<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Al-Atsariyyah.Com</title>
	<atom:link href="http://al-atsariyyah.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://al-atsariyyah.com</link>
	<description>Website Para Penuntut Ilmu Agama</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 15:25:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Rafidhah Mencela Aisyah Radhiallahu Anha</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/rafidhah-mencela-aisyah-radhiallahu-anha.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/rafidhah-mencela-aisyah-radhiallahu-anha.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 15:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesesatan Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3684</guid>
		<description><![CDATA[Rafidhah Mencela Aisyah Radhiallahu Anha Di antara kesesatan mereka adalah mereka menuduh (Aisyah) Ash-Shiddiqah -yang suci lagi disucikan dari tuduhan mereka- berbuat keji1 (baca: zina). Dan tuduhan ini sudah tersebar pada zaman ini di antara mereka, sebagaimana yang telah dinukil dari mereka. Padahal Allah Ta&#8217;ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="CENTER"><strong>Rafidhah Mencela Aisyah Radhiallahu Anha</strong></p>
<p align="JUSTIFY">Di antara kesesatan mereka adalah mereka menuduh (Aisyah) Ash-Shiddiqah -yang suci lagi disucikan dari tuduhan mereka- berbuat keji<a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"></a><sup>1</sup> (baca: zina). Dan tuduhan ini sudah tersebar pada zaman ini di antara mereka, sebagaimana yang telah dinukil dari mereka. Padahal Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</span></span></span><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;"></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em>Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: &#8220;Ini adalah suatu berita bohong yang nyata&#8221;. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: &#8220;Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar&#8221;. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” </em>(QS. An-Nur: 11-21)<span id="more-3684"></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Allah Ta&#8217;ala juga berfirman:</span></span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ</span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ</span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ</span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">.</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em>Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Ppada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” </em>(QS. An-Nur: 23-26)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Ahmad, Abdu bin Humaid, Al-Bukhari, Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, dan Al-Baihaqi dalam Syu&#8217;ab Al-Iman dari Aisyah radhiallahu anha bahwa dirinyalah wanita yang dibersihkan namanya, yang dimaksudkan dalam ayat-ayat di atas<a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"></a><sup>2</sup>.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Said bin Manshur, Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Al-Mundzir, dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Ruman radhiallahu anha bahwa Aisyah radhiallahu anha lah yang dibersihkan namanya, yang dimaksudkan dalam ayat-ayat di atas<a name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"></a><sup>3</sup>.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Al-Bazzar dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu Hurairah keterangan yang sesuai dengan apa yang telah lalu<a name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"></a><sup>4</sup>.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Diriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair keterangan yang sesuai dengan apa yang telah lalu<a name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"></a><sup>5</sup>. Dan diriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair, Said bin Al-Musayyab, Alqamah bin Waqqash, Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas&#8217;ud, Amrah bintu Abdirrahman, Abdullah bin Abi Bakar bin Hazm, Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar, Al-Aswad bin Yazid, Abbad bin Abdillah bin Az-Zubair, Miqsam maula Ibnu Abbas, dan selain mereka dari Aisyah yang semisal dengannya.<a name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"></a><sup>6</sup></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Dan keberadaan Aisyah sebagai wanita yang dibersihkan namanya dan yang dimaksudkan dalam ayat-ayat di atas sudah masyhur, bahkan mutawatir. Dan jika ini sudah kamu ketahui maka ketahuilah bahwa siapa saja yang menuduh beliau berbuat keji (baca: zina) padahal dia meyakini bahwa beliau adalah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bahwa beliau masih menjadi istri Nabi setelah perbuatan keji ini, maka sungguh dia telah mendatangkan kedustaan yang nyata, mendapatkan dosa, pantas mendapatkan siksaan, dan telah berprasangkan buruk kepada kaum mukminin. Dia adalah seorang pendusta yang datang dengan membawa suatu masalah yang menurutnya enteng, padahal masalah ini sangat besar di sisi Allah. Dia telah menuduh para penghuni rumah kenabian dengan kejelekan, dan tuduhan ini melazimkan dia telah melecehkan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Padahal siapa saja yang melecehkan beliau, maka seakan-akan dia telah melecehkan Allah. Dan siapa saja yang melecehkan Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah kafir. Dengan perbuatannya ini, dia telah keluar dari golongan orang-orang yang keimanan, mengikuti langkah-langkah setan, terlaknat di dunia dan akhirat, dan mendustakan Allah pada firman-Nya Ta&#8217;ala:</span></span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ </span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em>Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik.” </em>(QS. An-Nur: 26)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Dan siapa saja yang mendustakan Allah maka sungguh dia telah kafir.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Sementara siapa yang menuduh Aisyah radhiallahu anha dan dia meyakini bahwa ketika itu dia bukan istri Nabi shallallahu alaihi wasallam atau bukan lagi menjadi istri beliau setelah terjadinya kejadian keji ini, maka jika kita katakan bahwa: Telah pasti bahwa Aisyah lah yang dimaksudkan dalam ayat-ayat di atas -dan inilah yang nampak-, maka tuduhannya itu melazimkan semua keburukan yang telah disebutkan di atas.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Kesimpulannya: Menuduh Aisyah radhiallahu anha bagaimanapun bentuknya, maka itu menunjukkan dia telah menuduh Allah berdusta pada pengabaran-Nya tentang kesucian Aisyah dari tuduhan tersebut. Sebagian muhaqqiq berkata, “Adapun menuduh Aisyah sekarang maka itu adalah kekafiran dan kemurtadan, dan tidak cukup hanya dengan dicambuk. Hal itu karena dia telah mendustakan 17 ayat dalam kitab Allah sebagaimana yang telah lalu, karenanya dia dibunuh sebagai orang yang murtad. Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya mencukupkan dengan mencambuk mereka -yakni: orang-orang yang menuduh Aisyah pada zaman beliau- sekali atau dua kali cambukan, karena ketika itu Al-Qur`an belum turun menjelaskan keadaan mereka, sehingga mereka tidak bisa dikatakan mendustakan Al-Qur`an. Adapun sekarang, maka perbuatan itu sudah merupakan pendustaan terhadap Al-Qur`an. Tidakkah kita perhatikan firman Allah Ta&#8217;ala:</span></span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em>Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu.” </em>(QS. An-Nur: 17) sampai akhir ayat.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Sementara orang yang mendustakan Al-Qur`an kafir, dia tidak mendapatkan hukuman kecuali pedang dan dipenggal lehernya. Selesai<a name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"></a><sup>7</sup>.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Hal ini tidak bertentangan dengan firman-Nya:</span></span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em>Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah.” </em>(QS. At-Tahrim: 10)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Hal itu karena Abdurrazzaw, Al-Firyabi, Said bin Manshur, Abdu bin Humaid, Ibnu Abi Ad-Dun-ya dalam Ash-Shumt, Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Al-Hakim -dan dishahihkan olehnya- dari beberapa jalan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma tentang firman Allah Ta&#8217;ala, <em>“Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing).”