Hak Orang Tua Dari Anaknya

August 4th 2011 by Abu Muawiah |

04 Ramadhan

Hak Orang Tua Dari Anaknya

Allah Azza wa Jalla berfirman:
واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئاً وبالوالدين إحسانا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa.” (QS. An-Nisa`: 36)
Allah Ta’ala berfirman:
وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين احساناإما يبلغن عندك الكبرأحدهما أوكلاهما فلا تقل لهما أُف ٍولاتنهرهما وقل لهما قولاً كريما , واخفض لهما جناح الذل من الرحمة وقل رب ارحمهما كما ربياني صغيرا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra`: 23-24)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
ووصينا الإنسان بوالديه حُسنا
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya.” (QS. Al-Ankabut : 8 )
Semua ayat di atas dan ayat lain yang semakna dengannya menunjukkan besarnya hak kedua orang tua, yaitu ayah dan ibu. Berbakti kepada kedua orang tua termasuk dari amalan yang paling utama, bahkan dia adalah hak kedua yang wajib ditunaikan setelah hak Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Amalah apakah yang paling dicintai Allah? ‘ Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Saya bertanya, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 496 dan Muslim no. 122)
Maka lihatlah, bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam menjadikan hak kedua orang tua lebih dahulu dan lebih utama daripada berjihad di jalan Allah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu anhuma dia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْذِنُهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ
“Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam minta izin hendak ikut jihad (berperang). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Jawab orang itu; “Masih!” Sabda beliau: “Berbakti kepada keduanya adalah jihad.” (HR. Al-Bukhari no. 2782 dan Muslim no. 4623)
Demikian pula beliau shallallahu alaihi wasallam menjadikan hak keduanya lebih diutamakan dari pada berhijrah. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu anhuma dia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ جِئْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ فَقَالَ ارْجِعْ عَلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا
“Ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; aku datang membai’at engkau untuk berhijrah, dan aku telah meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis. Kemudian beliau berkata: “Kembalilah kepada mereka berdua dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau membuat mereka menangis!” (HR. Abu Daud no. 2166, An-Nasai no. 4093, dan Ibnu Majah no. 2772)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
“Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” lalu beliau ditanya; “Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya).” (HR. Muslim no. 4628)
Maka diwajibkan berbakti kepada kedua orang tua, apalagi ibu. Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menjadikan hak ibu itu jauh lebih besar daripada hak ayah. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5514 dan Muslim no. 4621)
Berbakti kepada kedua orang tua itu bisa dengan cara apa saja, bisa melalui ucapan, amalan, maupun harta semampunya. Di antara bentuknya adalah melayani keduanya dengan maksimal, beradab ketika bermuamalah dengan keduanya, tidak meninggikan suara ketika berbicara kepadanya atau ketika keduanya hadir, bersabar dalam menghadapi sikap kedua orang tuanya yang mungkin saja membuatnya jengkel.
Lawan dari berbakti kepada kedua orang tua adalah durhaka kepada keduanya, dan amalan ini merupakan dosa yang sangat besar. Dari Abi Bakrah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ
“Apakah kalian mau aku beritahu dosa besar yang paling besar?” Beliau menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab: “Mau, wahai Rasulullah”. Maka Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua”. Lalu Beliau duduk dari sebelumnya berbaring kemudian melanjutkan sabdanya: “Ketahuilah, juga ucapan dusta”. (HR. Al-Bukhari no. 2460 dan Muslim no. 126)
Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits Ali bin Abu Thalib:
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ
“Allah mengutuk orang yang menyembelih untuk selain Allah, dan mengutuk orang yang melindungi tindak kejahatan, mengutuk orang yang mencaci kedua orang tuanya, dan mengutuk orang yang memindahkan tanda batas tanah.” (HR. Muslim no. 3658)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, August 4th, 2011 at 1:41 pm and is filed under Akhlak dan Adab, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

8 responses about “Hak Orang Tua Dari Anaknya”

  1. Abu Salma said:

    Assalamu’alaikum,

    Barokallohu fik Ustadz,
    Apakah termasuk kategori sebagai anak durhaka, apabila si anak lebih mendahulukan, misal membeli rumah bagi keluarganya dibanding membelikan rumah buat ortunya (kebetulan ortunya masih ngontrak dan tempat tinggal si anak dengan ortunya berlainan kota) ini ana tanyakan sehubungan dengan kalimat yg ustadz tulis sbb : Berbakti kepada kedua orang tua itu bisa dengan cara apa saja, bisa melalui ucapan, amalan, maupun harta semampunya.
    Apa batasan kita berbakti kepada ortu dengan harta semampunya, karena disaat banyak fitnah ini, orang tua lebih menganggap anak yg berbakti adalah anak yang sering mengirimkan uang.

    Syukron, Jazakallohu khair..

    Wassalamu’alaikum,

    Waalaikumussalam.
    Batasannya tergantung dari orang tua masing-masing, apa saja yang menyenangkan mereka, selama itu bukan maksiat.
    Adapun contoh di atas, maka itu bukanlah bentuk kedurhakaan.

  2. dyah said:

    assalamu’alaikum……….
    saya mau menanyakan, bagaimana dengan orang tua tiri. apakah kita juga wajib berbakti dengan mereka, walaupun mereka tidak baik dengan kita. terimakasih…….

