Hak Istri Dari Suaminya

July 31st 2010 by Abu Muawiah |

18 Sya’ban

Hak Istri Dari Suaminya

Allah Ta’ala berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa`: 19)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menetapkan sanksi atas hak dua orang yang lemah, yaitu hak anak yatim dan hak seorang wanita.” (HR. Ahmad no. 9289, Ibnu Majah no. 3668, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1015)
Yakni: Menetapkan saksi atas siapa saja yang menelantarkan hak kedua orang itu.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْرًا فَلْيَتَكَلَّمْ بِخَيْرٍ أَوْ لِيَسْكُتْ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kemudian dia menyaksikan suatu peristiwa, hendaklah dia berbicara dengan baik atau diam. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas. Jika kamu berusaha untuk meluruskannya niscaya akan patah, tapi jika kamu membiarkannya maka dia akan senantiasa bengkok. Karenanya berwasiatlah terhadap wanita dengan kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 5186 dan Muslim no. 1568)
Dari Hakim bin Mu’awiyah Al-Qusyairi dari ayahnya dia berkata: Aku pernah bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah hak isteri salah seorang di antara kami atas dirinya? Beliau menjawab:
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوْ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ
“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Daud no. 2142)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah, jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya.” (HR. At-Tirmizi no. 1162)

Penjelasan ringkas:
Sebagaimana suami punya hak dari istrinya maka sebaliknya istri juga punya hak dari suaminya. Suami wajib memperlakukan mereka dengan baik sebagaimana mereka senang diperlakukan dengan baik oleh istrinya, bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam menjadikan hal itu sebagai tanda kesempurnaan iman seorang suami. Hak dan kewajiban dalam rumah tangga merupakan faktor yang sangat penting. Karena dengan memperhatikan hal tersebut maka hubungan keduanya akan senantiasa harmonis, dan sebaliknya akan menyebabkan perpecahan di antara keduanya. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sangat menekankan masalah hak dan kewajiban suami istri ini, karena suatu umat itu lahir dari keluarga. Jika keluarganya baik maka akan baik umat yang lahir darinya, dan demikian pula sebaliknya. Karenanya suami mana saja yang menelantarkan hak istrinya maka secara tidak langsung dia telah menjadi sebab dari rusaknya keluarganya dan baginya dosa yang sangat besar.

Di antara hak istri dari suaminya adalah:
1.    Secara umum memperlakukan istrinya dengan perlakuan yang dia senang jika istrinya memperlakukan dia seperti itu.
2.    Menasehati istrinya dengan kebaikan.
3.    Bersabar dalam menasehatinya dan penuh hikmah di dalamnya. Tidak keseringan dinasehati sehingga membuatnya bosan atau membangkan dan tidak juga terlalu jarang sehingga membuatnya keluar dari akhlak seorang muslimah yang baik.
4.    Memberinya makan dari makanan yang dia makan.
5.    Memberinya pakaian semisal dengan pakaian yang dia gunakan. Kadar minimal wajibnya adalah memberikan kepada istrinya pakaian yang bisa menutupi auratnya.
6.    Tidak boleh memukul wajahnya.
7.    Tidak boleh mencelanya.
8.    Tidak boleh mendoakannya dengan doa yang jelek.
9.    Tidak memboikot dia kecuali di dalam rumah, yakni tidak menyuruhnya keluar dari rumah.
10.    Tidak membencinya dengan kebencian yang sangat, karena tentu masih ada perkara baik dari sisi lain yang dia senangi dari istrinya.

Incoming search terms:

  • Hak istri
  • aku sudah tak nyaman dengan sifat suamiku
  • bagaimna hukum islam bila mantan istri minta keuangan kepada manta suami yang meninggalkan mantan istrinya pergi begitu saja
  • cara supaya suami gak marah masalah uang
  • hukum suami menelantarkan istrinya
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, July 31st, 2010 at 10:21 pm and is filed under Muslimah, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

21 responses about “Hak Istri Dari Suaminya”

  1. umm said:

    Bolehkah seorg istri marah kpd suaminya karna suka mberi pinjaman uang kpd orang laen dgn alasan akan mbuat org tsb malas ?

