hukum riba juga berlaku pada logam, besi dan lain-lainnya karena ‘illatnya sama yaitu ditimbang. Dan juga menurut pendapat ini uang kertas yang dipakai di zaman ini tidak berlaku padanya hukum riba karena kertas tidaklah ditimbang.
Dua : ‘Illatnya adalah karena Muthlaquts Tsamaniyah yaitu mempunyai nilai tukar dalam transaksi jual-beli. Pendapat ini adalah salah satu riwayat dari Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim dan ini yang dipegang oleh banyak ulama di zaman ini seperti dalam keputusan Hai`ah Kibar Ulama` Saudi Arabiah pimpinan Syaikh Ibnu Bazz dan juga keputusan beberapa Majma’ Fiqh (kumpulan/persatuan fiqh) tingkat Internasional dan ini pendapat yang kuat dalam masalah ini.
Maka menurut pendapat ini uang kertas, uang logam dan lainnya termasuk barang ribawy karena semakna dengan emas dan perak dalam ‘illat sebagai barang yang punya nilai tukar dalam transaksi jual-beli. Dan menurut pendapat ini besi, logam, kuningan dan lainnya, tidaklah termasuk barang ribawy karena bukan sebagai barang yang mempunyai nilai tukar dalam transaksi jual-beli.

Kedua : ‘Illat gandum, sya’ir, korma, garam dan yang sejenisnya.
Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama dalam menentukan ‘illat yang menyebabkannya termasuk barang ribawy.
Dan pendapat yang paling kuat bahwa ‘illatnya adalah karena bisa dimakan dan ditakar atau bisa dimakan dan ditimbang. Ini adalah pendapat lama dari Imam Asy-Syafi’iy dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Dan ini yang di kuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan beberapa ulama di zaman ini.
Jadi menurut pendapat ini, ‘illat gandum, sya’ir, korma, garam dan yang sejenisnya adalah kadang karena bisa dimakan dan ditakar dan kadang karena bisa dimakan dan ditimbang. Perbedaan antara takaran dan timbangan, takaran adalah penentuan kadar sesuatu dengan ukuran isinya seperti Sho’ (ukuran empat Mud), Mud (ukuran senilai dua telapak tangan sedang tidak kecil tidak pula lebar), liter dan lain-lainnya sedang timbangan adalah penentuan kadar sesuatu dengan ukuran berat atau ringannya seperti kilo dan sejenisnya.
Contoh : Daging. Barang ribawy karena bisa dimakan dan ditimbang (dikilo).
Contoh lain : Gula. Barang ribawy karena bisa dimakan dan ditakar (diliter).
Contoh lain : Durian. Bukan barang ribawy. Walaupun durian itu dimakan namun ia tidaklah ditimbang dan tidak pula ditakar melainkan dijual secara hitungan.

Riba Nasi’ah.

Nasi’ah secara bahasa bermakna mengakhirkan. Seperti dalam firman Allah Ta’ala :
إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ
“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan-bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang kafir dengan mengundur-undurkan itu.” (QS. At-Taubah : 37)
Dan secara istilah, riba Nasi`ah adalah menjual dua jenis barang yang sama dalam ‘illat riba fadhl dengan tidak secara kontan.

Contoh : seseorang membeli emas dengan harga 2 juta. Satu juta telah dibayar langsung dan satu juta lain pada bulan depan.
Ini termasuk riba Nasi`ah karena emas dan uang keduanya satu ‘Illat yaitu sama-sama memiliki nilai tukar. Maka transaksi harus secara kontan selesai dalam majelis itu.

Contoh lain : 1 kg beras ditukar dengan 2 kg garam. Satu kilo garam telah diserahkan dan satu kilo lagi di waktu lain.
Ini juga termasuk riba Nasi`ah karena pembayaran tidak kontan, padahal beras dan garam semakna dalam ‘illat yaitu kerena ditimbang atau dikilo dan bisa dimakan.

Adapun kalau ‘illatnya berbeda maka tidak harus kontan.
Contoh : Seseorang membeli korma 100 kg dengan harga Rp. 300.000,-, Rp. 200.000,- telah dibayar dan Rp. 100.000,- lagi dilunasi bulan depan. Contoh ini tidak termasuk riba sebab korma dan uang berbeda ‘illatnya.