</em>, “Adapun bentuk pengkhianatan istri Nuh adalah karena dia mengatakan kepada orang-orang kalau Nabi Nuh adalah gila. Sementara bentuk pengkhianatan istri Luth adalah dia memberitahu orang-orang akan kedatangan tamu suaminya. Inilah bentuk pengkhianatan mereka berdua<a name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"></a><sup>8</sup>. Dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, “Tidak pantas seorang wanita yang menjadi istri seorang nabi untuk berbuat kekejian.<a name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"></a><sup>9</sup>” Maka siapa saja yang menuduh sang wanita suci lagi baik, ibu kaum mukminin, istri dari Rasulnya Rabbul alamin shallallahu alaihi wasallam di dunia dan akhirat -sebagaimana yang telah shahih dari beliau<a name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"></a><sup>10</sup>-, maka dia sama dengan Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan kaum munafik. Sementara keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai kaum muslimin, siapa yang membela saya dari orang yang mengganggu saya dengan mengganggu keluargaku?!<a name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"></a><sup>11</sup>”</span></span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا</span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">. </span></span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا</span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">.</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;"><em>Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” </em>(QS. Al-Ahzab: 57-58)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: small;">Maka dimanakah para penolong agama beliau yang berani meneriakkan, “Kami akan membelamu wahai Rasulullah.” Lalu mereka berdiri seraya menyandang pedang-pedang mereka menuju orang-orang celaka tersebut, yang telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya, serta mengganggu keduanya dan kaum mukminin, lalu mereka membinasakan mereka. Dengan amalan ini mereka ingin dekat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mendapatkan syafaat beliau. Ya Allah, sesungguhnya kami berlepas diri kepada-Mu dari ucapan mereka yang dijauhkan tersebut.</span></span></p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a>1Rijal Al-Kisysyi hal. 55-57 dan Al-Ihtijaj karya Ath-Thibrisi hal. 82 cet. Iran via As-Sunnah wa Asy-Syi&#8217;ah hal. 41. Serta Haqq Al-Yaqin karya Muhammad Baqir Al-Majlisi via Buthlan &#8216;Aqa`id Asy-Syi&#8217;ah karya Al-Allamah At-Tannusi hal. 54</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"></a>2HR. Al-Bukhari no. 2661, Muslim no. 2770, dan selainnya.</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p><a name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"></a>3HR. Al-Bukhari no. 3388 dan Ahmad no. 26949</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p><a name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"></a>4HR. Al-Bazzar no. 2663 -sebagaimana dalam Kasyfu Al-Astar- dan Ath-Thabrani no. 165.</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"></a>5Al-Bukhari meriwayatkannya setelah hadits Aisyah yang panjang tentang kisah al-ifk (tuduhan zina) no. 2661 secara marfu&#8217;. Dari jalan Fulaih dari Hisyam bin Urwah dari Urwah dari Aisyah dan Abdullah bin Az-Zubair dengan lafazh yang semisal dengannya. Namun dia tidak membawakan lafazhnya.</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"></a>6Asy-Syaikh rahimahullah mengisyaratkan kepada hadits al-ifk yang panjang dan kepada para perawi yang meriwayatkan hadits tersebut dari Aisyah radhiallahu anha.</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"></a>7Ibnu Katsir berkata, “Para ulama seluruhnya telah bersepakat bahwa siapa saja yang mencela beliau -maksudnya Aisyah- dan menuduhnya dengan tuduhan tersebut setelah apa yang tersebut dalam ayat ini maka dia telah kafir, karena dia telah menentang Al-Qur`an.” Lihat Tafsir surah An-Nur ayat: 24</p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc"></a>8HR. Al-Hakim no. 3890, Ath-Thabari dalam Tafsirnya no. 34461, Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya no. 8927, dan Ibnu Abi Ad-Dun-ya dalam Ash-Shumt no. 271. Dan ini hadits yang shahih.</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"></a>9Ini diisyaratkan Ibnu Katsir dalam tafsir surah Hud pada firman Allah Ta&#8217;ala, “Dan Nuh menyeru anaknya.” (QS. Hud: 42). Ibnu Katsir berkata, “Sebagian ulama mengatakan: Tidak ada seorang pun wanita yang menjadi istri seorang nabi yang berbuat kekejian.” Demikian diriwayatkan juga dari Mujahid.” As-Suyuthi menyebutkannya dalam Ad-Durr Al-Mantsur dalam tafsir surah At-Tahrim dari Ibnu Juraij, dan dia menyandarkan periwayatannya kepada Ibnu Al-Mundzir.</p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc"></a>10Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya no. 3772 dari Abu Wa`il dia berkata, “Tatkala Ali mengutus Ammar dan Hasan ke Kufah untuk menyuruh mereka berperang, Ammar berkhutbah seraya berkata, “Sesungguhnya saya yakin bahwa Aisyah adalah istri Nabi di dunia dan akhirat. Akan tetapi Allah menguji kalian dengannya, apakah kalian mengikuti Nabi atau mengikuti istrinya.”</p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p><a name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc"></a>11Ini adalah potongan dari hadits al-ifk. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4750 dan Muslim no. 2770</p>
<p>[Risalah fi Ar-Radd ala Ar-Rafidhah hal. 66-72 dengan menghilangkan riwayat-riwayat yang lemah dan meringkas pada footnotenya]</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/rafidhah-mencela-aisyah-radhiallahu-anha.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nama-Nama Al-Fatihah dan Turunnya</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/nama-nama-al-fatihah-dan-turunnya.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/nama-nama-al-fatihah-dan-turunnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 23:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Al-Qur`an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3682</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir Al-Fatihah Makkiah dan Jumlah Ayatnya Tujuh Turun Setelah Surah Al-Muddatstsir Bismillahirrahmanirrahim Nama-Nama Al-Fatihah 1. Fatihah (pembuka) al-kitab, yakni pembuka kitab dalam bentuk tulisan (mushaf). Dan dengannyalah bacaan-bacaan dalam shalat dimulai. 2. Ummu (induk) al-kitab dan ummu al-qur`an, karena makna-makna Al-Qur`an semuanya kembali kepada kandungan surah al-fatihah ini. 3. As-sab&#8217;ul matsani (tujuh ayat yang berulang) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Tafsir Al-Fatihah</strong><br />
Makkiah dan Jumlah Ayatnya Tujuh</p>
<p style="text-align: center;">Turun Setelah Surah Al-Muddatstsir</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Nama-Nama Al-Fatihah</strong><br />
1. Fatihah (pembuka) al-kitab, yakni pembuka kitab dalam bentuk tulisan (mushaf). Dan dengannyalah bacaan-bacaan dalam shalat dimulai.<br />
2. Ummu (induk) al-kitab dan ummu al-qur`an, karena makna-makna Al-Qur`an semuanya kembali kepada kandungan surah al-fatihah ini.<br />
3. As-sab&#8217;ul matsani (tujuh ayat yang berulang) dan Al-Qur`an Al-Azhim. Telah tsabit dalam hadits yang shahih riwayat At-Tirmizi -dan dia menyatakannya shahih- dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعالَمِيْنَ: أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتابِ وَالسَّبْعُ الْمَثانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ</strong><br />
<em>“Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin (al-fatihah) adalah induk Al-Qur`an, induk al-kitab, tujuh ayat yang berulang, dan Al-Qur`an Al-Azhim.”</em><br />
4. Dinamakan juga &#8216;al-hamdu&#8217;.<br />
5. Dan juga &#8216;ash-shalah&#8217;, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam (yang beliau riwayatkan) dari Rabbnya:<br />
<strong>قُسِمَتِ الصَّلاةُ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ. فَإذا قالَ الْعَبْدُ: اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعالَمِيْنَ, قالَ اللهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي</strong><br />
<em>“Shalat dibagi antara Aku dengan hamba-Ku. Jika hamba mengatakan, “Alhamdulillahi Rabbil alamin,” Allah berfirman, “Hamba-Ku telah memuji-Ku,”</em> sampai akhir hadits.<br />
