Fatawa Seputar Pembuatan Karikatur Nabi

December 3rd 2008 by Abu Muawiah |

PERISTIWA PENGHINAAN DENMARK
TERHADAP GAMBAR AR-RASUL SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Pertanyaan :
Penanya berkata : Ikhwan di Denmark meminta nasihat bagi kaum muslimin yang menetap di Denmark secara khusus dan negeri-negeri Skandinavia dan Eropa secara umum, seputar (hukum) muamalah dengan orang-orang yang menjelekkan gambar Rasul yang mulia Shollallahu ‘alaihi wasallam dan mereka menuduh beliau sebagai biang terorisme –atas mereka kemurkaan dari Allah yang sepantasnya bagi mereka -?

Jawab :
Sesungguhnya tidak tersembunyi atas setiap orang yang memiliki pengetahuan terhadap syariat Muhammad dari kalangan kaum muslimin akan ketinggian kedudukan dan derajat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah orang yang Allah turunkan kepadanya Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai muhaimin (hakim) atas seluruh kitab sebelumnya, (Allah) menutup semua risalah dengan risalah beliau dan memberikan kepada beliau apa-apa yang Dia tidak berikan kepada seorangpun dari para Nabi sebelum beliau. Beliau adalah pemilik Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan yang terpuji) yaitu syafa’at Uzhma (yang paling besar) dalam penetapan qada’ (hisab pada hari kiamat), yang semua Nabi Ulul ‘Azmi dari para Rasul berudzur darinya,  lalu bangkitlah beliau melaksanakannya (syafa’at tersebut) -shalawat dan salam Tuhanku atas beliau-. Beliau adalah pemilik telaga yang didatangi, yang ummat beliau akan mendatanginya, beliau adalah penyandang bendera Al-Ma’ qud (yang telah dijanjikan) yang seluruh Rasul -shalawat Allah dan salamNya atas mereka seluruhnya- dikumpulkan di bawahnya, beliaulah yang membuka pintu Surga dan beliau memiliki banyak kekhususan yang kita tidak akan berpanjang lebar menyebutkannya.
Sungguh Allah Azza wa Jalla telah melarang hamba-hambaNya untuk mendahulukan seorangpun atas beliau atau mereka yang mendahului dan berada di depan beliau, Dia melarang mereka untuk mengangkat suara-suara mereka melebihi suara beliau dan berteriak kepada beliau sebagaimana sebagian mereka berteriak kepada sebagian yang lain, serta Dia mengabarkan bahwa perbuatan tersebut menyebabkan terhapusnya amalan-amalan mereka. (Allah) Jalla man Qa`il berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara-suara kalian melebihi suara Nabi dan janganlah kalian berbicara kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, sehingga amalan-amalan kalian akan terhapus sedangkan kalian tidak menyadari”. (QS. Al-Hujurat : 1-2)
Dan yang wajib bagi setiap muslim adalah mengagungkan Rasul dengan sebenar-benarnya pengagungan, menghormati beliau dengan sebenar-benarnya penghormatan dan menghargai beliau dengan sebenar-benarnya penghargaan, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke dalam Surga kecuali melalui jalan beliau dan tidak akan diterima amalan dari siapapun kecuali setelah beriman kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman :
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا. وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا. وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا
“Wahai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung”. (Al-Ahzab : 45-48)
Harganya Surga adalah mentaati dan mengikuti beliau, Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dari kalangan para Nabi, para shiddiqin (Orang-orang yang jujur), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh, mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui”. (QS. An-Nisa : 69-70)
Adapun nasihat bagi kaum muslimin yang berada di negeri-negeri kafir, maka yang wajib atas mereka adalah mengingkari perbuatan orang-orang kafir yang melampaui batas lagi zhalim tersebut dengan cara-cara (metode) yang syar’iy, mereka menulis pernyataan protes terhadap negeri (kafir) ini dan kepada perusahaan yang menyebarkan karikatur ini. Mereka harus memperbanyak mengirimkan pernyataan protes, setiap kelompok menuliskan pernyataan protes serta mengirimkan telegram (yang berisi) pengingkaran terhadap pemimpin negara yang kemungkaran ini (karikatur Nabi) terjadi di dalamnya. Mereka mengirimkan suatu bentuk pernyataan protes dan telegram (yang berisi) pengingkaran, baik yang ditujukan kepada negara yang bersangkutan (Denmark) maupun kepada negara-negara lainnya dari negara-negara kafir. Sebagaimana pula wajib atas negara-negara Islam agar masing-masing (negara) mengirimkan pernyataan protes secara terperinci yang di dalamnya terdapat penjelasan akan berlepasnya agama Islam dari pemikiran yang ekstrim ini, beserta telegram pengingkaran, serta menarik duta-duta besar mereka dari negara yang melakukan amalan ini dan mengusir duta besar negara tersebut dari negara-negara mereka.
