Dilarang Shalat di Sini

March 31st 2010 by Abu Muawiah |

15 Rabiul Akhir

Dilarang Shalat di Sini

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلُّوا فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ وَلَا تُصَلُّوا فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ
“Shalatlah kalian di kandang kambing dan jangan kalian shalat di tempat menderumnya unta.” (HR. At-Tirmizi no. 348)
Jundab radhiallahu anhu berkata:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Lima hari menjelang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat, aku mendengar beliau bersabda, “Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari mereka sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu.” (HR. Muslim no. 532)
Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْحَمَّامَ وَالْمَقْبَرَةَ
“Semua tempat di bumi ini adalah masjid (dapat digunakan untuk shalat atau bersujud) kecuali kamar mandi dan kuburan”. (HR. Abu Daud no. 492 dan At-Tirmizi no. 317, seta dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’: 1/320)

Penjelasan ringkas:
Hukum asal dari semua dataran di bumi adalah suci dan bisa dijadikan tempat shalat, dan ini termasuk dari kemudahan Allah kepada umat ini. Karenanya, kapan salah seorang di antara kalian didapati oleh waktu shalat, maka hendaknya dia mengerjakan shalat dimanapun dia berada ketika itu. Inilah yang menjadi hukum asalnya. Akan tetapi syariat mengecualikan beberapa tempat dimana seorang muslim tidak boleh shalat di situ, terkadang karena shalat di situ bisa menjadi wasilah kesyirikan seperti shalat di kuburan, terkadang karena tempat tersebut adalah tempat berdiamnya setan seperti tempat-tempat menderumnya onta, dan terkadang karena tempatnya najis seperti wc dan tempat buang air.
a. Adapun kubur atau pekuburan, maka tidak boleh shalat di atasnya atau di tengah pekuburan atau shalat menghadapnya tanpa ada sesuatu yang memisahkan antara dirinya dengan kuburan/pekuburan semisal dinding, pagar, atau jalan. Termasuk dalam larangan ini adalah shalat di dalam masjid yang di dalamnya ada kuburan.
Selengkapnya, silakan baca artikel berikut: http://al-atsariyyah.com/?p=1119

b. Adapun larangan shalat di kandang atau tempat menderumnya onta, maka kami katakan:
Ibnu Hazm -rahimahullah- telah berkata dalam Al-Muhalla (4/25), “Hadits-hadits larangan shalat di tempat perhentian unta dinukil secara mutawaatir, dapat diyakini kebenarannya.”
Adapun sebab terlarangnya shalat di kandang onta, maka bukan dikarenakan karena kotoran onta itu najis. Akan tetapi sebabnya telah ditegaskan dalam hadits. Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلُّوا فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ وَلَا تُصَلُّوا فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنْ الشَّيَاطِينِ
“Shalatlah kalian di kandang kambing dan jangan shalat di kandang unta, sebab ia diciptakan dari setan.” (HR. An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dalam riwayat salah satu riwayat Ahmad, “Janganlah kalian shalat di tempat penambatan unta, karena dia diciptakan dari jin. Tidakkah kalian lihat matanya dan keadaannya ketika sedang mengamuk?”
Maka dari sini, Asy-Syafi’iyah dan Al-Malikiah menyatakan bahwa sebab larangan shalat di kandang onta adalah karena sifat unta yang suka mengamuk. Kadangkala unta mengamuk sementara orang itu sedang mengerjakan shalat sehingga dia terpaksa memutuskan shalatnya, atau dapat membahayakan dirinya, atau dapat mengganggu konsentrasinya dan memalingkannya dari kekhusyu’an dalam shalat. Karenanya berdasarkan hal ini, perlu dibedakan hukum shalat antara onta itu sedang berada di kandangnya atau tidak. Jika onta itu sedang di kandangnya maka tidak boleh shalat di situ, sementara jika dia sedang di luar kandang dan tidak dikhawatirkan dia akan kembali di tengah dia sedang shalat, maka insya Allah boleh shalat di kandang onta.

c.Adapun masalah shalat di dalam wc maka sudah jelas larangannya. Hanya saja sekedar tambahan faidah, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata dalam Fatawa Islamiah (1/270), “Boleh shalat menghadap (bukan di dalam, pent.) ke wc atau di atas atapnya menurut pendapat yang paling benar dari dua pendapat di kalangan ulama.”

