Etika Dalam Berdagang

June 20th 2010 by Abu Muawiah |

07 Rajab

Etika Dalam Berdagang

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah. Maka beliaupun bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Dia menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas agar manusia dapat melihatnya?! Barangsiapa yang menipu maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim no. 102)
Dari Hakim bin Hizam radhiallahu anhu dari Nabi Shallallu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Kedua orang yang bertransaksi jual beli berhak melakukan khiyar selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli. Tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan dihapus.” (HR. Al-Bukhari no. 1937 dan Muslim no. 1532)
Khiyar adalah hak untuk membatalkan transaksi jual beli.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ
“Sumpah itu (memang biasanya) melariskan dagangan jual beli namun bisa menghilangkan berkahnya”. (HR. Al-Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1606)
Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiallahu anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ
“Jauhilah oleh kalian banyak bersumpah dalam berdagang, karena dia (memang biasanya) dapat melariskan dagangan tapi kemudian menghapuskan (keberkahannya).” (HR. Muslim no. 1607)

Penjelasan ringkas:
Salah satu profesi yang dianjurkan dalam Islam bahkan sering tersebut dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah profesi petani dan pedagang. Karenanya banyak sekali sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berprofesi menjadi petani atau pedagang. Hanya saja, di dalam Islam setiap profesi yang dibenarkan untuk ditempuh tujuannya bukan semata-mata untuk menghasilkan uang atau meraih kekayaan. Akan tetapi yang jauh lebih penting daripada itu adalah untuk mendapatkan keberkahan dari hasil jerih payahnya. Dan keberkahan dari harta bukan dinilai dari kuantitasnya akan tetapi dinilai dari kualitas harta tersebut, darimana dia peroleh dan kemana dia belanjakan.

Karenanya, dalam perdagangan dan jual beli, Islam menuntunkan beberapa etika di antaranya:
1.    Tidak boleh curang dalam jual beli.
2.    Tidak boleh menutupi cacat barang dagangan dari para pembeli.
3.    Menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kebaikan dan kekurangan barang yang dia jual.
4.    Tidak boleh terlalu banyak bersumpah -walaupun sumpahnya benar- dengan tujuan melariskan dagangannya. Karena terlalu sering menyebut nama Allah pada jual beli atau pada hal-hal sepele menunjukkan kurangnya pengagungan dia kepada Allah.
5.    Haramnya bersumpah dengan sumpah dusta, hanya untuk melariskan dagangannya.

Baca juga artikel-artikel berikut: http://al-atsariyyah.com/nasehat-berharga-kepada-setiap-pedagang.html dan http://al-atsariyyah.com/tidak-boleh-ada-kezhaliman.html

Incoming search terms:

  • berdagang
  • etika bisnis dalam berdagang
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, June 20th, 2010 at 3:09 pm and is filed under Ekonomi Islam, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Etika Dalam Berdagang”

  1. imam said:

    bismillah..

    Ustadz, bgmn hukumnya berdagang tiket peswat dikantor tempat dia bekerja? Perlu diketahui dia mmng bertugas mencarikan tiket2 pegawai yg akan cuti(krn perusahaan memberikan fasilitas tiket PP kepada kryawannya)krn dia sebgai staff dikantor tersebut, tapi disatu sisi dia memliki usaha sampingan tiket pesawat online, drpd perusahaannya mmesan ditempat lain lebih baik mmesan ma dia sendiri dan mengambil keuntungan dr transaksi tersebut? Bolehkah berdagang seperti ini? Apakah termasuk perbuatan korupsi?

    Jazaakumullah khoir.

    Nggak masalah insya Allah.

  2. umm hudzaifah said:

    assalamu’alaikum…

    jazakaLlahu khairan untuk website-nya yg bermanfaat. saya suka postingannya karena singkat mudah diakses dan dibaca.

    mudah2an usaha antum mendatangkan keridhaan ALLAH ta’ala.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Alhamdulillah bini’matihi tatimush shalihat. Allahumma amin

  3. Etika Dalam Berdagang « Nasyaazakhir's Blog said:

    […] <a href=’http://al-atsariyyah.com/etika-dalam-berdagang.html‘>sumber</a&gt; […]

  4. cinta Allah said:

    ustadz, saya ingin mengetahui ttg kaedah fiqh suatu mslh,,begini ustadz,,andai saya bekerja pada suatu perusahaan milik orang lain namun dahulunya orang itu membangun usahanya dengan modal yang haram, halalkah gaji saya bekerja di perusahaan org itu meski pekerjaannya halal?

    Ya, insya Allah tetap halal. Karena seseorang itu tidak akan mendapatkan dosa dari maksiat orang lain.