Haramnya Isbal Secara Mutlak

July 20th 2010 by Abu Muawiah |

07 Sya’ban

Haramnya Isbal Secara Mutlak

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ
“Apa yang berada di bawah mata kaki berupa kain sarung maka tempatnya adalah dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 5787)
Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu anhuma dia berkata:
مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ! فَرَفَعْتُهُ. ثُمَّ قَالَ: زِدْ! فَزِدْتُ. فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ. فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ
“Aku pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain sarungku saya terjurai (sampai ke tanah). Maka beliau bersabda, “Hai Abdullah, naikkan sarungmu!” Maka akupun langsung menaikkan kainku. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Naikkan lagi!” Maka akupun menaikkan lagi. Dan setelah itu aku selalu menjaga agar kainku setinggi itu.” Ada beberapa orang yang bertanya, “Sampai di mana batasnya?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan kedua betis.” (HR. Muslim no. 2086)

Penjelasan ringkas:
Hadits riwayat Al-Bukhari di atas menunjukkan tiga perkara:
1.    Haramnya isbal atau memanjangkan kain melewati mata kaki, bahkan amalan ini merupakan dosa besar karena di ancam dengan neraka.
Hukum ini berlaku secara mutlak, baik pelakunya melakukannya karena sombong maupun tidak, hanya saja yang melakukannya karena sombong lebih besar dosa dan siksaannya. Karena, barangsiapa yang melakukan isbal tanpa kesombongan maka diancam masuk neraka. Sementara yang melakukannya karena sombong maka siksaannya lebih besar, yaitu Allah tidak akan berbicara kepadanya dan tidak akan melihatnya, serta baginya siksaan yang pedih di dalam neraka.

2.    Hadits di atas berlaku umum untuk semua kain baik berupa celana, sarung, baju, dan semacamnya yang dipakai.

3.    Tinggi minimal kain adalah jangan sampai berada di bawah mata kaki. Artinya, jika sebagian mata kakinya nampak dan sebagian lain tertutup dengan kain, maka ini belum termasuk isbal yang diharamkan karena kainnya belum sampai di bawah mata kaki.

Adapun hadits Ibnu Umar di atas, maka dia menunjukkan tinggi kain yang disunnahkan, yaitu sampai pertengahan betis.

Incoming search terms:

  • isbal dalam islam
  • haramnya isbal
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, July 20th, 2010 at 3:34 am and is filed under Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

15 responses about “Haramnya Isbal Secara Mutlak”

  1. Muslim said:

    Assalamu`alaikum
    Ana mau tanya tntang isbal ini ustadz,kan dalam teks hadits di atas hanya disebutkan kain sarung,apakah hal ini juga berlaku untuk celana panjang atau baju gamis serta bagaimana dengan hukum memakai kaos kaki, apa kaos kaki termasuk isbal? Mohon penjelasan ustadz segera. Supaya hati saya tak bimbang. Jazakallah

    Waalaikumussalam
    Ia, haditsnya berlaku umum untuk semuanya.
    Memakai kaos kaki bukanlah isbal, sama halnya dengan memakai sepatu. Karena memakai khuf (sepatu yang menutupi mata kaki) dan jaurab (kaos kaki) adalah hal yang disepakati akan bolehnya.

  2. ummu husein said:

    assalamu’alaikum wrwb
    bagaimana hukumnya bila laki2 memakai jubah yang panjang,sebagaimana kalangan orang2 arab memakainnya.
    wassalam

    Waalaikumussalam
    Memakai jubah bagi lelaki hukum asalnya adalah mubah dan bukan sunnah. Akan tetapi pelakunya akan mendapat pahala jika dia meniatkan untuk mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam yang beliau ini memakai jubah sebagaimana orang-orang arab lainnya.

  3. Abu Dzulfiqar said:

    Bismillah…

    Ada saudara ana yg berkata bahwa semua hadits yg menerangkan tentang isbal itu hanya menyangkut izaar(sarung). Dia tidak menemukan dalil yg jelas untuk selain sarung, sehingga dia masih ragu untuk menaikan celananya diatas mata kaki.

    Walaupun ana sudah kasih dalil yg bersifat umum, “Apa-apa yg berada dibawah mata kaki tempatnya dineraka”, tetap dia masih minta dalil yg jelas dari segi lafadz untuk celana.

    Bagaimana bantahannya ya Ustadz ?

    Kalau seperti itu tidak perlu diladeni lagi, soalnya haditsnya sangat jelas dan berlaku umum. Mungkin yang butuh dipahamkan kepadanya adalah tidak semua masalah agama itu mempunyai dalil khusus akan tetapi ada di antaranya yang hanya berupa dalil umum. Misalnya pengharaman narkoba, apakah saudara antum itu tidak mengharamkan narkoba sampai ada kata narkoba di sebutkan dalam hadits?

