Dimanakah Berkahnya Makanan?

July 13th 2010 by Abu Muawiah |

30 Rajab

Dimanakah Berkahnya Makanan?

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْبَرَكَةُ تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ وَلَا تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ
“Berkah itu turun di tengah-tengah makanan, maka mulailah makan dari pinggirnya dan janganlah mulai makan dari tengahnya.” (HR. Abu Daud no. 3772 dan At-Tirmizi no. 1805)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata:
مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلَّا تَرَكَهُ
“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencela suatu makanan sekalipun. Jika beliau menyukainya maka beliau memakannya, dan bila beliau tidak menyukainya maka beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Al-Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah sangat meridhai hamba-Nya yang membaca tahmid sesudah makan dan minum.” (HR. Muslim no. 2734)
Tahmid adalah bacaan: ALHAMDULILLAH

Penjelasan ringkas:
Bagian tengah diberi kekhususan dengan turunnya berkah, karena tempat itu adalah tempat paling adil. Dan sebab dari larangan tersebut agar seseorang yang makan  tidak terharamkan baginya berkah yang berada di bagian tengah. Dan juga termasuk di dalam hadits ini adalah: Apabila yang makan lebih dari seseorang, lalu seseorang di antara mereka ada yang mendahului mengambil di bagian tengah makanan sebelum bagian pinggirnya, maka dia telah melakukan adab yang jelek kepada mereka dan mementingkan diri sendiri untuk suatu yang baik selain dari mereka, wallahu a’lam. (Lihat ‘Aun Al-Ma’bud: 10/177)

Adapun mencela makanan maka seperti dengan ucapan: Terlalu asin, atau kurang asin, kecut, tipis, keras, kurang matang, dan lain sebagainya. Demikian yang diterangkan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim (13/22)
Mencela makanan ini dilarang dengan dua alasan:
1.    Makanan adalah ciptaan Allah yang tidak boleh dicela.
2.    Mencela makanan akan menyakiti perasaan pembuat makanan hingga dia bersedih dan tersinggung.

Sementara membaca hamdalah setelah makan maka itu merupakan bentuk kesempurnaan makanan tersebut. Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata, “Membaca basmalah diawal makan dan minum dan membaca Alhamdulillah setelah selesai, mempunyai pengaruh yang sangat mengagumkan baik pada manfaatnya, kebaikan, dan dalam mencegah kemudharatan. Imam Ahmad mengatakan, Apabila dalam makanan telah terkumpul empat hal, maka dia telah sempurna: Apabila menyebut nama Allah di awal makan, Alhamdulillah setelah makan, makan berjamaah, dan dari makanan yang halal.” Lihat Zaad Al-Ma’ad (4/232)

Incoming search terms:

  • doa setelah makan
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, July 13th, 2010 at 10:38 am and is filed under Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Dimanakah Berkahnya Makanan?”

  1. khaulah bintu basyri said:

    Bismillah. Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarakatuh. Afwan ana mau tanya, kalau di saat kita makan tiba-tiba ada makanan yang terjatuh apakah kita boleh memungutnya dan memakannya lagi? Jazakumullohu khoyron katsiron.

    Waalaikumussalam warohmatulloh wabarakatuh
    Jawabannya sudah jelas disebutkan di atas.

  2. Dimanakah Berkahnya Makanan? « Ummu 'Abdillah said:

    […] http://al-atsariyyah.com/dimanakah-berkahnya-makanan.html Share this:TwitterFacebookTumblrEmailPrintLike this:LikeBe the first to like this post. […]