    Jazakumullahu khair

    Tidak sepantasnya dia marah kepada suaminya dalam hal-hal yang baik, apalagi jika uang yang dipinjamkan adalah uang suaminya sendiri. Jika dia merasa tidak senang karena ada faktor pertimbangan lainnya maka seharusnya dia berdiskusi dengan baik, bukannya marah.

  2. Penanya said:

    bismillah.
    ya ustadz, ana tunggu balasan nasihat dari ustadz ke email ana.
    jazakumullahu khairan.

  3. wildan said:

    assalamu’alaikum, ustadz….
    izin share….
    Jazakallahu khoir.

  4. mohamad said:

    salam ustaz…apekah hukum suami minta istri kencing berdiri untuk disaksikan oleh suami sendiri.?minta penjelasan dr ustaz..terima kasih..

    Boleh saja tidak ada masalah.

  5. mohamad said:

    salam ustaz

  6. mohamad said:

    salam sejahtera ustaz.

    Seharusnya ‘assalamu alaikum’ akh, atau ucapan salam yang lebih lengkap daripada itu. Di zaman sekarang, ucapan ‘salam sejahtera’ lebih identik dengan non muslim.

  7. ummahat muda said:

    assalaamu’alaikum warahmatullah..

    1)ustadz,apakah memberi tempat tinggal kepada istri juga merupakan hak istri? bagaimana pula dengan kasus di mana si suami tidak mampu menyediakan tempat tinggal karena belum mempunyai pekerjaan yang tetap, lalu membawa si istri tinggal bersama keluarga si suami? pada masa yang sama, di rumah keluarga suami itu,tinggal juga ahli keluarga yang lain iaitu saudara kandung suami(lelaki) yang bisa bikin istri ga selesa tinggal sebumbung…keluarga suami juga masih awwam dan sulit bagi si istri untuk mengamalkan sunnah..apakah si istri harus menuruti dan dianggap berdosa jika tidak ingin tinggal bersama keluarga suami?

    2) kasus yang lain, bisakah istri meminta kepada suami untuk mencari tempat tinggal yang berhampiran dengan tempat kajian ahlus sunnah?sedangkan suami saat ini sudah mempunyai pekerjaan yang mapan namun sulit untuk nyari taklim di tempat yg sekarang ini…suami juga ga bisa memberikan pengajaran agama kepada istri dan butuh kedua suami istri hadir taklim…apakah berdosa si suami ga nuruti permintaan istri?

    jazakumullahu khairan..

    Waalaikumussalam.
    1. Ya itu hak istri. Namun jika suami tidak mampu dan si istri ridha maka itu tidak mengapa. Dalam keadaan di atas sepantasnya dia bersabar dan tetap ikut bersama suaminya.
    2. Bisa saja jika suaminya ridha dan setuju. Namun suami tidak berdosa jika tidak menurutinya. Dia hanya berdosa jika melarang istrinya menuntut ilmu, sementara menuntut ilmu itu -di zaman ini- tidak harus dengan menghadiri taklim, walaupun tidak diragukan itu lebih utama.

  8. Ummi said:

    Assalamualaikum ..
    Saya seorang istri dg 2org anak. Rumah tangga kami beberapa bulan terakhir mengalami cobaan. Suami sy pernah tergoda oleh wanita lain shg mereka sdh berhub tralu jauh . Saya bimbang pa ustadz harus bersikap bgm, sy mmg tdk mencintai suami saya sepenuhnya, jd slm sy menikah sy merasa seperti dlm keradaan terpaksa melayani. Awalnya sy menikah krn kurangnya ilmu, sy merasa kasihan. Skr saya pisah rumah dg suami saya, saya memaafkan apa yg terjadi kmrn,tp dlm hati kecil saya, saya merasa tdk bs menerima dan melayaninya kembali sprti semula. Terfikir utk berpisah saja. Selama masa pisah rumah, hati saya dan fikiran saya lebih enjoy dan tenang. Langkah apa yg harus saya ambil ? Apakah berpisah akan lebih baik k depan? Tambahan, selama sy menikah sy berusaha utk bs full thd nya namun susah. Mohon pencerahannya pa ustadz. Syukron..

