Di Antara Kisah Orang-Orang yang Bertaubat

December 30th 2009 by Abu Muawiah |

13 Muharram

Di Antara Kisah Orang-Orang yang Bertaubat

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Wahai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dari Buraidah dia berkata:

أَنَّ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ الْأَسْلَمِيَّ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَزَنَيْتُ وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ تُطَهِّرَنِي, فَرَدَّهُ. فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَاهُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَرَدَّهُ الثَّانِيَةَ. فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ: أَتَعْلَمُونَ بِعَقْلِهِ بَأْسًا تُنْكِرُونَ مِنْهُ شَيْئًا, فَقَالُوا: مَا نَعْلَمُهُ إِلَّا وَفِيَّ الْعَقْلِ مِنْ صَالِحِينَا فِيمَا نُرَى. فَأَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ أَيْضًا فَسَأَلَ عَنْهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ وَلَا بِعَقْلِهِ. فَلَمَّا كَانَ الرَّابِعَةَ حَفَرَ لَهُ حُفْرَةً ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. قَالَ فَجَاءَتْ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي, وَإِنَّهُ رَدَّهَا. فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ تَرُدُّنِي لَعَلَّكَ أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا فَوَاللَّهِ إِنِّي لَحُبْلَى. قَالَ: إِمَّا لَا, فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي. فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي خِرْقَةٍ قَالَتْ: هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ. قَالَ: اذْهَبِي فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ, فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ فَقَالَتْ: هَذَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَدْ فَطَمْتُهُ وَقَدْ أَكَلَ الطَّعَامَ. فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوهَا. فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بِحَجَرٍ فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا, فَسَمِعَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّهُ إِيَّاهَا فَقَالَ: مَهْلًا يَا خَالِدُ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ. ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ

“Ma’iz bin Malik Al Aslami pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar anda berkenan membersihkan diriku.” Namun beliau menolak pengakuannya. Keesokan harinya, dia datang lagi kepada beliau sambil berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina.” Namun beliau tetap menolak pengakuannya yang kedua kalinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui kaumnya dengan mengatakan: “Apakah kalian tahu bahwa pada akalnya Ma’iz ada sesuatu yang tidak beres yang kalian ingkari?” mereka menjawab, “Kami tidak yakin jika Ma’iz terganggu pikirannya, setahu kami dia adalah orang yang baik dan masih sehat akalnya.” Untuk ketiga kalinya, Ma’iz bin Malik datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membersihkan dirinya dari dosa zina yang telah diperbuatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengirimkan seseorang menemui kaumnya untuk menanyakan kondisi akal Ma’iz, namun mereka membetahukan kepada beliau bahwa akalnya sehat dan termasuk orang yang baik. Ketika Ma’iz bin Malik datang keempat kalinya kepada beliau, maka beliau memerintahkan untuk membuat lubang ekskusi bagi Ma’iz. Akhirnya beliau memerintahkan untuk merajamnya, dan hukuman rajam pun dilaksanakan.” Buraidah melanjutkan, “Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku.” Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghiraukan bahkan menolak pengakuan wanita tersebut. Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya engkau menolak pengakuanku sebagaimana engkau telah menolak pengakuan Ma’iz. Demi Allah, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu.” Mendengar pengakuan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan.” Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata, “Inilah bayi yang telah aku lahirkan.” Beliau lalu bersabda: “Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya.” Setelah mamasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati makanannya sendiri.” Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada seseorang di antara kaum muslimin, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu. Sementara itu, Khalid bin Walid ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu, tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tenangkanlah dirimu wahai Khalid, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pemilik al-maks niscaya dosanya akan diampuni.” Setelah itu beliau memerintahkan untuk menyalati jenazahnya dan menguburkannya.” (HR. Muslim no. 1695)

Makna pemilik al-maks adalah orang yang mengambil harta manusia tanpa hak, semisal orang-orang yang menagih pajak dan pungutan wajib dari kaum muslimin tanpa ada hak.