Maka di sini al-fatihah dinamakan shalat karena membacanya merupakan syarat syah di dalam shalat.<span id="more-3682"></span><br />
6. Dinamakan juga asy-syifa (kesembuhan). Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari Abu Said secara marfu&#8217;:<br />
<strong>فاتِحَةُ الْكِتابِ شِفاءٌ مِنْ كُلِّ سُمٍّ</strong><br />
<em>“Fatihah al-kitab adalah penyembuh dari semua bentuk racun.”</em><br />
7. Dinamakan juga ar-ruqyah. Berdasarkan hadits Abu Said Al-Khudri ketika dia membacanya dalam meruqyah seorang lelaki yang terkena racun (sengatan kalajengking, pent.). Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya:<br />
<strong>وَما يُدْرِيْكَ أَنَّها رُقْيَةٌ</strong><br />
<em>“Dari mana kamu tahu kalau al-fatihah itu ruqyah.”</em><br />
8. Juga dinamakan asas (pokok-pokok) Al-Qur`an. Berdasarkan atsar yang diriwayatkan oleh Asy-Sya&#8217;bi dari Ibnu Abbas bahwa beliau menamakannya asas Al-Qur`an. Ibnu Abbas berkata, “Dan pokok dari al-fatihah adalah bismillahirrahmanirrahim.<br />
9. Sufyan bin Uyainah menamakannya al-waqiyah (yang menjaga).<br />
10. Yahya bin Abi Katsir menamakannya al-kafiah (yang mencukupi). Berdasarkan keterangan yang terdapat dalam beberapa hadits yang mursal, <em>“Ummu Al-Qur`an adalah pengganti dari surah selainnya dan tidak ada satupun surah selainnya yang bisa menggantikannya.”</em><br />
11. Dinamakan juga surah ash-shalah dan al-kunz (perbendaharaan). Keduanya disebutkan oleh Az-Zamakhsyari dalam kitabnya Al-Kasysyaf.</p>
<p><strong>Turunnya</strong><br />
Surah Al-Fatihah turun di Makkah. Ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, dan Abu Al-Aliyah. Karenanya dia adalah surah makkiah. Ada yang berpendapat: Dia adalah surah madaniah. Dan ada yang berpendapat: Al-Fatihah turun dua kali, sekali di Makkah dan sekali di Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">[Bersambung insya Allah]</p>
<p style="text-align: justify;">[Taysir Al-Ali Al-Qadir li Ikhtishar Tafsir Ibni Katsir hal. 6-7]</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>ada berapa nama dari al fatihah</li><li>arti al fatihah</li><li>dimana turun nya surah al fatihah</li><li>hadit tentang turunnya Al Fatihah</li><li>nama-nama al</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/nama-nama-al-fatihah-dan-turunnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Donor Darah</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/hukum-donor-darah.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/hukum-donor-darah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 23:19:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Jawaban Pertanyaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3679</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Donor Darah Tanya: Bismillah, afwan ustadz ana mau tanya tentang hukum donor darah, bolehkah Semoga AlLah senantiasa menjaga antum. http://www.facebook.com/jeiypandaiberbisnis Jawab: Hukum mendonorkan darah adalah boleh dengan syarat dia tidak boleh menjual darahnya, karena Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma-: إِنَّ اللهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ, حَرَّمَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Hukum Donor Darah</strong></p>
<p><strong>Tanya:</strong><br />
Bismillah, afwan ustadz ana mau tanya tentang hukum donor darah, bolehkah<br />
Semoga AlLah senantiasa menjaga antum.</p>
<p>http://www.facebook.com/jeiypandaiberbisnis</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab:</strong><br />
Hukum mendonorkan darah adalah boleh dengan syarat dia tidak boleh menjual darahnya, karena Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma-:<br />
<strong>إِنَّ اللهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ, حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ</strong><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sebuah kaum untuk memakan sesuatu maka Allah akan haramkan harganya.&#8221;</em></p>
<p>Sedangkan darah termasuk dari hal-hal yang dilarang untuk memakannya, sehingga harganya pun (baca: diperjual belikan) diharamkan.<br />
Adapun jika yang membutuhkan darah memberikan kepadanya sesuatu sebagai balas jasanya, maka boleh bagi sang pendonor untuk mengambilnya, tapi dengan syarat, dia tidak memintanya sebelum dan sesudah donor, tidak mempersyaratkannya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara jelas maupun dengan isyarat, baik secara zhohir maupun batin. Kapan dia melaksanakan salah satu dari perkara-perkara di atas, maka haram baginya untuk menerima pemberian dari orang tersebut.</p>
<p>Adapun orang yang membutuhkan darah, sementara dia tidak mendapatkan darah yang gratis, maka boleh baginya membeli darah dari orang lain –karena darurat-, sedangkan dosanya ditanggung oleh yang menjualnya. Wallahu A’lam.<br />
Ini adalah rincian dari Asy-Syaikh Abdurrahman bin Mar’i Al-Adani sebagaimana dalam Syarhul Buyu’ min Kitab Ad-Durori hal. 14.<span id="more-3679"></span></p>
<p>Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali menjawab ketika ditanya dengan pertanyaan di atas, “Jika maslahat pasti terhasilkan, dan tidak timbul mudharat yang parah pada dirinya ketika darahnya dihisap, maka tidak ada larangan untuk mendonorkannya dan di dalamnya ada pahala yang besar, dengan dalil Al-Kitab dan As-Sunnah, berdasarkan firman Allah Ta’ala:<br />
<strong>فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ</strong><br />
<em>“Barangsiapa yang berbuat kebaikan walaupun sekecil semut maka dia akan melihat (pahala)nya, dan barangsiapa yang beramal dengan kebaikan walaupun sekecil semut niscaya dia akan melihat (balasan) nya.&#8221;</em>  (QS. Az-Zalzalah: 7-8)<br />
Juga sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>اللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ ما كانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ</strong><br />
<em>“Allah senantiasa menolong hambanya selama hamba itu menolong saudaranya”.</em><br />
Akan tetapi, tidak boleh menjual darahnya dan memakan hasilnya, wallahu A’lam. Lihat Al-’Aqdil Mandhid hal. 340.</p>
<p>Adapun memasukkan darah ke tubuh orang lain, maka itu adalah haram, karena dia termasuk ke dalam perbuatan memakan darah, sementara Allah -’Azza wa Jalla- berfirman,<br />
<strong>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ</strong><br />
<em>&#8220;Diharamkan atas kalian (untuk memakan) bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih untuk selain Allah.&#8221;</em> (QS. Al-Maidah: 3)</p>
<p>Akan tetapi jika keadaannya mendesak dan darurat, sehingga bisa membahayakan nyawa pasien jika dia tidak diberi darah, maka hal itu dibolehkan sesuai dengan kadar yang dibutuhkan. Ini terambil dari dua kaidah yang masyhur di kalangan ulama: Hal yang darurat membolehkan dikerjakannya hal-hal yang dilarang (adh-dhoruroh tubihul mahzhuroh), dan hal yang darurat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan (adh-dhoruroh tuqaddaru biqadariha).<br />
Ini merupakan kesimpulan dari fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah dan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Mar’i Al-Adani, sebagaimana bisa dilihat dalam Syarhul Buyu’ min Kitab Ad-Durori hal. 14.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/hukum-donor-darah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Group FB: Tafsir Qur`an Online Akhwat</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/group-fb-tafsir-quran-online-akhwat.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/group-fb-tafsir-quran-online-akhwat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 00:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Kegiatan Al-Atsariyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3676</guid>
		<description><![CDATA[Group FB: Tafsir Qur`an Online Akhwat Anda seorang muslimah? Punya semangat untuk menuntut ilmu agama? Punya koneksi internet? Punya akun FB? Punya waktu di sabtu sore? Jika ya, berarti andalah yang kami cari (kayak iklan lowongan kerja aja) Lanjut, Jika anda memenuhi kriteria di atas, ayo segera bergabung ke grup Bedah Al-Qur`an Online Akhwat. Kajian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Group FB: Tafsir Qur`an Online Akhwat</strong></p>
<p>Anda seorang muslimah?<br />
Punya semangat untuk menuntut ilmu agama?<br />
Punya koneksi internet?<br />
Punya akun FB?<br />
Punya waktu di sabtu sore?<br />
Jika ya, berarti andalah yang kami cari<br />
(kayak iklan lowongan kerja aja)</p>
