Dusta yang Diperbolehkan

June 18th 2010 by Abu Muawiah |

05 Rajab

Dusta yang Diperbolehkan

Dari Ummu Kultsum binti Uqbah radhiallahu anha bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا
“Bukanlah disebut pendusta orang yang menyelesaikan perselisihan di antara manusia dengan cara dia menyampaikan hal-hal yang baik atau dia berkata hal-hal yang baik”. (HR. Al-Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605)
Maksudnya: Walaupun apa yang dia sampaikan atau katakan itu tidak benar, akan tetapi dia mengucapkannya agar terwujud perdamaian di antara kedua belah pihak.
Dalam riwayat Muslim ada tambahan:
وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الْحَرْبُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا
“Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga hal: Dusta dalam peperangan, dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, dan dusta suami terhadap istri atau istri terhadap suami.”

Penjelasan ringkas:
Dusta merupakan dosa yang sangat besar dan amalan yang sangat jelek. Hanya saja, jika pada suatu keadaan tertentu, kedustaan bisa membawa kemaslahatan syar’i yang lebih besar daripada mudharat kedustaan itu, maka ketika itu dusta diperbolehkan sebutuhnya. Hanya saja ini bukan berarti setiap orang bisa berijtihad dengan pemikirannya untuk menilai suatu dusta itu boleh atau tidak, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri telah menegaskan bentuk dusta yang diperbolehkan dalam syariat. Karenanya kita wajib terbatas pada apa yang beliau sebutkan dan selainnya tetap dalam hukum haram dan merupakan dusta yang tercela.

Adapun kedustaan yang diperbolehkan adalah:
1.    Dusta untuk mendamaikan pihak yang bertikai.
2.    Dusta dalam perang. Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْحَرْبُ خَدْعَةٌ
“Perang adalah tipu daya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun lafazh tambahan dalam riwayat Muslim di atas, maka ada perselisihan di antara para perawi hadits tersebut: Apakah ucapannya itu merupakan ucapan Ummu Kultsum ataukah dia merupakan ucapan Muhammad bin Muslim Az-Zuhri (Tabi’in). Dan Imam Muslim telah mengisyaratkan perbedaan riwayat ini dalam kitab Shahihnya. Jika ucapan itu adalah ucapan Ummu Kultsum, maka ucapan ini mempunyai hukum marfu’ (sabda Nabi) dan bisa dijadikan hujjah. Tapi jika dia adalah ucapan Az-Zuhri maka dia hanya mempunyai hukum mauquf (ucapan sahabat) yang tidak bisa dijadikan hujjah untuk membolehkan sebagian bentuk kedustaan.

Ala kulli hal, jika hukumnya marfu’ maka kita bisa menambahkan dusta suami istri dalam dusta yang diperbolehkan. Akan tetapi jika hukum ucapan itu hanya mauquf maka dusta yang diperbolehkan hanya dua dan dusta suami istri tetap merupakan dusta yang diharamkan, wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • DUSTA
  • dusta yang diperbolehkan
  • dusta dalam islam
  • Dusta yang d
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, June 18th, 2010 at 5:55 am and is filed under Akhlak dan Adab, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

6 responses about “Dusta yang Diperbolehkan”

  1. Fahrul said:

    Assalamu`alaikum
    Ustadz,orangtua ana dan salah satu tetangga sedang memiliki perang dingin,suatu saat anak tetangga membicarakan hal yang jelek tentang orangtua ana melalui kakak ana. Lalu kakak ana teerlanjur memberi tahu ayah ana maka ayah marah besar dan merahasiakan dari ibu. Suatu saat ibu dengar peristiwa ini kemudian menanyakan kebenaran ini kepada ana karena ana khawatir kepada keadaan ibu mudah emosi lalu sakit kadangkala uring2an terpaksa ana berbohong tak tahu peristiwa tersebut>Bolehkah apa yang ana lakukan?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Antum cukup mengatakan kalimat ‘wallahu a’lam’, insya Allah kalimat ini bukan merupakan kedustaan karena memang Allah lebih mengetahui segala sesuatu. Atau antum bisa meminta ibu untuk menanyakan langsung ke ayah. Wallahu a’lam