Penjelasan ringkas:

Telah disebutkan pada artikel sebelumnya mengenai keutamaan, syarat, dan adab dalam bertaubat, karena tidak pantas seorang muslim untuk berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan berputus asa dari rahmat Allah merupakan dosa yang sangat besar dan termasuk ciri-ciri orang yang kafir, sebagaimana ucapan Ya’qub kepada anak-anaknya, “Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Ambillah pelajaran dari para sahabat -radhiallahu anhum-, walaupun keimanan dan keilmuan mereka tinggi dan terus-menerus menuju kesempurnaan, tetap saja mereka bukanlah manusia yang ma’shum dari dosa-dosa. Karenanya tidaklah seorang pun di antara mereka yang berbuat dosa kecuali dia segera ‘mengadu’ kepada Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- dan segera kembali kepada Allah dengan segera bertaubat, bahkan mereka tidak segan-segan untuk minta ditegakkan had (jika dosanya mempunyai hukum had) guna membersihkan dosa-dosa mereka. Dan ini menunjukkan kuatnya keyakinan mereka kepada Allah dan jujurnya niat mereka dalam bertaubat.

Kisah dua orang sahabat di atas, juga kisah pembunuh 100 nyawa, juga kisah Ka’ab bin Malik beserta dua temannya yang diboikot tatkala mereka tidak ikut perang bersama Nabi -alaihishshalatu wassalam-, dan kisah-kisah lainnya merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang datang setelah mereka.

Ada beberapa fawaid yang bisa dipetik dari kisah di atas:

  1. Hukum had itu menghapuskan dosa yang diperbuat jika dia ikhlas menjalaninya.
  2. Kasih sayang Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada para sahabatnya tatkala beliau berusaha semaksimal mungkin agar mereka tidak terkena hukum had. Ini terbukti dengan beliau tidak mengindahkan pengakuan kedua sahabat ini pada awalnya. Tapi tatkala mereka terus-menerus mengaku maka beliaupun menjatuhkan hukum had kepada mereka.
  3. Kisah ini menujukkan jika seseorang berbuat zina tanpa ada yang menyaksikannya atau tidak ada yang melaporkannya, maka hendaknya dia melihat keadaan dirinya: Jika dia khawatir akan terjatuh ke dalam zina untuk kedua kalinya maka hendaknya dia melaporkan dirinya agar dirajam, tapi jika dia betul-betul bertaubat dan yakin tidak akan terjatuh lagi ke dalam zina maka hendaknya dia menyembunyikannya dan tidak melaporkan dirinya. Ini ditunjukkan dalam hadits lain yang shahih.
  4. Hukum rajam wajib ditegakkan, hanya saja masalah waktu eksekusinya diserahkan kepada ijtihad penguasa. Dia boleh mengundurkannya (bukan menggugurkannya) karena ada maslahat lain, misalnya maslahat bayi kalau pezina itu hamil.
  5. Orang gila yang berzina tidak dijatuhi hukuman had, itu karena beliau mempertanyakan kesehatan akal Maiz kepada kaumnya.
  6. Dari sini juga dipahami bahwa imam hendaknya mengumpulkan info yang detail dan akurat sebelum menjatuhkan hukum had.
  7. Rajam adalah ditanamnya tubuh pezina (yang telah menikah) di dalam tanah sampai ke dadanya, kemudian dia dilempari oleh kaum muslimin.
  8. Tidak boleh mencela dan menghina orang yang telah bertaubat. Ini juga ditunjukkan oleh kisah perdebatan antara Adam dan Musa -alaihimassalam- yang masyhur di kalangan ulama.

Wallahu Ta’ala a’la wa ahkam.

Incoming search terms:

  • kisah orang bertaubat
  • KISAH ORANG YANG BERTAUBAT
  • cerita orang bertaubat
  • pengusaha penzina yang bertaubat
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, December 30th, 2009 at 3:24 am and is filed under Hadits, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

11 responses about “Di Antara Kisah Orang-Orang yang Bertaubat”

  1. abu hisyam said:

    subhanallah, jazakallah ya ustadz

  2. Erta said:

    subhanallah,
    afwan, ana meminta ijin untuk mengcopy artikel ini, dan membaginya kepada teman ana yang sedang berputus asa, apakah diperkenankan?
    syukron.
    jazakallah ustadz

    Tafadhdhali, waiyyakum.