Incoming search terms:

  • shalat menghadap toilet
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, March 31st, 2010 at 7:02 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

9 responses about “Dilarang Shalat di Sini”

  1. hasan said:

    Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Saya pernah sholat sunnah dirumah kerabat yang ternyata dalam pekarangan rumah tersebut ada kuburan.Bagaimana hukumnya ustadz?, sedangkan saya dengan kuburan ada dinding yang membatasi, dan bagaimana hukumnya?, seandainya saya sholat[wajib/sunnah],membelakangi kuburan tetapi tetap dalam satu pekarangan/lokasi, apakah itu dimesjid, dirumah atau lapangan terbuka.
    Mohon petunjuknya ustadz!!!

    Semoga para ustadz ahlus-sunnah selalu dirahmati-NYA.

    Jazakallahu khiran

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1119

  2. jihadi said:

    Assalamu’alaikum warahmatullohi wabarakaatuh

    Saya Jihad, Ustad. Mau nanya, maksud kata KEKASIH dari kalimat “….kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih…” dari pernyataan Rasulullah Sallallohu ‘alaihi wa sallam ini.

    Darpada berfikir sementara bukan ahlinya lebih baik saya tanya ma Uztad aja, maaf kalo pertanyaannya di luar materi. Habis penasaran Uztad.

    Semoga Alloh Subhaana wa Ta’alaa menjagamu selalu Uztad.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Sebenarnya ini hanya masalah terjemahan, sementara kata arabnya adalah ‘khalil’. Khalil ini bisa diterjemahkan kekasih, bisa diterjemahkan orang yang paling dicintai. Adapun arti sebenarnya dari khalil, maka dia berasal dari kata ‘khullah’ yaitu perasaan cinta yang sangat besar kepada sesuatu, dimana dalam hatinya tidak ada tempat lagi untuk mencintai selainnya.
    Nabi tidak menjadikan siapapun dari umatnya sebagai khalilnya karena khalil beliau adalah Allah, yakni beliau tidak mencintai siapapun dengan kecintaan sampai ke derajat ‘khullah’, karena perasaan khullah beliau hanya untuk Allah dan tidak ada tempat lagi di hati beliau untuk selain Allah.
    Adapun kecintaan yang tidak sampai ke jenjang ‘khullah’ yaitu ‘mahabbah’, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mencintai para sahabatnya, mencintai orang-orang yang beriman, dan seterusnya.
    Intinya, rasa cinta dalam bahasa Arab itu ada -seingat saya- 10 tingkatan, yang kesemuanya kalau diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah cinta. Akan tetapi dalam bahasa arab, setiap tingkatan dari tingkatan cinta ini mempunyai makna-makna yang berbeda. Khullah adalah jenjang cinta yang tertinggi sementara mahabbah berada beberapa jenjang di bawahnya. Karenanya Nabi bisa saja mencintai umatnya dengan kecintaan yang bersifat mahabbah, akan tetapi kecintaan beliau yang sifatnya khullah, maka itu hanya untuk Allah Ta’ala. Wallahu a’lam

  3. jihadi said:

    Begitu hebatnya bahasa Arab sehingga satu kata dalam bahasa Indonesia mampu menjadi banyak kata dalam bahasa Arab yang memiliki derajat yang berbeda-beda lagi. Bahasa yang sungguh mengagumkan.

  4. Fahrul said:

    Kan ustdz mengatakan adapun masalah shalat di dalam wc maka sudah jelas larangannya. Hanya saja sekedar tambahan faidah, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata dalam Fatawa Islamiah (1/270), “Boleh shalat menghadap (bukan di dalam, pent.) ke wc atau di atas atapnya menurut pendapat yang paling benar dari dua pendapat di kalangan ulama.”
    Bagaimana dengan atsar
    Berkata Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu:

    لا تصل إلى الحش ولا إلى الحمام ولا إلى المقبرة

    “Jangan shalat menghadap tempat buang hajat, kamar mandi, dan kuburan.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/372 no: 7651, cet. Maktabah Ar-Rusyd )

  5. Fahrul said:

    Sambungan pertanyaan pertama yaitu
    Home » FIKIH » Bolehkah Membangun Toilet ke Arah Kiblat?
    31st December 2009 | 1,502 views
    Bolehkah Membangun Toilet ke Arah Kiblat?

    Tanya:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

    Pak ustadz mau tanya, bolehkah membangun toilet di arah kiblat masjid? Sahkah shalat di masjid yang arah kiblatnya ada toiletnya?

    (085864317447)

    Jawab:

    Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.