Dalil Tentang Haramnya Riba Nasi`ah:
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
لاَ رِبَا إِلاَّ النَّسِيْئَةَ
“Tidak ada riba kecuali dalam Nasi`ah”. (HR. Muslim)

Dan dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
“Kalau jenis-jenis ini berbeda maka juallah sesuka kalian kalau tangan dengan tangan (maksudnya langsung dipegang/kontan, pen)”.

Kesimpulan Dari Riba Jual Beli:
Dari pembahasan riba Fadhl dan riba Nasi`ah mungkin bisa ditarik beberapa kesimpulan sebagai pijakan dan patokan dalam riba jual beli :

1.    Apabila ada dua barang ribawy sama dalam jenis dan ‘illatnya maka ketika terjadi penukaran antara satu jenis dengan yang lainnya maka disyaratkan padanya dua perkara ; Harus semisal dan sama dan harus saling pegang dan saat itu juga (kontan). Kapan tidak semisal dan sama maka itu terhitung riba Fadhl dan kapan tidak lansung pegang dan tidak kontan maka itu terhitung riba Nasi`ah.
Contoh : Mengganti emas dengan emas. Disyaratkan harus semisal dan sama dan harus kontan ketika terjadi penukaran.
Contoh lain : Menukar beras dengan beras. Disyaratkan harus semisal dan sama dan harus kontan ketika terjadi penukaran. Kapan dilebihkan maka terhitung riba Fadhl dan kapan ada pengunduran waktu dalam penyerahan maka itu terhitung riba Nasi`ah

2.    Dua barang ribawy yang sama dalam ‘illatnya namun berbeda jenisnya, maka dalam penukaran antara satu jenis dengan yang lainnya disyaratkan harus saling pegang dan saat itu juga (kontan) saja.
Contoh : Beras dan gula. Keduanya adalah barang ribawy dan ‘illatnya sama yaitu bisa dimakan dan ditakar (diliter) namun keduanya berbeda jenis. Apabila beras 20 liter ditukar dengan gula 30 liter maka itu hukumnya boleh tapi dengan syarat harus saling pegang dan saat itu juga (kontan).
Contoh lain : Penukaran Riyal (mata uang Arab Saudi) dengan Rupiah. Keduanya adalah barang ribawy dan ‘illatnya sama yaitu mempunyai nilai tukar (Muthlaquts Tsamaniyah) namun Riyal adalah satu jenis mata uang dan Rupiah adalah jenis mata uang lain. Andaikata Rs 1000,- di tukar dengan Rp 2.500.000,- maka hukumnya boleh. Tapi tidak boleh dikatakan –misalnya- : “Berikan Rs 1000,- sekarang dan tiga hari lagi Rp 2.500.000,- saya akan serahkan”, sebab itu artinya tidak harus saling pegang dan tidak saat itu juga (kontan) dan secara otomatis terhitung riba Nasi`ah.

3.    Apabila ada dua barang ribawy berbeda ‘illatnya maka tidak disyaratkan apa-apa ; boleh ada tambahan dan boleh tidak kontan.
Contoh : Korma ditukar dengan gula. Keduanya adalah barang ribawy namun ‘illatnya berbeda, korma ‘illatnya adalah dimakan dan ditakar sedang gula ‘illatnya adalah dimakan dan ditimbang.
Contoh lain : Membeli beras dengan uang rupiah. Keduanya adalah barang ribawy namun ‘illatnya berbeda, beras ‘illatnya adalah dimakan dan ditimbang (diliter) sedang uang rupiah ‘illatnya adalah mempunyai nilai tukar (Muthlaquts Tsamaniyah).
Maka dua contoh diatas, boleh ada pelebihan dan boleh tidak kontan.

4.    Apabila ada dua barang bukan ribawy maka boleh semuanya ; Boleh adanya pelebihan dan boleh tidak saling pegang dan dan saat itu juga (kontan).

Riba Hutang Dan Pembagiannya

Riba dalam hutang terbagi dua :
1.    Riba Jahiliyah
2.    Riba Hutang
Sebagian ulama menghitung riba jahiliyah masuk dalam bagian riba Nasi`ah. Dan Riba hutang juga oleh sebagian ulama dimasukkan ke dalam bagian riba Fadhl dan sebagian ulama lainnya menjadikannya sebagai bagian dari jenis riba yang tiga bersama riba Nasi`ah dan riba Fadhl. Namun pembagian-pembagian ini tidaklah merubah hakikat dan pengertian dari setiap dari jenis riba tersebut.