  3. Kampung Ilmu said:

    Assalamu’alaikum, indahnya akhlak ‘orang-orang jaman dulu’ di mana Rasul dan pengikutnya begitu penuh taqwa.. jazakallahu khairan, Ustadz…

  4. abu abdillah said:

    subhanallah..
    afwan ustadz ana mau tanya..
    Saya bekerja pada sebuah instansi, suatu saat instansi saya mengadakan kerjasama pencetakan buku dengan pihak lain… Nah, setelah proses pencetakan selesai, tiba-tiba pihak pencetak memberikan hadiah kepada saya serta pimpinan saya sejumlah uang.. Bagaimana hukum uang tersebut?
    Jazakumullahkhoiron..

    Afwan tolong gambarannya lebih spesifik, kami belum paham bentuknya.

  5. abu abdillah said:

    gini usatadz, ana kerja di instansi pemerintahan yang dibiayai negara.. Suatu waktu ada kerjasama dengan pengusaha untuk mencetak buku instansi kami, dengan biaya dari instansi kami… Katakanlah 10 juta, biaya cetaknya… Kebetulan pengusaha itu saat ngambil bahan2 yang akan dicetak selalu berhubungan dengan ana dan pimpinan ana.. proses pencetakan telah selesai dan diserahkan kepada kami. Tiba2 pengusaha percetakan ini memberikan sejumlah uang ke ana dan pimpinan ana (dari laba pengusaha tersebut) sebagai hadiah karena telah bekerjasama menyiapkan bahan2 buku tersebut..Padahal ana sudah menolaknya, akhirnya dititipkan ke pimpinan ana… Bagaimana hukumnya uang tersebut, apakah termasuk ghulul?

    Wallahu a’lam, itu termasuk ghulul yang terlarang, dimana seorang pekerja mendapatkan hadiah karena mengerjakan sesuatu yang sudah menjadi tugasnya dan dia sudah mendapatkan gaji tetap atas pekerjaannya itu. Karenanya hendaknya antum tidak menerima pemberian tersebut, wallahu a’lam

  6. ridho pradan said:

    adduuuuh… kasihan sekali wanita itu dilempari sampai mati.

    Saya mau tanya ustads, bukankah dengan mengharap keridhaan Allah, bertaubat dlsb itu dosanya sudah diampuni?

    Memang betul, tapi ada dosa yang ditetapkan syariat mempunyai hukum had di dunia seperti membunuh, berzina, minum khamar, dan selainnya.
    Tentunya lebih kasihan lagi kalau dia disiksa di neraka. Jadi justru rajam itu merupakan rahmat bagi wanita itu, karena Nabi shallalahu alaihi wasallam menyatakan bahwa hukum had adalah penggugur dosa. Sehingga dengan hukum had itu, dia tidak akan lagi disiksa di akhirat karena dosa itu.

  7. hamba allah said:

    assalamualaikum ustad

    ane mau nanya, apabila ada seorang berzina dan seorang tersebut bertaubat dengan sungguh2 kepada allah dan tidak akan mengulangi perbuatan berzina tersebut, apakah masih dikenakan hukum had??

    dan apa dosanya diampuni oleh allah di akhirat nanti walaupun dia tidak dikenakan hukum had??

    syukron

    wassalamulaikum

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah tetap diampuni Allah jika dia sudah betul-betul bertaubat.

  8. yahyasalaman said:

    assalamualaikum ya ustad
    ingin menanggapi terkait beberapa fawaid yg dapat dipetik dari cerita diatas. Pada poin ke-3 tertera bahwa apabila seseorang telah berzina lalu bertaubat dan yakin akan taubatnya maka perihal tersebut wajib disembunyikannya. Mengutip kata-kata “Ini ditunjukkan dalam hadits lain yang shahih.”
    Pertanyaan ane —>
    1.Boleh ditunjukkan hadits yg mana ya ustad?
    2.Lantas bagaiman tanggapan ustad terkait hadits nabi yg menyatakan bahwa para pezina itu ibarat “mayat yg berjalan di muka bumi”??
    syukron

    Waalaikumussalam
    1. Afwan ana lupa nash lengkapnya, insya Allah nanti dicarikan.
    2. Saya belum pernah mendengar hadits seperti itu. Mungkin antum bisa sebutkan referensi terkait periwayatnya atau lafazh haditsnya.

