Hak Suami Dari Istrinya

July 30th 2010 by Abu Muawiah |

17 Sya’ban

Hak Suami Dari Istrinya

Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, lalu Dia ciptakan darinya pasangannya.” (QS. An-Nisa`: 1)
Allah Ta’ala berfirman:
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“Dan bagi kaum lelaki mempunyai kedudukan yang tinggi di atas mereka (kaum wanita).” (QS. Al-Baqarah: 228)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Maka beliau menjawab:
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
“Yang paling menyenangkannya jika dilihat suaminya, dan mentaatinya jika dia memerintahkannya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.” (HR. An-Nasai no. 3231 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 3272)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, akan tetapi dia (istri) tidak mau memenuhi ajakan suami sehingga malam itu suaminya tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknat wanita itu sampai subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ
“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sementara sementara suaminya ada di rumah, kecuai dengan seizinnya. Dan dia tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan seizin suaminya. Dan sesuatu yang dia infakkan tanpa seizinnya, maka setengahnya harus dikembalikan pada suaminya.” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

Penjelasan ringkas:
Pada artikel: http://al-atsariyyah.com/ancaman-kepada-para-bencong-dan-waria.html, telah dijelaskan mengenai keutamaan lelaki di atas wanita. Dan ini mengisyaratkan bahwa seorang suami punya hak yang besar yang wajib diserahkan oleh istrinya kepadanya. Hal itu karena Allah Ta’ala telah menjadikan mereka sebagai pemimpin pasangannya, karenanya pasangannya diciptakan dari dirinya. Alasan yang lain, karena suami yang memberikan nafkah kepada istrinya, dia yang menjaganya dari berbagai kejelekan dan dia yang memenuhi semua kebutuhannya. Karenanya sangat wajar jika Allah Ta’ala mewajibkan istri untuk berbakti kepada suaminya melebihi bakti dia kepada orang tuanya.

Di antara hak-hak suami yang wajib diserahkan oleh istri kepadanya adalah:
a.    Selalu menjaga penampilannya agar suaminya merasa senang jika melihatnya.
b.    Tidak mengerjakan amalan-amalan yang dibenci oleh suaminya walaupun amalan itu mungkin perkara yang mubah.
c.    Tidak memanfaatkan harta suaminya pada sesuatu yang suaminya benci.
d.    Menaati semua perintah suaminya walaupun isi perintahnya asalnya adalah mubah, selama perintahnya bukan berupa kemaksiatan.
e.    Lebih terkhusus lagi, haram bagi istri untuk menolak ajakan suami untuk ‘berhubungan’.
f.    Tidak boleh berpuasa sunnah secara mutlak tanpa izin dari suaminya jika suaminya sedang ada di rumah.
g.    Tidak mengizinkan seorangpun masuk ke dalam rumahnya tanpa izin suaminya.
h.    Jika dia memanfaatkan harta suami tanpa izinnya maka dia wajib untuk mengganti setengahnya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, July 30th, 2010 at 9:49 pm and is filed under Muslimah, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

5 responses about “Hak Suami Dari Istrinya”

  1. Ummu Firdaus said:

    Ust,,misalny seorg istri mempunyai sejumlah uang,mk mana yg lbh afdhol di antara 2 hal brkt?dan apa alasannya?
    1. Mgunakannya utk membeli sarana ilmu(syar’i),yakni komputer/laptop dg fslts internetnya,atau
    2. Menyedahkannya utk suami agar sdkt ringan bebannya?
    Jazakallohkhoiir.
    T

    entunya lebih utama yang kedua karena itu lebih wajib dan lebih besar maslahatnya.

  2. Ummu Firdaus said:

    Afwn Ustadz,apkh pilihan tsb berlaku pd sgala mcm kondsi suami atau pd suami yg msh ‘kekurangan’ sj?jazakallohkhoiir.

    Tergantung situasi dan kondisi. Pertanyaan seperti ini tidak ada jawaban pastinya, karena semuanya bisa berubah tergantung situasi dan kondisi.

  3. ahmad said:

    Assalamu alaikum wr.wb.
    Sy kesulitan dlm membimbing istri. Sejak kami menikah, istri seringkali berlaku tdk jujur, sulit dinasehati, banyak berhutang tanpa sepengetahuan sy dan baru terungkap secara tdk sengaja (ketahuan atas izin Alloh tentunya),pdhal alhamdulillah uang dapur lbh dari cukup sebetulnya. Namun selanjutnya dia minta maaf dan berjanji utk tdk melakukannya lagi. Namun hal itu terulang lagi, lagi dan lagi setiap tahunnya. Pernah terpikir utk menceraikannya, namun sy khawatir dgn masa depan anak2 kami (4 org, yg msh kecil2). Apa yg hrs sy lakukan ?

    Wassalamu alaikum wr.wb

    Waalaikumussalam.
    Semua keputusan ada di tangan anda karena anda adalah pemimpin keluarga. Jika memang dirasa sudah tidak mungkin bisa dirubah maka anda bisa saja menceraikannya. Adapun masalah anak-anak, maka dia ikut ke ibu, kecuali jika ibunya sudah menikah maka dia ikut ke ayah. Atau walaupun ibu belum menikah akan tetapi ibunya tidak bisa mendidik dengan baik anak2 nya, maka anak2 berhak diasuh oleh suami.
    Hanya saja yang kami nasehatkan, hendaknya anda mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang. Semoga Allah memberikan solusi, amin.

  4. ummu yahya said:

    bismillah.ana sekarang tinggal (sementara)di negara asal suami ana,yg merupakan negara kafir.negara ini menetapkan peraturan wajib,bahwa pendatang seperti ana harus mengikuti kelas integrasi selama 3pekan untuk mengenal negara ini.dan suami ana pun memerintahkan ana untuk menghadirinya.krn klo tdk,pemerintah akan memberi denda.jd menurut suami ana,drpd membayar denda,lbh baik uangny ditabung,utk bekal hidup di tnh air.tapi sebenarnya ana keberatan,krn ana harus pulang-pergi sendiri,tdk ditemani suami,krn suami bekerja.selain itu,di dlm kls,akn adanya ikhtilat.apa yg seharusnya ana lakukan?apakah perintah suami ana wajib,mubah,makruh atau haram?apakah hal tsb hal yg munkar?
    jazaakumullaahu khoir

    Itu jelas hal yang mungkar, kalau memang ada jalan lain untuk menghindarinya seperti membayar denda, maka itulah yang wajib dia lakukan. Dan dalam hal ini tidak wajib menaati suami, karena perintahnya adalah perintah maksiat. Wallahu a’lam.

  5. sandi said:

    assallamualaikum pa.ustadz
    GMn hukum y istri sering menyurh2 suaminya ?
    Wasalamikum

    Waalaikumussalam.
    Itu tindakan yang sangat tidak pantas dilakukan oleh istri.