    Tidak mengapa membangun toilet di arah kiblat masjid dengan syarat bangunannya terpisah dari bangunan masjid. Apabila bangunannya bersambung maka makruh shalat di masjid tersebut, dan shalatnya sah.
    Berkata Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu:

    لا تصل إلى الحش ولا إلى الحمام ولا إلى المقبرة

    “Jangan shalat menghadap tempat buang hajat, kamar mandi, dan kuburan.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/372 no: 7651, cet. Maktabah Ar-Rusyd )

    Berkata Al-Musayyib bin Raafi (wafat tahun 105 H) dan Khaitsamah bin Abdurrahman (wafat setelah tahun 80 H):

    لا تصل إلى حائط حمام ولا وسط مقبرة

    “Jangan shalat menghadap dinding kamar mandi dan tengah kuburan. ” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/372 no:7653 )

    Berkata Ibrahim An-Nakha’i (wafat tahun 196 H):

    كانوا يكرهون ثلاث أبيات للقبلة الحش والمقبرة والحمام

    “Para salaf membenci 3 tempat untuk qiblat: tempat buang hajat (toilet), kuburan, dan kamar mandi” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/372 no:7656)

    Berkata Syeikh Muhammad bin Ibrahim (Mufti Kerajaan Saudi sebelum Syeikh Bin Baz, meninggal tahun 1389 H):

    فإِن أَمر هذه المغاسل لا يخلو من أَمرين: إِما أن تكون مفصولة عن المسجد بجدار مستقل بها منفصل عن جداره القبلي، وهذا لا محظور فيه ولا بأْس بالصلاة ولو كانت المغاسل في قبلة المسجد ما دامت مفصولة عنه بجدار غير جداره. وإِما أَن تكون متصلة به ليس بينها وبينه إِلا حائطه القبلي فهذا مما ذكر العلماء كراهة الصلاة إِليه،… ولا يكفي حائط المسجد، لكراهة السلف -رحمهم الله- الصلاة في مسجد في قبلته حُش. وعلى هذا فينبغي فصل هذه المغاسل عن جدار المسجد بحائط مستقل بها منفصل عن حائط المسجد المذكور

    “Toilet ini tidak terlepas dari 2 kemungkinan:

    Pertama: Terpisah dari masjid dengan dinding yang terpisah dari dinding masjid yang terletak di arah qiblat, maka ini tidak ada larangan dan tidak masalah shalat di dalamnya, meskipun toilet tersebut berada di arah qiblat masjid, selama bangunannya terpisah dari dinding masjid.

    Kedua: Tersambung dengan masjid, dan tidak ada pembatas kecuali dinding masjid yang berada di arah qiblat, maka disebutkan oleh para ulama bahwa ini termasuk tempat yang makruh shalat menghadapnya…dan tidak cukup hanya dinding masjid karena para salaf rahimahumullahu membenci shalat di dalam masjid yang di arah qiblatnya ada tempat buang hajat, oleh karena itu seyogyanya memisahkan toilet-toilet tersebut dari dinding masjid dengan dinding terpisah dari dinding masjid tersebut.” (Fatawa Wa Rasail Syeikh Muhammad bin Ibrahim no: 515)

    Jazakallahu khairan atas tambahan faidahnya.

  6. ummu ahlam said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

    Ustadz, bolehkah ikut sholat ied yg pelaksanaannya di jalan raya ?

    Jazakallahu khairan atas jawabannya.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Kalau memang sudah tidak ada lapangan maka insya Allah tidak mengapa.

  7. yuli said:

    asalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
    begini ustadz,sekarang saya kerja diluarnegri hongkong tpt’y dikarenaka majikan saya melarang saya beribadah,akhir’y saya melakukan sholat dengan sembunyi itu juga di kamer mandi/wc apa gak boleh pak ustadz,walaupun keadaan terpaksa sprti keadaan saya skr,,,?mhn pnjlsn’y

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Kami sarankan anda kembali atau berpindah ke negeri Islam, karena berdiam di tengah-tengah orang kafir di negara kafir adalah hal yang asalnya dilarang agama.

  8. Hadi Rahadian said:

    Assalamu’alaikum
    Petikan berikut, Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    صَلُّوا فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ وَلَا تُصَلُّوا فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ
    “Shalatlah kalian di kandang kambing dan jangan kalian shalat di tempat menderumnya unta.” (HR. At-Tirmizi no. 348. Mengapa kita shalat di kandang kambing? Terbayang jelas jika memang Rasul menyeru hal itu kandang kambing atau hewan lainnya adalah tempat yang najis.

    Waalaikumussalam.
    Maksudnya? Kami tidak paham arah komentar anda.

  9. dwi said:

    Assalamu’alaikum,

    bgm hukumnya kalo shalat bersebelahan dgn kamar mandi/wc, tetapi ada sekat dan berjarak sekitar 50cm?
    Soalnya kamar saya terdapat kamar mandi dalam.

    Wassalam,

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada masalah insya Allah.