<p>Lanjut,<br />
Jika anda memenuhi kriteria di atas, ayo segera bergabung ke grup <a href="http://www.facebook.com/groups/265743666840958/" target="_blank"><strong>Bedah Al-Qur`an Online Akhwat</strong></a>.<br />
Kajian diadakan secara live dengan metode kuliah jarak jauh, menggunakan fasilitas <a href="http://www.wiziq.com/" target="_blank"><strong>WizIQ</strong></a>. Bagi yang sudah punya akun WizIQ, alhamdulillah. Bagi yang belum, bisa kontak admin untuk bantuan.</p>
<p>Adapun rincian infonya:<br />
Kitab: Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir<br />
Pemateri: <a href="http://www.facebook.com/abu.muawiah" target="_blank">Abu Muawiah Al-Makassari</a><br />
Waktu: Live tiap sabtu sore, 15.30 WIB dan siaran ulang ahad esoknya</p>
<p>Alhamdulillah kajian sudah berjalan dua kali pertemuan dan sudah diakuti oleh 20-an akhwat peserta.<br />
Tunggu apa lagi, bagi ibu-ibu dan saudari-saudari yang punya waktu luang, ayo silakan bergabung.</p>
<p>Punya koneksi internet?<br />
Punya akun FB?<br />
Punya waktu di sabtu sore?</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>Tafsir online</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/group-fb-tafsir-quran-online-akhwat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengar Taklim Online via Blackberry</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/dengar-taklim-online-via-blackberry.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/dengar-taklim-online-via-blackberry.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 01:21:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Kegiatan Al-Atsariyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3675</guid>
		<description><![CDATA[Dengar Taklim Online via Blackberry Alhamdulillah saat ini Taklim Online Radio Streaming bisa di dengar via BlackBerry melalui applikasi Nux Radio. Cara mendengar melalui BlackBerry: 1. Download App Nux Radio melalui Appworld 2. Masuk ke Apps Nux Radio lalu pilih Daftar Radio &#62; Jawa Barat &#62; Taklim Online Radio 3. Masukan ke Favorite agar Mudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align: center;"><strong>Dengar Taklim Online via Blackberry</strong></p>
<p>Alhamdulillah saat ini Taklim Online Radio Streaming bisa di dengar via BlackBerry melalui applikasi Nux Radio.</p>
<p>Cara mendengar melalui BlackBerry:</p>
<p>1. Download App Nux Radio melalui Appworld</p>
<p>2. Masuk ke Apps Nux Radio lalu pilih Daftar Radio &gt; Jawa Barat &gt; Taklim Online Radio</p>
<p>3. Masukan ke Favorite agar Mudah nanti menggunakan kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Bagi yang Balckberry nya tidak support NuxRadio:</p>
<p>Bisa langsung menggunakan cara ini: Buka Browser Bawaan BB lalu masukan alamat berikut: <strong>http://119.110.87.66:7010/</strong> , lalu akan ada permintaan konfirmasi, pilih buka.</p>
<p>Barokallohufiikum.</p>
</div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>cara download hadis nabi lewat bb</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/dengar-taklim-online-via-blackberry.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al-Isti&#8217;adzah</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/tafsir-al-istiadzah.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/tafsir-al-istiadzah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2012 08:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Al-Qur`an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3674</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir Al-Isti&#8217;adzah Definisi Isti&#8217;adzah. Secara etimologi dia adalah masdhar dari kata اِسْتَعاذَ  -  يَسْتَعِيْذُ  -  اِسْتِعاذًا  yang bermakna permintaan perlindungan dan penjagaan dari sesuatu yang dibenci[1]. Sementara secara terminology, isti&#8217;adzah ada empat bentuk: Isti’adzah ada 4 macam[2]: Isti’adzah kepada Allah Ta&#8217;ala. Yaitu isti’adzah yang mengandung kesempurnaan rasa butuh kepada Allah, bersandar kepada-Nya, serta meyakini penjagaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><strong>Tafsir Al-Isti&#8217;adzah</strong></p>
<p dir="LTR" align="center">
<p><strong>Definisi Isti&#8217;adzah.</strong></p>
<p dir="LTR">Secara etimologi dia adalah masdhar dari kata <strong>اِسْتَعاذَ</strong>  -  <strong>يَسْتَعِيْذُ</strong>  -  <strong>اِسْتِعاذًا</strong>  yang bermakna permintaan perlindungan dan penjagaan dari sesuatu yang dibenci<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p dir="LTR">Sementara secara terminology, isti&#8217;adzah ada empat bentuk:</p>
<p dir="LTR">Isti’adzah ada 4 macam<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>:</p>
<ul>
<li>Isti’adzah kepada Allah Ta&#8217;ala.</li>
</ul>
<p dir="LTR">Yaitu isti’adzah yang mengandung kesempurnaan rasa butuh kepada Allah, bersandar kepada-Nya, serta meyakini penjagaan dan kesempurnaan pemeliharaan Allah Ta&#8217;ala dari segala sesuatu, baik di zaman sekarang maupun di zaman yang akan datang, baik pada perkara yang kecil maupun yang besar, baik yang berasal dari manusia maupun selainnya.</p>
<p dir="LTR">Dalilnya adalah firman Allah Ta&#8217;ala dalam surah Al-Falaq dan surah An-Naas, dari awal sampai akhir.</p>
<ul>
<li>Isti’adzah dengan salah satu dari sifat-sifat Allah Ta&#8217;ala, seperti sifat kalam-Nya, keagungan-Nya, keagungan-Nya, kemuliaan-Nya, dan semacamnya.</li>
</ul>
<p dir="LTR">Dalilnya sangat banyak, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p dir="RTL"><strong>أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ</strong><strong></strong></p>
<p dir="LTR"><em>“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa-apa yang Dia ciptakan.</em><a title="" href="#_ftn3">[3]</a><em>”</em></p>
<p dir="LTR">Juga sabda beliau:</p>
<p dir="RTL"><strong>أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ</strong></p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dan berlindung dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 751)</p>
<ul>
<li>Isti’adzah kepada orang mati atau orang yang masih hidup tetapi tidak ada di tempat dan tidak mampu melindungi.</li>
</ul>
<p dir="LTR">Ini adalah kesyirikan. Di antara bentuknya adalah seperti pada firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا</strong></p>
<p dir="LTR"><em>“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”</em> (QS. Al-Jin: 6).</p>
<ul>
<li>Isti’adzah dengan apa-apa yang memungkinkan untuk dijadikan perlindungan, baik berupa manusia, atau tempat-tempat, atau selainnya.</li>
</ul>
<p dir="LTR">Isti’adzah jenis ini dibolehkan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau menyebutkan tentang fitnah:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ</strong></p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Dan siapa yang ingin melihat fitnah itu, maka fitnah itu akan mengintainya. Siapa yang menemukan tempat pertahanan atau tempat perlindungan, hendaklah dia berlindung padanya.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari no. 3334 dan Muslim no. 5137)</p>
<p dir="LTR">Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperjelas makna &#8216;tempat pertahanan atau tempat perlindungan&#8217; ini dengan sabdanya, <em>&#8220;Barangsiapa yang memiliki unta maka hendaknya dia menggunakan untanya (sebagai tempat berlindung).&#8221;</em></p>
<p dir="LTR">Hanya saja, jika seseorang meminta perlindungan dari kejelekan orang yang zhalim, maka dia wajib untuk dilindungi sekuat tenaga. Namun jika dia meminta perlindungan agar bisa melakukan sesuatu yang dilarang atau lari dari kewajiban, maka haram untuk melindunginya.</p>
<p dir="LTR">Dari keempat jenis isti&#8217;adzah di atas, yang kita maksudkan dalam pembahasan ini tentunya adalah isti&#8217;adzah bentuk yang kedua dan yang ketiga, yaitu permintaan perlindungan kepada Allah Ta&#8217;ala semua perkara yang dibenci.<span id="more-3674"></span></p>
<p dir="LTR">Adapun makna <strong>أَعُوْذُ بِاللهِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ</strong>, maka Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsrinya, &#8220;Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, jangan sampai dia memberikan mudharat pada agama dan duniaku, atau dia menghalangi saya dari mengerakan apa yang diperintahkan kepadaku, atau dia mendorong saya untuk mengerjakan apa yang aku dilarang melakukannya.&#8221;<strong></strong></p>
<p dir="LTR">
<p dir="LTR"> <strong>Definisi Setan.</strong></p>
