Dakwah Kepada Istri

December 30th 2009 by Abu Muawiah |

Dakwah Kepada Istri

Tanya:
Asalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz bagaimana caranya berdakwah atau mengajak istri kepada manhaj salaf, karena ana mengenal manhaj ini setelah menikah, apakah ana berdosa jika istri tidak mau mengikuti manhaj ini
“Eri nur hidayat” <kluban1930@gmail.com>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Sudah dimaklumi bersama bahwa lelaki adalah pemimpin kaum wanita dan juga dalam hadits Ibnu Umar riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa setiap lelaki adalah pemimpin dari keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Karenanya seorang lelaki khususnya suami bertanggung jawab untuk mengajak anak dan istrinya kepada kebaikan dan keselamatan. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka.” Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan keluarga kalian di sini adalah istri kalian, sementara anak termasuk dari bagian diri kalian.

Kemudian, setiap orang yang ingin mengajak kepada kebaikan wajib untuk meyakini bahwa hidayah taufik dan ilham hanya di tangan Allah, Dia memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan demikian pula sebaliknya. Sementara manusia hanya punya kewajiban menjelaskan dan menerangkan, dan dia sama sekali tidak kuasa membuat mereka mendapatkan hidayah walaupun mereka adalah kerabatnya yang paling dia cintai. Allah Ta’ala berfirman mengingatkan Nabi -alaihishshalatu wassalam-, “Engkau tidak bisa memberikan hidayah kepada siapa yang kamu cintai, akan tetapi Allah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Setelah memahami semua ini, kami katakan: Wajib atasmu untuk memberikan pengajaran dan tuntunan kepada istrimu dengan cara yang paling baik serta penuh hikmah, kesabaran dan kehati-hatian. Hal itu karena kaum wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, jika engkau memaksa untuk meluruskannya (mengajarnya dengan kasar) maka mereka akan patah (membangkang dan durhaka), sementara jika engkau tidak berusaha meluruskannya maka dia akan terus bengkok, demikian yang disabdakan oleh Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam hadits yang shahih.

Karenanya hendaknya kamu sabar, perlahan, sedikit demi sedikit mengajarinya, dan jangan sekali-kali kamu berharap dia langsung menjadi muslimah yang sempurna yang bisa mengamalkan ajaran Islam dengan sempurna. Mulailah untuk memperbaikinya dari perkara yang terpenting yaitu sisi akidah, karena jika akidahnya sudah baik maka dia akan mudah menerima yang lainnya.  Baru setelah itu beralih kepada kewajiban-kewajiban lainnya. Dalam masalah fiqhi keseharian, pakaian, akhlak dan adab, semua harus perlahan-lahan dan setahap demi setahap.

Jika ada penghalang dari lingkungan maka hendaknya dia mencari tempat tinggal yang lebih baik, dimana tetangganya adalah tetangga yang saleh. Jika ada halangan dari pihak keluarga, misalnya karena tinggal dengan orang tua, maka hendaknya mencari tempat tinggal sendiri untuk keluarganya dengan tetap menjaga silaturahmi dengan orang tuanya.

Yang terakhir dan ini yang terpenting, banyak-banyak mendoakan kebaikan untuk istrinya dan jangan sampai dia mencela atau mendoakan keburukan untuknya, karena malaikat akan meng’amin’kan doa yang diucapkan untuk orang lain selama orang lain itu tidak mengetahui kalau dirinya didoakan. Karena hidayah hanya di tangan Allah, maka senantiasa berharaplah hal itu hanya kepada-Nya. Wallahu a’lam bishshawab.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, December 30th, 2009 at 11:21 am and is filed under Jawaban Pertanyaan, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

9 responses about “Dakwah Kepada Istri”

  1. Ricke said:

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Bagaimana kewajiban dan hak istri apabila suaminya menderita sakit yg lama, sehingga si suami tidak dapat menafkahi lahir & batin istrinya? apakah istri berkewajiban untuk mencari nafkah sebagai pengganti suami? ataukah orang tua si suami yg pada hal ini mampu untuk memberi bantuan?

    Semoga ustadz dpt memberi jawaban atas pertanyaan diatas.
    Terima kasih.