Adapun kaum muslimin minoritas yang bertempat tinggal di negara-negara Skandinavia atau di negara-negara Eropa, maka cukuplah bagi mereka pernyataan protes dan (mengirimkan) telegram (yang berisi) pengingkaran. Mereka harus tetap tenang dan bersabar di samping mereka menampakkan kemarahan akan hal tersebut, sehingga tidak ada peluang bagi orang-orang bodoh (baca: provokator) di negara-negara tersebut untuk mengganggu/menyakiti mereka dengannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman kepada RasulNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam sebagai pelajaran kepada beliau dan kepada umat beliau di dalam surah Al-An’am :
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ . وَمَا عَلَى الَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَلَكِنْ ذِكْرَى لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). Dan tidak ada pertanggunganjawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa”. (QS. Al-An’am : 68-69)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy rahimahullah berkata dalam tafsir beliau Taysir Al-Karimir  Rahman (2/198-199)  : “Yaitu, telah jelas bagi kalian di dalam apa yang diturunkan kepada kalian (Al-Qur`an) berupa hukumNya yang syar’iy, ketika menghadiri majelis-majelis kekufuran dan maksiat “bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir)”, yaitu (ayat-ayat Allah) dihinakan. Maka sesungguhnya yang wajib (dilakukan oleh) setiap mukallaf terhadap ayat-ayat Allah adalah mengimani, mengagungkan, memuliakan dan membesarkannya, inilah maksud diturunkannya (Al-Qur`an) dan karenanyalah makhluk diciptakan. Maka lawan dari mengimaninya adalah mengkufurinya dan lawan dari mengagungkannya adalah memperolok-olok dan merendahkannya, dan termasuk di dalamnya mendebat orang-orang kafir dan orang-orang munafik untuk membatalkan ayat-ayat Allah dan membela kekafiran mereka. Demikian pula para mubtadi’ (ahli bid’ah) dengan semua jenisnya, karena sesungguhnya berhujjahnya mereka di atas kebatilan mereka terkandung di dalamnya penghinaan terhadap ayat-ayat Allah, karena dia (ayat-ayat Allah) tidak menunjukkan kecuali kebenaran dan tidak mengharuskan (sesuatu) kecuali kejujuran. Bahkan masuk juga di dalamnya (ayat ini) menghadiri majelis-majelis maksiat dan kefasikan yang di dalamnya perintah-perintah Allah dan laranganNya dihinakan dan (majelis-majelis) yang mencela aturan-aturanNya yang Dia mengatur para hambaNya dengannya. Dan batas akhir dari larangan duduk bersama mereka (adalah firmanNya) “sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain”, yaitu tidak lagi mengkafiri dan memperolok-olokkan ayat-ayat Allah. “Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian)”, yaitu jika kalian duduk bersama mereka dalam keadaan yang telah disebutkan “tentulah kalian serupa dengan mereka”, karena kalian meridhoi kekafiran dan olok-olokan mereka, sebab orang yang ridho terhadap suatu maksiat (hukumnya) seperti pelakunya. Kesimpulannya, sesungguhnya barangsiapa yang menghadiri majelis yang Allah dimaksiati di dalamnya maka harus baginya untuk mengingkari mereka ketika dia mampu atau berdiri (meninggalkan mereka) ketika tidak memiliki (kemampuan untuk mengingkari)”. –Selesai ucapan As-Sa’dy rahimahullah (Pent.)-
Dan saya (Syaikh Ahmad) berkata : “Nampak jelas dari ayat-ayat ini bahwa yang wajib adalah mereka mengingkari olok-olokan (yang ditujukan) kepada Nabi yang mulia dengan cara yang telah saya sebutkan. Hal tersebut sudah cukup dalam menampakkan kemarahan mereka terhadap amalan yang tercela ini.
Bersamaan dengan itu harus diketahui bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa sesungguhnya :
سَيَكُوْنُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَقْوَامٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلاَمِ, يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ, يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرِهِمْ, يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ, لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
وَفِي رِوَايَةٍ : قَتْلَ ثَمُوْدَ
وَفِي رِوَايَةٍ : طُوْيَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ أَوْ قَتَلُوْهُ

