Fenomena Fatwa

November 21st 2014 by Abu Muawiah |

Kaum muslimin membutuhkan orang yang mampu menjelaskan kepada mereka urusan akidah, ibadah, muamalah, dan pernikahan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Inilah yang dimaksud dengan fatwa, yaitu penjelasan mengenai hukum syariat berdasarkan dalil dari al Kitab dan as Sunnah. Mereka juga membutuhkan orang yang mampu menjadi hakim di antara mereka dalam persengketaan dan perselisihan di antara mereka. Dan ini yang dimaksud dengan qadha` (vonis hukum). Dan tidak ada orang yang mampu mengemban kedua tugas yang besar ini kecuali orang yang memiliki kapabilitas ilmiah, ketakwaan, rasa takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kondisinya ketika dia berdiri di hadapan Allah kelak. Karena, baik pemberi fatwa maupun hakim, keduanya adalah orang yang mengabarkan dari Allah bahwa Dia menghalalkan ini dan mengharamkan itu, dan bahwa kebenaran hanya berpihak kepada salah satu pihak dari pihak-pihak yang berselisih. Karenanya, Allah memandang besar kedua tugas ini; memberi fatwa dan vonis dan Dia memperingatkan jangan sampai seseorang menceburkan diri ke dalamnya tanpa ilmu dan pengetahuan serta tanpa sifat adil dan obyektif.
(وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمْ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ* مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.”
Dan Allah berfirman kepada NabiNya:
(وَأَنْ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ)
“Dan berhukumlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Dan wasapadalah jangan sampai mereka memalingkan kamu dari sebagian yang Allah turunkan kepadamu.”

Allah Ta’ala berfirman:
(وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْكَافِرُونَ) (فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ) (فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ)
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang yang kafir.” “Maka mereka adalah orang-orang yang zalim.” “Maka mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Dan Allah memerintahkan semua orang yang bodoh untuk bertanya kepada orang yang berilmu. Allah Subhanahu berfirman:
(فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ)
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”
Maka orang yang bodoh tidak diperbolehkan untuk bertanya kepada sesame orang yang bodoh atau kepada orang yang berlagak alim. Dan tidak boleh bagi orang yang tidak berilmu untuk menjawab penanya dan mengeluarkan fatwa tanpa ilmu. Demikian halnya wajib bagi orang yang berilmu untuk berfatwa dengan kebenaran yang sesuai dengan dalil, dan dia tidak boleh berfatwa dengan fatwa yang menuruti keinginan dan kehendak masyarakat jika fatwa itu bertentangan dengan dalil dan jangan pula membuka peluang bagi mereka untuk mengamalkan pendapat yang lebih mudah jika itu bertentangan dengan dalil.
Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan setiap pemberi fatwa dan yang bertanya, agar jangan sampai mereka berkomentar atas nama Allah tanpa ilmu. Beliau mengabarkan bahwa ketika para ulama sudah tiada, maka manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan.

Pemberi fatwa ada dua jenis:
Pertama: Mujtahid mutlak.
Yaitu orang yang memiliki kapabilitas ilmiah dalam menarik hukum dari al Kitab dan as Sunnah secara langsung. Untuk menjadi mujtahid seperti ini membutuhkan beberapa syarat yang wajib dipenuhi, yang telah dipaparkan oleh para ulama dalam disiplin ilmu Ushul Fiqih. Syarat-syarat menjadi mujtahid mutlak ini tidak terdapat kecuali pada keempat imam mazhab dan yang selevel dengan mereka, yang telah memenuhi semua syarat-syarat ijtihad.