    Wassalamualaikum,
    Ummi

    Waalaikumussalam.
    Semuanya kembalinya kepada ibu sendiri. Hanya saja seharusnya dalam masalah penting seperti ini, ibu istikharah kepada Allah mengenai sikap yang akan dipilih, lalu jalankan apa yang lebih membuat hati ibu tenang. Kalau memang perceraian itu lebih menenangkan dan lebih baik bagi keduanya, maka ibu diperkenankan mengajukan khulu’ (gugatan cerai) kepada suami.

  9. yayan said:

    Assalmualaikum Warrah matullahhi Wabarakatu,

    Saya sudah nikah 11 thn, punay anak 2 , 10 tahun dan 5 tahun. Saya merasa aneh meliahat tingkah dan tindakan istri saya 6 bulan terakhir, dan ternyata benar.. 8 hari sebelum Idul fitri (2011), saya di beri petunjuk oleh seorang ustad, bahwa istri saya selingkuh, dan istri saya bener2 mengakui. saya sempat shock, pingsan, bahkan 2 minggu setelah kejadian itu pun, saya hampir “mati: dengan srerangan jantung tiba2, dan di rawat di Hospital 2 hari. Sekarang saya sudah mulai ikhlas, dan memaafkan istri saya. Tapi celakanya.. setiap saat, sampai detik ini, istri saya selalu ngajak ribut mulut, bikin saya marah, dan jawabannya selalu bilang “saya sudah tidak bisa”.
    Pertanyaan saya, :
    1. apa sikap yg harus saya ambil atas musibah terhadap keluarga saya?
    2. Apa hukum secara Islam, bagi istri yg sudah selingkuh,,, bukannya berusah memperbaiki hubungan yg sudah di khianati nya, , malah ngajak ribut dan selalu bilang “tidak bisa “.
    3. Salah kah saya, dimasa sedang tidak nyaman ini (sudah 2 bulan) saya masih minta hubungan badan? dan sering di tolak oleh istri saya?
    Sampai saat ini saya masih mencintai istri saya dan anak2 kami.

    Terim kasih,

    Wassalam.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Jika sudah seperti itu, mungkin ada baiknya jika anda mempertimbangkan perceraian. Karena anda berhak melakukannya.

  10. yani said:

    Assallamualaikum Wr. Wb

    Saya adalah seorang istri dan sudah mengarungi rumah tangga selama hampir 11 tahun, dan kami sudah dikaruniai 2 orang anak.

    Ustad..saya mohon bisa memberikan tuntunan kepada saya doa dan ikhtiar apa yang harus saya lakukan agar suami saya selalu mencintai saya seperti dulu. karena saya merasa akhir2 ini dia sudah berubah, dan saya sebagai seorang istri pasti bisa merasakan hal ini, saya merasa suami saya memiliki perasaan terhadap perempuan lain. walaupun saya tahu, kalau suami saya tidak berselingkuh dan tidak berzina. namun sikap2 yang dia tunjukakan selama ini sudah cukup membuat saya yakin, jika ada cinta/wanita yang lain.(terlalu panjang jika harus saya tuliskan contohnya)

    Ustad..saya tidak ingin terjerumus oleh bisikan setan, dan mernbuat suatu fitnah kepada suami saya, selama ini saya tidak pernah curhat.bercerita kepada org lain tentang perasaan saya ini. saya takut jika yang saya yakini salah, maka akan terjadi fitnah. maka itu, saya juga mohon kepada ustad, doa apakah yang bisa menenangkan hati saya, dan apakah saya bisa memohon kepada ALLAH supaya diberikan petunjuk, apakah memang benar suami saya mencintai wanita lain atau tidak, sehingga saya tidak dalam kebimbangan/ prasangka.

