Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Membaca dan Mempelajari al-Quran

April 11th 2018 by Arvan |

Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Membaca dan Mempelajari al-Quran

Keutamaan Membaca dan Mempelajari al-Quran

Hadits Pertama

Keutamaan Mempelajari al-Quran

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ» رواه مسلم وأبو داود وغيرهما

Dari Abu Hurairah t dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah guna membaca dan mempelajari kitabullah kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut mereka di sisi para malaikat. Siapa yang terlambat (masuk surga) karena amalannya (yang buruk) maka nasab keturunannya tidak akan bisa menyegerakannya.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan selainnya)

Komentar:

Keutamaan dalam hadits ini tidak hanya berlaku bagi ‘kaum’ (sekumpulan orang), tapi juga berlaku walaupun dia seorang diri. Karenanya jika ada satu orang yang berzikir kepada Allah sendirian maka dia telah meraih pahala yang tersebut dalam hadits di atas.

Hadits Kedua

Satu Huruf al-Quran Bernilai Sepuluh Pahala

عَنْ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ (الـم) حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ» رواه الترمذي والدارمي

Dari Abdullah bin Mas’ud t dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah maka dia memperoleh satu kebajikan, sementara satu kebajikan akan diganjar sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan ‘Alif, lam, mim’ itu satu huruf, akan tetapi ‘alif’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf.” (HR. al-Tirmidzi dan al-Darimi)

Abu Isa (al-Tirmidzi) berkata, “Ini adalah hadits yang hasan shahih gharib.” Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani. Dan aku menanyakan status hadits ini kepada guru kami, Abdullah al-Sa’ad, maka beliau menjawab, “Laa ba`sa bih (baca: Hasan, penj.).”

Hadits Ketiga

Syafaat al-Quran pada Hari Kiamat bagi yang Membacanya

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ» رواه مسلم

Dari Abu Umamah al-Bahili t dia berkata: Aku mendengar Rasulullah r bersabda, “Bacalah al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim)

Komentar:

Hadits ini menetapkan adanya syafaat -dengan berbagai jenis dan bentuknya- pada hari kiamat. Syafaat hanya diperuntukkan bagi orang yang bertauhid. Adapun yang musyrik maka dia tidak akan memperoleh syafaat sama sekali walaupun dia adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qurannya, karena semua amal salehnya telah terhapus di dunia akibat kesyirikan yang dia lakukan, sebagaimana tidak ada amalannya yang akan diterima pada hari kiamat. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kesyirikan dan pelakunya.

Hadits Keempat

Permisalan Seorang Mukmin dan Munafik yang Membaca al-Quran

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ، لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ» متفق عليه

“Dari Abu Musa al-Asy’ari t dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Mukmin yang membaca al-Quran bagaikan buah utrujjah, yang aromanya harum dan rasanya manis. Mukmin yang tidak membaca al-Quran bagaikan buah korma, yang tidak beraroma namun rasanya manis. Munafik yang membaca al-Quran bagaikan buah raihanah, yang aromanya harum namun rasanya pahit. Dan munafik yang tidak membaca al-Quran bagaikan buah hanzhalah, yang tidak beraroma dan rasanya pahit.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits Kelima

Pahala Orang yang Mahir dan yang Belum Mahir Dalam Membaca al-Quran

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: «الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ»

وَفِي رِوَايَةٍ: «وَالَّذِي يَقْرَؤُهُ وَهُوَ يَشْتَدُّ عَلَيْهِ لَهُ أَجْرَانِ» رواه البخاري ومسلم -واللفظ لمسلم- وأهل السنن

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Orang yang mahir membaca al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sementara orang yang terbata-bata dan sulit melafalkan al-Quran akan memperolah dua pahala.”

Dalam sebuah riwayat, “Sementara orang yang sulit dalam melafalkannya akan memperoleh dua pahala.” (HR. al-Bukhari, Muslim -dan ini adalah lafazhnya-, dan keempat penulis kitab al-Sunan)

Hadits Keenam

Keutamaan Membaca al-Quran Dalam Shalat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلَاثَ خَلْفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «فَثَلَاثُ آيَاتٍ يَقْرَؤُهُنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثِ خَلْفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ» رواه مسلم

Dari Abu Hurairah t dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Apakah kalian mau -tatkala kalian pulang ke rumah- mempunyai tiga ekor onta gemuk yang tengah bunting?” Kami menjawab, “Mau.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang kalian baca dalam shalat itu lebih baik daripada tiga ekor onta gemuk yang tengah bunting.” (HR. Muslim)

Komentar:

Khalfah bermakna onta yang tengah bunting. Bentuk pluralnya adalah khalfat.

