<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Al-Atsariyyah.Com</title>
	<atom:link href="http://al-atsariyyah.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://al-atsariyyah.com</link>
	<description>Website Para Penuntut Ilmu Agama</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 01:52:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Fenomena Ketindihan dan Solusinya</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/fenomena-ketindihan-dan-solusinya.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/fenomena-ketindihan-dan-solusinya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 01:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawaban Pertanyaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3587</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena Ketindihan dan Solusinya Tanya: assalamu’alaykum afwan ana mau tanya, apakah tindihan itu disebabkan oleh gangguan jin? jika ada orang yang sering tindihan itu apa sebabnya? jazakumulloh khoir ummu anas mmuftiatul@yahoo.com Jawab: Ketindihan saat tidur disebabkan oleh banyak hal. Ada banyak hal yang berkaitan dengan kejiwaan dan kesehatan. Juga ada hal yang berkaitan dengan perbuatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Fenomena Ketindihan dan Solusinya</strong></p>
<p><strong>Tanya:</strong><br />
assalamu’alaykum<br />
afwan ana mau tanya, apakah tindihan itu disebabkan oleh gangguan jin? jika ada orang yang sering tindihan itu apa sebabnya?<br />
jazakumulloh khoir<br />
ummu anas<br />
mmuftiatul@yahoo.com</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Ketindihan saat tidur disebabkan oleh banyak hal. Ada banyak hal yang berkaitan dengan kejiwaan dan kesehatan. Juga ada hal yang berkaitan dengan perbuatan Jin.</p>
<p>Cara terbaik untuk mengobati hal tersebut adalah melaksanakan etika-etika sebelum tidur yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, seperti berwudhu sebelum tidur dan membaca doa-doa tidur.</p>
<p>Doa-doa tidur yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam mempunyai makna dan manfaat yang sangat besar. Seharusnya setiap muslim dan muslimah mempelajari kandungan maknanya agar bacaan doa tersebut lebih dahsyat pengaruhnya untuk diri.</p>
<p>Obat yang paling bermanfaat untuk seluruh penyakit yang berkaitan dengan gangguan dan was-was adalah dengan tidak mempedulikannya, seakan-akan seorang tidak pernah punya masalah dengan hal tersebut.<span id="more-3587"></span></p>
<p>Wallahu A’lam.</p>
<p>(Dijawab oleh Ust. Dzulqarnain hafizhahullah &#8211; Sumber: Milis An-Nashihah)<br />
[sumber: http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/11/23/fenomena-ketindihan-saat-tidur/]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/fenomena-ketindihan-dan-solusinya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian dan Hukum Istighatsah</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istighatsah.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istighatsah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 00:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3584</guid>
		<description><![CDATA[Pembagian dan Hukum Istighatsah Istighatsah artinya memohon keselamatan dari kesulitan dan kebinasaan. Istighatsah ada 4 macam : 1.    Istighatsah kepada Allah Azza wa Jalla. Amalan ini termasuk di antara amalan yang paling utama dan paling sempurna, serta merupakan sunnah para rasul dan pengikut mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta&#8217;ala: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Pembagian dan Hukum Istighatsah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Istighatsah artinya memohon keselamatan dari kesulitan dan kebinasaan. Istighatsah ada 4 macam :<br />
1.    Istighatsah kepada Allah Azza wa Jalla.<br />
Amalan ini termasuk di antara amalan yang paling utama dan paling sempurna, serta merupakan sunnah para rasul dan pengikut mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta&#8217;ala:<br />
<strong>إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ</strong><br />
<em>“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”</em> (QS. Al-Anfal: 9)</p>
<p>2.    Istighatsah kepada orang-orang yang telah mati atau kepada orang yang masih hidup tetapi tidak hadir dan tidak sanggup untuk memenuhi permohonannya.<br />
Istighatsah ini adalah kesyirikan, karena tidak ada orang yang melakukan hal seperti ini kecuali orang yang meyakini bahwasanya mereka (yang dia beristoghotsah kepadanya) memiliki kemampuan tersembunyi dalam mengatur alam ini, sehingga dia memberikan sebagian dari sifat rububiyah kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman:<br />
<strong>أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ</strong><br />
<em>&#8220;Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).&#8221;</em> (QS. An-Naml: 62)</p>
<p>3.    Istighatsah kepada orang yang masih hidup, mengetahui (adanya istighatsah tersebut), dan dia sanggup untuk memenuhinya.<br />
Hukumnya boleh, sama seperti meminta pertolongan kepada mereka. Allah Ta&#8217;ala berfirman dalam kisah Nabi Musa:<br />
<strong>فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ</strong><br />
<em>“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.”</em> (QS. Al-Qashash: 15)<span id="more-3584"></span></p>
<p>4.    Istighatsah kepada orang yang masih hidup yang tidak mampu memenuhinya namun orang yang beristighotsah tidak meyakini adanya kekuatan tersembunyi pada orang tersebut.<br />
Contohnya: Orang yang akan tenggelam beristighatsah (minta bantuan) kepada orang yang lumpuh. Hal ini adalah perbuatan sia-sia dan ejekan kepada orang lumpuh tersebut, karenanya hal ini dilarang. Dan alasan lainnya adalah mungkin saja ada orang lain yang melihat hal ini lalu dia menyangka bahwasannya orang lumpuh tersebut punya kekuatan tersembunyi yang dengannya dia bisa menyelamatkan orang yang akan tenggelam itu dari kesulitan.</p>
<p>[Diterjemah secara ringkas dari Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 65-66]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istighatsah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian dan Hukum Isti&#8217;adzah</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istiadzah.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istiadzah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2012 00:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3583</guid>
		<description><![CDATA[Pembagian dan Hukum Isti&#8217;adzah Isti’adzah (permintaan perlindungan) ada 4 macam : 1.    Isti’adzah kepada Allah Ta&#8217;ala. Yaitu isti’adzah yang mengandung kesempurnaan rasa butuh kepada Allah, bersandar kepada-Nya, serta meyakini penjagaan dan kesempurnaan pemeliharaan Allah Ta&#8217;ala dari segala sesuatu, baik di zaman sekarang maupun di zaman yang akan datang, baik pada perkara yang kecil maupun yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Pembagian dan Hukum Isti&#8217;adzah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Isti’adzah (permintaan perlindungan) ada 4 macam :<br />
1.    Isti’adzah kepada Allah Ta&#8217;ala.<br />
Yaitu isti’adzah yang mengandung kesempurnaan rasa butuh kepada Allah, bersandar kepada-Nya, serta meyakini penjagaan dan kesempurnaan pemeliharaan Allah Ta&#8217;ala dari segala sesuatu, baik di zaman sekarang maupun di zaman yang akan datang, baik pada perkara yang kecil maupun yang besar, baik yang berasal dari manusia maupun selainnya.<br />
Dalilnya adalah firman Allah Ta&#8217;ala dalam surah Al-Falaq dan surah An-Naas, dari awal sampai akhir.</p>
<p>2.    Isti’adzah dengan salah satu dari sifat-sifat Allah Ta&#8217;ala, seperti sifat kalam-Nya, keagungan-Nya, keagungan-Nya, kemuliaan-Nya, dan semacamnya.<br />
Dalilnya sangat banyak, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam:<br />
<strong>أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ</strong><br />