  9. hamba allah yang disakiti said:

    assalamu alaikum,ustadz

    bagaimana dengan wanita yang dulunya melakukan zina bersama pasangan kekasihnya selama bertahun-tahun mereka berpacaran, sekarang mereka telah berpisah.
    padahal sangat disayangkan wanita itu sangatlah santun dan pasti tidak akan ada orang yang menyangka bahwa dia melakukan hal zina seperti itu, mungkin itu semua terjadi karena cintanya yang terlalu besar kepada kekasihhya itu, tapi akhirnya mereka harus berpisah.
    1. apa ada pria yang bisa menerimanya dengan keadaan dia tidak suci lagi?
    2. apakah dia harus jujur sebelum menikah dengan pasangannya yg baru/ calon suaminya bahwa dia tidak lagi suci agar tak ada yang ditutupi??
    3. apakah mereka bisa menerima dengan tulus dan ikhlas serta tidak akan pernah membahasnya lagi??bagaimana kalau tidak??
    4. apa yang harus wanita itu lakukan?

    karena pria itu terlalu “pintar” untuk hal seperti itu,

    ditunggu solusi dan jawabannya ustadz..
    trima kasih sebelummya
    wassalamu alaikum wr.wb

    Waalaikumussalam.
    1. Jika dia telah bertaubat kepada Allah dengan ikhlas, insya Allah Allah akan memberikan jalan keluar bagi dirinya.
    2. Ya, dia harus jujur. Karena jika tidak maka itu akan menzhalimi calon suaminya.
    3. Hanya Allah yang tahu masalah gaib seperti ini.
    4. Dia bertaubat dengan ikhlas dan bertakwa kepada Allah. Karena siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadanya solusi dari semua masalah yang di hadapinya.

  10. Heru Adi H said:

    assalamu alaikum,ustadz

    Maaf ustadz,Pertanyaan ana keluar dari topik. Begini ustadz, ana di kantor (Polsek) sering menerima laporan, salah satunya adalah laporan kehilangan barang/surat2. Tanda Bukti laporan ini biasanya untuk mengurus kembali surat surat yang hilang di Intansi Terkait. Dan sesuai ketentuan yang berlaku, laporan ini tidak dipungut biaya apa pun. Tapi sering kali para pelapor ini menanyakan “berapa pak biayanya ?” ana menjawab “bahwa(laporan) ini tidak dipungut biaya, tapi kalau anda mau shadaqah / infaq kami persilahkan” Dan mereka menyodorkan uang antara 5rb s/d 10rb dan ada juga yang yg tidak ngasih uang karena sifatnya infaq / shodaqah. Pertanyaan ana halal apa enggak uang ini, ustadz?

    terima kasih atas jawabannya
    wassalamu alaikum

    Waalaikumussalam.
    Uang itu tidak boleh diterima karena merupakan ghulul (harta kecurangan). Pegawai yang memang dihaji untuk mengerjakan pekerjaan tertentu, tidak boleh menerima uang tip atau apalah bahasanya dari orang yang mengurus, walaupun mereka ikhlas memberikannya.

  11. ahmad said:

    aslmkm, ustadz!
    aq mw tnya, bgymna jka seorang laki2 mnikahi prempuan yg dia cintai, tp si perempuan itu sudah hamil akibat zina dg org lain!
    mhon jwbannya ustadz!
    wassalam.

    Boleh saja dengan dua syarat:
    1. Perempuan itu sudah bertaubat dari dosa zinanya. Jika belum, maka tidak boleh seorang muslim menikahi pezina.
    2. Menikahinya tidak dalam keadaan hamil. Karena menikahi wanita yang dalam keadaan hamil adalah tidak syah.