<p dir="LTR">Berasal dari kata <strong>شَطَنَ</strong> yang berarti jauh. Maka sudah menjadi tabiat setan itu jauh dari tabiat kemanusiaan dan jauh dari semua bentuk kebaikan.</p>
<p dir="LTR">
<p dir="LTR"><strong>Dalil-dalil Dari Al-Qur`an Yang Berkenaan Dengan Isti&#8217;adzah Dari Setan.</strong></p>
<p dir="LTR">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL">خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ. وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma&#8217;ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.&#8221;</em> (QS. Al-A&#8217;raf: 199-200)</p>
<p dir="LTR">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ </strong><strong>ۚ</strong><strong> نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ</strong><strong>. </strong><strong>وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ</strong><strong>. </strong><strong>وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ</strong><strong></strong></p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: &#8220;Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.&#8221;</em> (QS. Al-Mu`minun: 96-98)</p>
<p dir="LTR">Dan Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ </strong><strong>ۚ</strong><strong> ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ</strong><strong>. </strong><strong>وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ</strong><strong>. </strong><strong>وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ </strong><strong>ۖ</strong><strong> إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</strong></p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;</em><em>Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.  Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em><em>.&#8221;</em> (QS. Fushshilat: 34-36)</p>
<p dir="LTR">
<p dir="LTR"><strong>Letak Ta&#8217;awudz Ketika Membaca Al-Qur`an.</strong></p>
<p dir="LTR">Mayoritas ulama berpendapat bahwa ta&#8217;awudz dibaca sebelum membaca Al-Qur`an. Sebagian qurra` ada yang berpendapat dia dibawa setelah membaca Al-Qur`an, guna menghilangkan perasaan ujub. Dan sebagian lainnya berpendapat bahwa dia dibaca sebelum dan setelahnya.</p>
<p dir="LTR">Mereka semua berdalil dengan firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p dir="RTL"><strong>فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</strong><strong></strong></p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;</em><em>Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.&#8221;</em> (QS. An-Nahl: 98)</p>
<p dir="LTR">Dan yang rajih adalah pendapat mayoritas ulama berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu tentang doa istiftah beliau dalam qiyamullail.</p>
<p dir="LTR">
<p dir="LTR"><strong>Lafazh-Lafazh Ta&#8217;awudz:</strong></p>
<p dir="LTR">Berdasarkan ayat-ayat di atas dan juga hadits Abu Said Al-Khudri di atas. Para ulama menyebutkan ada 4 lafazh ta&#8217;awudhz:</p>
<ol>
<li><strong> </strong><strong>أَعُوْذُ بِاللهِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ</strong><strong></strong></li>
<li><strong> </strong><strong>أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ</strong><strong></strong></li>
<li><strong> </strong><strong>أَعُوْذُ بِاللهِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ</strong><strong></strong></li>
<li><strong> </strong><strong>أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">
<p dir="LTR"><strong>Di Antara Keutamaan Ta&#8217;awudz.</strong></p>
<p dir="LTR">Dia bisa menghilangkan amarah, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Sulaiman bin Shurad riwayat Al-Bukhari dan Muslim.</p>
<p dir="LTR">
<p dir="LTR"><strong>Hukum Ta&#8217;awudz Sebelum Membaca Al-Qur`an:</strong></p>
<p dir="LTR">Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Dan yang benarnya adalah bahwa hukumnya sunnah secara mutlak, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.</p>
<p dir="LTR">Dengan dalil bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah disuruh ta&#8217;awudz ketika beliau membaca ayat-ayat yang turun. Dan beliau shallallahu alaihi wasallam juga tidak pernah membaca ta&#8217;awudz ketika akan membaca ayat pada doa pembuka majelis.</p>
<p dir="LTR">
<p dir="LTR"><strong>Ta&#8217;awudz Dijahrkan Atau Disirrkan?</strong></p>
<p dir="LTR">Imam Asy-Syafi&#8217;i rahimahullah menyatakan keduanya boleh di luar shalat. Adapun di dalam shalat, maka yang rajih adalah disirrkan karena Nabi shallallahu alaihi wasallam selalu memulai shalatnya dengan &#8216;alhamdulillahi Rabbil alamin&#8217; pada surah Al-Fatihah, sebagaimana dalam hadits riwayat Al-Bukhari.</p>
<p dir="LTR">
<p dir="LTR"><strong>Ta&#8217;awudz di Setiap Rakaat?</strong></p>
<p dir="LTR">Dalam masalah ini Imam Asy-Syafi&#8217;i rahimahullah mempunyai dua pendapat. Yang lebih tepat insya Allah bahwa ta&#8217;awudz hanya disyariatkan pada rakaat pertama saja. Hal itu karena bacaan Al-Qur`an di dalam shalat adalah satu bagian, karenanya cukup membaca ta&#8217;awudz di rakaat pertama saja. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 63, karya Faqih Az-Zaman Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Diterjemahkan secara ringkas dari Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 63-65</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Muslim no. 4881 dari Khaulah bintu Hakim radhiallahu anha.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/tafsir-al-istiadzah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taqiyyah</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/taqiyyah.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/taqiyyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 01:15:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesesatan Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat & Jawabannya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3672</guid>
		<description><![CDATA[Taqiyyah[1] Di antara kesesatan mereka adalah: Mereka mewajibkan taqiyyah. Mereka meriwayatkan dari Ash-Shadiq radhiallahu anhu bahwa dia berkata, &#8220;Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.[2]&#8221; Padahal tidak mungkin beliau mengucapkan ucapan seperti ini. Dan sebagian dari mereka ada yang menafsirkan firman Allah Ta&#8217;ala: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ &#8220;Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><strong>Taqiyyah</strong><a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Di antara kesesatan mereka adalah: Mereka mewajibkan taqiyyah. Mereka meriwayatkan dari Ash-Shadiq radhiallahu anhu bahwa dia berkata, &#8220;Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>&#8221; Padahal tidak mungkin beliau mengucapkan ucapan seperti ini. Dan sebagian dari mereka ada yang menafsirkan firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL" align="RIGHT"><strong><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Scheherazade;">إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu&#8221;</em> (QS. Al-Hujurat: 13)</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya: Siapa di antara kalian yang paling banyak taqiyyahnya dan yang paling takut kepada orang-orang. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, &#8220;Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur`an dengan pendapatnya maka sungguh dia telah kafir.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama mereka telah menukil dari salah orang yang terpercaya di antara mereka bahwa dia berkata, &#8220;Ja&#8217;far Ash-Shadiq radhiallahu anhu pernah tidur pada suatu malam bersama kami di tempat &#8216;menyendiri&#8217; khusus miliknya, dan tidak ada seorangpun yang bersama beliau pada malam itu kecuali orang-orang yang sudah tidak kami ragukan akan syi&#8217;ah (pertolongan) nya. Lalu beliau bangun untuk shalat tahajjud, beliau berwudhu seraya mengusap kedua telinga beliau dan mencuci kaki beliau. Lalu beliau shalat dengan bersujudkan hamparan yang kusut dengan menyimpul kedua tangannya. Kami mengatakan, &#8220;Mungin kebenaran adalah ini,&#8221; sampai kami mendengar suara teriakan. Lalu kami melihat seorang lelaki yang merebahkan dirinya pada kedua kaki beliau seraya menciumi keduanya sambil menangis dan meminta maaf. Maka dia ditanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, &#8220;Khalifah dan anggota pemerintahannya meragukan anda, dan saya dahulu termasuk anggota mereka. Maka saya pun berjanji untuk mencari tahu mazhab anda. Saya menunggu kesempatan beberapa lama hingga akhirnya saya berhasil untuk memasuki rumah anda malam ini, saya bersembunyi sehingga tidak ada seorang pun yang tahu saya di sini. Maka alhamdulillah yang telah menghilangkan keraguan dariku, memberikan kepadaku keyakinan yang baik tentangmu wahai anak putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Dia tidak membiarkan saya di atas prasangka buruk terhadapmu.