Riba Jahiliyah
Disebut sebagian riba jahiliyah karena ini yang merupakan asal riba pada jahiliah. Bentuknya : Apabila ada yang berhutang pada seseorang sampai waktu tertentu, pada saat tiba waktunya, datanglah pemilik hutang lalu berkata kepada orang yang berhutang kepadanya : “Kamu lunasi atau riba (yaitu kamu memberi tambahan karena kelonggaran waktu yang diberikan padamu)”.

Dan riba seperti ini adalah haram menurut kesepakatan ulama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ
“Dan jika (oerang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah penangguhan sampai dia berkelapangan.”

Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala mendustakan orang-orang musyrikin ketika mereka mengatakan bahwa jual beli itu sama dengan riba dalam Tanzil-Nya :
وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Riba Hutang
Bentuknya : Seseorang meminjamkan sesuatu dan mensyaratkan agar dikembalikan lebih baik darinya atau mensyaratkan mengambil manfaat karenanya. Riba hutang ini disebut oleh para ulama dalam satu kaidah yang berbunyi :
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا
“Setiap pinjaman yang menyebabkan manfaat maka itu adalah riba.”
Contoh : Seseorang meminjam uang sebanyak 1 juta tapi dengan syarat dikembalikan 1,5 juta.
Cotoh lain : seseorang meminjam pinjaman tapi pemilik pinjaman mensyaratkan agar ia dipinjami mobil atau dikontrakkan untuknya atau ia dinikahkan dengan putrinya dan seterusnya.
Riba Hutang hukumnya adalah haram menurut kesepakatan para ulama, dalil-dalil yang telah berlalu penyebutannya tentang haramnya riba juga mencakup riba hutang ini.
Dan telah dinukil dari beberapa orang sahabat mengenai pengharaman riba hutang ini, para sahabat itu adalah : ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin Salam, Ubay bin Ka’ab, Ibnu ‘Abbas dan Fudholah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhum.

Dari uraian di atas mungkin muncul satu pertanyaan : “Kalau peminjam memberi hadiah/manfaat kepada pemilik pinjaman, apakah itu termasuk riba?”
Jawab :
Kalau pemilik pinjaman mensyaratkan adanya hadiah itu maka hal tersebut termasuk riba hutang sebagaimana yang telah dijelaskan. Adapun kalau pemilik pinjaman tidak mesyaratkan dan tidak pula meminta lalu peminjam memberikan padanya hadiah/manfaat, maka tidak lepas dari dua keadaan :
Pertama : Pemberian hadiah/manfaat tersebut setelah pinjaman lunas atau saat melunasi. Bentuk seperti ini hukumnya adalah boleh berdasarkan hadits Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
“Yang paling baik diantara kalian adalah yang terbaik dalam membayar (hutang).”

Dan dalam Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim :
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ لِيْ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَضَانِيْ وَزَادَنِيْ
“Saya datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan beliau ada berhutang kepadaku. Maka beliau melunasinya kepadaku dan menambah untukku.”

Kedua : Pemberian hadiah/manfaat sebelum pinjaman lunas.
Hukumnya tidak boleh dan tergolong ke dalam pinjaman yang menyebabkan datangnya manfaat (riba hutang) kecuali kalau sebelumnya memang antara pemilik pinjaman dan si peminjam ada kebiasaan saling memberi hadiah.

Demikian kesimpulan masalah ini, kami sarikan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Ibnul Qayyim, Syaikh Sholeh Al-Fauzan dan lain-lainnya. Wallahu A’lam

Incoming search terms:

  • haramnya riba
  • riba dalam jual beli
  • jual barang dikreditkan termasuk riba kah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, November 5th, 2008 at 9:31 pm and is filed under Ekonomi Islam. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

20 responses about “Haramnya Riba Dalam Muamalat (selesai)”

  1. sirr said:

    Afwan ustadz, apa hukum membayar utang dengan uang sebanyak uang yang dipinjam tapi diikutkan dengan buah-buahan? Apa dari jenis riba? Tolong penjelasannya.

    Nggak masalah insya Allah, itu bukan riba dengan syarat buah-buahan itu diserahkan saat pelunasan utang (misalnya dicicilan terakhir jika pembayarannya dicicil). Sebagian ulama menambahkan syarat lain yaitu sudah ada kebiasaan di antara mereka untuk saling memberikan hadiah. Wallahu a’lam.

