Hadits-Hadits Dha’if Dalam Kekhalifahan Abu Bakar

April 21st 2012 by Abu Muawiah |

Hadits-Hadits Dha’if Dalam Kekhalifahan Abu Bakar

 

Ketika kami menerjemah Risalah fi Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah hal. 45-52 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab -pada pembahasan pengingkaran Syiah terhadap keabsahan khilafah Abu Bakar-, muhaqqiqnya menyebutkan ada beberapa hadits yang disebutkan oleh Asy-Syaikh rahimahullah di dalamnya. Karenanya jumlahnya ada beberapa hadits, maka kami pisahkan terjemahannya lalu mengumpulkannya dalam artikel tersendiri di sini.

Kemudian, inti kandungan dari semua hadits dha’if yang akan kami sebutkan di bawah adalah penetapan kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu. Namun kami membawakannya di sini tentu saja bukan untuk tujuan mengingkari kekhalifahan beliau, sebagaimana yang diyakini oleh Syiah. Akan tetapi kami membawakannya di sini agar jangan sampai ada yang menisbatkan hadits-hadits ini kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam padahal beliau tidak pernah mengucapkannya. Karena itu merupakan perbuatan berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan berdusta atas nama beliau shallallahu alaihi wasallam adalah dosa besar, baik isi kedustaannya itu benar maupun salah.

Maka kembali kami tekankan kalau kandungan semua hadits di atas adalah benar karena didukung oleh hadits shahih yang lain, bahkan ijma’ para sahabat. Akan tetapi berhubung sanadnya lemah, maka kita tidak boleh menisbatkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi kita mencukupkan dengan dalil-dalil lain yang shahih. Wallahu a’lam

 

Berikut beberapa hadits dha’if dalam masalah ini:

Hadits Pertama:

Dari Ali radhiallahu anhu dia berkata:

دَخَلْنا عَلَى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنا: يا رسولَ اللهِ, اِسْتَخْلِفْ عَلَيْنا. قالَ: إنْ يَعْلَمِ اللهُ فِيْكُمْ خَيْرًا يُوَلِّ عَلَيْكُمْ خَيْرَكُمْ. فَقالَ عَلِي رضي الله عنه: فَعَلِمَ اللهُ فِيْنا خَيْرًا فَوَلىَّ عَلَيْنا خَيْرَنا أَبا بَكْرٍ رضي الله عنه

“Kami pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, tentukanlah seorang khalifah untuk kami.” Beliau bersabda, “Jika Allah mengetahui pada kalian ada kebaikan, maka Dia akan memilihkan pemimpin untuk kalian orang yang terbaik di antara kalian.” Maka Ali radhiallahu anhu berkata, “Maka Allah mengetahui kalau pada kami ada kebaikan, sehingga Dia memilihkan pemimpin untuk kami orang yang terbaik di antara kami, yaitu Abu Bakar radhiallahu anhu.” (HR. Ad-Daraquthni[1])

 

Hadits Kedua:

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu dia berkata, “Ada seorang wanita yang mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menanyakan sesuatu. Maka beliau bersabda, “Kamu kembalilagi lain waktu.” Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, jika aku kembali nanti tapi tidak lagi menjumpai anda -maksudnya telah meninggal-?” Maka beliau bersabda, “Jika kamu datang tapi tidak menjumpai aku lagi maka datangilah Abu Bakar, karena dia adalah khalifah setelahku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir[2])

 

Hadits Ketiga:

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَكُوْنُ خَلْفِي اثْنا عَشَرَ خَلِيْفَةً: أَبُوْ بَكْرٍ لاَ يَلْبَثُ إلاَّ قَلِيْلاً

“Akan ada 12 orang khalifah sepeninggalku: Tidak lama lagi adalah Abu Bakar.” (HR. Al-Baghawi dengan sanad yang hasan[3])

 

Hadits Keempat:

Dari Hudzaifah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اِقْتَدَوْا بِاللَّذَيْنِ بَعْدِي: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Mencontohkan kepada kedua orang sepeninggalku: Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma.” (HR. Ahmad, At-Tirmizi -dan dinyatakan hasan olehnya-, Ibnu Majah, dan Al-Hakim -dan dinyatakan shahih olehnya-. Ath-Thabrani juga meriwayatkannya dari Abu Ad-Darda`[4] dan juga Al-Hakim dari Ibnu Mas’ud[5])

 

Hadits Kelima:

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنِّي لَا أَدْرِي مَا قَدْرُ بَقَائِي فِيكُمْ فَاقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَتَمَسَّكُوا بِهَدْيِ عَمَّارٍ وَمَا حَدَّثَكُمُ ابْنُ مَسْعُودٍ فَصَدِّقُوهُ

“Aku tidak tahu seberapa lama aku bersama kalian, maka teladanilah kedua orang sepeninggalku: Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma.  Berpegangteguhlah pada petunjuk  ‘Ammar dan apa saja yang disampaikan Ibnu Mas’ud kepada kalian maka benarkanlah.” (HR. Ahmad dan selainnya[6])

 

Hadits Keenam:

Dari Anas dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اِقْتَدَوْا بِاللَّذَيْنِ بَعْدِي: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ. وَاهْتَدَوْا بِهَدْيِ عَمَّارٍ وَتَمَسَّكُوا بِعَهْدِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ

“Teladanilah kedua orang ini sepeninggalku: Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma. Dapatkanlah hidayah dari petunjuk Ammar dan berpegangteguhlah kalian dengan janji Ibnu Mas’ud.” (HR. Ibnu Adi[7])

 

Hadits Ketujuh:

Dari Anas radhiallahu anhu dia berkata: Bani Al-Mushthaliq mengutusku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menanyakan kepada beliau, “Kepada siapa kami menyerahkan zakat-zakat kami sepeninggal anda?” Maka beliau menjawab, “Kepada Abu Bakar.” (HR. Al-Hakim dan dinyatakan shahih olehnya[8])

 

Hadits Kedelapan:

Dari Ali radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku:

سَأَلْتُ اللهَ أَنْ يُقَدِّمَكَ ثَلاثًا, فَأَبَى اللهُ إلاَّ بِتَقْدِيْمِ أَبِيْ بَكْرٍ

“Saya meminta kepada Allah tiga kali agar Dia mendahulukan engkau (menjadi khalifah, pent.). Akan tetapi Allah enggan kecuali mendahulukan Abu Bakar.”

Dalam sebuah riwayat ada tambahan, “Akan tetapi saya adalah penutup para nabi dan engkau adalah penutup para khalifah.” (HR. Ad-Daraquthni, Al-Khathib, dan Ibnu Asakir[9])



[1] Diriwayatkan oleh Al-Hakim no. 4761 dan ini adalah hadits yang dha’if. Di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Musa bin Muthir, dinyatakan pendusta oleh Yahya bin Main. Abu Hatim, An-Nasai, dan sekelompok ulama menyatakan, “Matruk.” Sebagaimana dalam Al-Mizan.

[2] Dalam Tarikh Madinah Dimasyq dalam biografi Abu Bakar no. 6332, dan ini adalah hadits yang dha’if jiddan. Di dalam sanadnya ada beberapa perawi yang dha’if, di antaranya adalah Ghulam Khalil, yang Adz-Dzahabi berkata tentangnya dalam Al-Mizan, “Dia meriwayatkan kedustaan dan kekejian, dan dia berpendapat bolehnya memalsukan hadits.”

[3] Dalam Mu’jam Ash-Shahabah no. 1389. Di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Rabiah bin Saif Al-Ma’afiri. Al-Bukhari berkata tentangnya, “Dia mempunyai hadits-hadits yang mungkar.” Sebagaimana dalam Al-Mizan. Kalimat pertama hadits ini adalah shahih, terdapat dalam hadits Jabir bin Samurah riwayat Al-Bukhari (7222) dan Muslim (1821).

[4] Dalam Musnad Asy-Syamiyin (2/57) dan di dalam sanadnya ada beberapa perawi yang majhul. Hadits ini juga dinyatakan dha’if oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Adh-Dha’ifah (2330).

[5] Ibnu Majah (97), Ahmad (23138), At-Tirmizi (3671), dan Al-Hakim (4516) dari jalan Rib’i bin Khirasy dari Hudaifah, sementara Rab’i tidak mendengar hadits ini  dari Hudzaifah.

Datang juga dari hadits Ibnu Mas’ud riwayat Al-Hakim (4518), At-Tirmizi (3814), dan Ath-Thabrani (8426) dari jalan Ismail bin Ibrahim bin Yahya bin Salamah bin Kuhail. Sementara Yahya bin Salamah dan anaknya yang bernama Ismail, keduanya adalah perawi yang matruk. Ibrahim bin Ismail adalah dha’if sebagaimana dalam At-Taqrib. Hadits ini dinyatakan dha’if oleh Al-Imam Al-Wadi’i dalam Ahadits Mu’allah Zhahiruha Ash-Shihhah hal. 118.

[6] Ahmad (22765) dan At-Tirmizi (3663) dari jalan Rib’i bin Khirasy dari Hudzaifah. Dan sanad ini terputus sebagaimana yang telah berlalu.

[7] Dalam Al-Kamil (2/666) dari jalan Amr bin Harim dari Anas, dan Amr tidak pernah berjumpa dengan Anas.

[8] Al-Hakim (4522) dan di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Nashr bin Manshur Al-Marwazi. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Saya tidak mengetahui ada seorangpun yang menyatakannya tsiqah.”

[9] HR. Ad-Daraquthni dalam Al-Afrad -sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaukani dalam Al-Fawa`id Al-Majmu’ah no. 346-, Al-Khathib (11/213), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Madinah Dimasyq (45/322). Di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ali bin Hasan Al-Kalbi dan Yahya bin Adh-Dhurais. Ibnu Al-Jauzi berkata dalam Al-Ilal Al-Mutanahiah (no. 291), “Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ali dan Yahya keduanya adalah perawi yang majhul.”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, April 21st, 2012 at 2:55 pm and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.