Definisi Syirik

July 29th 2015 by Abu Muawiah |

Definisi Syirik

            Syirik secara bahasa, dikatakan شَارَكْتُ فُلانا maknanya: Saya menjadi sekutunya. Syirik juga bisa bermakna asy-syarik (sekutu) dan juga bisa bermakna an-nashib (bagian). Bentuk jamaknya adalah asyraak. Kalimat شَرَكَهُ فِي الأَمْرِ yakni dia bersekutu dengannya dan terjun bersama ke dalamnya. Dikatakan أَشْرَكَهُ مَعَهُ فِيْهِ dan أَشْرَكَ فُلانًا فِي الْبَيْعِ , jika dia memasukkan orang tersebut bersama dirinya ke dalam urusan tersebut (jual beli)[1].

Secara istilah: Menjadikan untuk Allah sekutu dalam uluhiah-Nya, rububiah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifatNya.

Tidak diragukan bahwa kesyirikan merupakan asal dan pengumpul semua kejelekan. Dia merupakan dosa yang terbesar secara mutlak, karena dialah satu-satunya dosa yang Allah nafikan pengampunannya. Sebagaimana kesyirikan ini juga menghapuskan semua amal saleh seseorang, dan mengharuskan pelakunya mendapatkan kekekalan dalan api neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni kesyirikan kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa di bawah daripada itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah maka sungguh dia telah mengada-adakan suatu dosa yang sangat besar” (QS. An-Nisa`: 48)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya, barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka sungguh Allah telah haramkan surga atasnya, dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan tidak ada seorangpun penolong bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 72)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak pernah berbuat kesyirikan kepada-Nya maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan-Nya dalam keadaan berbuat kesyirikan kepada-Nya maka dia akan masuk neraka.[2]

Ibnu Al-Qayyim berkata dalam menjelaskan tentang jelek dan buruknya kesyirikan, “Allah Subhanahu mengabarkan bahwa Dia telah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitabNya, agar manusia mengamalkannya dengan al-qisthi yaitu keadilan. Dan di antara keadilan yang terbesar adalah tauhid. Tauhid adalah puncak dan tiangnya keadilan. Karenanya kesyirikan adalah kezhaliman, sebagaimana pada firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang paling besar.” (QS. Luqman: 13)

Maka kesyirikan adalah kezhaliman yang paling zhalim, sementara tauhid adalah keadilan yang paling adil. Dan amalan apa saja yang paling bertentangan dengan tujuan (tauhid) ini maka itu merupakan dosa besar yang paling besar, dimana tingkatan-tingkatan dosa besar ini disesuaikan dengan besar kecilnya penentangan dosa tersebut terhadap tujuan ini. Demikian halnya amalan apa saja yang bersesuaian dengan tujuan ini maka itu adalah kewajiban yang paling wajib dan ketaatan yang paling fardhu. Karenanya, perhatikanlah kaidah ini dengan seksama, petiklah pelajaran dari penjabarannya, niscaya anda akan mengenal (Allah) Yang paling bijaksana dari semua yang bijaksana dan Yang paling berilmu dari semua yang berilmu, pada apa-apa yang Dia wajibkan atas hamba-Nya, apa yang Dia haramkan atas mereka, dan berjenjangnya tingkatan-tingkatan ketaatan dan maksiat.

Tatkala kesyirikan kepada Allah menafikan tujuan (tauhid) ini, maka jadilah dia sebagai dosa yang paling besar secara mutlak. Allah telah mengharamkan surga dari setiap pelaku kesyirikan, dan Allah menghalalkan bagi orang yang bertauhid untuk menumpahkan darah, merampas harta, dan keluarga mereka untuk dijadikan sebagai budak. Hal itu dikarenakan mereka telah meninggalkan penyembahan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala enggan untuk menerima satu pun amalan dari seorang musyrik, enggan untuk menerima syafaat padanya, enggan menjawab doanya di akhirat, dan enggan untuk menerima harapannya di akhirat. Karena orang yang berbuat kesyirikan adalah orang yang paling bodoh tentang Allah, ketika dia menjadikan sebagian makhluk-Nya sebagai tandingan untuk-Nya. Dan itu merupakan puncak kebodohan.[3]

Ibnu Baaz berkata dalam menjelaskan masalah ini, “Kesyirikan adalah mengikut sertakan selain Allah bersama Allah dalam ibadah. Misalnya dia berdoa kepada berhala-berhala atau selainnya, atau beristighatsah kepadanya, atau bernadzar, mengerjakan shalat, berpuasa, dan menyembelih untuknya. Semisal dia menyembelih untuk Al-Badawi atau untuk Idrus, atau dia mengerjakan shalat untuk si fulan, atau dia meminta kelapangan dari Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam atau dari Abdul Qadir atau dari Idrus atau selainnya dari orang-orang yang telah meninggal lagi tidak hadir di situ. Semua amalan ini dinamakan kesyirikan. Demikian halnya jika dia berdoa kepada bintang-bintang atau jin, atau beristighatsah kepada mereka, atau meminta kelapangan dan semacamnya kepada mereka. Jika seseorang mengerjakan salah satu dari ibadah-ibadah ini untuk benda-benda mati atau untuk orang-orang yang telah meninggal atau untuk orang-orang yang ghaib (tidak hadir di situ), maka jadilah semua ibadah tersebut menjadi kesyirikan kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Jalla wa Ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah semua amalan yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 88)

Dan Allah Subhanahu berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para nabi sebelum kamu (yaitu), “Jika kamu berbuat kesyirikan maka semua amalanmu akan terhapus dan kamu betul-betul akan tergolong ke dalam orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Di antara bentuk kesyirikan adalah menyembah selain Allah dengan ibadah yang sempurna, karena amalan ini dinamakan kesyirikan dan dinamakan juga kekafiran. Karenanya, siapa saja yang berpaling dari Allah secara menyeluruh dan menjadikan seluruh ibadahnya untuk selain Allah -seperti kepada pepohonan atau bebatuan atau berhala-berhala atau jinatau orang-orang yang telah meninggal yang mereka namakan sebagai wali-wali-, dimana dia menyembah mereka atau mengerjakan shalat dan berpuasa untuk mereka, dan dia melupakan Allah secara menyeluruh, maka ini merupakan kekafiran yang paling besar dan kesyirikan yang paling parah. Demikian halnya dengan orang yang mengingkari keberadaan Allah dengan mengatakan, “Tidak ada sembahan di dunia ini dan kehidupan ini adalah sebuah materi,” seperti yang dikatakan oleh para komunis dan ateis yang mengingkari keberadaan Allah. Mereka ini adalah manusia yang paling kafir dan paling sesat, dan yang paling besar kesyirikannya.

Intinya, penganut semua keyakinan di atas dan semacamnya, seluruhnya dinamakan musyrik dan dinamakan kafir kepada Allah Azza wa Jalla.[4]

_____________

[1]Lihat Tahdzib Al-Lughah (10/16), Lisan Al-Arab (10/448), dan Taaj Al-Urus (7/148)

[2]HR. Muslim dalam Al-Iman (1/94)

[3]Al-Jawab Al-Kafi hal. 191 karya Ibnu Al-Qayyim

[4]Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah li Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (4/32)

[Dialihbahasakan dari Syarh Sa’ad bin Muhammad al-Qahthany terhadap risalah Nawaqidh al-Islam]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, July 29th, 2015 at 7:23 pm and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.