  4. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullah,

    Pak Ustadz.
    Di dalam kitab yang merupakan penjelasan dari kitab Shahih Muslim, yaitu Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menuliskan pendapat:
    وأما الحاديث الطلقة بأن ما تت الكعبي ف النار
    فالراد با ما كان للخيلء لنه مطلق فوجب حله على
    القيد. وال أعلم
    Adapun hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka
    wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a’lam.

    Bagaimana kita menyikapi tulisan di atas tersebut?
    Mohon penjelasannya.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullah.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Silakan baca penjelasannya di sini: http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2903-hukum-celana-di-bawah-mata-kaki.html

  5. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
    Terimakasih atas jawaban yang gamblang dari Pak Ustadz.

    Saya tergelitik untuk menanyakan hal tersebut di atas karena ada teman yang mengatakan bahwa isbal ini adalah hal ikhtilaf sehingga dia katakan tidak akan menjalankannya. Dia merujuk kepada sebuah informasi yang disampaikan oleh salahseorang ustadz (di internet juga) yang berjudul Fiqih-ikhtilaf (bentuk PDF) yang mengatakan bahwa klaim pengharaman isbal secara mutlak adalah kurang tepat. Akibatnya dia meyakini bahwa isbal menjadi boleh (karena adanya ikhtilaf para ulama- dan dengan hanya membaca informasi tersebut)- Saya juga sempat bingung.

    Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sikap kita selaku orang yang baru belajar islam terhadap adanya ikhtilaf? (dengan adanya keterbatasan pemahaman dan kapasitas keilmuan)

    Ada juga ustadz yang mengatakan bahwa amalan/praktek ibadah yang hukumnya sunah boleh untuk sementara di’tangguhkan’ sepanjang pelakunya tidak jatuh kepada hal yang haram.
    Alasannya: Masing-masing orang hukumnya bisa berbeda tergantung kondisi dirinya dan kapasitasnya dalam memahami hadis tersebut.

    Ia juga mengatakan bahwa jangan sampai kita melaksanakan amalan sunah membuat orang lain lari dari islam dengan mencontohkan hadits yang menceritakan teguran nabi Shallallahu Alaihi Wassalam terhadap Sahabat Mu’adz bin Jabal radliallahu anhu?
    Mohon penjelasan kembali.
    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Jika semua pihak yang berbeda pendapat mempunyai dalil yang shahih dan mempunyai pendahulu yang berpendapat dengannya serta khilafnya juga bukan dalam masalah ushul (prinsip), maka hendaknya kita saling mentolerir dan menghargai satu sama lain. Walaupun tetap dibolehkan adanya nasehat menuju pendapat yang lebih tepat.
    Ya, boleh menangguhkan amalan sunnah jika memang ada maslahat besar yang ingin diraih.

  6. prasetyo said:

    assalamualaikum
    ustad bagaimana jika memakai sepatu boot/ sepatu safety yang tingginya sampai lebih dari mata kaki atau menutupi mata kaki? apa termasuk isbal?

    Waalaikumussalam.
    Bukan termasuk isbal. Isbal itu mengulurkan kain dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas.

  7. Heru Adi H said:

    Haram melakukan isbal, berarti hukumnya wajib ya seperti layaknya sholat 5 waktu yang wajib. Mohon penjelasannya ustadz …

    Ya, hukumnya wajib.

  8. Rian said:

    Assalamu’alaikum ustadz,
    Kalau celananya menutup mata kaki, tapi jika duduk ataupun ruku’, tapi mata kakinya terlihat, apakah itu sudah melewati batas isbal? terima kasih atas jawabannya.

    Waalaikumussalam.
    Yang jadi patokan adalah ketika dia berdiri tegak dan mata kakinya terlihat. Jadi, kalau pada dasarnya, celananya di atas mata kaki, tapi ketika duduk atau ruku’, mata kakinya tertutup maka itu tidak termasuk isbal, walaupun lebih baik lagi jika dia tetap mencegah terjadinya hal seperti itu.

  9. Abu Adriansyah said:

    Bismillah
    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
    Afwan Ustadz, ana mau tanya sepurar masalah isbal.
    Apabila celananya itu asalnya melebihi mata kaki lalu dilipat tanpa dijahit sampai diatas mata kaki itu masih digolongkan isbal atau tidak? Kalau ada ana minta di cantumkan hadits / fatwa yang menjadi hujjah dari hal diatas karena di sekitar ana ada beberapa ikhwan yang melakukannya.
    Atas jawabannya ana ucapkan jazaakumulloh Khoiron katsiron.

    Waalaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh
    Tidak ada masalah, mau dilipat atau dijahit, yang penting ketika digunakan tidak menutup mata kaki.