<em>“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa-apa yang Dia ciptakan.”</em> (HR. Muslim no. 4881 dari Khaulah bintu Hakim radhiallahu anha)<br />
Juga sabda beliau:<br />
<strong>أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ</strong><br />
<em>&#8220;Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dan berlindung dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu.&#8221;</em> (HR. Muslim no. 751)</p>
<p>3.    Isti’adzah kepada orang mati atau orang yang masih hidup tetapi tidak ada di tempat dan tidak mampu melindungi.<br />
Ini adalah kesyirikan. Di antara bentuknya adalah seperti pada firman Allah Ta&#8217;ala:<br />
<strong>وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا</strong><br />
<em>“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”</em> (QS. Al-Jin: 6)<span id="more-3583"></span></p>
<p>4.    Isti’adzah dengan apa-apa yang memungkinkan untuk dijadikan perlindungan, baik berupa manusia, atau tempat-tempat, atau selainnya.<br />
Isti’adzah jenis ini dibolehkan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau menyebutkan tentang fitnah:<br />
<strong>وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ</strong><br />
<em>&#8220;Dan siapa yang ingin melihat fitnah itu, maka fitnah itu akan mengintainya. Siapa yang menemukan tempat pertahanan atau tempat perlindungan, hendaklah dia berlindung padanya.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari no. 3334 dan Muslim no. 5137)<br />
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperjelas makna &#8216;tempat pertahanan atau tempat perlindungan&#8217; ini dengan sabdanya, <em>&#8220;Barangsiapa yang memiliki unta maka hendaknya dia menggunakan untanya (sebagai tempat berlindung).&#8221;</em><br />
Hanya saja, jika seseorang meminta perlindungan dari kejelekan orang yang zhalim, maka dia wajib untuk dilindungi sekuat tenaga. Namun jika dia meminta perlindungan agar bisa melakukan sesuatu yang dilarang atau lari dari kewajiban, maka haram untuk melindunginya.</p>
<p>[Diterjemahkan secara ringkas dari Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 63-65 ]</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>istiadzah</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istiadzah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian dan Hukum Isti&#8217;anah</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istianah.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istianah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 23:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3582</guid>
		<description><![CDATA[Pembagian dan Hukum Isti&#8217;anah Isti’anah ada 5 macam: 1.    Isti’anah kepada Allah Ta&#8217;ala yaitu isti’anah yang mengandung kesempurnaan sikap merendahkan diri dari seorang hamba kepada Rabbnya, dan menyerahkan seluruh perkara kepada-Nya, serta meyakini bahwa hanya Allah yang bisa memberi kecukupan kepadanya. Isti&#8217;anah seperti ini tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Ta&#8217;ala. Dan dalilnya adalah firman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Pembagian dan Hukum Isti&#8217;anah</strong></p>
<p>Isti’anah ada 5 macam:<br />
1.    Isti’anah kepada Allah Ta&#8217;ala yaitu isti’anah yang mengandung kesempurnaan sikap merendahkan diri dari seorang hamba kepada Rabbnya, dan menyerahkan seluruh perkara kepada-Nya, serta meyakini bahwa hanya Allah yang bisa memberi kecukupan kepadanya.<br />
Isti&#8217;anah seperti ini tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Ta&#8217;ala. Dan dalilnya adalah firman Allah Ta&#8217;ala:<br />
<strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</strong><br />
<em>“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”</em> (QS. Al-Fatihah: 4)<br />
Karenanya, memalingkan isti’anah jenis ini kepada selain Allah Ta&#8217;ala merupakan perbuatan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama.</p>
<p>2.    Isti’anah kepada makhluk dalam perkara yang makhluk tersebut mampu melakukannya.<br />
Hukum bagi isti’anah jenis ini tergantung pada perkara yang dimintai pertolongan padanya. Jika perkara tersebut berupa kebaikan maka boleh dilakukan oleh orang yang meminta tolong, sementara yang dimintai tolong disyariatkan untuk memenuhinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala:<br />
<strong>وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى</strong><br />
<em>“Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa.”</em> (QS. Al-Maidah: 2)<br />
Jika permintaan tolongnya pada perbuatan dosa maka hukumnya haram bagi yang meminta tolong dan juga bagi memberikan pertolongan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala<br />
<strong>وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ</strong><br />
<em>“Dan janganlah kalian tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.&#8221;</em> (QS.Al-Maidah: 2)<br />
Adapun jika perkaranya adalah perkara mubah maka itu dilakukan boleh yang meminta pertolongan dan bagi orang yang dimintai pertolongan. Bahkan orang yang menolong ini bisa jadi akan mendapatkan pahala karena telah berbuat baik kepada orang lain. Dan jika demikian keadaannya maka justru menolong ini menjadi disyariatkan bagi dirinya. Berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala:<br />
<strong>وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ</strong><br />
<em>&#8220;Dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”</em> (QS.Al-Baqarah: 195)</p>
<p style="text-align: justify;">3.    Isti’anah kepada makhluk yang masih hidup dan hadir (ada di tempat), tapi dalam perkara yang dia tidak mampu melakukannya.<br />
Hukumnya adalah perbuatan sia-sia dan tidak ada gunanya. Misalnya minta tolong kepada orang yang lemah untuk mengangkat sesuatu yang berat.<span id="more-3582"></span></p>
<p style="text-align: justify;">4.    Isti’anah kepada orang-orang mati secara mutlak (yakni baik yang telah mati itu nabi, atau wali, apalagi selain mereka) atau kepada orang yang masih hidup dalam perkara gaib yang mereka ini tidak mampu melakukannya.<br />
Isti’anah jenis ini adalah kesyirikan, karena dia tidak mungkin melakukannya kecuali dia meyakini bahwa orang-orang ini mempunyai kemampuan tersembunyi dalam mengatur alam. Dalil-dalil bahwa isti&#8217;anah bentuk seperti ini adalah haram dan merupakan kesyirikan adalah:<br />
Allah Ta’ala berfirman:<br />
<strong>وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</strong><br />
<em>“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”</em> (QS. Al-An&#8217;am: 17)<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
<strong>وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ. وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ</strong><br />
<em>“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim&#8221;. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS. Yunus: 106-107)<br />
Allah Subhanahu berfirman:<br />
<strong>وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ</strong><br />
<em>“Dan mereka yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.”</em> (QS. Al-A&#8217;raf: 197)<br />
Allah Subhanahu berfirman:<br />
<strong>قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ</strong><br />
<em>“Katakanlah: &#8220;Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.”</em> (QS. Saba`: 22)<br />
Allah -Azza wa Jalla- berfirman:<br />
<strong>يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ. إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ</strong><br />
<em>“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.”</em> (QS. Fathir: 13-14)</p>
<p>5.    Isti’anah dengan perantaraan amal-amal sholeh dan keadaan-keadaan yang dicintai oleh Allah. Isti’anah jenis ini disyariatkan berdasarkan perintah Allah Ta&#8217;ala dalam firman-Nya:<br />
<strong>اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ</strong><br />
<em>&#8220;Minta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat.&#8221;</em> (QS.Al-Baqarah: 153)</p>
