Dakwah Salafiyah di Vilani II

November 16th 2008 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Dakwah Salafiyah di Vilani II

Pendahuluan

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَتُوْبُ إِلَيْهِ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هاَدِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ ,
فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتاَبُ اللهِ وَ خَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ – صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَ شَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah menganugrahkan anugrah iman dan Islam bagi seluruh hamba-hamba-Nya yang bertaqwa –semoga kami bagian dari mereka, Amiin-.
Shalawat dan salam tercurah bagi junjungan kita semua, Nabi besar Muhammad  berserta para keluarga, sahabat serta pengikut beliau hingga akhir zaman. Amma ba’du.
Dakwah Salafiyah adalah dakwah yang penuh berkah, dakwah bil-Hikmah, dakwah yang –bersifat- rahmatan lil-’Alamiin. Dan yang terutama dari Dakwah Salafiyah adalah dakwah yang bermuara dari al-Qur`an, as-Sunnah dan amalan para ulama sahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka yang iltizam diatas al-Haq. Dakwah Salafiyah adalah hakikat sebenarnya dari Dakwah para Rasul dan Nabi, adalah juga Dakwah ath-Thaa’ifah al-Manshurah. Dakwah al-Firqah an-Najiyah. Dakwah ini adalah karakter khusus kalangan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, Ahlul Hadist wal-Atsar, …
Demikian seterusnya dan seterusnya … sifat-sifat baik yang terus terulang disampaikan oleh para Ahlil-Ilmi dan Thullabul Haq. Namun dalam tulisan ini bukan definisi, sifat-sifat, karakter khusus serta fadha`il Dakwah Salafiyah yang akan tertuang dalam beberapa halaman tulisan ringkas ini. Namun sisi lain Dakwah Salafiyah yang ada disekitar lingkup dakwah kami.
Dua tahun yang lalu, ketika “corak baru” dakwah Salafiyah hendak kami bentangkan di sekitar Villa Nusa Indah II. Sebenarnya bukan suatu yang baru, melainkan pengembalian hakikat Dakwah Salafiyah yang hampir tidak dikenali oleh sebagian besar “syabaab” yang menisbatkan kepada Dakwah yang penuh berkah ini.
Mengajak mereka kembali menggali ilmu-ilmu as-Sunnah, ilmu-ilmu yang telah dikembangkan oleh para Ulama, mulai dari dasar-dasar yang paling esensial. Mengajak mereka mengenal dasar-dasar ilmu Bahasa Arab, Ilmu Hadist, ilmu Ushul Fiqh beserta al-Qawa`id al-Fiqhiyah, al-Aqidah al-Islamiyah, Al-Fiqh al-Islami, … tidak sebatas “muhadharah” yang jikalau terdapat faedah, tidaklah sebanding dengan faedah-faedah ilmu-ilmu tersebut.
Kondisi yang memprihatinkan terlihat dikalangan “syabaab” disini. Mayoritas dari mereka sama sekali tidak mengerti ilmu an-Nahwu dan ash-Sharf, sementara mereka telah mengkaji mengikuti pengajian “as-Salaf” dalam kurun waktu yang tidak dapat dikatakan singkat. Mungkin, karena kesibukan mereka dalam mencari ma’isyah. Ini awal persangkaan yang terbersit, bertolak dari husnuzh-zhan kami kepada mereka. Namun mungkin juga, karena mereka –tanpa mereka sadari- telah dijauhkan dari ilmu-ilmu tersebut.
Ditanamkan –tanpa disengaja- kesan sulit dan pelik dalam mendalami ilmu-ilmu diatas tadi (ilmu-ilmu alat). Bersamaan dengan itu, dakwah “tajammu’aat”[1] dibenamkan dalam hati dan pikiran syabaab.
Sebenarnya model dakwah “tajammu’aat” ini tidaklah asing bagi penulis. Dahulu, beberapa tahun silam, demikian yang pernah dihadapi oleh penulis serta thullabul ilmi lainnya disaat masih berada di Yogyakarta[2] atau ketika berada di Kediri. Dengan kata lain, model semisal ini adalah jalinan yang bersambung, berkaitan erat antara masing-masing pelaku Dakwah “tajammu’aat” tersebut.
Dahulu kami mengenal mereka yang menisbatkan kepada Dakwah Salafiyah ini akan tetapi mereka jauh dari hakikat Dakwah tersebut, semisal kaum hizbiyyiin harakiyyiin –namun berlabel salafiyyiin- dan yang semisalnya di Yogyakarta.
Juga yang semisal mereka, da’i mereka dan orang-orang jahil muta’aalim pengekornya di Makassar.
Mereka menyeru kepada kultus individu -diatas namakan penghormatan terhadap yang lebih tua-
Seruan mereka kepada kami, untuk taklid buta dalam masalah manhaj dan dakwah ilallah –diatas namakan ber-adab dan kesantunan pada ustadz-ustadz senior-
Disaat terjadi perbedaan pendapat, terjadilah arogansi, sikap antagonis antara ucapan dan prilaku, senioritas usia, … tanpa lagi melihat apakah perbedaan tersebut, perbedaan yang “asasiyah”-fundamental- ataukah “furu’iyah”.
Disaat para thullabul ‘ilmi as-Sunnah berhusnuzh-zhann kepada mereka, mereka melayangkan segala buruk sangka mereka, tuduhan dan fitnah terhadap para thullabul ‘ilmi. Namun yang tersebar di kalangan “mad’u” mereka, lembaran lain yang mereka tulis dengan tangan mereka.