&#8221; Asy-Syaikh berkata, &#8220;Maka kita meyakini kalau Allah tidak menyembunyikan apa pun dari Al-Ma&#8217;shum (Ash-Shadiq, pent.), dan kita meyakini kalau ini merupakan taqiyyah dari beliau.&#8221; Selesai<span id="more-3672"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Makna tersirat dari ucapan mereka adalah bahwa makna taqiyyah menurut mereka adalah menyembunyikan kebenaran atau meninggalkan sesuatu yang wajib atau mengamalkan sesuatu yang dilarang karena takut kepada orang-orang, wallahu A&#8217;lam.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka perhatikanlah pada kebodohan para pendusta ini. Dan berdasarkan taqiyyah yang buruk inilah mereka membangun aqidah mereka bahwa Ali sengaja menyembunyikan wasiat kekhalifahannya, beliau sengaja membaiat ketiga khalifah sebelumnya, beliau tidak mengizinkan Fathimah radhiallahu anha mendapatkan hak warisannya -menurut sangkaan mereka-, beliau tidak mencela Umar ketika dia merampas putri beliau dari Fathimah radhiallahu anha, dan selainnya. Mereka mengatakan kalau Ali radhiallahu anhu sengaja melakukan semua itu sebagai bentuk taqiyyah, semoga Allah membinasakan mereka. Ada banyak nash tentang Ali dan keluarganya yang menunjukkan bersihnya mereka dari taqiyyah. Taqiyyah ini hanya diada-adakan secara dusta oleh Rafidhah atas nama mereka, guna melariskan mazhab mereka yang batil. Aqidah mereka ini mengharuskan kita tidak boleh percaya pada ucapan dan perbuatan para imam ahlil bait, karena ada kemungkinan mereka mengucapkan atau melakukan hal itu sebagai bentuk taqiyyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jika yang mereka maksudkan dengan ucapan Ash-Shadiq, &#8220;Dan agama nenek moyangku,&#8221; adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sepeninggal beliau, maka itu berarti mereka menyatakan bisa saja kalau beliau shallallahu alaihi wasallam tidak menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada beliau untuk disampaikan karena takut kepada orang-orang dan bisa saja beliau sengaja menentang perintah Allah dengan ucapan dan perbuatan beliau karena takut kepada mereka. Dan ini melazimkan kita tidak boleh percaya pada kenabian beliau, padahal tidak mungkin beliau melakukan hal seperti itu. Dan siapa saja yang menyatakan mungkin saja hal itu terjadi pada diri beliau maka sungguh dia telah menghina beliau, sementara menghina para nabi alaihimus salam adalah kekafiran. Betapa buruknya ucapan suatu kaum yang berisi celaan terhadap para imam mereka, padahal mereka bersih darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">[Risalah fi Ar-Radd 'ala Ar-Rafidhah hal. 64-66]</p>
<div style="text-align: justify;"><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Taqiyyah di sisi Syiah adalah murni kedustaan dan kemunafikan yang nyata. Sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Mufid dalam Syarh &#8216;Aqa`id Ash-Shuduq hal. 261 dengan ucapannya, &#8220;Taqiyyah adalah menyembunyikan kebenaran, menutupi keyakinan tentangnya, menyembunyikannya dari para penentang dan tidak menampakkannya kepada mereka, pada semua perkara yang bisa mendatangkan mudharat pada agama dan dunia.&#8221;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Al-Kafi karya Al-Kulaini (2/228) cet. Daar Al-Adhwa` dan Syarh &#8216;Aqa`id Ash-Shuduq hal. 115 karya Ibnu Mufid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lafazh haditsnya, &#8220;Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur`an dengan pendapatnya maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya did alam neraka.&#8221; Hadits ini dha&#8217;if, Asy-Syaukani menyebutkannya dalam Al-Fawa`id Al-Majmu&#8217;ah hal. 317</p>
</div>
</div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>meninggalkan syubhat disebut</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/taqiyyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi April 2012</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/laporan-donasi-april-2012.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/laporan-donasi-april-2012.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 00:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Kegiatan Al-Atsariyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3668</guid>
		<description><![CDATA[Laporan Donasi April 2012 Alhamdulillahi Rabbil alamin. Berikut laporan donasi dakwah Al-Atsariyyah bulan April 2012: Donatur/Kegiatan Debet Kredit Saldo Hamba Allah 250.000 250.000 Fajar 30.000 280.000 Abu Sa&#8217;ad 50.000 330.000 Danny Adriansyah 50.000 380.000 Zaky K 10.000 390.000 Internet First Media 80.000 310.000 Maintenance 100.000 210.000 Kami mengucapkan jazakumullahu khairan kepada setiap donatur, semoga Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Laporan Donasi April 2012</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillahi Rabbil alamin. Berikut laporan donasi dakwah Al-Atsariyyah bulan April 2012:</p>
<table style="border-color: #000000; border-width: 1px; width: 411px; height: 176px;" border="1" align="center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><strong>Donatur/Kegiatan</strong></td>
<td style="text-align: center;"><strong>Debet</strong></td>
<td style="text-align: center;"><strong>Kredit</strong></td>
<td style="text-align: center;"><strong>Saldo</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>Hamba Allah</td>
<td style="text-align: right;">250.000</td>
<td></td>
<td style="text-align: right;">250.000</td>
</tr>
<tr>
<td>Fajar</td>
<td style="text-align: right;">30.000</td>
<td></td>
<td style="text-align: right;">280.000</td>
</tr>
<tr>
<td>Abu Sa&#8217;ad</td>
<td style="text-align: right;">50.000</td>
<td></td>
<td style="text-align: right;">330.000</td>
</tr>
<tr>
<td>Danny Adriansyah</td>
<td style="text-align: right;">50.000</td>
<td></td>
<td style="text-align: right;">380.000</td>
</tr>
<tr>
<td>Zaky K</td>
<td style="text-align: right;">10.000</td>
<td></td>
<td style="text-align: right;">390.000</td>
</tr>
<tr>
<td>Internet First Media</td>
<td style="text-align: right;"></td>
<td style="text-align: right;">80.000</td>
<td style="text-align: right;">310.000</td>
</tr>
<tr>
<td>Maintenance</td>
<td style="text-align: right;"></td>
<td style="text-align: right;">100.000</td>
<td style="text-align: right;">210.000</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">Kami mengucapkan jazakumullahu khairan kepada setiap donatur, semoga Allah Ta&#8217;ala membalasnya dengan balasan yang lebih baik dan menjadikan semuanya sebagai harta perbendaharaan kita pada hari kiamat kelak. Allahumman Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan bagi kaum muslimin yang ingin turut serta dalam program donasi ini, silakan membaca proposal kegiatannya di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/donasi-dakwah" target="_blank"><strong>Proposal Donasi Dakwah</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/laporan-donasi-april-2012.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syiah Mewajibkan Mencela Para Sahabat</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/syiah-mewajibkan-mencela-para-sahabat.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/syiah-mewajibkan-mencela-para-sahabat.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 23:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesesatan Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3665</guid>