<p>[Diterjemah dari Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 62-63, karya Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/pembagian-dan-hukum-istianah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/antara-abu-lahab-dengan-perayaan-maulid.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/antara-abu-lahab-dengan-perayaan-maulid.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 00:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensiklopedia Hadits Lemah]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat & Jawabannya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3581</guid>
		<description><![CDATA[Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid Di antara dalil yang digunakan oleh orang-orang yang membolehkan perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah kisah salah seorang tokoh dalam kesyirikan yakni Abu Lahab. Berikut uraiannya: As-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy (1/196-197), “Lalu saya melihat Imamul Qurro`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzi berkata dalam kitab beliau yang berjudul ‘Urfut Ta’rif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di antara dalil yang digunakan oleh orang-orang yang membolehkan perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah kisah salah seorang tokoh dalam kesyirikan yakni Abu Lahab. Berikut uraiannya:<br />
As-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy (1/196-197), “Lalu saya melihat Imamul Qurro`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzi berkata dalam kitab beliau yang berjudul ‘Urfut Ta’rif bil Maulid Asy-Syarif’ dengan nash sebagai berikut, “Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meningalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”, dia menjawab, “Di dalam Neraka, hanya saja diringankan bagiku (siksaan) setiap malam Senin dan dituangkan di antara dua jariku air sebesar ini -dia berisyarat dengan ujung jarinya- karena saya memerdekakan Tsuwaibah ketika dia memberitahu kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena dia telah menyusuinya.”<br />
As-Suyuthi berkata, &#8220;Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang Al-Qur`an telah turun mencelanya, diringankan (siksaannya) di neraka dengan sebab kegembiraan dia dengan malam kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana lagi keadaan seorang muslim yang bertauhid dari kalangan ummat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam?!, saya bersumpah bahwa tidak ada balasannya dari Allah Yang Maha Pemurah, kecuali Dia akan memasukkannya berkat keutamaan dari-Nya ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.&#8221;<br />
Kisah ini juga dipakai berdalil oleh Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam risalahnya Haulal Ihtifal bil Maulid, hal. 8 tatkala dia berkata, “Telah datang dalam Shahih Al-Bukhari bahwa diringankan siksaan Abu lahab setiap hari Senin dengan sebab dia memerdekakan Tsuwaibah ….”.</p>
<p><strong>Bantahan:</strong><br />
Penyandaran kisah di atas kepada Imam Al-Bukhari adalah suatu kedustaan yang nyata sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh At-Tuwaijiri dalam Ar-Raddul Qawi  hal. 56. Karena tidak ada dalam riwayat Al-Bukhari sedikitpun yang disebutkan dalam kisah di atas.<br />
Berikut konteks hadits ini dalam riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 4711 secara mursal dari Urwah bin Az-Zubair -rahimahullah- dia berkata:<br />
<strong>وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ</strong><br />
&#8220;Tsuwaibah, dulunya adalah budak perempuan Abu Lahab. Abu Lahab membebaskannya, lalu dia menyusui Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tatkala Abu Lahab mati, dia diperlihatkan kepada sebagian keluarganya (dalam mimpi) tentang jeleknya keadaan dia. Dia (keluarganya ini) berkata kepadanya, &#8220;Apa yang engkau dapatkan?&#8221;, Abu Lahab menjawab, &#8220;Saya tidak mendapati setelah kalian kecuali saya diberi minum sebanyak ini (sedikit) karena saya memerdekakan Tsuwaibah”.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Syubhat ini dibantah dari beberapa sisi:</span><br />
1.    Hadits tentang diringankannya siksa Abu Lahab ini telah dikaji oleh para ulama dari zaman ke zaman. Akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang menjadikannya sebagai dalil disyari’atkannya perayaan maulid.</p>
<p style="text-align: justify;">2.    Ini adalah hadits mursal sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath (9/49) karena Urwah adalah seorang tabi’i dan beliau tidak menyebutkan dari siapa dia mendengar kisah ini. Sedangkan hadits mursal adalah termasuk golongan hadits-hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa <span id="more-3581"></span>dipakai berdalil.</p>
<p style="text-align: justify;">3.    Apa yang dinukil oleh As-Suyuthi dari Ibnul Jauzi di atas bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah karena memberitakan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena dia menyusui Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah menyelisihi apa yang telah tetap di kalangan para ulama siroh (sejarah). Karena dalam buku-buku siroh ditegaskan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah jauh setelah Tsuwaibah menyusui Nabi shallallahu alaihi wasallam.<br />
Al-Hafizh Ibnu Abdul Barr -rahimahullah- berkata dalam Al-Isti’ab (1/12) ketika beliau menyebutkan kisah menyusuinya Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Tsuwaibah, “Dan Abu Lahab memerdekakannya setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam berhijrah ke Madinah”.</p>
<p style="text-align: justify;">4.    Kegembiraan yang dirasakan oleh Abu Lahab hanyalah kegembiraan yang sifatnya tabi’at manusia biasa karena Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah keponakannya. Sedangkan kegembiraan manusia tidaklah diberikan pahala kecuali bila kegembiraan tersebut muncul karena Allah Ta&#8217;ala. Buktinya, setelah Abu Lahab mengetahui kenabian keponakannya, diapun memusuhinya dan melakukan tindakan-tindakan yang kasar padanya. Ini bukti yang kuat menunjukkan bahwa Abu Lahab bukan gembira karena Allah, tapi gembira karena lahirnya seorang keponakan. Gembira seperti ini ada pada setiap orang.</p>
<p>(Rujukan: Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 165-170, Ar-Raddu ‘ala Syubuhati man Ajazal Ihtifal bil Maulid syubhat keenam dan Al-Hiwar ma’al Maliki Syubhat pertama)</p>
<p>[Dinukil dari buku kami 'Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi hal. 169-171]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/antara-abu-lahab-dengan-perayaan-maulid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehnya Membaca Al-Qur`an Dalam Keadaaan Berjalan dan Berbaring</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/bolehnya-membaca-al-quran-dalam-keadaaan-berjalan-dan-berbaring.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/bolehnya-membaca-al-quran-dalam-keadaaan-berjalan-dan-berbaring.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 23:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3580</guid>
		<description><![CDATA[Bolehnya Membaca Al-Qur`an Dalam Keadaaan Berjalan dan Berbaring Dalil akan hal itu adalah firman Allah Ta&#8217;ala: الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ “Orang-orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.“ (QS. Ali Imran: 191) Dan firman Allah Ta&#8217;ala: لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Bolehnya Membaca Al-Qur`an<br />
Dalam Keadaaan Berjalan dan Berbaring</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalil akan hal itu adalah firman Allah Ta&#8217;ala:<br />
<strong>الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ</strong><br />
<em>“Orang-orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.“</em> (QS. Ali Imran: 191)<br />
Dan firman Allah Ta&#8217;ala:<br />