    Saya memahami, sbg istri saya juga jauh dari sempurna, jadi mohon bimbingannya apa yang harus saya lakukan sebagai seorang Hamba Allah, Muslimah, dan istri jika mengahadapi kondisi seperti ini.

    Wassallamualaikum Wr. Wb

    Waalaikumussalam.
    Perlu diketahui bahwa di antara amalan yang sangat disenangi setan adalah merusak hubungan suami istri. Karenanya jangan sampai anda terjatuh ke dalam godaan dan was-was yang mereka bisikkan. Karenanya selama itu bukanlah keyakinan maka jangan sekali-kali ditanggapi.
    Hanya saja untuk menghentikan hal itu, ada baiknya jika anda membicarannya hal ini dengan suami dari hati ke hati, semoga Allah memberikan solusinya.

  11. abo moslem said:

    assalamu’alaikum, jazakallahu khoir ustadz sangat bermanfaat

  12. lily y said:

    Assalamualikum wr wb
    Ustad, setelah membaca hak2 yg disebutkan diatas,hampir smua tidak saya dapatkan, terlebih dgn poin 10 krn sudah berkali2 suami saya mengusir saya dr rumahnya dgn alasan yg dibuat2. Pertanyaan saya, sejauh apa suatu rumah tangga harus dipertahankan, dan apabila ada perceraian, dimana Allah membencinya, apakah itu termasuk mendzolimi anak2 dimana anak2 lah yg menjadi korban dalam setiap perceraian. Mohon penjelasannya, waasalamu alaikum wr wb

    Waalaikumussalam
    Pertama yang harus diluruskan adalah bahwa perceraian tidaklah dibenci oleh Allah secara mutlak. Adapun hadits yang menyatakan bahwa ‘perkara halal yang paling Allah benci adalah talak’, maka itu adalah hadits yang lemah. Tapi memang Allah membenci jika perceraian itu terjadi tanpa ada alasan yang dibenarkan. Tapi jika ada alasan yang dibenarkan syariat, maka perceraian itu dibolehkan, bahkan bisa sampai taraf wajib, jika memang alasannya sangat kuat untuk bercerai.

  13. intan said:

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Pak ustdz saya mau tnya nih,
    Sy sudh berkelurga mempnyai anak 1,
    Sy pnya masalh dalm keuangan,
    Suami sy pnya usaha smbako tp di jalanin sm ortu suami sy,hasil usaha’a dipgang mertua sy,sdngkan sy tdk di kash uang dr hasil usha suami sy,
    Sy bngung gmna cra ngmng sm suami sy,sy takut kalau dy marah sm sy?
    Ksh solusinya pak ustdz untuk masalh klwrga sy ni

    Waalaikumussalam.
    Kalau semua kebutuhan anda dan anak anda sudah tercukupi, maka kami sarankan anda bersabar dan tidak menyebabkan keributan, kalau keadaan keluarga anda sekarang baik-baik saja.

  14. ika said:

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Sudah 5th sya berumah tangga,dan belum dikaruniai anak. 2 thun pernikahan ckup bagi sya merasakan indahnya rumah tangga…suami msih sering mmberi perhatian dan kasih sayang stelahnya, klo gak saya dulu yang memulai ya dia biasa aja. apa memang semua suami seperti itu ya? sya percaya suami sya g ngpa2in di luar sana dan sya menyadari kesibukan suami skrg mmg lebih, shingga perhatian yg seharusnya sya dpatkan kurang…sya bngung, udah gtu gaji bulanan d simpan sendiri, klo g minta dluan ya diem aja…kadang sya sering emosi, gondok dsb. tp sya berusaha meredamnya dgn cra berpikir msih bnyak kebaikan suami yg lain selain itu.
    Memang sih sepertinya sepele, tp sya yakin wanita dimanapun pasti ingin diperhatikan oleh suaminya, gak hnya bentuk materi tetapi juga kasih sayang dan perhatiannya. Gak cuma pas pacaran aja perhatiaannya, seharusnya setelah jd istrinya pun lebih memberi perhatian.
    yang ingin saya tnyakan
    1. apakah istri berhak meminta/mendapatkan perhatian dari suami?
    2. bagaimana cara meminta jtah bulanan yg baik, agar suami tidak tersinggung? (mungkin kebanyakan suami berpikir bahwa istri hnya menghabiskan uang suami aja..pdhal bnyak kebutuhan yg hrus dibereskan)