		<description><![CDATA[Syiah Mewajibkan Mencela Para Sahabat Di antara aqidah Syiah Rafidhah adalah mereka mewajibkan untuk mencela para sahabat, terlebih ketiga khalifah[1] (pertama) -na&#8217;udzu billah-. Mereka meriwayatkan dalam kitab-kitab rujukan mereka dari seorang lelaki pengikut Hisyam Al-Ahwal dia berkata, &#8220;Pada suatu hari saya pernah berada di sisi Abu Abdillah Ja&#8217;far bin Muhammad. Lalu beliau didatangi oleh seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" dir="LTR" align="center"><strong>Syiah Mewajibkan Mencela Para Sahabat</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Di antara aqidah Syiah Rafidhah adalah mereka mewajibkan untuk mencela para sahabat, terlebih ketiga khalifah<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> (pertama) -na&#8217;udzu billah-. Mereka meriwayatkan dalam kitab-kitab rujukan mereka dari seorang lelaki pengikut Hisyam Al-Ahwal dia berkata, &#8220;Pada suatu hari saya pernah berada di sisi Abu Abdillah Ja&#8217;far bin Muhammad. Lalu beliau didatangi oleh seorang lelaki dari syiah (penolong) beliau yang berprofesi sebagai tukang jahit seraya membawa dua baju di tangannya. Lalu dia berkata, &#8220;Wahai anak (keturunan) Rasulullah, saya menjahit salah satu dari kedua baju ini, dimana setiap tusukan jarum saya (berzikir) mengesakan Allah Yang Maha Besar. Sementara baju yang lainnya saya jahit dimana setiap tusukan jarum saya melaknat orang yang paling dijauhkan yaitu Abu Bakar dan Umar. Kemudian saya bernazar untuk anda bahwa mana saja dari kedua baju ini yang anda senangi maka anda boleh memilikinya. Maka yang mana yang anda senangi silakan anda mengambilnya dan mana yang anda tidak senangi maka tolaklah.&#8221; Maka Ash-Shadiq berkata, &#8220;Saya menyenangi baju yang dikerjakan sambil melaknat Abu Bakar dan Umar. Dan saya kembalikan kepadamu baju yang dijahit sambil bertakbir kepada Allah Yang Maha Besar.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Maka perhatikanlah mereka, para pendusta lagi fasik ini, bagaimana mereka menisbatkan kebusukan kepada ahli bait -padahal mereka (ahli bait) sama sekali tidak mungkin mengucapkannya-. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ </strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah: 143)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Jika para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja bukan umat pilihan, maka apa lagi dengan selain mereka</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 110)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Jika para sahabat beliau bukan termasuk umat yang terbaik, maka apa lagi dengan selain mereka.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا </strong><strong>ۚ</strong><strong> ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.&#8221;</em> (QS. At-Taubah: 100)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Dan siapa saja yang mencela orang yang Allah telah ridhai, maka sungguh dia telah memerangi Allah dan Rasul-Nya.<span id="more-3665"></span></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.&#8221;</em> (QS. Al-Fath: 18)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Maka bagaimana boleh dicela orang yang telah diridhai dan dipilih oleh Maulanya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ </strong><strong>ۚ</strong><strong> وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ </strong><strong>ۖ</strong><strong> تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا </strong><strong>ۖ</strong><strong> سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.&#8221;</em> (QS. Al-Fath: 29)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Bagaimana boleh dicela orang yang telah dipuji oleh Rabbnya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ </strong><strong>ۚ</strong><strong> أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا </strong><strong>ۚ</strong><strong> وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.&#8221;</em> (QS. Al-Hadid: 10)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Orang yang Sayyidnya telah menjanjikan untuknya surga, bagaimana boleh dia dicela?!</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ </strong><strong>ۚ</strong><strong> أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.&#8221;</em> (QS. Al-Hasyr: 8)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Dan Allah berfirman tentang kaum Al-Anshar:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Mereka itulah orang orang yang beruntung.&#8221;</em> (QS. Al-Hasyr: 9)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Al-Qur`an penuh berisi pujian terhadap para sahabat radhiallahu anhum. Karenanya siapa saja yang mencela mereka maka sungguh dia telah menyelisihi apa yang Allah perintahkan berupa kewajiban memuliakan mereka. Dan siapa saja yang meyakini dengan keyakinan yang jelek terhadap mereka seluruhnya atau terhadap sebagian besar di antara mereka, maka sungguh dia telah mendustakan Allah Ta&#8217;ala dalam pengabaran-Nya tentang kesempurnaan dan keutamaan mereka, semenara orang yang mendustakan Allah adalah kafir.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Bintang-bintang ini merupakan stabilisator langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penenteram para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka. Dan para sahabatku adalah penjaga umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka.&#8221;</em> (HR. Muslim<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Dan telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa Allah membukakan rezki kepada manusia dengan berkah para sahabat<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Dari Abu Said dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka dia tidak akan dapat menandingi sedekah satu mud mereka, bahkan tidak setengahnya.&#8221;</em> (HR. Muslim dan selainnya<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Dan telah shahih dari beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ قَدْ وَجَبْتُ لَكُمُ الْجَنَّةَ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Mungkin saja Allah telah mengetahui keadaan prajurit perang Badar lalu berfirman, &#8220;Berbuatlah sesuka kalian karena sungguh Aku telah wajibkan surga untuk kalian.&#8221; Atau, &#8220;Karena sungguh Aku telah mengampuni kalian.<a title="" href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a>&#8220;</em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Juga diriwayatkan dari beliau dengan beberapa jalan, dimana sebagian sanadnya para perawi di dalamnya adalah perawi kitab Ash-Shahih kecuali satu orang, itu pun dia adalah perawi yang tsiqah. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي</strong>. <strong>لَعَنَ اللهُ مَنْ سَبَّ</strong> <strong>أَصْحَابِي</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR"><em>&#8220;Jangan kalian mencela para sahabatku. Allah melaknat orang yang mencela para sahabatku.<a title="" href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a>&#8220;</em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Telah mutawatir hadits-hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menunjukkan kesempurnaan para sahabat radhiallahu anhum. Terkhusus para Khulafa` Ar-Rasyidin, karena hadits-hadits yang memuji setiap dari mereka sudah masyhur bahkan mutawatir. Karena yang meriwayatkannya adalah banyak orang yang mustahil mereka bersepakat untuk berdusta dan semua pengabaran mereka memberikan ilmu yang meyakinkan akan kesempurnaan para sahabat dan keutamaan para khalifah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Jika kamu telah mengetahui bahwa ayat-ayat Al-Qur`an sangat banyak yang menunjukkan keutamaan mereka dan juga hadits-hadits yang mutawatir menegaskan akan kesempurnaan mereka, maka siapa saja yang meyakini mereka semua atau kebanyakan mereka fasik, atau meyakini bahwa mereka semua atau kebanyakan mereka telah murtad dari agama, atau meyakini pantasnya mereka dicela dan membolehkannya, atau mencela mereka disertai keyakinan mereka pantas dicela, maka sungguh dia telah kafir kepada Allah Ta&#8217;ala dan Rasul-Nya pada apa yang Dia kabarkan berupa keutamaan dan kesempurnaan mereka yang melazimkan bersihnya mereka dari semua amalan yang membuat mereka fasik, atau murtad, atau membuat mereka pantas atau boleh dicela. Sementara siapa saja yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya pada sesuatu yang dia yakini shahih secara pasti dari keduanya, maka sungguh dia telah kafir. Kejahilan terhadap sesuatu yang mutawatir lagi pasti bukanlah uzur dalam hal ini. Dan menafsirkannya serta memalingkan maknanya tanpa dalil yang benar tidaklah bermanfaat dalam hal ini. Sama seperti orang yang mengingkari kewajiban shalat lima waktu karena dia jahil akan pewajibannya. Maka dia dengan kejahilan ini menjadi orang yang kafir. Demikian halnya jika dia menafsirkannya dengan penafsiran yang tidak sesuai dengan makna yang kita (kaum muslimin) ketahui, maka sungguh dia telah kafir. Hal itu karena ilmu yang dipetik dari nash-nash Al-Qur`an dan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan mereka adalah ilmu yang bersifat pasti.