Definisi Nadzar

August 22nd 2013 by Abu Muawiah |

Definisi Nadzar

Nadzar menurut bahasa bermakna pengharusan dan janji.

Adapun menurut istilah syara’, Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Nadzar adalah kamu mewajibkan atas dirimu sesuatu yang bukan merupakan kewajiban karena adanya suatu kejadian.[1]

Sementara Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam mendefinisikannya, “Nadzar adalah seorang mukallaf mengharuskan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak wajib, karena Allah.”

Maka dari kedua definisi ini kita bisa menarik beberapa kesimpulan dalam definisi nadzar, yaitu:

1. Nadzar adalah mewajibkan diri untuk mengerjakan suatu amalan yang asalnya tidak wajib[2].

Misalnya seseorang mengatakan, “Aku bernadzar untuk Allah akan berpuasa senin kamis pekan ini.” Puasa senin kamis asalnya adalah sunnah, akan tetapi dia mewajibkan hal itu atas dirinya sehingga jadilah puasa sunnah ini hukumnya wajib atas dirinya. Termasuk di dalamnya, menadzarkan ibadah wajib tapi dengan sifat tertentu yang tidak wajib. Semisal seseorang mengatakan, “Saya bernadzar akan mengqadha` puasa ramadhan saya pada bulan Syawal.” Penyebutan nama bulan di sini hanyalah sifat tambahan dari kewajiban qadha` puasa dan tentunya qadha` puasa di bulan Syawal bukanlah kewajiban karena qadha puasa boleh dikerjakan pada bulan-bulan setelahnya. Tapi tatkala dia menadzarkannya maka jadilah qadha` di bulan Syawal sebagai suatu kewajiban.

Karenanya jika dia berkata, “Saya bernadzar akan naik haji jika mampu,[3]” maka ini bukanlah nadzar karena haji bagi yang mampu adalah kewajiban.

Inti dari nadzar ini adalah pewajiban atas diri sendiri sesuatu yang tidak wajib, apapun lafazh yang digunakan. Baik dia mengatakan, “Saya bernadzar …,” atau mengatakan, “Saya berjanji kepada Allah akan melakukan ibadah …,” atau mengatakan, “Wajib atas saya amalan ini karena Allah,” dan seterusnya. Karena semua ucapan ini mengandung makna dia mewajibkan dirinya mengerjakan suatu amalan karena Allah.

2. Lahiriah kalimat ‘sesuatu yang bukan kewajiban’ di sini mencakup amalan yang sunnah, amalan yang mubah, bahkan amalan yang haram, karena amalan yang mubah dan yang haram juga bukanlah kewajiban.

Karenanya menadzarkan sesuatu yang mubah seperti ucapan, “Saya bernadzar untuk membeli benda ini bulan depan,” atau menadzarkan sesuatu yang haram seperti ucapan, “Saya bernadzar akan membeli khamar setelah gajian,”, keduanya adalah nadzar yang teranggap syah dalam syariat dan berlaku padanya hukum nadzar. Walaupun tentunya TIDAK BOLEH memenuhi dan melanjutkan nadzar yang haram.

3. Pelaku nadzar adalah mukallaf[4], dan ini tambahan dari Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin.

Persyaratan mukallaf ini masih diperselisihkan, karena itulah -wallahu a’lam- Al-Ashfahani tidak menyebutkannya. Hal itu karena ada silang pendapat di kalangan ulama mengenai nadzarnya orang kafir dan anak-anak, apakah nadzar keduanya teranggap syah dalam syariat atau tidak. Sebagian ulama ada yang berpendapat teranggapnya nadzar keduanya, padahal keduanya jelas bukanlah mukallaf[5].

4. Nadzarnya harus karena Allah, sebagaimana yang Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin sebutkan di atas.

Ini adalah persyaratan yang sangat tepat, karena nadzar untuk selain Allah adalah nadzar kesyirikan. Dan nadzar kesyirikan tidak teranggap sebagai nadzar dalam syariat dan tidak berlaku padanya hukum-hukum nadzar yang syar’i.

5. Ucapan Al-Ashfahani ‘karena adanya suatu kejadian’, ada kemungkinan -wallahu a’lam- yang dimaksud di sini adalah nadzar muqayyad[6], karena nadzar muqayyad ini terjadi karena adanya kejadian tertentu sebelumnya.

Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh berkata, “Nadzar adalah seorang mukallaf mengharuskan dirinya untuk mengerjakan suatu ibadah kepada Allah Jalla wa Ala, baik nadzarnya secara mutlak maupun secara muqayyad.[7]

Nadzar muqayyad ini adalah salah satu dari 4 bentuk nadzar, pembagian nadzar secara lengkap insya Allah akan kami sebutkan nanti.

 


[1] Mufradat Alfazh Al-Qur`an Al-Karim pada kata نذر

[2] Sebagian ulama menyatakan bahwa tambahan ‘yang asalnya tidak wajib’ tidak diperlukan. Karena walaupun dia menadzarkan sesuatu amalan yang wajib maka itu tetap dianggap nadzar dan kewajiban amalan itu dari dua sisi: Sisi hukum asalnya dan sisi nadzarnya. (Al-Qaul Al-Mufid Syarh Kitab At-Tauhid: 1/236)

[3] Sementara dia belum pernah berhaji sebelumnya.

[4] Yakni: Muslim, balig, dan berakal.

[5] Walaupun sebenarnya ada juga perbedaan pendapat mengenai orang kafir, apakah dia mukallaf atau bukan. Penjabarannya dalam kitab-kitab ushul fiqh.

[6] Nadzar muqayyad inilah yang tersebar di tengah-tengah masyarakat, yaitu nadzar yang diucapkan karena menginginkan sesuatu dari Allah. Seperti ucapan, “Kalau saya sembuh maka saya bernadzar akan berpuasa,” “saya bernadzar kalau saya diterima kerja maka saya akan shalat lail selama sepekan,” dan semacamnya.

[7] At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid hal. 158

Incoming search terms:

  • hukum nadzar
  • nazdar adalah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, August 22nd, 2013 at 2:47 pm and is filed under Aqidah, Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.