  2. abang said:

    ada yg mengatakan bahwa uang rupiah itu sendiri adalah riba, krn diproduksi oleh bank indonesia yg notabene bank ribawi. Apa benar ?

    Itu tidak benar, orang itu tidak paham mengenai definisi riba.

  3. dnoers said:

    Assalamualaikum…
    Tentang riba yang saya alami sekarang mohon petunjuk yang benar.
    1.Saya seorang PNS yang pinjam uang Rp 50 juta dari bank riba, dengan jangka waktu pembayaran 8 tahun dibayar oleh gaji dengan cara dicicil, adapun uangnya saya pakai untuk renovasi rumah, keperluan hidup, dan beli sebidang tanah,dan kalau saya mau taubat berapa kah jumlah uang yang termasuk riba?apakah yang 50 juta termasuk riba juga? apakah saya harus menjual rumah yang telah direnovasi untuk menghilangkan riba? Bagaimana cara taubatnya?
    2. saya mencicil motor selama 3 tahun dan sekarang hampir lunas/ tinggal beberapa bulan lagi.Apa yang harus saya lakukan terhadap motor itu? Berapa yang termasuk ribanya? Contohnya harga motor 11 juta kalau cash, kalau kredit menjadi 18 juta, apakah yang harus saya infakkan itu uang 7 juta, atau harga motor semuanya harus di infakkan?
    Jawabannya mohon dikirim juga ke alamat email saya. Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    1. Tidak ada kewajiban apa-apa kecuali melunasi hutang kepada bank. Taubatnya cukup dengan istighfar sebanyak-banyaknya, berbuat kebaikan dan bersedekah sebanyak-banyaknya, dan tidak mengulanginya. Sama sekali tidak ada kewajiban menjual rumah tersebut.
    2. Kredit motor bukanlah riba sama sekali, karenanya tidak ada yang salah dalam muamalah di atas.

  4. Kikie said:

    Ass. Mau tanya, boleh ngak bayar riba dengan uang riba. Sebab saya bingung mau dikemanakan bunga bank, sedangkam saudara saya sedang terlilit utang dengan bank tempat saya menabung. Kalau boleh saya mau membantu membayar bunganya. Terus terang bunga pinjaman bank memang menyusahkan

    Tidak boleh, karena memberikan makan kepada orang lain dengan riba termasuk dari hal yang diharamkan. Membayar hutang ada suatu kewajiban dan dia wajib membayarnya dari hartanya sendiri, sementara harta riba bukanlah miliknya.

  5. hendri said:

    Assalamu’alaikum

    Ustadz,
    Misalnya A menggadaikan rumah ke B dengan harga sekian. Kemudian si B meminta ke si C untuk menempati rumah tersebut. Bagaimana hukum dengan C apakah dia juga terkena hukum riba hutang?

    Waalaikumussalam.
    Jika si C tidak mengetahui masalahnya maka insya Allah dia mendapat uzur. Tapi jika dia mengetahui masalahanya maka dia tidak sepatutnya tinggal di rumah tersebut karena dia turut andil dalam terjadinya riba.

  6. Zulhaidir said:

    Bismillah,

    Barakallahu fiikum.
    Ustadz. JIka seseorang rencana berutang Misalnya 10 Jt pada seseorang dengan pelunasan secara cicil kemudian pada saat mengucapkan maksudnya tersebut menambahkan kata-kata. “Dan saya akan menambahkan 2.5 jt setelah utang saya lunas”. Apakah hal tersebut termasuk dalam riba?

    Jazamumullah khoiran.

    Ia itu riba.

  7. abu ridha said:

    Assalamualaikum,
    ustadz, Pegadaian Syariah telah mengeluarkan produk jual beli emas dengan cara berikut:
    misal harga emas 10 gram adalah Rp4 juta,
    a. jika beli kontan pegadaian meminta margin 3% ditambah ongkos kirim sehingga pembeli harus membayar Rp4,22 juta.
    b. jika dicicil 6 bulan, pegadaian meminta margin 6% ditambah ongkos kirim, menjadi Rp4,34 juta dengan syarat uang muka 25% (harga emas+margin)+ ongkos kirim yaitu Rp1,16 juta, kemudian sisanya Rp3,18 juta dibayar 6x (@Rp530 ribu). Pembeli dapat mengambil emas apabila cicilan sudah dilunasi.