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Dan siapa saja yang mencela sebagian dari sahabat, maka jika keutamaan dan kesempurnaan sahabat yang bersangkutan diriwayatkan secara mutawatir -seperti para khalifah-, jika dia meyakini sahabat tersebut pantas atau boleh dicela, maka sungguh dia telah kafir karena dia mendustakan apa yang telah shahih secara pasti dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sementara orang yang mendustakan beliau adalah kafir. Dan jika dia mencela sahabat yang bersangkutan tanpa meyakini dia pantas atau berhak dicela maka sungguh dia telah berbuat kefasikan, karena mencela seorang muslim adalah kefasikan. Bahkan sebagian ulama<a title="" href="#_ftn7">[7]</a> ada yang menghukumi kafirnya secara mutlak orang yang mencela Abu Bakar dan Umar, wallahu A&#8217;lam.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Namun jika hadits-hadits tentang keutamaan dan kesempurnaan sahabat yang bersangkutan belum mencapai derajat mutawatir, maka yang nampak bahwa orang yang mencelanya adalah fasik. Kecuali jika dia mencelanya karena hubungan persahabatannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka jika demikian dia telah kafir.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Mayoritas mereka, Rafidhah ini, yang mencela para sahabat -terlebih para khalifah-, mereka meyakini bahwa para sahabat berhak atau boleh dicela, bahkan ada yang meyakini wajibnya. Hal itu karena mereka bertaqarrub kepada Allah Ta&#8217;ala dengannya. Mereka menganggap amalan itu (mencela sahabat) termasuk amalan agama mereka yang paling mulia, sebagaimana yang dinukil dari mereka. Betapa sesatnya akal-akal suatu kaum yang bertaqarrub kepada Allah Ta&#8217;ala dengan cara yang mendatangkan kerugian dalam agama bagi mereka. Dan hanya Allah yang memberikan penjagaan.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">Demikianlah. Dan perlu diketahui bahwa saya tidak meyakini kafirnya seseorang yang muslim di sisi Allah dan tidak juga meyakini muslimnya seseorang yang kafir di sisi Allah, akan tetapi saya meyakini kafirnya orang yang kafir menurut-Nya. Dan semua yang shahih dari para ulama berupa aqidah &#8216;tidak dikafirkannya kaum muslimin&#8217;, maka itu diarahkan pada orang yang bid&#8217;ahnya tidak mengkafirkan. Hal itu karena ucapan para ulama telah bersepakat akan kafirnya orang yang bid&#8217;ahnya mengkafirkan. Sementara tidak diragukan bahwa mendustakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada sesuatu yang shahih secara pasti dari beliau merupakan kekafiran. Dan kejahilan dalam masalah seperti ini bukanlah uzur. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">
<p style="text-align: justify;" dir="LTR">[Risalah fi Ar-Radd 'ala Ar-Rafidhah hal. 55-64, dengan tidak menyebutkan hadits dha'if di dalamnya dan dengan meringkas pada footnotenya]</p>
<div style="text-align: justify;"><br clear="all" /></p>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Al-Bihar karya Al-Majlisi (4/385) dan Ushul Al-Kafi karya Al-Kalini (1/434) cet. Daar Al-Adwa`.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim no. 2531 dari Abu Musa Al-Asy&#8217;ari.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Asy-Syaikh rahimahullah mengisyaratkan kepada hadits Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4649 dan Muslim no. 2532</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ini adalah potongan dari hadits Ali radhiallahu anhu yang panjang tentang kisah Hathib bin Abi Balta&#8217;ah radhiallahu anhu. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4274 dan Muslim no. 2494</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menyebutkannya dalam Ash-Shahihah no. 2340 dengan lafazh:</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ سَبَّ أَصْحابِي فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنّاسِ أَجْمَعِيْنَ</strong><strong></strong></p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Siapa saja yang mencela para sahabatku, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya.&#8221;</em> Dan beliau menyatakannya hasan dengan seluruh jalan-jalannya.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Seperti Imam Ahmad dan Imam Malik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah hal. 493 cet. Daar Ar-Rayah.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/syiah-mewajibkan-mencela-para-sahabat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menyembuhkan Rematik Dengan Gelang</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/hukum-menyembuhkan-rematik-dengan-gelang.html</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/hukum-menyembuhkan-rematik-dengan-gelang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2012 23:42:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=3663</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Menyembuhkan Rematik Dengan Gelang Soal: Apa hukum memakai gelang untuk mengobati penyakit rematik? Jawab: Perlu diketahui bahwa obat merupakan sebab datangnya kesembuhan, sementara yang membuat sebab itu berpengaruh adalah Allah Ta&#8217;ala.Karenanya, tidak ada satu pun yang dinamakan &#8216;sebab&#8217; kecuali apa yang Allah Ta&#8217;ala telah tetapkan dia sebagai sebab. Kemudian, sebab-sebab yang Allah Ta&#8217;ala jadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Hukum Menyembuhkan Rematik Dengan Gelang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Soal:</strong><br />
Apa hukum memakai gelang untuk mengobati penyakit rematik?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Perlu diketahui bahwa obat merupakan sebab datangnya kesembuhan, sementara yang membuat sebab itu berpengaruh adalah Allah Ta&#8217;ala.Karenanya, tidak ada satu pun yang dinamakan &#8216;sebab&#8217; kecuali apa yang Allah Ta&#8217;ala telah tetapkan dia sebagai sebab. Kemudian, sebab-sebab yang Allah Ta&#8217;ala jadikan dia sebagai sebab ada dua bentuk:<br />
<span style="text-decoration: underline;">Bentuk pertama:</span> Sebab-sebab syar&#8217;iyah seperti Al-Qur`an Al-Karim dan doa. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai surah Al-Fatihah, <em>&#8220;Darimana kamu tahu kalau dia adalah ruqyah.&#8221;</em> Dan sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa meruqyah orang-orang yang sakit dengan mendoakan mereka, maka Allah Ta&#8217;ala menyembuhkan mereka dari penyakit berkat doa beliau.<br />
<span style="text-decoration: underline;">Bentuk kedua:</span> Sebab-sebab lahiriah seperti obat-obatan yang sudah diketahui melalui jalur syariat seperti madu atau yang diketahui melalui penelitian seperti kebanyakan obat-obatan yang ada. Sebab seperti ini pengaruhnya harus secara langsung dan terbukti, bukan sekedar dugaan dan khayalan. Jika pengaruh obatnya sudah terbukti secara langsung dan hasilnya bisa diindera maka dia boleh dijadikan sebagai obat yang dengannya kesembuhan akan terwujud engan izin Allah Ta&#8217;ala. Adapun jika sebab itu hanya sekedar dugaan dan khayalan semata yang disangkakan oleh orang yang sakit sebagai obat, lalu dia mendapatkan ketenangan psikologis dan rasa sakitnya terasa berkurang dikarenakan sangkaan dan khayalan ini, dan bahkan kegembiraan psikologis orang yang sakit ini tumbuh sehingga penyakitnya bisa sembuh. Maka yang seperti ini tidak boleh dijadikan sebagai sandaran dan tidak boleh menetapkannya sebagai obat, agar manusia tidak terbawa oleh sangkaan dan khayalan. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang untuk mengenakan gelang atau mengikatkan benang dan semacamnya untuk menyembuhkan penyakit atau mencegah datangnya, karena hal tersebut bukan sebab secara syar&#8217;i dan secara hissi (terbukti). Dan apa saja yang belum dipastikan sebagai sebab syar&#8217;i dan juga bukan sebab hissi, maka tidak boleh menjadikan hal itu sebagai sebab. Karena menjadikan hal itu sebab merupakan bentuk menandingi Allah Ta&#8217;ala dalam kekuasaan-Nya dan bentuk kesyirikan dengan-Nya, tatkala dia telah menyamakan dirinya dengan Allah Ta&#8217;ala dalam menetapkan sesuatu itu sebagai sebab yang bisa melahirkan akibat. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah telah membuat judul bab untuk masalah ini dalam Kitab At-Tauhid dengan ucapanya, &#8220;Bab: Termasuk kesyirikan, mengenakan gelang, benang dan yang semacamnya untuk mencegah turunnya musibah atau menghillangkannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">Ibnu Utsaimin</p>
<p style="text-align: justify;">[Jami' Al-Fatawa Ath-Thibbiah hal. 32-33]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/hukum-menyembuhkan-rematik-dengan-gelang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