“Akan muncul di akhir zaman sekelompok kaum yang masih muda umurnya lagi bodoh akalnya, mereka berucap dari ucapan sebaik-baik makhluk (Nabi), mereka membaca Al-Qur`an (akan tetapi bacaannya) tidak melampaui tengorokan-tenggorokan mereka. Mereka keluar dari (batas-batas) agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya, seandainya saya mendapati mereka saya betul-betul akan membunuh mereka (dengan cara) pembunuhan yang dilakukan terhadap kaum ‘Ad”.
Dalam riwayat lain: “Seperti pembunuhan yang dilakukan terhadap kaum Tsamud”.
Dan dalam riwayat lain: “Beruntunglah orang-orang yang membunuh mereka atau (orang) yang dibunuh oleh mereka”.
Dan beliau telah bersabda tentang mereka :
كِلاَبُ النَّارِ
“Anjing-anjing neraka”.
Maka inilah sabda-sabda beliau tentang para teroris (Khawarij -pent.), beliau mentahdzir (memperingatkan umat) dari mereka (para teroris) dengan sekeras-keras tahdziran dan beliau berusaha agar (umat) menjauhi mereka dengan usaha yang sangat keras, maka bagaimana bisa beliau dikatakan sebagai teroris. Sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam datang dengan risalah kebenaran yang membawa kebenaran, keadilan, keamanan, keimanan,  ketenangan dan ketentraman agar para hamba menyembah Rabb mereka tanpa ada yang menyusahkan dan menyulitkan mereka. Maka barangsiapa yang menyangka bahwasanya teror itu berasal dari risalah Muhammadiyah maka dia adalah orang yang zholim, melampaui batas dan bodoh dengan kebodohan yang sudah mencapai puncaknya. Maka wajib atas kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan beramal dengan amalan-amalan yang memperbaiki citra Islam dan inilah yang Allah perintahkan kepada RasulNya. Dan barangsiapa yang berbuat menyelisihi hal ini maka sesungguhnya dia telah berbuat jelek kepada Islam dan dia merupakan penyebab musuh-musuh Islam berbuat jelek kepadanya (Islam), dan tidaklah hal tersebut (bisa timbul) kecuali merupakan akibat dari kebodohan terhadap syariat beliau.”

Ditulis oleh :
Ahmad bin Yahya An-Najmy
12 Muharram 1427 H

Fatwa Asy-Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajury
-hafizhohullahu Ta’ala-

Pertanyaan :
Telah tersebar di negara Norwegia gambar karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan di negara-negara lain melalui media elektronik. Dengan sebab itu sebagian kaum muslimin keluar berdemonstrasi, sampai akhirnya mereka membakar sebagian kantor perwakilan duta besar Norwegia di Negara kami. Apa nasehat Syaikh atas kejadian ini?

Jawab :
Orang-orang kafir selalu berusaha keras mengerahkan segala kemampuan mereka untuk mencela Islam. Sama saja di negara ini atau negara lainnya. Seluruh negara Barat dan negara kafir tidak bisa menampakkan permusuhannya secara terang-terangan tapi mereka menyembunyikannya. Dan pada dasarnya mereka itu adalah musuh Islam dan musuh kaum muslimin.
Adapun demonstrasi, maka itu tidak ada faedahnya karena itu adalah perbuatan orang-orang kafir dan melakukan demonstrasi itu hukumnya tidak boleh. Apakah dalam masalah seperti tersebut di atas (masalah karikatur Nabi,pent.) maupun karena terjadi kenaikan harga sembako dan lain sebagainya.
Akan tetapi mereka (pemerintah,pent.) berhak untuk mengeluarkan duta besar Norwegia tersebut dari Negara mereka, mereka mempunyai wewenang untuk mempersempit langkah orang-orang kafir di Negara mereka sesuai dengan kemampuan mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan jika kalian berjumpa dengan orang kafir di jalan maka persempitlah jalannya”.