<strong>لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ. وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ.</strong><br />
<em>“Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kalian mengingat nikmat Rabb kalian, apabila kalian telah duduk di atasnya. Dan suapaya kalian mengucapkan: Maha Suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami hanya kembali kepada Rabb kami.“</em> (QS. Az-Zukhruf: 13 – 14 )<br />
Dan As-Sunnah juga telah menerangkan hal ini seluruhnya. Dari hadits Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu dia berkata:<br />
<strong>رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَى رَاحِلَتِهِ سُورَةَ الْفَتْحِ</strong><br />
<em>&#8220;Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam paha hari penaklukan Makkah, di mana beliau membaca surah Al-Fath di atas tunggangan beliau.“</em> (HR. Al-Bukhari no. 5034 dan Muslim no. 794)<br />
Dan dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَّكِئُ فِي حَجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ</strong><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersandar di pangkuanku sementara saya dalam keadaan haidh, lalu beliau membaca Al-Qur`an.“</em> (HR. Al-Bukhari no. 297 dan Muslim no. 301) <span id="more-3580"></span><br />
Adapun bagi seorang yang sedang berjalan, maka dapat dianalogikan kepada seseorang yang sedang berada di atas kendaraan, karena keduanya tidak ada perbedaan.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Faedah:</span><br />
Pada hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, menunjukkan bolehnya membaca Al-Qur`an di pangkuan seorang wanita yang tengah haidh atau nifas. Dan yang dimaksud dengan bersandar di sini adalah meletakkan kepala di pangkuan. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, &#8220;Hadits ini menunjukkan bolehnya membaca Al-Qur`an di dekat tempat yang najis, sebagaimana yang dikatakan oleh an-Nawawi.&#8221; [Fath Al-Baari: 1 / 479]</p>
<p style="text-align: justify;">[Fiqh Al-Adab: Adab Terhadap Al-Qur`an, Point Ke-6, karya: Fuad bin Abdil Aziz Asy-Syalhub]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/bolehnya-membaca-al-quran-dalam-keadaaan-berjalan-dan-berbaring.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkataan Para Ulama Bahwa Perayaan Maulid Adalah Perkara Baru Dalam Agama</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/perkataan-para-ulama-bahwa-perayaan-maulid-adalah-perkara-baru-dalam-agama.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/perkataan-para-ulama-bahwa-perayaan-maulid-adalah-perkara-baru-dalam-agama.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 13:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3579</guid>
		<description><![CDATA[Perkataan Para Ulama Bahwa Perayaan Maulid Adalah Perkara Baru Dalam Agama Perkara yang penting untuk diperhatikan dalam masalah ini adalah bahwa para ulama -baik yang membolehkan perayaan maulid terlebih yang tidak memperbolehkannya- semuanya telah bersepakat bahwa perayaan maulid Nabawi tidak pernah dilakukan oleh Nabi r dan para salafus Saleh dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Perkataan Para Ulama Bahwa Perayaan Maulid</strong><br />
<strong>Adalah Perkara Baru Dalam Agama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perkara yang penting untuk diperhatikan dalam masalah ini adalah bahwa para ulama -baik yang membolehkan perayaan maulid terlebih yang tidak memperbolehkannya- semuanya telah bersepakat bahwa perayaan maulid Nabawi tidak pernah dilakukan oleh Nabi r dan para salafus Saleh dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan para ulama setelah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut nukilan perkataan dan fatwa mereka -yang sempat kami kumpulkan-:<br />
1.    Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiah -rahimahullah- :<br />
a.    Beliau berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/298), “Adapun menjadikan suatu hari raya, selain dari hari-hari raya yang syar’i, seperti beberapa malam dalam bulan Rabiul Awwal yang dikatakan bahwa itu adalah malam maulid atau beberapa malam dalam bulan Rajab atau pada tanggal 18 Dzul Hijjah atau Jumat pertama dari bulan Rajab atau tanggal 8 Syawal yang disebut oleh orang-orang bodoh dengan idul Abror, maka semua ini adalah termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang tidak pernah disunnahkan dan tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, Wallahu  a’lam”.<br />
b.    Beliau berkata dalam Al-Iqhtidha` (hal. 295), “… Karena sesungguhnya hal ini (yaitu perayaan maulid) tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, padahal ada faktor-faktor yang mendukung (pelaksanaannya) dan tidak adanya faktor-faktor yang bisa menghalangi pelaksanaannya. Seandainya amalan ini adalah kebaikan semata-mata atau kebaikannya lebih besar (daripada kejelekannya) maka tentunya para salaf  lebih berhak untuk mengerjakannya daripada kita, karena mereka adalah orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dibandingkan kita, dan mereka juga lebih bersemangat dalam masalah kebaikan daripada kita.<br />
Sesungguhnya kesempurnaan mencintai dan mengagungkan beliau hanyalah dengan cara mengikuti dan mentaati beliau, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara batin dan zhahir, dan menyebarkan wahyu yang beliau diutus dengannya, serta berjihad di dalamnya dengan hati, tangan,  dan lisan. Inilah jalan orang-orang yang terdahulu lagi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.</p>
<p>2.    Imam Tajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali Al-Lakhmi Al-Fakihani -rahimahullah-.<br />
Beliau berkata di awal risalah beliau yang berjudul Al-Mawrid fii ‘Amalil Maulid, “Saya tidak mengetahui bagi perayaan maulid ini ada asalnya (baca: landasannya) dari Al-Kitab, tidak pula dari Sunnah, dan tidak pernah dinukil pengamalannya dari seorang pun di kalangan para ulama ummat ini yang merupakan panutan dalam agama, yang berpegang teguh dengan jejak-jejak para ulama terdahulu. Bahkan ini adalah bid’ah yang dimunculkan oleh orang-orang yang tidak punya pekerjaan (baca: kurang kerjaan) yang dikuasai oleh syahwat jiwanya dan bid’ah ini (hanya) disenangi oleh orang-orang yang suka makan”.</p>
<p>3.    Muhammad bin Muhammad Ibnul Haj Al-Maliki -rahimahullah-.<br />
Beliau berkata dalam Al-Madkhal (2/2), “Termasuk perkara yang mereka munculkan berupa bid’ah -bersamaan dengan keyakinan mereka bahwa itu termasuk sebesar-besar ibadah dan dalam rangka menampakkan syiar-syiar (Islam)- adalah apa yang kerjakan dalam bulan Rabiul Awwal berupa maulid. Acara ini telah menghimpun sejumlah bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan.”<span id="more-3579"></span></p>
<p>4.    Al-Imam Ibrahim bin Musa Al-Lakhmi Asy-Syathibi -rahimahullah-.<br />
Dalam kitab beliau yang penuh faidah, Al-I’tishom (1/53) tatkala beliau menyebutkan sisi-sisi penyelisihan bid’ah terhadap syari’at. Beliau berkata, “Di antaranya adalah komitmen di atas kaifiat-kaifiat dan cara-cara tertentu, seperti berzikir secara berjamaah di atas satu suara, menjadikan hari kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai hari raya, dan yang semisalnya”.</p>
<p>5.    Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani -rahimahullah-.<br />
Beliau berkata, “Saya tidak menemukan satupun dalil yang membolehkannya. Orang yang pertama kali mengada-adakannya adalah Raja Al-Muzhaffar Abu Said pada abad ke tujuh dan kaum muslimin telah bersepakat bahwa itu adalah bid’ah”. Lihat kitab Al-Mawrid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid karya Uqail bin Muhammad bin Zaid Al-Yamani hal. 37.</p>