    Apakah (a) termasuk jual beli yang halal sedangkan (b) termasuk jual beli yang riba, walaupun emas baru dapat diambil apabila cicilan sudah dilunasi?

    Waalaikumussalam.
    a. Maksudnya margin apa dan apa fungsinya.
    b. Muamalah yang kedua ini jelas haram karena merupakan riba

  8. dani said:

    Assalamu’alaykum ustadz…

    saya ada pinjam ke atasan saya sekian rupiah untuk membantu membuka usaha toko. dan atasan saya tersebut tidak mensyaratkan apapun dalam pinjaman saya…

    setelah beliau memberikan pinjaman tersebut, selang 1 bulan saya memberikan hadiah kepada beliau sekian rupiah sementara hutang saya belum lunas (karena perjanjian memang akan saya lunasi dalam jangka 10 bulan) riba kah hadiah tersebut ustadz? sedangkan itu hanya sekedar ungkapan terimakasih karena telah membantu usaha saya. murni dari dari saya sendiri…

    Jazakumullah khoiran
    Wassalamu’alaykum

    Waalaikumussalam.
    Ia itu adalah riba, wallahu a’lam

  9. abu muthia said:

    asalamua’alaikum?
    klo kredit motor bukan riba,apakah kredit rumah(KPR BTN)termasuk riba apa bukan? krn ana ingin punya rumah tp blm sanggup beli rumah dg kontan/cash

    Waalaikumussalam
    Insya Allah bukan riba selama bunganya flat.

  10. prama said:

    Assalamu’alaikum

    bagaimana deposito syariah ustad?? karena mereka mengatakan itu bukan bunga tp diperdagangkan dengan sistem bagi hasil, untungnya diberikan kpd kita sehingga kita mendapatkan uang yg lebih dari yg kita simpan. Namun besar keuntungannya sudah ditetapkan perbulannya.

    jazakalloh khoir..

    Waalaikumussalam.
    Itu adalah tipuan. Kalau keuntungan sudah ditetapkan setiap bulan, maka itu jelas bukan bagi hasil tapi hutang, karena tidak ada yang mengetahui perkembangan usahanya setelahnya. Ditambah lagi, keharusan bagi hasil itu adalah kalau usaha bank bangkrut karena faktor alami maka anda tidak berhak meminta uang anda kembali, dan tentunya bukan untuk itu maksud anda menyimpan uang di bank tersebut.
    Karenanya deposito itu adalah pinjaman kepada bank, dan bagi hasil tiap bulan itu adalah riba.

  11. prama said:

    jazakalloh khoir ustad..

  12. amrih said:

    ustadz, apakah juga riba jika kita meminjamkan motor kepada teman kita tapi waktu itu ada sedikit kerusakan pada motor tersebut, kita meminjamkannya dengan meminta teman kita untuk membawanya dulu ke bengkel meskipun itu menggunakan uang dari kita…

    Tidak ada sama sekali riba di situ.

  13. wawan said:

    Assalamu’alaikum

    1. Mengapa Riba diharamkan ?
    2. Kalau bunga Bank riba, semestinya bagi hasil Bank syariahpun juga termasuk riba. Apakah demikian ?
    3. Kalau orang berhutang tidak (bisa) membayar bagaimana dengan nasib orang yang menghutangi ? lama-lama apakah masih ada orang yang mau meminjamkan hutang ?
    4. Misal A meminjam uang sebesar 1000 rupiah pada tahun 2000 kepada B, Si A baru bisa melunasi kepada B tahun 2010. Kalau si A tetap hanya mengembalikan sejumlah 1000 rupiah, apakah A tidak mendzalimi B ?
    wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    1. Karena Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya.
    2. Ya, memang bunga/bagi hasil bank syariah juga riba. Hanya namanya saja yang dirubah dari bunga menjadi bagi hasil, tapi hakikatnya sama.
    3. Tidak sepantasnya seseorang itu berhutang jika dia tidak yakin bisa melunasinya. Untuk menyelesaikannya jika yang berutang tidak bisa membayarnya maka diselesaikan secara kekeluargaan.
    4. Itu sama sekali tidak menzhalimi si B.