Kedua: Mujtahid mazhab.
Yaitu orang yang memiliki kapabilitas ilmiah dalam mengetahui mana pendapat yang lebih kuat dan lebih sahih dibandingkan yang lainnya, baik di dalam mazhabnya maupun dalam mazhab selainnya. Sehingga dia bisa berfatwa dengan pendapat yang lebih kuat menurut dia, yang mana ini sudah menggugurkan kewajibannya dan kewajiban orang yang bertanya.
Adapun orang yang tidak memiliki kapabilitas dalam memilih pendapat yang lebih kuat, namun dia hanya memiliki pengetahuan tentang pendapat-pendapat yang ada dalam permasalahan atau dia telah membaca banyak buku atau dia menelaah pendapat-pendapat fiqih yang tersimpan dalam komputernya, namun dia tidak memiliki kapabilitas dalam mengetahui mana pendapat yang lebih kuat dari semua pendapat yang ada berdasarkan dalil, maka dia tidak boleh memberikan fatwa kepada orang lain agar jangan sampai dia tersesat dan menyesatkan.

Dahulu, masyarakat di negeri ini berada di atas sistem yang tepat dalam urusan fatwa, karena mereka senantiasa merujuk kepada para ulama yang ahli dan dijadikan sandaran dalam berfatwa secara teliti. Fenomena fatwa ini bisa berjalan dengan baik karena tidak ada seorang pun yang berkomentar pada masalah yang dia bukan pakarnya, namun setiap orang berhenti pada batasannya masing-masing. Namun pada zaman belakangan ini, terjadi pelampauan batas dalam urusan ini. Sehingga jadilah setiap orang berfatwa walaupun pertanyaan itu tidak ditujukan kepadanya atau dia tidak memiliki kapabilitas dalam berfatwa. Lebih parah lagi, ada sebagian wartawan yang terjun membahas hukum-hukum syar’i dan bertindak melampaui batas kepada para ulama dan hasbah, sehingga membuat bingung masyarakat dan menjadikan sesak dada orang-orang yang cemburu pada agamanya. Sampai-sampai ada sebagian wartawan yang mengomentari fatwa yang tidak sesuai dengan keinginannya sebagai fatwa yang aneh, walaupun fatwa itu benar. Dan dia menggelari ulama yang berfatwa dengannya dengan gelar ekstrimis atau suka mengkafirkan. Jika suatu fatwa sesuai dengan keinginannya maka dia akan menyebarkan dan memujinya, walaupun itu adalah fatwa yang keliru dan yang mengeluarkan fatwa bukanlah seorang ahli. Fenomena ini kemudian berkembang sampai kepada urusan vonis hukum di pengadilan dan urusan hasbah. Bahkan fenomena ini terus bertambah gawat sampai mencapai puncaknya.

Tatkala penguasa dan pelayan kedua kota suci lagi mulia hafizhahullah melihat bahayanya fenomena ini terhadap agama dan kaum muslimin, beliau menerbitkan keputusan yang bijaksana lagi tegas yang memproteksi fatwa, kehormatan ulama, dan hasbah, serta membungkam mulut orang-orang yang tidak jelas. Ini semua beliau lakukan sebagai bentuk kecemburuan terhadap agama ini, negeri ini, dan hamba Allah. Maka beliau -semoga Allah menjaga dan memberi taufik kepada beliau untuk selalu menolong kebenaran- akhirnya bisa mengembalikan urusan fatwa ini menjadi seperti sedia kala dan menghentikan orang-orang yang tidak jelas ini pada batasan mereka. Ini semua sebagai realisasi dari apa yang Allah telah wajibkan kepada beliau berupa tugas untuk menjaga agama, menjaga akidah, dan menjaga kehormatan kaum muslimin, serta penjagaan terhadap wibawa dan kedudukan para ulama.
Ini merupakan perkara yang patut disyukuri, dan kita memohon kepada Allah agar senantiasa meluruskan, membantu, dan menolong beliau. Kita memohon kepada Allah Subhanahu agar mengembalikan orang-orang yang bersalah menuju kepada petunjuk dan mengokohkan orang-orang yang mengikuti kebenaran. Sebagaimana kita memohon kepada Allah Subhanahu agar senantias menolong agamaNya, meninggikan kalimatNya, dan memberikan hidayah kepada semua kaum muslimin yang tersesat.
Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Ditulis oleh:
Saleh bin Fauzan al Fauzan
Anggota Haiah Kibar al Ulama

[Sumber: http://alfawzan.net/makalah/fenomena-fatwa]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, November 21st, 2014 at 11:51 am and is filed under Akhlak dan Adab, Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.