<p>[Demikian beberapa fatawa yang kami nukil dari buku kami yang berjudul 'Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam pada hal 211-213. Silakan lihat puluhan fatawa lainnya dalam buku tersebut.]</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>pandangan ustad jual beli saham</li><li>salafi menghitung zakat mal rumah kontrakan</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/perkataan-para-ulama-bahwa-perayaan-maulid-adalah-perkara-baru-dalam-agama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Asy-Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali Kepada Para Pemuda Kaum Muslimin</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/nasehat-asy-syaikh-rabi-bin-hadi-al-madkhali-kepada-para-pemuda-kaum-muslimin.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/nasehat-asy-syaikh-rabi-bin-hadi-al-madkhali-kepada-para-pemuda-kaum-muslimin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 07:01:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanpa Kategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3576</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat Asy-Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali Kepada Para Pemuda Kaum Muslimin Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du, Sesungguhnya kita umat Islam, Allah telah mengistimewakan (baca : melebihkan) kita di atas ummat-ummat yang lain bahwasanya kita memerintahkan kepada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Nasehat Asy-Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali</strong><br />
<strong>Kepada Para Pemuda Kaum Muslimin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du,<br />
Sesungguhnya kita umat Islam, Allah telah mengistimewakan (baca : melebihkan) kita di atas ummat-ummat yang lain bahwasanya kita memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Allah -Ta’ala- berfirman:<br />
<strong>كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ</strong><br />
<em>“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar”.</em> (QS. Ali Imran: 110)<br />
Dan Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ</strong><br />
<em>“Barang siapa yang di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaknya ia ubah dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak sanggup maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman”.</em> (HR. Muslim)<br />
Dan Rabb kita telah membebankan (baca: mewajibkan) atas kita agar senantiasa tegak di atas keadilan. Allah -Ta’ala- berfirman:<br />
<strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ</strong><br />
<em>“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu”.</em> (QS. An-Nisa’ : 135)<br />
Dan Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan dan melarang kita dari tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Allah -Ta’ala- berfirman:<br />
<strong>وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</strong><br />
<em>“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.</em> (QS. Al-Maidah : 2)<br />
Dan Allah juga memerintahkan jihad dalam rangka menyebarkan dan membela agama Allah, jihad dengan pedang dan tombak. Dan (juga) telah memerintahkan kita untuk berjihad dengan bayan (penjelasan), hujjah (argumen yang kokoh), dan burhan (keterangan dan dalil), dan ini adalah adalah jihadnya para nabi -&#8217;alaihimus salam-.<br />
Allah memerintahkan untuk berlaku jujur dan menjunjung kejujuran serta melarang kita dari dusta dan senantiasa menghindarinya. Nabi -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا</strong><br />
<em>“Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu mengantar kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantar ke surga dan senantiasa orang itu berlaku jujur dan terus menerus berlaku jujur sehingga dicatat di sisi Allah selaku orang yang jujur. Dan janganlah kalian berlaku dusta, sebab dusta mengantar kepada kedurhakaan dan kedurhakaan itu mengantar kepada neraka, dan senantiasa orang yang berdusta dan terus menerus berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”.</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim).<br />
Dan beliau telah memperingatkan dari sangkaan dusta, beliau -&#8217;alaihis sholatu wassalam- bersabda:<br />
<strong>إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ</strong><br />
<em>“Hati-hati kalian dari berprasangka, karena sangkaan itu adalah ucapan yang paling dusta”.</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<span id="more-3576"></span><br />
Dan beliau memerintahkan kita untuk (menegakkan) ukhuwwah (Islamiyah) dan berusaha untuk m(menjaga) persaudaraan. Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَخُونُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ عِرْضُهُ وَمَالُهُ وَدَمُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْتَقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ</strong><br />
<em>“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, ia tidak menghianatinya dan tidak pula menghinakannya. Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram kehormatannya dan hartanya serta darahnya, takwa itu disini. Cukup orang yang berbuat jahat dengan menghinakan saudaranya sesama muslim”.</em> (HR. Tirmdzi dan beliau berkata, “Ini adalah hadits hasan”).<br />
Dan Rasulullah -Shallallahu wasallam- (juga) bersabda:<br />
<strong>لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ</strong><br />
<em>“Janganlah kalian saling hasad, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah seorang dari kalian membeli barang yang telah dibeli oleh orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, ia tidak menzhaliminya dan tidak merendahkannya. Takwa itu disini (beliau menunjuk ke dadanya 3 kali), cukuplah seseorang dikatakan jahat jika dia menghinakan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim dengan muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya”.</em> (HR. Muslim)<br />
Dan beliau memerintahkan kita untuk (menegakkan) nasihat, Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ</strong><br />
<em>“Agama itu adalah nasihat”. Kami berkata, “Untuk siapa ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum muslimin pada umumnya”.</em> (HR. Muslim)<br />
Dan beliau memerintahkan kita menolong orang yang terdzolimi dan yang berbuat dzolim, Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ</strong><br />
<em>“Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim atau yang terzhalimi”. Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah saya menolongnya jika ia dizhalimi, bagaimana kalau dia yang berbuat zhalim?” Beliau menjawab, “Kamu cegah ia atau kamu larang ia dari kezhalimannya karena sesungghnya itu adalah (bentuk) pertolongan kepadanya”.</em> (HR. Al-Bukhari)<br />
Dan beliau mengabarkan kepada kita bahwa kezholiman adalah kegelapan pada hari kiamat. Allah -Ta’ala- berfirman:<br />
<strong>إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا</strong><br />
<em>“Sesungguhnya Allah tidak akan menzholimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”.</em> (QS. An-Nisa’: 40)<br />
Dan Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda dalam hadits qudsi:<br />
<strong>يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا</strong><br />
<em>“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan aku telah jadikannya sebagai suatu perkara yang haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi.”</em> (HR. Muslim)<br />
Dan beliau telah mengharamkan ghuluw (melampaui batas) dalam beragama, Allah -Ta’ala- berfirman:<br />
<strong>يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ</strong><br />
<em>“Wahai Ahli Kitab (Yahudi dan Nasharo), janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar”.</em> (QS. An-Nisa’ : 171)<br />
Dan Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ</strong><br />
<em>“Waspadalah kalian dari ghuluw (melampaui batas), sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ghuluw (melampaui batas) dalam agama mereka.”</em><br />
Dan Rasul -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- (juga) bersabda:<br />
<strong>لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ </strong><br />
<em>“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nashrani telah berlebih-lebihan dalam mengkultuskan Isa bin Maryam …”.</em> Al-hadits<br />