    Wassamu’alaikum wr.wb

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ala kulli hal, hendaknya semua pihak keluarga -baik istri maupun orang tua suami, dan selainnya- hendaknya mereka saling membantu agar masalah keuangan yang dihadapi bisa diselesaikan.
    Tidak ada masalah seorang muslimah untuk bekerja selama memenuhi ketentuan yang digariskan oleh syariat. Ketentuannya bisa dilihat di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1603

  2. Fenny said:

    Saya masih belajar tentang Islam karena ketika lahir saya bukan dari keluarga muslim. Ada ayat yang saya sama sekali tidak mengerti . Saya amat sangat awam dan dangkal pengetahuan agama saya. Inilah ayat nya : “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Dan bagaimana bila suami yang tidak taat ? Sekali lagi mohon pencerahannya, terima kasih. Salam cinta dan damai dari UAE untuk semua member II(QS. an-Nisa: 34)

    Dalam hal ini tidak ada istilah suami tidak taat kepada istri, karena pada dasarnya suami yang mengatur dan istri yang diatur dan bukan sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman, “Kaum lelaki itu adalah penegak/pemimpin bagi kaum wanita.” Kaum wanita tidak bisa menjadi pimpinan, karenanya tidak ada dalam sejarah Islam ada wanita yang menjadi pemimpin dan karenanya pula Allah tidak pernah memilih nabi dan rasul dari kalangan wanita. Dan Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits yang shahih, “Tidak beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada wanita.”
    Adapun jika lelaki itu menzhalimi dan menyakiti istrinya, maka sang istri bisa mengajukan khulu’ (gugatan cerai) sebagaimana yang dibahas oleh para ulama dalam pembahasan nikah.

  3. Husen said:

    Bismillah,
    Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

    Afwan ust mau tanya..

    1. Adakah batasan waktu bg suami dlm mendakwahi keluarganya (istri)? apakah boleh mencerai istri yang menolak/tidak mau untuk mengikuti manhaj salaf?
    2. Mencari nafkah/bekerja dan memberi nafkah untuk keluarganya bg seorang suami termasuk ibadah atau tidak?

    Jazakallah khairan

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    1. Kalau masalah boleh tidaknya mentalak, ya boleh-boleh saja. Hanya saja tentu sebelumnya harus ada usaha untuk mendakwahi istri dengan semua cara yang memungkinkan. Hendaknya dalam masalah ini, yang bersangkutan berkonsultasi langsung kepada alim ulama yang berada di dekatnya atau yang mengetahui secara detail keadaan keluarganya.’
    2. Ia, dia bisa bernilai ibadah jika dia niatkan bekerjanya dia dalam rangka memenuhi amanah yang Allah berikan kepadanya berupa istri dan anak-anak. Jika dia tidak meniatkannya maka dia tidak mendapatkan pahala apa-apa darinya.

  4. Akh Syam said:

    Bismillah,
    Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

    ana sedang ada problem keluarga, hampir sama dengan masalah tofik ini, pernikahan kami sdh jalan 2 thn ana baru mengenal salaf dan istri tidak keberatan dan tidak juga ikut, dan sekarang istri ana tidak perna berubah walaupun sdh di nasihati berkali-kali tentang permasalahannya dan ana bawah bacaan artikel mengenai permasalahan tersebut akan tetapi hanya siah sia saja.
    yang menjadi pentanyaan ana:
    1. apakah hukum, ana sdh berniat menceraikan istri ana tapi masih tetap bersama.
    2. dengan keadaan isteri diatas apakah hukumnya mempertahankan keutuhan rmh tangga dengan alasan, dampak fsikologis anak dan orang tua kedua belah pihak karena masih adah

    jazakallahu khoir atas penjelasan ustd

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    1. Tidak mengapa, selama talak belum dilafazhkan maka dia belum jatuh talak, sehingga keduanya masih bisa hidup bersama.
    2. Boleh saja, bahkan yang nampak mempertahankan keutuhan rumah tangga dalam kasus di atas lebih baik daripada perceraian. Karena istri tidaklah menentang, sehingga peluang dia mengikuti dakwah suaminya masih terbuka lebar. Yang dibutuhkan hanyalah kesabaran, hikmah dalam mengajak, serta dakwah melalui perilaku dan akhlak suami, dan tentunya senantiasa berdoa kepada Allah agar seluruh keluarganya mendapatkan hidayah sunnah.