    Waalaikumussalam.
    1. Ya, dia berhak.
    2. Saya rasa anda lebih tahu tentang sifat suami, kapan waktu yang tepat untuk bicara dan cara berbicara bagaimana yang dia senangi.

  15. sylvia elisa said:

    Ass..ustad…sy menikah dngn duda beranak 2.dulu anak2 suami sy sempat tinggl sm sy. Mantan istri suami sdh mempunyai anak lg dr suami brnya (dl bercerai dngn suami sy ktn selingkuh dng lelaki lain).semenjak anak2 tinggl oleh ibunya,dia(mantan istri suami) sering sekali meminta uang bahkan menjurus memeras suami melalui tlpn dan mengatas namakn anak2.selang beberapa bln anak2 k rmah sy dan memberitahukn kl spp mereka blm d byr kn selama 3 bln.pdhl tiap bln suami sy dlalu memberikn uang belanja dan uang sekolah pd dia mantan istri suami.dan kl d ksh belanja untuk sbln,slalu smggu udah hbs dan slalu minta lg k suami.akhirny hilang kesabaran kt berdua,akhirnya kt memgambl keputusan (setlh bermusyawara jg dngn mertua sy).bahwa ank2 mau kt ambl kembali atau anak2 ikut sm mbahny (mertua sy).tp dia tdk setuju( mantan istri suami).sambl memaki2 kt termaksd mertua, dia mengharamkan anak2 tinggl sm kt termaosd mertua.dan dia jg menghiana agama sy.krn suami menikah sm sy mualaf(mertua sy muslim).memang mantan istri suami sy sngt membenci sy, krn suami sy skrng memeluk agama islam.ustad yg mau sy tanyakan…apa yg harus sy lalukan dngn situasi sprt ini?.apakh sdh benar tindakn seperti yg d atas?.sekarang2 ini dia sering menetor sy melalui sms,dan dtmg k rmh sy tengh malam jam 12.hany untuk meminta uang dan sambl memaki2 sy dngn suami.sy sngtnmalu sm tetangga ustad…krn dia kl dtang slalu buat keribuatan d tengah malam sambl membawa beberapa laki2 yg g jelas siapa itu.mohon jawabannyanya ustad.mkh wasss

    Sebaiknya anak-anak diambil, kalau perlu lewat jalur pengadilan agama atau yang berwenang. Ganti nomor hp. Dan jika sudah sampai meresahkan, saya rasa anda bisa melaporkan hal itu ke polisi. Wallahu a’lam

  16. Alya Diezegna said:

    assalamualaikum w.r.w.b ustaz saya mempunyai suami yang sangat mudah marah apakah saya berdosa jika saya melawan…krna setiap pertengkaran saya yang harus mengalah lebih dulu ato saya yg diam agar menghentikan pertengkaran…bagai mana jalan keluar nya apakah saya harus minta cerai karna sangat merasa tak cocok dia seperti buta agama jika saya nasehati sedikit tentang agama dia selalu marah.. pdahal saya memberitau apa yg dia tidak tau

    Waalaikumussalam.
    Kalau anda khawatir sudah tidak bisa menjalankan tugas sebagai istri, termasuk di dalamnya terus mengalah, maka anda bisa saja mengajukan gugatan cerai jika memang anda merasa itulah yang terbaik.