Dan beliau telah mengharamkan ta’ashshub (fanatisme), Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو إِلَى عَصَبِيَّةٍ أَوْ يَنْصُرُ لِعَصَبِيَّةٍ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ</strong><br />
<em>“Barangsiapa yang berperang di bawah bendera fanatisme, atau dia mengajak kepada fanatisme atau menolong suatu golongan, maka cara terbunuhnya adalah cara terbunuhnya jahiliyah”.</em><br />
Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah -rahimahullahu Ta’ala- menyatakan dalam Al-Majmu’ (27/16), “Tidak boleh bagi seorang pengajar untuk mengelompok-ngelompokkan manusia dan (juga tidak boleh  baginya) untuk melakukan tindakan yang menyebabkan timbulnya permusuhan dan kebencian di antara mereka (manusia), bahkan (seharusnya) mereka mewujudkan persaudaraan dan kerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan sebagaimana yang Allah -Ta’ala- firmankan:<br />
<strong>وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ</strong><br />
<em>“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”</em> (QS. Al-Maidah : 2)<br />
Dan tidaklah boleh bagi seorangpun di antara mereka (para pengajar) untuk mengambil perjanjian (bai’at atau mu’ahadah) dari seseorang untuk setuju dengan semua yang dia inginkan, untuk memberikan loyalitas kepada orang yang berloyalitas kepadanya, dan (untuk) memusuhi orang yang memusuhi dirinya. Bahkan barangsiapa yang melakukan perbuatan semacam ini maka dia termasuk dari golongan Jengis Khan dan yang semisalnya, yang mereka ini menjadikan orang yang setuju dengannya sebagai teman dan sahabat sedangkan orang yang menyelisihinya dijadikan sebagai musuh dan pembangkang. Bahkan yang wajib atas mereka dan orang-orang yang mengikutinya adalah (melaksanakan) perjanjian (dengan) Allah dan Rasul-Nya dengan cara mengikuti Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, mengharamkan (baca: menjauhi) apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan, dan menjaga hak-hak orang yang mengajar sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya telah perintahkan. Maka apabila seorang ustadz dizholimi maka ia menolonya dan jika ia (sang usyadz) berbuat dzolim maka ia tidak membantunya di atas kezholiman akan tetapi ia mencegahnya dari kezholiman, sebagaimana yang tsabit dalam hadits yang shohih dari Nabi -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam- (bahwa) beliau bersabda, “Tolonglah saudaramu dalam keadaan berbuat zhalim atau dizhalimi”. Beliau lalu ditanya, “Wahai, Rasulullah saya menolongnya kalau ia dizhalimi, maka bagaimana saya menolong orang yang berbuat zhalim?”. Beliau menjawab, “Engkau cegah ia dari perbuatan zhalim, maka itulah (bentuk) pertolonganmu kepadanya”.</p>
<p>Semua perkara dan keistimewaan yang agung serta azas yang kokoh (yang telah disebutkan) di atas wajib ditegakkan dan dijaga dengan sebaik-sebaiknya oleh umat ini, baik oleh setiap individu maupun masyarakat, baik oleh rakyat maupun pemerintah, terkhusus oleh para ulama dan penuntut ilmu, dan lebih terkhusus lagi bagi mereka yang menisbahkan (baca:menyandarkan) dirinya kepada As-Sunnah dan Al- Jama’ah.<br />
Dan sesungguhnya pelanggaran terhadap semua hal di atas atau pelanggaran terhadap salah satunya adalah suatu kerusakan yang besar dalam (hal) dunia dan agama, yang pada gilirannya akan menyebabkan hilangnya ilmu-ilmu yang agung ini, dan hal tersebut adalah kejelekan yang besar dan kerusakan yang fatal.<br />
Dan termasuk dari perkara yang seorang yang berakal tidak akan ragu tentangnya, bahwasanya telah terjadi pelanggaran besar dan kezholiman yang jelek lagi nyata kepada orang yang menyatakan kebenaran, maka ditolaklah kebenaran yang ada pada orang tersebut bersamaan dengan direndahkan dan dihinakannya orang tersebut. Dan perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang sangat dibenci lagi mungkar andaikata hal ini dilakukan oleh orang kafir, maka bagaimana lagi jika yang melakukannya adalah seorang yang muslim.<br />
Maka wajib atas umat ini -khususnya para pemuda yang merupakan tonggak agama- untuk menghormati dan mengagungkan kebenaran serta menghinakan kebatilan dan mengalahkan pelakunya siapapun mereka. Karena dengan hal inilah maka Allah akan menguatkan, memuliakan, serta mengangkat kedudukan mereka, dan kebalikan dari hal tersebut adalah (munculnya) bala bencana, kesesatan, fitnah-fitnah, serta kemurkaan dan siksaan dari Allah di dunia dan di akhirat. Dan termasuk dari bentuk-bentuk siksaan adalah berkuasanya musuh-musuh mereka atas mereka sampai mereka mau kembali kepada agama mereka yang benar dan mereka betul-betul konsisten terhadapnya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita seluruhnya menuju apa yang Dia ridhoi.</p>
<p style="text-align: center;">Ditulis oleh:<br />
Yang mengharap maaf dan pengampunan Allah<br />
Robi’ bin Hady ‘Umair Al-Madkhaly<br />
16 Shafar 1422 H</p>
<p style="text-align: justify;">[Diterjemahkan dari risalah beliau yang berjudul Nashihatun Waddiyah min Asy-Syaikh Robi’ bin Hady Al-Madkhaly ila Abna`il Ummatil Islamiyyah wa Hamalatud Da’watis Salafiyyah.]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/nasehat-asy-syaikh-rabi-bin-hadi-al-madkhali-kepada-para-pemuda-kaum-muslimin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehnya Tidur Terlentang di Dalam Masjid</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/bolehnya-tidur-terlentang-di-dalam-masjid.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/bolehnya-tidur-terlentang-di-dalam-masjid.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 06:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3574</guid>
		<description><![CDATA[Bolehnya Tidur Terlentang di Dalam Masjid Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah: Boleh Berbaring dengan posisi terlentang di dalam masjid. Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid Al-Mazini: أنه رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ مُسْتَلْقِيًا وَاضِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى &#8220;Bahwa dia pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur terlentang di dalam masjid sambil meletakkan salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Bolehnya Tidur Terlentang di Dalam Masjid</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah:<br />
Boleh Berbaring dengan posisi terlentang di dalam masjid. Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid Al-Mazini:<br />
<strong>أنه رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ مُسْتَلْقِيًا وَاضِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى</strong><br />
<em>&#8220;Bahwa dia pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur terlentang di dalam masjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas kaki lainnya.&#8221;</em><br />
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/446) (10/328) (11/68) dan dalam Al-Adab Al-Mufrad (172), Muslim (6/154), Malik (1/186) serta Abu Daud (2/297) dan An-Nasai (1/118) dari jalannya, Muhammad dalam kitabnya Muwaththa` (398), At-Tirmizi (2/127 -cet. Bulaq), Ad-Darimi (2/282), Ath-Thayalisi (hal. 148 no. 1101), dan Ahmad (4/38, 39, 40) dari beberapa jalan dari Az-Zuhri dia berkata: Abbad bin Tamim mengabarkan kepadaku dari pamannya (Abdullah bin Zaid, pent.) dengan lafazh di atas.<br />
At-Tirmizi berkata, &#8220;Hadits hasan shahih.&#8221;<br />
Hadits ini mempunyai pendukung dari hadits Abu Hurairah dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Fath (11/68)</p>
<p>Hadits ini adalah dalil dari apa yang kami sebutkan berupa bolehnya tidur terlentang di dalam masjid. Dan dengan inilah, Al-Bukhari dan An-Nasai memberikan judul bab terhadap hadits ini, dan ini pula yang dijelaskan oleh para ulama yang mensyarah Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan selain keduanya.<br />
Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath, &#8220;Kelihatannya, perbuatan beliau shallallahu alaihi wasallam adalah untuk menunjukkan bolehnya hal tersebut. Dan hal itu beliau lakukan pada waktu beliau beristirahat sendirian, bukan di hadapan banyak orang, karena sudah menjadi kebiasaan yang diketahui dari beliau bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam selalu duduk-duduk bersama mereka dengan sikap rendah hati yang sempurna. Al-Khaththabi berkata, &#8220;Dalam hadits ini terdapat pembolehan bersandar, berbaring, dan posisi istirahat lainnya di dalam masjid.&#8221; Ad-Daudi berkata, &#8220;Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala yang disebutkan bahwa orang yang tinggal di dalam masjid itu tidak terkhusus bagi orang yang duduk saja, akan tetapi juga didapatkan oleh orang yang tidur terlentang.&#8221;<span id="more-3574"></span></p>
<p>Ketahuilah bahwa telah shahih dalam Shahih Muslim dan selainnya dari hadits Jabir bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang seseorang mengangkat salah satu kakinya lalu meletakkannya di atas kaki lainnya, sementara dia berbaring di atas punggungnya.<br />
Suatu hal yang jelas kalau hadits Jabir ini tidak bertentangan dengan pembolehan tidur terlentang secara mutlak. Hanya saja lahiriah hadits ini bertentangan dengan tidur terlentang dengan cara yang tersebut dalam kedua hadits (yakni dengan salah satu kaki di atas, pent.). Para ulama telah memadukan kedua hadits ini dengan cara mereka mengarahkan larangan dalam hadits Jabir ini jika dikhawatirkan hal itu akan membuat auratnya terlihat, dan hal itu dibolehkan jika itu tidak dikhawatirkan terjadi. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadits Qatadah bin An-Nu&#8217;man: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya ketika Allah telah selesai menciptakan makhluk-Nya, Dia berbaring terlentang dengan meletakkan salah satu kaki-Nya di atas kaki lainnya seraya berfirman, &#8220;Tidak boleh ada seorang pun dari makhluk-Ku yang boleh melakukan seperti ini,&#8221;</em> maka keabsahannya masih butuh ditinjau lebih jauh.<br />
Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma&#8217; (8/100), &#8220;Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari tiga orang gurunya: Ja&#8217;far bin Sulaiman An-Naufali, Ahmad bin Rusydin Al-Mishri, dan Ahmad bin Daud Al-Makki. Ahmad bin Rusydin adalah perawi yang dha&#8217;if, dan dua orang lainnya belum saya ketahui. Dan perawi lainnya adalah perawi Ash-Shahih.&#8221;<br />
Saya pribadi menganggap sangat tidak mungkin hadits ini shahih, karena kandungannya mengesankan makna yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah. Dimana mereka mengatakan, &#8220;Allah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari kemudian Dia beristirahat pada hari yang ketujuh,&#8221; yaitu hari sabtu. Mereka menamakan hari sabtu ini sebagai hari istirahat. Dan sungguh Allah Ta&#8217;ala telah membantah mereka dalam banyak ayat, di antaranya adalah firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.&#8221; (QS. Qaf: 38)<br />
Maka dugaan besar saya adalah asal hadits ini berasal dari kisah-kisah israiliyat yang kaum muslimin impor dari sebagian ahli kitab. Kemudian sebagian perawinya keliru sehingga dia menyandarkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, padahal beliau berlepas diri darinya. Dan kasus seperti ini mempunyai banyak contoh berupa riwayat-riwayat. Di antaranya adalah kisah Harut dan Marut, yang sebagian perawi menyandarkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Ahmad. Padahal penyandaran itu keliru, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya dan selainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">[Diterjemahkan dari kitab Ats-Tsamar Al-Mustathab jilid 2 pada point 16 dari amalan-amalan yang dibolehkan dalam masjid]</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>hukum menguburkan jenazah dengan peti dalam al - quran</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/bolehnya-tidur-terlentang-di-dalam-masjid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAFSIR SURAH AL-INFITHAR</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/tafsir-surah-al-infithar.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/tafsir-surah-al-infithar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 02:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Al-Qur`an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3572</guid>
		<description><![CDATA[TAFSIR SURAH AL-INFITHAR Makiyyah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ. وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ. وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ. وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ. يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ. الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ. فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ. كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ. وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><strong>TAFSIR SURAH AL-INFITHAR</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>Makiyyah</strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="center"><strong>بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ. وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ. وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ. وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ. يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ. الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ. فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ. كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ. وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ.</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong><em>Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>&#8220;Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabb-mu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Ta&#8217;ala berfirman: <em>&#8220;Apabila langit terbelah.&#8221;</em> Yakni: Terpecah. <em>&#8220;Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.&#8221;</em> Yakni: Berjatuhan. <em>&#8220;Dan apabila lautan meluap.&#8221;</em> Sejumlah para ulama berkata: <em>Allah Ta&#8217;ala pancarkan sebahagiannya kepada sebahagian yang lain.</em> Dan Qatadah berkata: <em>Air tawar dan asinnya bercampur.</em> <em>&#8220;Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.&#8221;</em> Ibnu Abbas berkata: <em>Dihilangkan</em>. Dan As-Suddi berkata: <em>Digerakan sehingga siapa saja yang ada didalamnya keluar.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman-Nya: <em>&#8220;Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.&#8221;</em> Yakni: Jika hal tersebut diatas terjadi, maka terjadilah hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman-Nya: <em>&#8220;Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.&#8221;</em> Ini adalah ancaman. Dan makna ayat ini adalah: Apa yang membuat engkau terpedaya wahai anak Adam terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia. Yakni: Maha Agung. Sampai engkau mendahulukan kemaksiatan dan engkau datangi apa-apa yang tidak pantas?</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah ulama berkata: <em>&#8220;Terpedayanya dia adalah -demi Allah- kebodohannya.&#8221; </em>Dan Qatadah berkata: <em>&#8220;Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.&#8221;</em> Sesuatu yang menipu (memperdaya) anak Adam ini adalah musuh yaitu: Syaithan. Dan Fudhail bin Iyadh berkata: <em>Seandainya ada yang berkata kepadaku apa yang membuat kamu terpedaya padaku???</em> Dan Abu Bakr Al-Warraq berkata: <em>Seandainya ada yang berkata kepadaku, &#8220;Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.&#8221; Maka pasti aku menjawab: Kemuliannya Allah Yang Mahamulia telah membuat saya terperdaya.&#8221;</em> Al-Baghawy berkata: <em>Sebagian pakar tentang isyarat berkata: Allah Ta&#8217;ala hanya berfirman: &#8220;Terhadap Rabbmu Yang Mahamulia.