  2. akhwat said:

    assalaamu’alaikum

    ustadz, mohon nasehat, bapak saya punya hubungan sulit bersama teman ibu saya. qadarullah saya mendapat tahu sendiri melalui kiriman mesej dalam handphone bapak saya. dan saya tidak mengetahui setakat mana hubungan mereka, yang pasti mereka sering ketemu. bapak saya juga sering meninggalkan sholat wajib dan sudah lama tidak memberi nafkah pada keluarga. apa harus saya perbuat ustadz? apa saya harus khabarkan pada ibu saya tentang kecurangan bapak saya? ibu dan bapak saya adalah dari kalangan awam dan pemahaman agama mereka kurang.saya juga sudah berkali-kali nasehati bapak saya tentang sholat, namun ga dihiraukan.dalam kasus ini, apa saya dibenarkan berbohong sama ibu saya tentang kecurangan bapak saya ini (maksudnya mendiamkan diri) ?
    mohon pandangan.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Ucapan saudari ‘dan sudah lama tidak memberi nafkah pada keluarga’ apakah maksudnya keduanya sudah bercerai atau bagaimana?

  3. Jumrad said:

    Mohon izin share tulisan ini di fb saya…

    Silakan

  4. akhwat said:

    afwan ustadz, yang sebenar ibu dan bapak saya belum bercerai. maksud ga memberi nafkah, bapak saya tidak bekerja dan hanya mengharapkan hasil dari kerjaan ibu saya. jadi gimana ustadz? apa bapak saya itu boleh menikahi wanita yang dia selingkuh untuk elakkan berlakunya perkara lebih dahsyat semacam zina?

    Wallahu a’lam, mungkin sebaiknya masalah ini diselesaikan oleh kedua orang tua, semoga mereka berdua bisa mendapat jalan keluar yang terbaik. Yang jelas secara hukum Islam, tidak mengapa ayah menikahi wanita tersebut jika dikhawatirkan bisa terjadinya perzinahan.

  5. ak.sembiring said:

    Assalamu’alaikum. Ustadz,
    afwan jika lari dari pokok pembahasan. Ana ingin tanya; ada satu keluarga yg sedang ‘sakit’ hubungannya, sang Istri merasa antipati terhadap keluarga si suami, karna_menurut sang istri_ keluarga si suami tsb selalu ‘merongrong2’ atau sering meminta materi kepada suaminya, perlu diketahui bhw si suami org yg ‘berpenghasilan’ cukup besar. tetapi, si istri adalah org yg cukup rapih dlm menata keuangannya, dan latar belakang keluarga si suami adalah cukup. Si istri saat ini juga sudah bekerja dan berpenghasilan. Nah, apa yg mesti saya lakukan u/ meredakan problem mereka? karna salah satu dari keduanya meminta saran ana, bagaimana sebaiknya. Sebab, selalu saja ada problem _sampai2 ingin ber’pisah’_jika menyangkut perkataan ‘harta’, ‘pinjaman’, atau ‘minta bantuan’ atau ‘tolong pinjamin modal’, dll.

    Jazakallahukhairan sebelumnya atas jawabannya

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Dalam hal ini, si istri yang harus dinasehati. Bahwasanya dalam hukum Islam, dia tidak berhak mengatur-atur harta suaminya. Kecuali jika suaminya tidak menafkahi dia maka barulah dia bisa mengambil harta suaminya secukupnya. Ataukah dia berpenghasilan sendiri maka silakan dia mengatur uangnya sesukanya.
    Dan si istri butuh mengingat bahwa keluarga suami adalah keluarga dia juga, ortu suami adalah ortu dia juga. Apakah masuk akal jika dia membahayakan nasibnya di akhirat dengan memutuskan silaturahmi atau durhaka kepada ortu atau bahkan sampai minta cerai, hanya karena alasan duniawiah yang rendah lagi hina?

  6. qanitah said:

    Bismillah
    Assalamu’alaykum warhamatullah wabarakatuh

    ustadz, ana mohon nasehat. hal2 apa sajakah yang harus dan tidak boleh tidak diceritakan istri kepada suaminya?? jika hal2 yang harus di ceritakan itu, disembunyikan dengan alasan akan diselesaikan sendiri, sehingga suaminya berpikir bahwa hal tersebut sudah tidak ada atau sudah selesai (padahal hakikatnya belum selesai), apakah ini termasuk kedustaan dan durhaka terhadap suami??
    jazakumullah khairan katsiran

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Insya Allah tidak termasuk dusta, karena itu hanyalah perbuatan menyembunyikan permasalahan, yang dia harapkan bisa menyelesaikannya tanpa harus membebani pikiran suaminya.