  5. Akh Syam said:

    Bismillah,
    Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

    ust. ana mau tanya ni

    kalaupun terjadi perceraian anak-anak menjadi tanggung jawab siapa

    dan mohon petunjuk dan bimbingannya

    jazakallahu khoir

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Selama anak-anak belum balig, maka dia diasuh oleh ibunya, kecuali jika ibunya adalah orang yang tidak pantas mengasuh anak-anak.

  6. putra said:

    Assalamu’alaikum

    mohon nasehat dan pejelasan dari ust

    ana punya problem yang hampir sama dengan tofik ini, ana sdh menjalini rumah tangga selama 6 tahun, ana mengenal dakwah Salafy pada tahun ketiga pernikahaan ana, yang menjadi pertanyaan ana :

    1. sdh tiga tahun ana mengenal dakwah salafi ini dan ana terus menerus mendakwhi istri ana tetapi belum mau ikut apakah hukum ana yang sdh berniat menceraikan istri ana tersebut tetapi masih tetap tinggal bersama

    2. Apakah ana boleh mentargetkan seandainya dalam waktu sekian belum mau ikut ana menceraikannya.

    3. apakah hukum mempertahankan rumah tangga yang demikian (dalam keadaan istri tidak mau ikut dakwah salafi) dengan alasan menjaga fisikologis anak, dan orang tua masing-masing

    Jazakallahu khoir atas penjelasan dan nasihat ustadz

    Waalaikumussalam warahmatullah
    1. Selama itu masih berupa niat atau rencana, maka talak belum jatuh dan dia masih bisa tinggal bersama dengan istrinya.
    2. Boleh saja, itu terserah kebijakan suami.
    3. Boleh saja selama dia memandang adanya mudharat besar yang akan timbul dari perceraian. Tapi yang jelas jika dia tetap bertahan maka dia tetap harus terus menerus menasehati istrinya serta bersikap tegas kepadanya pada perkara-perkara yang bisa membahayakan dunia dan agama keluarga dan anak-anaknya.

  7. hendri said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

    Ustadz,

    Apabila seorang suami mengatakan kpd istrinya kita akhiri aja/sampai disini aja dalam keadaan marah,apakah ini telah jatuh talak atau belum?

    Jazakallahu khoir

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Tergantung niat suami. Jika niatnya talak maka jatuh satu talak, tapi jika sekedar mengancam dan tidak meniatkan talak maka itu bukan talak.

  8. fahri said:

    Ustadz, bagaimana hukumnya dengan seorang istri yang ia taat kepada suaminya, tinggal di rumah mengurusi rumah serta anak-anaknya, sementara sang suami mendapatkan hartanya dari penghasilan yang tercampur-campur… Ada penghasilan pokok yang halal tetapi juga ada penghasilan tambahan dari cara-cara yang haram. Sang istri, tentu tidak turut campur dengan cara suami mendapat harta. Yang ia tahu, suami bekerja di tempat yang halal, tugas dia adalah mengurusi anak dan keluarga, dan ia berhak mendapatkan nafkah dari penghasilan suaminya… Bagaimana hukum terhadap istri tersebut, ya ustadz…?
    Jazakallah khairan

    Hukum apanya? Yang jelas dia tidak ikut berdosa.

  9. akh syam said:

    Assalamu’alaikum

    mohon nasehat dan pejelasan dari Ustadz,

    ustadz, ana punya problem, sampai sekarang intri ana selalu kerja pulang malam, sdh ana nasehati, alasanya selalu : saya kan kerja masak saya harus menolak kerjaan,

    Pertanyaan ana :

    1. Bagaimana hukum ana sebagai suami dalam hal ini membiarkan istri pulang kerja sampai larut malam.

    2. langka apa yang mesti ana ambil semua nasehat dan artikel-artikel mengenai sebagaimana sebaiknya wanita muslimah telah ana berikan tapi itri tetap pada perinsipnya

    atas nasehat ustadz jazakallahu khoiron

    Waalaikumussalam.
    Wallahu A’lam, selama dia masih menjadi istri maka suami tetap bertanggung jawab atas istrinya dan tidak boleh berlepas diri dari tindakan istrinya. Tindakan yang bisa ditempuh tersebut dalam ayat-ayat Al-Qur`an, seperti: Tidak berbicara dengannya, tidak tidur bersamanya, meninggalkannya di dalam rumah, memukul tanpa mencederainya, sampai taraf terakhir adalah perceraian.