    Waalaikumussalam.
    Ya, tetap wajib.

  3. fitri said:

    Assalamualaikum ustad,,afwan,,bagaimana jika orang tua bersikukuh tdk mau menikahkan putrinya dgn seorang laki2 karena dia bukan golongan ustad atau fasih ilmu agamanya,namun laki2 tersebut insya allah muslim yg baik,rajin ibadah,akhlaknya baik dan sll mau belajar agama.orang tua tidak mau melihat prosesnya untuk belajar..bagaimana tadz,jazakallah

    Waalaikumussalam.
    Orang tua punya hak untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik untuk anaknya. Selama orang tua mempunyai alasan yang syar’i maka itulah yang terbaik. Hanya saja segala sesuatu tetap butuh dibicarakan dengan baik antara dia dengan orang tuanya, siapa tahu orang tuanya bisa mengalah.

  4. Yoke said:

    Assalamu’alaikum..
    Bagaimana jika seorang ibu tiri mengatakan kepada anak tirinya “anak durhaka kamu”,, apakah ucapan itu akan di jabah oleh Allah swt??
    Dan bagaimana jika anak tersebut sudah meminta maaf, tetapi ibu itu tidak mau memaafkannya???

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam. Yang jelas si anak wajib meminta maaf kepada ibunya. Jika ibunya tidak kungjung memaafkannya maka itu hak dia jika memang dia merasa dizhalimi oleh anaknya.

  5. Ismail said:

    Assalamu’alaikum.

    Bagaimana jika ada anak yang di besarkan oleh neneknya, yang merawat dari kecil hingga besar, dan anak itu tidak terlalu dekat dengan ibunya. Dengan ibunya seperti orang asing.
    Kepada siapakah kita harus berbakti? Nenek atau ibu?

    Waalaikumussalam.
    Wajib kepada keduanya.

  6. angel said:

    assalamu’alaikum pak,,
    saya punya bnyk sekali pertanyaan mengenai hub anak n ortu,,bgmna dg seorang ayah yg notabene mampu dan msh sanggup membiayai keluarganya tp sejak anaknya mulai kerja beliau hampir tdk memberi nafkah sama sekali pdhl beliau msh punya anak bungsu yg msh membutuhkan biaya besar utk sekolah?dan sekarang beliau hanya akan kembali kerumah jk beliau sdng tdk ada uang(bbrp thn terakhir beliau hidup kembali dg mantan istrinya yg sdh ditalak 3 dan mantan istri tsb blm menikah lg). beliau sering sekali menyebut anaknya yg sdh bekerja sbg anak durhaka,biasanya sebutan itu terucap jk beliau tdk mendapatkan apa yg diinginkan spt uang dr anaknya. sang anak sdh mencoba dg protes keras ke sang ayah mengenai perlakuan ayahnya tersebut tp sang ayah tdk pernah merasa menyakiti ataupun mendholimi keluarganya dan sekarang sang anak sampai pd tahap memilih ‘diam adalah emas’. salahkah sang anak ketika dia memilih diam sampai tdk berbicara sama sekali dg sang ayah? dg pertimbangan krn setiap kali ada pembicaraan selalu berakhir dg perang mulut,mereka mempertahankan pendapat masing2,disatu sisi sang anak merasa marah pd perlakuan sang ayah kpd keluarganya tp disisi lain sang ayah tdk merasa ada yg salah dg perlakuannya ke anak istrinya. dosakah sang anak krn ingin menuntut haknya?sang anak hanya minta haknya utk bahagia,kebahagiannya adalah ketika melihat sang ibu bahagia,itu saja tdk lebih,salahkah?dosakah?

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah hal itu tidak ada masalah dan bukanlah sebuah dosa. Dan menghindari pertengkaran itu memang lebih baik. Hanya saja tetapi diusahakan untuk memperbaiki hubungan dengan ayah.

  7. amy said:

    assalamualaikum ustadz, saya juga ingin berbakti kepada ke2 orang tua. tapi hati ini berat rasanya. Sejak 2 tahun ayah saya meninggalkan keluarga, suka minum2an,mabuk wanita,mabuk judi, membiarkan ibuku sendiri berjuang membesarkan k2 anaknya. saya tidak dendam, tidak juga benci, hanya saja, berat untuk menyayanginya. adakah alamat email yang bisa buat share ustad?saya ingin minta saran lebih banyak lagi.
    syukron..

    Waalaikumussalam.
    Silakan kirim email ke: zhahiri@yahoo.co.id

  8. widhistira said:

    assalamualaikum ustadz, ada yang mau sya tanyakan yaitu apabila seorang anak perempuan telah menikah, dalam hadist diwajibkan patuh pada suami, 1. apakah hukumnya apabila sianak perempuan tsb ingin merawat orang tuanya tetapi tidak mendapatkan izin dari suami kerana sesuatu hal..?
    2. Apakah yang sebaiknya dilakukan oleh anak tersebut..?
    Kalau bisa, tlg ustad kirim ke email saya
    Syukron, Jazakallohu khair..

    Waalaikumussalam.
    1. Dia tetap wajib lebih mematuhi suaminya.
    2. Sebaiknya dia berbicara dan meminta baik-baik kepada suaminya agar diizinkan. Dan si suami pun jika alasannya tidak terlalu prinsipil, sepatutnya dia memberikan izin kepada istrinya.