Hadits Ketujuh

Keutamaan Mengamalkan al-Quran

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ، تَقْدُمُهُمْ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ». وَضَرَبَ لَهُمَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثَلَاثَةَ أَمْثَالٍ مَا نَسِيتُهُنَّ بَعْدُ، قَالَ: «كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ ظُلَّتَانِ سَوْدَاوَانِ بَيْنَهُمَا شَرْقٌ، أَوْ كَأَنَّهُمَا حِزْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا» رواه مسلم وأحمد واللفظ لأحمد

Dari al-Nawwas bin Sam’an t dia berkata: Aku mendengar Nabi r bersabda, “(Pahala bacaan) al-Quran beserta mereka yang mengamalkannya akan datang pada hari kiamat, dimana yang terdepan adalah surah al-Baqarah dan Ali Imran.” Rasulullah r memisalkan kedua surah ini dengan tiga permisalan yang tidak akan aku lupa. Beliau bersabda, “Keduanya bagaikan dua awan atau dua bayangan hitam yang di antaranya ada cahaya, atau keduanya bagaikan dua kumpulan burung yang menaungi. Kedua surah ini akan membela mereka yang mengamalkannya.” (HR. Muslim dan Ahmad, dan ini adalah lafazhnya)

وَعَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِي رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، طَيِّبَةِ الطَعْمِ طَيِّبَةِ الرِيحِ. وَمَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ طَيِّبَةِ الطَعْمِ وَلاَ رِيحَ لَهَا» رواه البخاري

Dari Abu Musa al-Asy’ari t dari Nabi r beliau bersabda, “Mukmin yang membaca dan mengamalkan al-Quran bagaikan buah utrujjah, yang rasanya manis dan aromanya harum. Sementara mukmin yang tidak membaca al-Quran namun ia mengamalkannya bagaikana buahh korma, yang manis rasanya namun tidak ada aromanya.” (HR. al-Bukhari)

Komentar:

Ibnu al-Qayyim berkata, “Ahlul Qur`an adalah mereka yang mengilmui dan mengamalkan kandungannya, walaupun mereka tidak menghafalnya. Adapun orang yang hanya menghafalnya namun tidak memahami dan tidak mengamalkan kandungannya maka dia bukanlah ahlul Qur`an, walaupun dia sangat mahir dalam membacanya.” (Kitab Zad al-Ma’ad)

Hadits Kedelapan

Keutamaan Membaca Surah al-Baqarah di Rumah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ» رواه مسلم

Dari Abu Hurairah t (dia berkata): Rasulullah r bersabda, “Jangan jadikan rumah kalian seperti pekuburan, karena setan akan meninggalkan rumah yang surah al-Baqarah dibaca di dalamnya.” (HR. Muslim)

Hadits Kesembilan

Keutamaan Orang Membaca al-Qur`an Secara Jahr dan Sirr

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول: «الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ، كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ، وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ، كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ» رواه الترمذي وأبو داود والنسائي وأحمد

Dari Uqbah bin Amir al-Juhani t dia berkata: Aku mendengar Rasulullah r bersabda, “Orang yang mengeraskan bacaan al-Qurannya seperti orang yang bersedekah terang-terangan, sementara orang yang melirihkan bacaannya seperti orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi.” (HR. al-Tirmidzi, Abu Daud, al-Nasai, dan Ahmad)

Abu Isa (al-Tirmidzi) berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Dan hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani.

Hadits Kesepuluh

Kecintaan Mendengarkan al-Quran

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «اقْرَأْ عَلَيَّ الْقُرْآنَ» قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: «إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي»، فَقَرَأْتُ النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا} [سورة: النساء، آية رقم: 41] فَرَفَعْتُ رَأْسِي أَوْ غَمَزَنِي رَجُلٌ إِلَى جَنْبِي، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَرَأَيْتُ دُمُوعَهُ تَسِيلُ.

Dari Abdullah bin Mas’ud t dia berkata: Rasulullah r bersabda kepadaku, “Bacalah al-Quran untukku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, “Pantaskah aku membacanya untuk anda sementara ia diturunkan untuk anda?” Beliau menjawab, “Aku mau mendengarnya dari orang lain.” Maka aku membacakan untuk beliau surah al-Nisa`, sampai pada ayat, ”Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” (QS. al-Nisa`/4: 41) Kemudian aku mengangkat kepalaku -atau dia berkata: Lelaki di sampingku mencolekku maka aku mengangkat kepalaku-, maka aku melihat air mata beliau sudah berlinang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafazhnya)

[Diterjemah dari kitab al-Arba’un al-Qur`aniyah, karya guru kami Syaikh Ahmad bin Abdirrazzaq Alu Ibrahim al-Anqari hafizhahullah]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, April 11th, 2018 at 1:43 pm and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Hadits, Ilmu al-Qur`an. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Tafadhdhal komentari artikel
Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Membaca dan Mempelajari al-Quran