  14. wawan said:

    ustadz, bagaimana cara mengelola keuangan yang benar di zaman sekarang ini kalau tidak melibatkan Bank untuk menghindari Riba ? Disimpan di rumah jelas mengundang bahaya, dalam bentuk barang (tanah, sawah dll) tidak praktis bila sewaktu-waktu ingin menggunakannya.

    Mengapa kredit motor dan rumah ustadz katakan bukan riba, padahal jelas ada perbedaan harga antara membeli tunai dan kredit ?

    Saya pernah membaca bahwa membeli secara kredit (dengan selisih harga) dan Asuransi adalah juga termasuk muamalah yang dilarang. Bagaimana pendapat ustadz ?

    Sebagian ulama membolehkan menyimpan uang di bank jika alasannya keamanan.
    Memang asal muamalah kredit ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Hanya saja kami lebih condong kepada pendapat mayoritas ulama di zaman ini yang membolehkannya. Wallahu a’lam.
    Adapun asuransi, maka di antaranya ada yang halal dan di antaranya ada yang haram. Tergantung sumber dananya dari mana.

  15. adibing said:

    afwan tanya ustadz…

    Adakah bentuk2 saling kontan jika transaksi / jual beli dilakukan secara online, dan disyaratkan dalam jual beli itu adanya saling kontan ??

    Wallahu a’lam. Yang jelas tidak mengapa jual beli online tanpa harus kontan selama yang diperjual belikan bukan sesama barang ribawi yang sama dalam hal illatnya.

  16. Zul said:

    Ustadz mau nanya:

    Terkait pertanyaan sebelumnya dari Sdr. Wawan.
    Misalnya pada tahun X si A meminjamkan uang Rp. 1000 kepada si B, pada tahun tersebut, dengan uang Rp. 1000 kita dapat membeli dua bungkus mie instan.
    Kemudian beberapa tahun kemudian (anggap tahun Y) si B melunasi utangnya ke si A senilai Rp. 1000, pada tahun Y, dengan uang Rp. 1000 kita hanya dapat membeli satu bungkus mie instan.
    Apakah ini tidak menzholimi si A?
    (Maksud pertanyaan saya adalah, apakah kenaikan harga/inflasi tidak diperhitungkan dalam utang piutang?, karena dengan inflasi, nilai tukar mata uang akan berbeda)

  17. mimi said:

    assalamua’alaikum.
    tnya ustadz:

    * bagaimana hukum pengalokasian dana non halal bagi fakir miskin atau untuk kesejahteraan rakyat, yang mana dana tersebut dari hasil riba atau bunga bank????
    syukron katsir………

    Waalaikumussalam.
    Tidak boleh. Di antara orang yang dilaknat dalam masalah ini adalah orang yang memberi makan kepada orang lain dengan uang riba.

  18. rizki said:

    misalkan saya meminjam uang 500rb kemudian byar’x saya cicil tiap bulan sebesar 120 dalam tempo 5bln apkh hukum’x riba

    Ya, itu jelas hukumnya riba.

  19. syekhan arya putra siradz said:

    Assalamualaikum…
    maaf mau tanya ustadz…
    jika misal’a si A minjem uang k,si C .. Tapii si C tuh uang’a uang haram. Lalu uang haram itu dii pinjemin ke,si A ..
    Nah pertanyaan’a.
    si A ikutan dosa ga? Nerima pinjeman uang dr si C? Sedangkan uang cii C status’a itu haram….

    Waalaikumussalam.
    Tidak berdosa insya Allah, karena yang menanggung dosa adalah yang mendapatkan uang haram itu secara langsung.

  20. nopianti said:

    Pak ustad, sy mau tanya. Ibu sy meminjam uang dibank u/ membangun sebuah usaha. Tp usaha ituitu tdk sepenuhx hsil uang pinjam bank karna ada hasil gaji bapak sy jg yg dimasukan ddidlmx. Yg mau sy tanyakan, apakah hasil dr usaha tersbut menjdi haram dan kalau haram apa kami harus memenutup usaha tersebut walau membangunnya dg sangat bersusah payah.

    Memang tidak dibenarkan meminjam uang dari bank, hanya saja hal itu tidak menyebabkan bangunan yang dibangun dari uang itu menjadi tidak bolh digunakan. Karenanya, bangunan itu boleh dia gunakan, namun dia wajib bertaubat kepada Allah karena telah meminjam dari bank.