Surat Kepada Negara Denmark dan Persatuan Eropa
(Saya meminta pertolongan untuk menerjemahkannya
ke dalam bahasa Denmark dan bahasa Inggris)

اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ أَمَّا بَعْدُ :
Kepada yang berwenang di Negara Denmark dan negara-negara persatuan Eropa :
Keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk dan menempuh jalan keadilan serta menjauhi  kezholiman dan hawa nafsu,  amma ba’du.
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat bagi semesta alam, pengajak kepada keselamatan dan ketentraman yang keduanya dapat terealisasi dengan berislamnya seluruh manusia kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya` : 107)
Dan Allah Ta’ala berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh”. (QS. Al-Baqarah : 208)
Dan sungguh agama kami dan Nabi kami Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan untuk menghormati para Nabi dan Rasul serta beliau menjadikan (baca : menghukumi) orang yang mencela seorang Nabi dari para Nabi tersebut sebagai orang yang keluar dari agama Islam yang berhak mendapatkan siksaan yang paling pedih.
Dan termasuk perkara yang aneh, apa yang diperbuat oleh sebuah koran di Denmark berupa ejeken dan olok-olokan serta celaan kepada Nabi kami Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam, padahal kalian mengetahui bahwa olok-olokan dan ejekan bukanlah termasuk bentuk kebebasan berpendapat serta bukan pula termasuk sikap demokrasi yang selalu kalian dengung-dengungkan.
Sesungguhnya ejekan dan olok-olokan merupakan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain (baca : HAM), melanggar kebebasan individu (privacy) dan melanggar/merobohkan bangunan demokrasi yang kalian selalu mengajak kepadanya.
Dan termasuk dari syarat-syarat kebebasan berpendapat -yang kalian mengajak kepadanya- adalah tidak boleh menyulut perselisihan golongan/ras (baca : SARA) atau pertumpahan darah. Dan suatu perkara yang jelas bahwa olok-olokan kepada Nabi kami Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam, di dalamnya terdapat provokasi terhadap kaum/bangsa Arab dan ummat Islam (untuk berbuat jelek) kepada negara Denmark yang berperan sebagai penanggungjawab pelanggaran hak-hak keagamaan dan individu ini.
Dan saya akan bertanya kepada kalian beberapa pertanyaan yang di dalamnya berisi penjelasan terhadap kesalahan yang dilakukan oleh koran tersebut berupa melanggar hak-hak para Nabi serta hak-hak bangsa-bangsa dan ummat- ummat :
Apakah kalian menerima jika koran Denmark menyebarkan pendapat yang membuat keraguan akan (terjadinya) pembantaian NAZI terhadap orang-orang Yahudi?
Apakah kalian menerima pendapat yang mengatakan bahwa peledakan yang sedang berkembang merupakan amalan yang disyariatkan?
Dan sebagai penutup, saya mengingatkan kalian bahwa apa yang dilakukan oleh koran di Denmark tersebut berupa pelanggaran terhadap hak-hak Nabi kami Shollallahu ‘alaihi wasallam boleh jadi akan memunculkan alasan baik bagi para perusak yang menginginkan kerusakan di negara kalian, maka waspadalah kalian dan cegahlah orang-orang yang mengejek Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam.
Dan keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk dan hanya Allahlah yang memberikan taufik.

Ditulis oleh :
Abu Umar Al-Utaibiy

Fatwa Asy-Syaikh Ali Bin Hasan Al Halabi
-hafizhohullahu Ta’ala-

Pertanyaan :
Ya Syaikh, apa sikap kita menanggapi penyebaran gambar karikatur Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam oleh bangsa asing?