Di Villa Nusa Indah dan sekitarnya tidaklah jauh berbeda. Awal kali pijakan kaki menapak Dakwah Salafiyah di daerah ini, telah didahului oleh tahdzir dari “kabiiruhum”[3]. Padahal “kabiiruhum” ini selalu menebar slogan: “mantan lasykar fulan” tukang tahdzir!
Awal kali daurah syar’iyah diadakan oleh kami di tempat ini, telah dibayang-bayangi “tasykiik” bagi para syabaab dan selainnya dari wakil resmi “kabiiruhum” di daerah ini.
Teringat, seorang ikhwan di tahdzir hanya karena mengikuti daurah Salafiyyin di Sleman.
Seorang lainnya dipertanyakan karena tidak menghadiri “daurah” mereka.
Selebihnya, penulis sendiri -dan –mungkin- juga yang thullabul ilmi lainnya- telah beberapa kali dipertanyakan, kenapa tidak “ziarah” ke Bogor?
Pertanyaan sederhana, namun makna yang terkandung didalamnya akan memberi interpretasi yang berbeda.
Seorang yang dekat dengan penulis, juga telah menerima telepon dari “ustadz” mereka, berisi teguran yang keras. Alasannya?
Karena penulis dan al-akh tersebut dalam satu aktifitas yang sama dan sejalan.
Dan beberapa lagi catatan-catatan selama kurun dua tahun lebih, menjelang dan disaat penulis telah berada disini.
Upaya meredam fitnah, telah penulis coba lakukan. Mengunjungi seseorang yang mungkin lebih halus perasaannya dari mereka yang lainnya. Kesimpulannya, tidak jauh berbeda. Lain di depan lain dibelakang.
Upaya lain untuk meredam fitnah juga telah dan semoga Allah menguatkan kami untuk tetap terus berusaha meredam fitnah. Diam, tidak mengomentari sikap dan arogansi bahkan fitnah mereka, memaafkan mereka pada tuduhan yang bersifat individu, namun tetap meluruskan pada kekeliruan dalam masalah-masalah manhajiyah.
Hingga tulisan ini terujar. Hingga penulis beranggapan bahwa al-Haq harus lebih ditinggikan. Dakwah Salafiyah harus dibersihkan dari noda-noda hizbiyah dan ashabiyah mereka. Data yang tercatat pada penulis disertai pembenaran dari beberapa ikhwan Salafiyyiin telah lebih dari cukup untuk menguak hizbiyah mereka ini. Akan tetapi dengan harapan, agar mereka merujuk kepada Dakwah Salafiyah yang sebenarnya.

