Haramnya Persaksian Palsu

June 28th 2010 by Abu Muawiah |

15 Rajab

Haramnya Persaksian Palsu

Allah Ta’ala berfirman:
وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
“Dan jauhilah ucapan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)
Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
“Dan janganlah kamu berdiri pada sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra`: 36)
Abi Bakrah radhiallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ
“Inginkah kalian kuberitahukan mengenai dosa besar yang paling besar?” Beliau menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah”. Maka beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orangtua”. Lalu beliau duduk padahal sebelumnya dalam keadaan bersandar, kemudian melanjutkan sabdanya: “Ketahuilah, juga ucapan dusta.” Dia (Abu Bakrah) berkata, “Beliau terus saja mengatakannya berulang-ulang hingga kami mengatakan, “Sekiranya beliau diam”. (HR. Al-Bukhari no. 78 dan Muslim no. 5975)
Yakni: Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam sangat menekankan masalah ini hingga beliau mengulang-ulanginya sehingga seakan-akan beliau mendapatkan kesusahan darinya. Karenanya para sahabat mengharap agar beliau berhenti karena kasihan melihat kerasnya usaha beliau dalam mengingatkan umatnya akan hal ini.

Penjelasan ringkas:
Persaksian palsu adalah persaksian yang bohong atau dusta, dimana dia mempersaksikan sesuatu yang dia tidak ketahui atau mempersaksikan sesuatu yang dia tidak dengar atau mempersaksikan sesuatu yang tidak dia lihat. Dan Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan ditanyai pada hari kiamat. Dikhususkan penyebutan ketiga perkara ini, karena ketiga perkara ini yang berkenaan langsung dengan ilmu, yang mana ilmu ini merupakan dasar dari ucapan dan persaksian. Hal itu karena tidak ada satupun ilmu yang masuk ke dalam diri seorang kecuali melalui pendengaran dan penglihatan, dan ilmju yang masuk akan diolah dihati. Didahulukan penyebutan pendengaran daripada penglihatan karena pendengaran bisa menyerap lebih banyak ilmu daripada penglihatan. Penglihatan hanya bisa menyerap ilmu dari sesuatu yang dia lihat, sementara pendengaran bisa menyerap ilmu walaupun dari sesuatu yang dia tidak lihat. Karenanya siapa saja yang berucap dan bersaksi dengan selain ilmu/informasi yang masuk ke dalam hatinya melalui pendengaran dan penglihatannya, maka walaupun dia menyembunyikannya di dunia, niscaya Allah Ta’ala akan membongkarnya pada hari kiamat tatkala pendengaran, penglihatan, dan hati orang tersebut dimintai pertanggungjawaban.

Persaksian palsu merupakan dosa besar bahkan merupakan dosa besar yang ketiga setelah kesyirikan dan durhaka kepada kedua orang tua. Bahkan bisa dilihat bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam betul-betul mengingatkan besarnya dosa ini, sampai-sampai beliau mengulanginya terus-menerus dan sampai-sampai beliau merubah posisi duduk, dari duduk santai (duduk sambil berbaring) menjadi duduk yang tegap. Semuanya beliau lakukan agar para sahabat juga serius mendengarnya dan serius dalam menanggapinya.
Persaksian dusta ditempatkan sebagai dosa besar yang ketiga karena di dalam amalan ini terdapat dua dosa besar lainnya, yaitu: Ucapan dusta dan menjadi sebab terlantarnya hak-hak manusia atau terzhaliminya mereka. Karena tatkala seseorang bersaksi dengan kedustaan maka pasti akan ada pihak yang dirugikan atau dizhalimi.

Incoming search terms:

  • persaksian palsu
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, June 28th, 2010 at 6:55 am and is filed under Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Haramnya Persaksian Palsu”

  1. Mawardi said:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Maaf, ustadz. Saya mau bertanya masalah ‘persaksian 2 orang wanita sama dengan persaksian 1 orang pria’. Apakah sama antara perkataan dengan persaksian? Kadang dalam hadits sering saya jumpai perkataan dari isteri Rasulullah s.a.w, misalnya: “Aisyah berkata…” Apakah perkataan isteri Rasulullah s.a.w di dalam hadits hanyalah perkataan biasa atau persaksian yang baru bisa dipercaya jika ada pria atau wanita lain yang bersaksi serupa?
    Saya merasa perlu menanyakan ini karena orang-orang kafir sering menggunakan ‘persaksian 2 orang wanita sama dengan persaksian 1 orang pria’ untuk mementahkan cerita pengalaman hidup wanita yang menjadi muallaf. Kalimat itu juga digunakan untuk mementahkan tulisan-tulisan dari kalangan muslimah yang ingin membantah segala fitnah yang dilancarkan orang-orang kafir terhadap Islam yang marak terjadi di internet(biasanya ‘menyerang’ masalah penggunaan nama Allah, sejarah Ka’bah, pribadi Rasulullah s.a.w, dan keotentikan Al-Qur’an). Menurut mereka (orang-orang kafir), Muhammad sendirilah yang mengajarkan memperlakukan wanita seperti itu.
    Bisakah ustadz menjelaskan lebih detail kepada saya masalah persaksian wanita. Terima kasih sebelumnya.

    Waalaikumussalam.
    Tentunya beda antara berkata/berbicara dengan bersaksi. Perkataan atau ucapan itu lebih umum dari persaksian. Setiap persaksian adalah ucapan tapi tidak semua ucapan itu persaksian.
    Lagi pula persyaratan harus 2 wanita itu tidak berlaku pada semua perkara. Detail masalah ini insya Allah pada tempat yang lain.