  10. hamba Allah said:

    Sebagai perbandingan, contoh tulisan yang menjelaskn isbal tanpa sombong hukumnya mubah; http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/04/06/hukum-isbal-dalam-islam/

    Jazakallahu khairan atas infonya. Dan sebagaimana yang dikatakan di akhir artikel tersebut:
    Namun hal ini tidak berarti bolehnya mengejek pendapat yang mengatakan bahwa Isbal haram secara mutlak,karena pendapat ini juga dinyatakan oleh ulama-ulama berilmu juga seperti Ad-Dhohiry, Qodhi ‘Iyadh, Ibnu Al-’Aroby, Ad-Dzahaby,As-Shon’ani yang diikuti oleh sejumlah ulama kontemporer bin Baz, Al-Albani, dan Ibnu ‘Utsaimin. Pendapat yang mengharamkan Isbal secara mutlak harus dihormati sebagai salah satu ijtihad dalam ijtihad Fikih.

    Penghormatan yang sama juga diberikan kepada yang berpendapat bahwa Isbal tanpa sombong dihukumi makruh. Pendapat ini juga dinyatakan ulama-ulama besar seperti Ibnu Abdil Barr, An-Nawawi, Ibnu Qudamah dll.

    Pendeknya, tidak ada celaan dalam ijtihad selama ijtihad itu dilakukan dengan kaidah-kaidah Istinbath (penggalian hukum) yang Shahih. Semua ijtihad terpuji meskipun salah. Namun ijtihad yang benar tetap lebih utama daripada ijtihad yang salah. Manapun dari penjelasn hukum tentang Isbal tanpa sombong yang benar di sisi Allah, baik yang berpendapat haram mutlak, makruh maupun Mubah semuanya terpuji dan setiap mukallaf hendaknya memilih pendapat yang dipandangnya paling kuat dan paling dekat dengan kebenaran. Wallahua’lam.

    Kami lebih cenderung berpendapat akan haramnya isbal secara mutlak. Wal ‘ilmu indallah.

  11. Aldy said:

    Ass.pak ustad saya mau tanya,apa hukumnya memakai celana sampai menutupi mata kaki ?
    Saya lihat banyak sekali pak ustad yang memaki celana sampai menutupi mata kakinya,misalnya seperti ustad maulana. Yg membawa ceramah islam itu indah di trans tv.
    Apa hukumnya ?
    Tolong jelaskan kan pak.kalau ada hadistnya!

    Menutupi mata kaki dengan celana termasuk isbal. Dan itu dilarang berdasarkan hadits-hadits yang tersebut di atas.

  12. Aldy said:

    Aslm.pak ustad bagaimana kalau tidak di rasa dgn sombong bagaimana hukumnya ?
    Kan abu bakar kata rasullulloh tidak bermaksud seperti itu ?

    w

    a’alaikum salam warahmatullah.

    Hadits-hadits yang menyebutkan ancaman atau larangan isbal bersifat mutlak dan tidak bisa ditaqyid(dibatasi) dengan hadits-hadits larangan isbal karena sombong(yaitu hadits yang bersifat muqayyad), kenapa hadits yang bersifat mutlak tidak bisa ditaqyid(dibatasi) dengan hadits-hadits yang berfsifat muqayyad ??? Karena sebab dan hukumnya berbeda.
    Hadits-hadits yang bersifat mutlak hukumnya disiksa dineraka dan sebabnya adalah menurunkan pakaian melewati mata kaki. Sedangkan orang yang menurunkannya karena sombong hukumnya adalah Allah tidak akan melihatnya (pada hari kiamat), yakni sebabnya adalah sombong.Dan tidak semua dalil yang mutlak dibawa kepada (makna) dalil yang muqayyad. (MT)

  13. Mita said:

    Aslm.pak ustad bagaimana kalau pakainnya pas-pasan di mata kaki,apakah itu isbal ?terimakasih!

    wa’alaikum salam warahmatullah.
    sepanjang tidak menutupi mata kaki, maka itu bukan isbal. (MT)

  14. orang awam said:

    ustadz, kesimpulannya bahwa setiap pakaian kita berupa; sarung, celana panjang, jubah dan gamis. bagian bawahnya tidak boleh melebihi mata kaki kita? kpd siapakah larangan ISBAL ini ditujukan? apakah juga kpd kaum wanita atau khusus untuk laki-laki saja?
    terimakasih atas jawaban ustadz saya doakan semoga Alloh membalas nya dg ganjaran pahala
    Aamien

    iya, kesimpulannya seperti itu dan hanya berlaku bagi kaum pria saja.
    semoga Allah mengabulkan doa antum. (MT)

  15. zydane said:

    kalo jubah di bawah mata kaki , boleh ato tidak ya ?

    Sama saja, tetap tidak boleh.