Dakwah mereka sendiri, sedang mengalami keterpurukan di tempat ini (Villa Nusa Indah). Basis dakwah mereka semakin menyempit. Banyak sebab sebenarnya, jika mereka mau memperbaiki diri. Selain desakan kaum ikhwanul Muslimin (PKS) yang sedang gencer-gencarnya mengincara masjid-masjid kaum muslimin untuk dijadikan tempat mendulang suara di Pemilu nanti.
Jalan keluar mereka diakhir jalan adalah menerima kesediaan lembaga pendidikan yang selama ini mereka soroti diluaran sana, sebagai lembaga pendidikan “tidak jelas” dari sisi manhaj, lembaga pendidikan yang “campur aduk”, lembaga pendidikan yang “mutasahil” dan segala macam label lainnya[4].
Alasannya juga tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Kejadiannya juga tidak jauh berbeda dari yang pernah terjadi di Yogyakarta atau selainnya. Baik tertuju pada penulis atau asatidz salafiyyiin lainnya.
Yaitu, karena mereka mengira, penulis memiliki aktifitas penuh pada lembaga tersebut.
Seharusnya mereka mengoreksi diri. Layakkah menerima –jika memang ditawarkan dari pihak lembaga pendidikan tersebut-, sementara mereka diberbagai kesempatan, mengkritik lembaga tersebut ? Kecuali jika mereka tidak jauh berbeda dengan kaum Ikhwanul Muslimin. Disaat terdesak, mereka merapat, dan disaat berada diatas angin mereka memberi “nilai.” Mereka ini tidak jauh berbeda dalam menimbang masalah. Menimbang dengan dua timbangan, menakar dengan dua takaran.
Terlebih lagi jika mereka malah yang menawarkan diri dan memintanya –langsung atau tesirat-. Namun dalam pandangan kami, mereka tidak sebegitu rendah untuk meminta.
Berawal dari kesan-kesan ini, penulis menganggap model hizbiyah yang terjadi di Makassar, Kediri, Yogyakarta dan Solo, serta beberapa daerah lainnya tidak jauh berbeda dengan di tempat ini. Dan semuanya juga berlabel Dakwah Salafiyah.
Diantaranya, kultus individu, senioritas –dalam usia-, dakwah tajammu’aat, ketidak mengertian kaidah al-wala` wa al-bara`, ketidak mengertian akan al-Qawa`id asy-Syar’iyah pada masalah khilafiyah, ketidak mengertian akan al-Qawa`id asy-Syar’iyah pada masalah khilafiyah, masalah yang berkenaan dengan jum’iyah hizbiyah dan beberapa lainnya.
Tulisan ini, pada dasarnya adalah permintaan beberapa ikhwan untuk menyingkap hizbiyah tokoh mereka yang selama ini mendapatkan pengkultusan, serta beberapa da’i mereka yang semanhaj dengan “kabiiruhum” tersebut.Sebagai nasihat kepada ikhwan dan akhwat yang selama ini terbuai oleh azh-zhawaahir –penampakan yang zhahir-.
Selanjutnya, setelah muqaddimah ini, penulis insya Allah akan mengulas ringkas pembahasan tentang beberapa kekeliruan serta sifat Hizbiyah yang harus dijauhi oleh Salafiyyiin, terutama yang tampak di daerah Viila Nusa Indah ini dan sekitarnya. Dan kajian masalah ini, bukanlah kajian sebab akibat semata, namun akan diupayakan sebagai kajian ilmiyah yang dapat memberi manfaat secara umum bagi seluruh “syabaab”.
Semoga Allah ta’ala membukakan hati dan pandangan nalar sehat mereka dan siapa saja yang menyimpang dari Dakwah Salafiyah yang hakiki.

Penulis.
[1] Yaitu –dalam makna yang sederhana- dakwah yang berorientasi pada pengumpulan massa, baik berdasarkan figuritas maupun label-label lainnya. Hingga terlupakan kualitas mad’u dan tujuan yang paling urgen dari Dakwah Salafiyah, yakni at-tashfiyah, at-tarbiyah, al-ilmu an-naafi’, dan al-’amal ash-shalih.
[2] Yaitu dari yayasan-yayasan, organisasi massa dan lembaga semisalnya yang mengusung pola hizbiyah dalam dakwah. Walau diantara mereka ada yang berlindung dibalik slogan Dakwah Ahlus Sunnah atau Dakwah Salafiyah.
[3] Maksud penulis, adalah da’i/ustadz mereka yang berkompeten mengatur sah-tidaknya salafiyah seseorang/lembaga/komunitas tertentu, yang mengatur suatu lembaga atau yayasan layak tahdzir atau tidak. Tokoh sentral yang tidak boleh ditolak keputusannya, baik dalam masalah manhaj bahkan melebar dalam masalah-masalah khilafiyah furu’iyah.
[4] Sikap hipokrit semacam ini, tidak terjadi sekali, dua kali saja. Dan hal tersebut telah terjadi semenjak lama.Memperbincangkan suatu lembaga/institusi tertentu atau komunitas/yayasan tertentu, hingga pada taraf mentahdzir –tanpa alasan yang syar’i- namun ketika mendapatkan manfaat atau loyalitas dari lembaga/institusi/komunitas tersebut, tahdzir berubah menjadi ta’liif –kedekatan-. Larangan berubah menjadi anjuran. Sorotan tajam dan sinis berubah menjadi keakraban dan keteladanan. Demikian yang terjadi pada beberapa ustadz/da’i bahkan juga para penyimak/pengikut mereka di daerah ini.

[Sumber: http://salafivilla.blogspot.com/search/label/Manhaj]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, November 16th, 2008 at 11:50 pm and is filed under Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.