Dia Bukan Salafiy

January 27th 2013 by Abu Muawiah |

Pertanyaan :
“Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda wahai syaikh,…. Penanya ini berkata : ‘Sungguh akhir-akhir ini telah banyak digunakan kalimat : ‘Fulan bukan salafiyyiin’ atau ‘Ia bukan termasuk salafiyyiin’. Apakah perkataan ini dianggap sebagai tabdii’ dan menjadi keharusan untuk menegakkan hujjah kepadanya ?”.

 

Jawab :
“Demi Allah, aku memperingatkan kalian agar tidak menggunakan ungkapan seperti ini. Yang lebih cocok/sesuai bagi muslim dan juga bagi penuntut ilmu…. bahwa mereka semua berada di atas kebaikan, mereka di atas ‘aqidah salaf. Sebagian mereka mungkin mempunyai beberapa kekurangan dan kebodohan, namun mereka tidaklah dikeluarkan dari lingkup Salafiyyin.
Perkataan ini tidaklah diperbolehkan. Perkataan ini tidak boleh diucapkan antar saudara, antar para penuntut ilmu, antar anak-anak kaum muslimin, dan diucapkan di negeri-negeri muslim… ini tidak diperbolehkan.
Seandainya engkau mengetahui beberapa pokok perselisihan yang terjadi dengan saudaramu, maka seharusnya engkau menasihatinya. Adapun mengatakan : ‘dia bukan dari salafiy’ atau ‘tidak berada di atas salafiyyah’…. mungkin engkau sendiri belum mengetahui apa Salafiyyah itu.
Sebagian dari mereka mengklaim Salafiy, padahal mereka belum mengetahui apa makna Salafiy…. Jika kalian bertanya kepada mereka apa itu salafiyyah dan apa artinya, maka mereka tidak mengetahuinya. Na’am….”.

[selesai – dari penjelasan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah dalam http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/9918].

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, January 27th, 2013 at 2:33 pm and is filed under Fatawa, Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Dia Bukan Salafiy”

  1. setiawan said:

    Ustadz, apakah seorang yang bekerja di instansi umum tidak dapat dikatakan berada di atas manhaj salaf (salafi) karena banyaknya kemaksiatan yg dijalaninya seperti bergaul dg orang-orang awam (campuran), berseragam dengan pantalon(bukan gamis) meskipun ia tetap berusaha melaksanakan shalat jamaah, tidak isbal, memelihara lihyah dan menegakkan sunnah bagi dirinya sekemampuan yg Allah berikan kepadanya?
    Ataukah ia harus keluar dari tempat kerjanya tsb?

    Anggapan itu tidaklah benar. Selama dia meyakini semua prinsip mendasar ahlussunnah maka dia adalah ahlussunnah.