  17. erni said:

    Ass. Sy menikah sdh baru 1 setengah tahun, selama menikah sy sllu di pukulin oleh suami sy, n suami sy tdk jujur masalah keuangan dia lebih mementingkan ibunya, n memberi sy nafkah tnggu perintah ibunya dulu. Jk ibunya tdk rela maka sy tdk di nafkahin. Pernah zakat fitrah sya pun tdk di bayarkan, dia hanya membayar zakatnya n ibunya, alasan ibunya krna tdk ada uang. Pdhal sya tau tidak mungkin tdk ada uang. N sy skg hamil 3 bln, suami msh sj memukulin sya krna msalah spele n sllu blg cerai n bawa koper minggat, krna tdk tahan sy laporin polisi ats pemukulan yg ia lakukan, walau akhirnya sy menyesal n sy cabut kembali laporan itu. Tiga hari kemudian suami sy pergi tanpa pamit meninggalkan sy, n kemaren sempat kabarin dia sakit hati n tdk mau menafkahi sy n tdk peduli dgn janin yg sy kandung? N dia JG blg tdk mau mengurus perceraian tnggu dia menemukan perempuan laen yg lbh bae, n dia JG sdh di larang dgn ibunya jk kembali bersama sy, jk dia kembali bersama sy ibunya tdk mau melihat dia lg sampe mati. Tlog, apakah dia pantas mjd imam sy? Sy tdk berani mengajukan cerai krna allah plg membenci perbuatan itu? Sy sllu mendoakan agar suami sy sadar tp sptinya hatinya sdh tertutup

    Allah tidak membenci perceraian jika memang ada alasan kuat yang mendasarinya. Lagipula hadits ‘Perkara halal yang paling Allah benci adalah cerai’, adalah hadits yang lemah, tidak boleh diyakini dan diamalkan.

  18. santy said:

    Assalamualaikum ya ustadz.. Sy s’orang istri dg 3 anak,usia SMA,SMP&TK. Dahulu sy prnh brcrai (khulu’)dgn suami sy krn hadirnya org k 3,suka brkata kasar &suami tdk mmbri nafkah. Slama 3tahun sy brcrai mantan suami tdk prnh mmbri nafkah. Lalu 2 tahun lalu sy dgr dr sahabat kami mantan suami mulai mndalami islam dgnmngikuti taklim.. Atas saran tema n akhirnya kami rujuk krn prtimbangan anak2 yg msh sgt butuh s’orang ayah,kbtulan 2 anak kami lak2.slama kami ruju sy tdk dinafkahi,krn paska brcerai dlu sy sdh mmiliki usaha. Tp akhr ini sy lelah ustadz,smua kbutuhan anak2 hrs sy yg mncukupi. Sdg suami sy tenggelam dgn kmalasannya. Pdhal suami sy bnyk mmiliki k ahlian yg ia bs gunakn u/mncari nafkah. Apa yg hrs sy lakukan ustadz.. Sdh bnyk teman&kluarga yg mnasehati suami sy u/brtnggung. Jwb ats nafkah.. Ttpi ttp sj spt itu. Sy khwtr kletihan sy mncari nafkah u/anak2 tdk. Brpahala krn hati sy tdk ikhlash ats prlakuan suami. Jzkmllh khrn katsr atas jwbnnya ustad. Mhon sgra djwb. Afwan.

    Waalaikumussalam.
    Sebaiknya anda mengkonsultasikan permasalahan anda kepada badan negara yang mengurusi masalah pernikahan seperti KUA atau Pengadilan Agama, insya Allah mereka bisa memberikan solusi. Walaupun semua keputusan tetap di tangan anda. Kalaupun anda berpisah dengannya, maka anda juga mempunyai alasan yang logis dan dibenarkan oleh syariat dalam hal itu.

  19. aldie said:

    Ass..pak ustad saya mau taya …gmna hukumnya sorang istri marah sama suamiya..sang istri blang bhasa” binatang…dan yampe minta talak..maksh …

    Dia adalah istri yang jelek lisannya, dan jelas dia berdosa karena telah menghina suaminya. Adapun jika dia sampai meminta talak, maka itu tergantung apa alasan dia.

