Definisi dan Hukum Jual Beli

May 1st 2015 by Abu Muawiah |

Bab Pertama: Definisi dan Hukum Jual Beli

A.    Definisi Jual Beli.
Secara etimologi, jual beli (arab: bai’) bermakna menerima sesuatu sebagai ganti menerima sesuatu yang lain. Kata bai’ merupakan derivasi dari kata “baa’” yang bermakna “depa” (ukuran selengan). Dikatakan demikian karena kedua belah pihak (penjual dan pembeli) saling mengulurkan lengan mereka untuk menerima dan memberi.
Secara terminologi, bai’ bermakna: Pertukaran harta dengan tujuan kepemilikan.

B.    Hukum Jual Beli.
Hukum asal jual beli adalah mubah. Namun terkadang hukumnya bisa berubah menjadi wajib, atau haram, atau sunnah, atau makruh, tergantung situasi dan kondisi, berdasarkan asas maslahat.
Argumentasi hukum asal jual beli ini berdasarkan al-Qur`an, hadits, ijma’, dan logika.
1.    Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. al-Baqarah/2: 275:
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
2.    Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
البيعان بالخيار ما لم يتفرقا
“Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar (meneruskan atau membatalkan transaksi jual beli) selama keduanya belum berpisah.” (Muttafaqun alaih)
3.    Para ulama Islam sejak dari masa Nabi shallallahu alaihi wasallam sampai sekarang sepakat bahwa transaksi jual beli secara umum hukumnya adalah mubah.
4.    Dari sisi logika. Seseorang tentu membutuhkan barang yang dimiliki oleh orang lain, sementara jalan untuk memperoleh barang orang lain tersebut adalah dengan cara berjual beli. Dan Islam tidak pernah melarang manusia untuk melakukan apa saja yang bermanfaat bagi diri mereka.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, May 1st, 2015 at 9:26 am and is filed under Ekonomi Islam. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.