Jawaban :
Saya mendengar dari sebagian syaikh kami lebih dari sekitar 1/4 abad yang lalu perkataan mereka, bahwasanya menjelaskan sesuatu yang sudah jelas termasuk dari masalah yang paling sulit, dalam artian apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir itu bukanlah perkara yang asing keluar dari mereka dan bukan pula (perbuatan) yang jauh dari mereka bahkan (mereka telah melakukan) perbuatan yang lebih besar dari hal tersebut, maka mengapa kita harus heran dan memberikan/menganggap perkara ini lebih besar dari ukuran sebenarnya. Betul, kita mengetahui bahwa menolong kebenaran, menolong Allah dan menolong RasulNya mengharuskan adanya pengingkaran dengan menganggapnya sebagai kemungkaran dan menjelaskannya. Akan tetapi kenapa kita melupakan/melalaikan firman Allah Ta’ala :
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah : 120)
Mengapa kita menutup mata-mata kita dan menyumbat pendengaran-pendengaran kita dari firman Rabb kita :
قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ
“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi”. (QS. Ali-Imran : 118)
Sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu, (kesesatannya) lebih jelas daripada matahari di langit, akan tetapi tidak boleh bagi kita kaum muslimin untuk membalas kesesatan ini dengan kesesatan yang lain. Atau dengan perbuatan yang akan menimbulkan kesesatan yang lebih besar, yakni mereka mencela Nabi kita dan kita mencela Nabi-Nabi mereka ‘audzubillah. Keimanan terhadap kenabian Isa dan Musa termasuk dari rukun iman, dan barangsiapa yang ragu padanya bukanlah seorang muslim. Akan tetapi mereka tidak mengetahui hal tersebut dan mereka bodoh terhadap hal tersebut. Mereka telah melakukan suatu perbuatan yang kita dapat mengingkarinya dengan metode-metode syar’i dan kita tidak terjun ke dalam perbuatan mencela, penghancuran, peledakan dan pembunuhan yang akan mengakibatkan bala bencana, kejelekan, bahaya dan kesalahan, fitnah, ujian yang jauh lebih banyak (baca : besar) daripadanya. Kalian membakar mobil-mobil, meledakkan gedung-gedung kedutaan, kemudian setelah itu apa?!, (bangunan-bangunan tersebut) akan diperbaharui (dibangun kembali) dengan yang lebih baik atas biaya dari negeri-negeri kaum muslimin. Dan hal itu akan menjadi sebab tertuduhnya kaum muslimin -lebih dan lebih-, bahwa mereka adalah teroris, orang-orang yang melampaui batas, dan ….., dan …… dan seterusnya.
Maka hendaknya kita bertakwa kepada Allah, maka hendaknya kita bertakwa kepada Allah, dan hendaknya kita mengetahui bagaimana kita menerapkan hukum Allah dan bagaimana caranya kita mengingkari dengan cara yang syar’iy. Ibnul Qayyim datang kepada Ibnu Taimiyah gurunya tatkala tentara Tar-Tar memerangi negeri Damaskus dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi ini, beliau (Ibnul Qayyim) berkata : “Wahai Abul Abbas, para tentara Tar-Tar ini mabuk-mabukan, mereka meminum khamar di jalan-jalan dan mereka berbuat kerusakan. Apa yang harus kami lakukan?” Maka beliau (Ibnu Taimiyah) berkata: “Jangan engkau cegah (larang) mereka, jangan engkau cegah (larang) mereka”, beliau bertanya: “Kenapa?”. Beliau menjawab: “Karena jika engkau melarang mereka dari minum khamar lalu mereka sadar dari mabuk mereka maka mereka akan menyibukkan diri mereka dengan membunuhi kaum muslimin, maka biarkanlah mereka dalam keadaan mabuk dan bergelimpangan di tanah bermandikan debu sampai mereka sibuk dengan (mengurusi) diri mereka sendiri dan meninggalkan kaum muslimin”.
Lihatlah -wahai kalian- kepada pemahaman terhadap hukum syariat ini dan kepada fiqh maslahah dan mafsadah. Padahal minum khamar, mabuk dan bergelimpangan (tidur) di jalan-jalan adalah perkara yang diharamkan akan tetapi untuk berlepas darinya dalam kejadian di atas akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar. Oleh karena itulah mereka (para ulama) mengatakan: ‘Orang yang faqih adalah orang yang mengetahui yang paling baiknya di antara dua kebaikan dan meninggalkan yang paling jelek di antara dua kejelekan’. Wallahul musaddid”.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, December 3rd, 2008 at 4:50 am and is filed under Fatawa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.