  20. Eenk said:

    Assalamu’alaikum pak ustadz,
    Saya ibu 3 anak. Dahulu saya pernah bekerja,karna alasan waktu dan keluarga saya memutuskan berhenti. Pekerjaan saya dahulu menyita hampir seluruh waktu saya. Nah, setelah saya berhenti saya mencoba mencari kesinukan dengan buka usaha dagang kue rumahan. Memang Alhamdulilah nafkah suami sangatlah cukup. Usaha kue hanya sebatas mengisi kekosongan jiwa saya yang terbiasa dg rutinitas, dan kebutuhan saya ” akan berkarya”
    Dua hari yang lalu, kami bertengkar. Dikarenakan suami mengejek usaha saya, dia bilang berapa sih yang didapat dari usaha kue kamu? Seraya mencibir.
    Terus terang saya sangat tersinggung, karna tidak dihargai.
    Usaha kue ini 2 thn yg lalu sudah lumayan ramai, akan tetapi karna saya hamil dan melahirkan, membuat saya tutup usaha. Dan baru2 ini saya mulai lagi. Mendengar cibirannya saya tersinggung sekali, saya tidak ridho. Sampai terlontar dari mulut saya , bahwa saya tidak akan usaha kue lagi. Sebenarnya bukan kegiatan usaha nya yg saya kesal, cemooh dan tidak apresiasi dia thd saya yang bikin saya kesal dan tidak ridho. Susah untuk melupakan ucapannya
    Bagaimana menyikapinya ya.

    Waalaikumussalam.
    Anda sebaiknya harus lebih bersabar lagi, apalagi dia adalah suami anda, yang punya hak besar pada diri anda. Jadi sudah sepatutnya anda bersabar dari semua kekurangannya. Sungguh setan bisa mengeksploitasi hal-hal -maaf- sepele seperti ini hingga bisa merusak rumah tangga anda. Karenanya, hendaknya anda bersabar dan memaklumi serta memaafkan suami. Lagipula kesabaran itu adalah penggugur dosa.

  21. novari said:

    Assalamu’alaikum pak Ustadz,

    ibu saya baru saja berpulang ke Rahmatullah. tapi jauh2 sebelumnya ibu curiga kalau bapak telah menikah lagi, dan saya tahu ibu saya sangat sedih. Memang bapak adalah seorang yang kasar, cara mendidik dengan cara memukul baik pakai tangan atau dgn benda dan kadang dengan kata2 merendahkan.itu dia lakukan ke istri dan ke anak2nya. ibu hanya bisa istigfar.
    pernah bapak bilang kalau dia menyesal menikah dengan ibu, karena ibu melayani dia tidak sesuai yang dia inginkan. Sampai terakhir ibu gak ada bapak saya tidak pernah ngomong kalau dia sudah menikah lagi, karena ibu terkena stroke dan koma, tidak ada komunikasi setelah itu. Yang ingin saya tanyakan bagaimana status pernikahan ke-2 bapak saya, dan bagaimana pertanggungjawaban nya nanti. Apakah pertanggungjawabannya nanti cukup sholat tobat dan langsung dimaafkan oleh Allah SWT ataukah pertanggungjawabannya nanti ditanyakan ke ibu saya? dan apakah saya harus tetap berbuat baik kepada bapak saya setelah dia mengecewakan kami?
    dengan alasan yg dibuat bapak agar tindakan dia nikah lagi seperti perbuatan yang wajar saja.
    Mohon penjelasannya tadz,dan apakah ada dalil2nya.
    terima kasih sebelumnya.

    Waalaikumussalam.
    Perniakahan keduanya syah, jika memang rukun nikahnya terpenuhi.
    Semuanya dikembalikan kepada ibu anda nantinya.
    Tetap wajib berbakti kpd ayah, sebesar apapun dia mengecewakan anda.