&#8221; Tanpa menyebutkan nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang lain, seakan-akan Allah telah memberitahukan jawaban dari pertanyaan ini.&#8221; </em>Akan tetapi apa yang dikhayalkan oleh pembicaranya ini tidak teranggap sama sekali, sebab Allah hanya mendatangkan satu nama-Nya <em>&#8220;Yang Mahamulia,&#8221;</em> untuk memberikan peringatan bahwa tidak pantas kemuliaan dibalas dengan perbuatan-perbuatan yang kotor dan amalan-amalan yang jelek.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman-Nya: <em>&#8220;Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.&#8221;</em> Yakni: Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Mahamulia, <em>&#8220;Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.&#8221;</em> Yakni: Menjadikanmu seimbang, selaras tegak dalam berdiri yang penyandarannya kepada sebaik-baik keadaan dan permisalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Busr bin Jihasy Al-Qurasyi berkata, bahwa Rasulullah r suatu hari meludah ke telapak tangannya, lalu beliau meletakkan sebuah jarinya di atasnya. Kemudian beliau bersabda, <em>&#8220;Allah </em><em>U</em> <em>berfirman, &#8220;Wahai anak Adam, bagaimana mungkin kamu membuat Saya lemah sementara Saya yang telah menciptakan kamu dari air yang semisal ini. Sampai ketika Saya sudah menyempurnakan dan memperbaiki penciptaanmu, kamu pun berjalan di antara dua pakaian dan bumi merasa berat memikulmu. Maka kamu pun mengumpulkan harta dan menahan dari bersedekah, sampai ketika ruh sudah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, &#8220;Saya akan bersedekah,&#8221; padahal bukan lagi saatnya bersedekah.?<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a> &#8220;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman-Nya: <em>&#8220;Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.&#8221;</em> Mujahid berkata: <em>Pada segala penyerupaan dari ayah atau ibu atau paman dari pihak ayah atau paman dari pihak ibu.</em> Dalam Ash-Shahihain<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> dari Abu Hurairah: <em>Bahwasannya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: Sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak laki-laki hitam. Beliau bersabda: apakah kamu mempunyai unta? Laki-laki itu menjawab: Ya. Beliau bersabda: Apa warnanya? Dia menjawab: merah. Beliau bersabda: apakah padanya ada yang berwarna putih? Dia menjawab: Iya. Beliau bersabda: bagaimana dia bisa melahirkan yang berwarna hitam?! Dia berkata: Mungkin itu factor keturunan,&#8221; maka beliau bersabda, &#8220;Kalau begitu, ini pun mungkin factor keturunan.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ikrimah berkata pada firman Allah Ta&#8217;ala: <em>&#8220;Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu.&#8221; Jika Dia kehendaki pada bentuk monyet, maka engkau akan berbentuk pada bentuk monyet. Dia jika kehendaki pada bentuk babi, maka engkau akan dalam bentuk babi juga.</em> Demikian pula dikatakan oleh Abu Shalih: <em>Dalam bentuk anjing jika Dia kehendaki, dalam bentuk keledai dan jika Dia kehendaki, dalam bentuk babi</em>. Dan Qatadah berkata: <em>&#8220;Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.&#8221;</em> Beliau berkata: <em>Allah Rabb kita Mahamampu atas hal yang demikian.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan makna perkataan ini disisi mereka: Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala Mahamampu pada pembentukan yang jelek dari hewan-hewan yang tergabung kedalam hewan-hewan yang asing, akan tetapi karena keMahamampun-Nya dan kelembutan-Nya, Dia menciptamu diatas bentuk yang paling baik yang tegak dan sempurna, paling baik dipandang dan paling baik keadaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman-Nya: <em>&#8220;Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.&#8221;</em> Yakni: Tidak ada yang membuat kalian menghadapi dan membalas Yang Mahamulia dengan kemaksiatan kecuali pendustaan terhadap hari kebangkitan, pembalasan, dan hisab yang bercokol di dalam hati-hati kalia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman-Nya: <em>&#8220;Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em> Yakni: Sesungguhnya pada kalian ada malaikat penjaga yang mulia lagi mencatat. Maka jangan kalian hadapkan mereka dengan kekejian sehingga mereka menulis seluruh amalan-amalan kalian.<span id="more-3572"></span></p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ. وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ. يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ. وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam Surga yang penuh keni&#8217;matan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam Neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari Neraka itu. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Ta&#8217;ala menghabarkan tentang apa-apa terjadi pada orang-orang yang berbuat baik berupa kenikmatan, dan mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan tidak melakukan maksiat. Kemudian Allah Ta&#8217;ala menyebutkan apa yang terjadi pada orang-orang bejat berupa Nekara Jahim dan siksaan yang terus menerus. Oleh karena itu Allah Ta&#8217;ala berfirman: <em>&#8220;Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.&#8221;</em> Yakni: Hari perhitungan, hari pembalasan, dan hari Kiamat. <em>&#8220;Dan mereka sekali-kali tidak dapat menghindar itu.&#8221;</em> Yakni: Mereka tidak bisa menghindar dari siksaan sesaatpun, dan siksaannya tidak akan diringankan kepada mereka dan segala yang mereka minta berupa kematian atau istirahat tidak akan dipenuhi walaupun hanya sehari.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman-Nya: <em>&#8220;Tahukah kamu apakah hari pembalasan tersebut.&#8221;</em> Ini adalah penggambaran tentang keadaan hari Kiamat. Kemudian Allah kuatkan dengan firman-Nya: <em>&#8220;Kemudian, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu.&#8221;</em> Kemudian Allah menafsirkannya dengan firman-Nya: <em>&#8220;Hari yang  jiwa tidak mempunyai pemilikan pada jiwa manapun juga sedikitpun.&#8221;</em> Yakni: Seseorang tidak mampu untuk memberikan manfaat pada orang lain, dan tidak mampu untuk melepaskannya dari apa-apa yang dia berada padanya, kecuali bagi orang-orang yang Allah Ta&#8217;ala izinkan dan yang Dia Ridhai dan kami sebutkan padanya hadits, <em>&#8220;Wahai bani Hasyim selamatkan diri-diri kalian dari Nekara, sungguh saya tidak mempunyai kemampuan kepada kalian dihadapan Allah sedikitpun.<a title="" href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a>&#8221; </em>Dan telah berlalu pada akhir tafsir surah Asy-Syu&#8217;araa oleh karena itu Allah Ta&#8217;ala berfirman <em>&#8220;Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.&#8221;</em> Sebagaimana firman-Nya: <em>&#8220;Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?&#8221; Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.&#8221;</em> (<strong>Ghafir: 16</strong>) dan firman-Nya: <em>&#8220;Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah.&#8221;</em> (<strong>Al-Furqan: 26</strong>) dan firman-Nya: <em>&#8220;Yang menguasai hari pembalasan.&#8221;</em> (<strong>Al-Fatihah: 4</strong>)</p>
<p style="text-align: justify;">Qatadah berkata: <em>&#8220;Hari yang jiwa tidak mempunyai pemilikan pada jiwa manapun juga sedikitpun juga. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.&#8221;</em></p>
<div style="text-align: justify;">[Diterjemah dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 2, karya Asy-Syaikh Musthafa Al-Adawi]</div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Shahih, dan haditsnya telah berlalu dalam surah An-Nahl.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhari no. 5305 dan Muslim no. 1500</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Hadits shahih, telah berlalu penyebutannya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/tafsir-surah-al-infithar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

